Resensi Buku: “How To Win Friends & Influence People”

Pengetahuan teknis memang penting untuk memimpin suatu tim. Akan tetapi, kemampuan untuk menghadapi, berinteraksi, dan berkolaborasi dengan orang lain adalah sesuatu yang wajib dimiliki oleh setiap pemimpin yang disegani. Disegani ya, bukan ditakuti.

Jpeg

Berbeda dengan pengetahuan teknis, kemampuan memimpin orang lain sangat minim diajarkan di sekolah-sekolah kita. Biasanya beberapa siswa mendapat pelajaran, atau lebih tepatnya pengalaman, ini dari kegiatan ekstrakurikuler. Tidak semua siswa berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini kan?

Pun demikian dengan kondisi Amerika Serikat di tahun 1915, dimana kondisi perekonomian sedang jatuh dan pendidikan pun tidak jelas arahnya kemana. Bahwasanya sebagian besar orang memang punya keahlian teknis, akan tetapi tidak semua orang dapat menjadi pemimpin yang baik. Tidak semua orang bisa membuat orang lain mau melakukan apa yang diperintahkannya.

Dengan segala kesulitan tersebut, seorang pemuda yang berasal dari desa sederhana, sangat tertarik dengan seni berbicara di hadapan orang lain.  Awalnya, dia merasa sangat gugup ketika mengikuti lomba pidato di kampusnya, akan tetapi, lama kelamaan dia menjadi juara tidak hanya sekali, namun berkali-kali setelahnya dan berturut-turut pula. Kawan-kawannya memohon pada pemuda ini untuk diajarkan cara berbicara yang baik. Hal inilah yang menginspirasi Dale Carnegie, nama pemuda tersebut untuk memberikan pelatihan-pelatihan tentang bagaimana cara berbicara di hadapan orang lain dan cara menjadi pemimpin yang baik.

Mungkin terdengar klise ya. Sangat banyak iklan-iklan yang bermunculan dengan tema seperti ini. Akan tetapi, semua orang kala itu, yakin bahwa kelas/seminar Dale Carnegie berbeda dengan pembicara lainnya. Peserta yang hadir berasal dari berbagai kalangan. Tua, muda, amatir, profesional, pedagang roti, sampai eksekutif perusahaan. Semuanya tertarik mengikuti kelas Dale Carnegie karena dinilai simpel, cepat, dan sangat aplikatif dibandingkan dengan mempelajari psikologi manusia secara umum yang mungkin memerlukan waktu lama untuk dipelajari dan terlalu fundamental diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di sela-sela kegiatannya sebagai pembicara dalam seminarnya ini, Dale Carnegie menerbitkan sebuah buku. How To Win Friends & Influence People. Bagaimana cara mendapatkan teman dan mempengaruhi orang lain. Mempengaruhi orang lain sama sekali bukan berarti memanipulasi atau menipu ya. Justru sebaliknya, kita berusaha untuk jujur kepada diri sendiri.

Salah satu  contoh kasus, ketika ada rekan kerja kita yang melakukan kesalahan, berkali-kali, yang membuat kita naik pitam, seringkali kita langsung melompat kepada inti permasalahan dengan cara mengkritik atau mengeluarkan kalimat yang tidak enak didengar. Kita seakan lupa akan kebaikan atau kelebihan rekan kita tersebut selama bekerja bersama. Lebih tepatnya kita memilih untuk melupakan kelebihannya dan berfokus pada kekurangannya saat itu. Ini namanya tidak jujur terhadap diri sendiri. Yang terjadi selanjutnya adalah adu mulut diantara kita dan rekan kerja kita sampai entah kapan. Manusia tidak tahan kritik, tidak bisa menerima kritik apalagi yang dibawakan dengan cara merendahkan seperti itu.

Salah satu instruksi Dale adalah, sebelum kita menyinggung kesalahan orang lain, sebaiknya kita awali dengan memuji kebaikannya. Intinya adalah menurunkan ego kita agar orang lain bisa mendengarkan kritik membangun yang akan kita sampaikan. Apakah ketika kita mengkritik pedas orang lain, dia akan melakukan apa yang kita inginkan? Kalau orang lain itu bawahan kita, bisa saja dia akan tetap melakukan pekerjaan yang diperintahkan. Tapi apakah dia akan melakukannya dengan senang hati? Tidak mungkin. Yang ada setelah itu malah terjadi pergunjingan di antara karyawan kita sendiri atau dia akan resign beberapa minggu kemudian.

Memang diperlukan latihan untuk bisa menurunkan ego tersebut. Begitupun dengan semua intruksi yang ada di buku ini. Tetapi jangan khawatir, instruksi yang diberikan cukup mudah untuk diikuti dan diterapkan dalam keseharian kita.

Buku ini terbagi atas empat bab. Masing-masing bab terdiri dari beberapa poin prinsip yang bisa kita latih. Mulai dari menghindari argumen (argument ya, bukan diskusi), melemparkan senyum, cara menangani komplain pelanggan, cara memberikan perintah pada orang lain, dan masih banyak lagi. Dale Carnegie juga menuliskan pengalaman-pengalaman peserta seminarnya sebagai contoh kasus yang berhasil. Jadi dalam seminar ini setiap peserta diwajibkan untuk berbicara dalam batas waktu tertentu untuk menceritakan pengalamannya menerapkan prinsip yang diajarkan oleh Dale.

Harus diakui tidak semua orang dapat dipengarhuhi dengan cara seperti ini. Yah namanya orang, ada saja kelakuannya kan. Dale juga tidak menjanjikan keberhasilan 100%. Namun respon positif akan jauh lebih sering didapatkan jika kita menerapkan prinsip-prinsip tersebut.

ISBN                      : 978-1-4391-9919-0

Tahun Terbit      : 1936 (cetakan Pocket Books tahun 2010)

Penerbit              : Pocket Books

Penulis                 : Dale Carnegie

Genre                   : Nonfiksi, pengembangan diri

Tebal                     : 276 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 4 jam

Rating                   : 9/10

Advertisements

Resensi Buku: “The 4-Hour Work Week”

Orang kaya baru atau OKB biasanya disematkan pada orang-orang yang baru saja mendapatkan kekayaan melimpah atau tiba-tiba punya banyak uang. Akan tetapi, Tim Ferris punya definisi sediri untuk orang kaya baru atau new rich. New rich disini lebih dekat definisinya kepada golongan orang kaya ‘modern’ atau yang mengadaptasi gaya hidup yang baru. Gaya hidup tersebut tidak serta merta menjadikan orang memiliki harta berlimpah dan tabungannya bengkak.

Jpeg

Menurut Tim, waktu lebih berharga daripada uang. Jadi sebagian kekayaan kita akan dihabiskan untuk meluangkan waktu kita, yang tadinya 40 jam seminggu untuk bekerja, menjadi 4 jam saja. Salah satunya dengan cara menyewa asisten pribadi. Di samping uang yang dihabiskan untuk ‘membeli’ waktu ini, kita juga harus memiliki pemasukan tambahan. Karena Tim menyarankan pada kita untuk selalu traveling. Ke luar negeri, tidak boleh ke luar kota saja. Juga kita harus melakukan aktivitas ketika traveling tersebut yang berkaitan dengan ciri khas dengan negara yang dituju.

The 4-Hour Work Week berisi panduan mendetail mengenai bagaimana cara menekan jam kerja kita sehingga kita dapat melakukan hal lain yang kita inginkan. Goal dari buku ini bukan untuk membuat pembacanya jadi sekaya Steve Jobs atau Elon Musk. Tim menