Resensi Buku: “The 4-Hour Work Week”

Orang kaya baru atau OKB biasanya disematkan pada orang-orang yang baru saja mendapatkan kekayaan melimpah atau tiba-tiba punya banyak uang. Akan tetapi, Tim Ferris punya definisi sediri untuk orang kaya baru atau new rich. New rich disini lebih dekat definisinya kepada golongan orang kaya ‘modern’ atau yang mengadaptasi gaya hidup yang baru. Gaya hidup tersebut tidak serta merta menjadikan orang memiliki harta berlimpah dan tabungannya bengkak.

Jpeg

Menurut Tim, waktu lebih berharga daripada uang. Jadi sebagian kekayaan kita akan dihabiskan untuk meluangkan waktu kita, yang tadinya 40 jam seminggu untuk bekerja, menjadi 4 jam saja. Salah satunya dengan cara menyewa asisten pribadi. Di samping uang yang dihabiskan untuk ‘membeli’ waktu ini, kita juga harus memiliki pemasukan tambahan. Karena Tim menyarankan pada kita untuk selalu traveling. Ke luar negeri, tidak boleh ke luar kota saja. Juga kita harus melakukan aktivitas ketika traveling tersebut yang berkaitan dengan ciri khas dengan negara yang dituju.

The 4-Hour Work Week berisi panduan mendetail mengenai bagaimana cara menekan jam kerja kita sehingga kita dapat melakukan hal lain yang kita inginkan. Goal dari buku ini bukan untuk membuat pembacanya jadi sekaya Steve Jobs atau Elon Musk. Tim menggarisbawahi bahwa instruksi yang dia berikan adalah yang memberikan kita pemasukan secukupnya saja.

Untuk mencapai target tersebut, ada sebuah tabel bernama Dreamline. Tabel ini berfungsi untuk mengumpulkan 4 hal yang paling kita inginkan di dunia ini, mau itu barang, skill, ataupun melancong. Setelah itu kita melakukan estimasi biaya, misalkan biaya totalnya 250 juta rupiah. Nah angka ini bisa dibagi ke dalam 12 bulan misalkan. Jadi untuk mencapai target ini dalam setahun, kita butuh pemasukan sebesar Rp. 20.833.333 setiap bulannya. Waw sebuah angka yang fantastis ya. Tapi, jika dikonversi ke dalam dolar, dengan asumsi $1 = Rp.13.000, maka Rp. 20.8333.333 = $1.603 saja. Angka yang tidak begitu besar dimana gaji rata-rata di AS berada di atas $2.000 per bulannya. Jadi ditambah tips-tips untuk menambah pemasukan dari Tim, target ini sangat feasible. Ini memang berkaitan dengan purchasing power masyarakat USA yang jauh lebih besar dibandingkan kita. Tapi bukan berarti buku ini mejadi bias dan tidak cocok diterapkan di sini. Tips dan instruksi mengenai hal lain selain traveling masih bisa diterapkan. Karena biasanya yang membuat estimasi biaya membengkak adalah dari traveling ini. Selain itu, kebanyakan negara lain purchasing power-nya di bawah USA, jadi traveling bagi masyarakat di sana juga cukup terjangkau menurut saya.

Di dalam bukunya, Tim menjelaskan hal-hal kecil yang bisa kita lakukan untuk membuat kita menjadi manusia yang lebih efektif. Diantaranya dengan tidak membalas setiap email (karena kita tahu tidak semuanya penting), belajar menolak permintaan orang lain (yang kita tahu tidak penting juga), dan belajar lobbying bahkan membaca cepat. Intinya menurut Tim waktu kita sangat berharga dan sudah begitu banyak terbuang selama ini.

New York Times best seller ini wajib dimiliki meskipun menurut saya perlu ada sedikit adaptasi ke dalam kultur masyarakat Indonesia. Berguna sekali untuk mengukur target hidup dan mengkuantifikasikan target tersebut dalam satuan mata uang.

ISBN                      : 978-0-0919-2911-4

Tahun Terbit      : 2007

Penerbit              : Ebury Pubishing

Penulis                 : Timothy Ferris

Genre                   : Nonfiksi, bisnis, pengembangan diri

Tebal                     : 396 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 7 jam

Rating                   : 8/10

Advertisements

Resensi Buku: “What Would Ben Stein Do?”

Ketika saya membeli buku ini, saya tidak menegenal siapa itu Ben Stein. Lho terus kenapa dibeli bukunya? Karena toko yang menjualnya sedang garage sale.

Jpeg

Ben Stein adalah seorang lulusan Yale University jurusan hokum. Dia adalah kolumnis The Wall Street Journal dan The New York Times, serta merupakan penulis naskah pidato Presiden Nixon dan Ford. Nah setelah membaca profil beliau ini, mungkin kita memang harus mendengarkan petuah-petuahnya.

Buku ini diawali dengan membahas pesan dalam memilih pasangan hidup, salah satunya adalah harus yang mau bekerja, baik pasangannya itu pria maupun wanita. Karena keinginan bekerja merupakan cerminan semangat hidup dan pencapaian.

Setelah itu, Ben membahas mengenai tabungan, dimana tabungan merupakan segalanya. Sebagai jarring pengaman ketika kita mengalami kejatuhan di dalam hidup. Menurut dia kejatuhan tersebut hampir pasti terjadi pada setiap orang, makanya kita perlu play it safe salah satunya dengan memiliki tabungan yang cukup. Tabungan tersebut tentu saja diperoleh dengan cara bekerja. Kerja, kerja, kerja!

Ada hal menarik yang diungkapkan dalam buku ini. Ben kenal dengan beberapa orang temannya yang merupakan pemimpi atau dreamer. Orang-orang dengan visi besar akan tetapi mereka tidak melakukan apapun demi mewujudkan mimpinya tersebut. Atau paling tidak Cuma berusaha seadanya. Nah mereka ini jadinya malah lebih sengsara dibandingkan dengan orang yang visi hidupnya biasa saja (cuma ingin punya rumah sederhana, keluarga kecil, dan mobil standar) dimana mereka dengan giat bekerja setiap hari dalam mewujudkan mimpi sederhananya tersebut. Sudut pandang yang realistis memang, tapi betul begitu adanya. Masalahnya bukan terletak pada visi yang besar ataupun kecil, tapi pada implementasi kerja yang diberikan terhadap visi tersebut.

Petuah penting lainnya adalah ‘teman’. Dengan menjaga hubungan pertemanan, semuanya bisa jadi lebih mudah. Relasi bisnis lebih luas serta membuka pintu rezeki lebih lebar.

Ben Stein memberikan petuah seputar karir, asmara, dan keuangan. Dibawakan dengan bahasa yang apa adanya. Sebagai generasi Baby Boomer yang mengalami masa the great depression, menurut saya menjadikan konten dalam buku ini menjadi sangat realis. Bahasa kasarnya mungkin cari aman. Berbeda dengan tren millennial sekarang ini yang seringkali bermain dengan resiko. Bukan berarti keduanya benar atau salah menurut saya. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Pesan yang disampaikan Ben Stein ada benarnya juga, kita harus siap dengan segala kemungkinan, karena perekonomian negara bisa mengalami krisis di waktu-waktu yang tidak terduga. Tetapi, kalau kita ingin melompat ke arah yang lebih baik, tidak ada salahnya sekali-sekali mengambil calculated risk.

 ISBN                     : 978-1-118-03817-8

Tahun Terbit      : 2011

Penerbit              : John Wiley & Sons, Inc.

Penulis                 : Ben Stein

Genre                   : Nonfiksi, pengembangan diri

Tebal                     : 210 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 3 jam

Rating                   : 7/10

Resensi Buku: “David & Goliath”

Malcolm Gladwell adalah salah satu kontributor majalah New York Times. Beliau juga adalah pengarang buku The Tipping Point, Outliers, Blink, dan lain sebagainya termasuk buku yang saya buat resensinya kali ini.

Jpeg

Jangan salah sangka, buku ini bukan menceritakan kisah Nabi Daud melawan raksasa Jalut atau Goliath. Kisah tersebut hanyalah sebuah analogi untuk kumpulan kisah nyata yang dipadukan oleh Gladwell ke dalam bukunya. Kisah-kisah mengenai bagaimana orang-orang yang diselimuti kekurangan dapat terus bertahan bahkan menjadi salah satu yang terbaik di bidangnya. Orang-orang ini berasal dari berbagai negara dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda pula. Mulai dari guru, mahasiswa, dokter, dan orang sebagai warga sipil biasa (ketika bercerita tentang pemerintah yang represif).

Berikut satu kisah yang saya ambil sebagai contoh, seorang remaja, sebut saja Mawar, bercita-cita ingin menajdi ilmuwan atau scientist. Semenjak kecil bakatanya sudah terlihat. Mawar senang berjalan-jalan di sekeliling rumah mencari serangga, mengumpulkannya dan membuat sketsa-sketsanya untuk mengidentifikasi anatomi tubuh serangga tersebut. Dia juga mulai tertarik pada anatomi dan fisiologi tubuh manusia. Menurutnya cara kerja tubuh manusia adalah hal yang menakjubkan. Sains adalah passion dan cinta pertama bagi Mawar. Nilai raport Mawar semasa sekolah selalu tinggi. Predikat ranking 1 sudah tidak asing lagi melekat pada dirinya.

Setelah lulus SMA, tibalah waktu Mawar untuk memutuskan perguruan tinggi mana yang akan dipilihnya. Dari sekian banyak universitas di US, pilihan Mawar mengerucut pada 2 perguruan tinggi, sebut saja Universitas A dan Universitas B. Universitas A merupakan universitas ternama, termasuk ke dalam Ivy League (bisa dibilang 8 universitas paling prestisius di US), dan tentu saja dipandang sebagai salah satu kampus terbaik dunia. Di lain sisi, Universitas B merupakan universitas yang medioker. Tidak terlalu bagus dan juga tidak bontot amat. Maka jelas sudah pilihan Mawar jatuh pada Universitas A. Dia mengikuti tes masuk dan berhasil diterima di sana.

Di awal semester dirinya merasa seperti berada di surga. Banyak kelas yang menurutnya menarik hingga ia sendiri bingung mau memilih yang mana. Kegiatan ekstrakurikuler juga memadati jadwal semasa kuliahnya. Mawar sempat keteteran menjalani masa-masa ini namun ia tetap berusaha semaksimal mungkin.

Singkat cerita, di semester berikutnya Mawar diwajibkan mengambil mata kuliah kimia organik. Di semester ini Mawar gagal mendapatkan nilai yang diinginkannya, dia hanya mendapat nilai B. Semasa sekolah dia belum pernah mendapat nilai ini dan hatinya sangat terpukul. Mawar disarankan oleh dosennya untuk mengambil mata kuliah ini semester depan. Mawar mengikuti saran sang dosen, namun kelihatannya nilainya tidak kunjung membaik. Dia merasa teman-teman sekelasnya (yang waktu itu masih tingkat 1 sedangkan Mawar tingkat 2) selalu bisa memahami pelajaran jauh lebih mudah ketimbang dirinya, padahal awalnya sama-sama tidak mengerti.

Mawar bukanlah gadis yang mudah menyerah, dia terus berusaha mempelajari kimia organik bahkan sampai jam 3 pagi. Akan tetapi, hasil yang didapatkan tak kunjung memberikan perubahan yang berarti. Saat itulah Mawar memutuskan bahwa, mungkin sains bukan untuk dirinya.

Menurut cerita di atas, apakah Mawar bodoh? Tidak, ranking 1 di kelas selama bertahun-tahun tidak mungkin orang bodoh. Apakah dia malas? Tentu tidak. Lalu apa yang jadi kendala Mawar sebetulnya? Itu adalah rasa percaya diri. Self-esteem. Mawar tidak bodoh tapi teman-temannya di Kampus A membuat dia merasa bodoh. Perumpamaan ini seperti ikan kecil di kolam besar atau ikan besar di kolam kecil. Mawar adalah contoh kasus yang pertama.

Akhirnya Mawar telah memutuskan untuk hengkang dari Universitas A dan mencoba jurusan lain (tidak diceritakan di buku dia mengambil jurusan apa dan dimana). Sungguh sesuatu yang disayangkan bagi Mawar. Kita patut bersyukur diberi kemudahan baik secara fisik maupun mental untuk bisa lulus dan mendapatkan gelar.

Nah disinilah Gladwell memaparkan pandangannya mengenai contoh kasus di atas. Beliau memberikan data berupa statistik yang menunjukkan bahwa juka Mawar memilih Universitas B, bisa dipastikan dia saat ini telah mendapat gelar di bidang sains. Statistik tersebut kurang lebih menunjukkan bahwa, jumlah mahasiswa yang drop out, apakah itu di Kampus A atau di Kampus B, tidak jauh berbeda. Dengan asumsi bahwa mahasiswa yang drop out adalah mereka yang merasa “bodoh” (sekitar 13%-15% mahasiswa). Kenyataannya, skor terendah di Kampus A itu masih lebih tinggi dibanding skor tertinggi di Kampus B. Akan tetapi para mahasiswa dengan skor terendah tersebut memutuskan untuk putus kuliah, sedangkan mereka yang terbaik di Kampus B telah mendapatkan gelar dengan rasa percaya diri yang tinggi. Sangat disayangkan bahwa Kampus A memangkas 15% mahasiswa cerdasnya hanya karena krisis kepercayaan diri. Namun seperti itulah kenyataan yang ada. Malcolm Gladwell mencoba menjadikan kisah Mawar sebagai suatu pelajaran untuk kita bahwa, lebih baik menjadi ikan besar di kolam yang kecil, karena dengan begitu kita merasa memegang kendali hidup kita.

Meskipun beberapa kisah tersebut tidak berakhir dengan ideal, karena in kisah nyata, tidak bisa selalu diatur menjadi happy ending. Akan tetapi bukan berarti orang yang menjalani kisah itu tidak bahagia saat ini. Lagipula, tidak semua kisahnya berakhir seperti kisah Mawar, bahkan sebagian besar memiliki akhir yang bahagia.

Bahasa yang digunakan juga terbilang sederhana. Cukup mudah untuk dipahami. Juga ada sisipan data-data statistik berupa tabel dan grafik untuk mendukung argumen Penulis. Jadi buku ini tidak sebatas pada menceritakan hasil wawancara Gladwell dengan penutur cerita saja, namun ada ide-ide beliau juga yang disampaikan sebagai tanggapan terhadap kisah tersebut.

ISBN                      : 978-0-14197-895-6

Tahun Terbit       : 2013

Penerbit                : Penguin Books

Penulis                 : Malcolm Gladwell

Genre                   : Nonfiksi

Tebal                     : 305 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 5 jam

Rating                   : 8/10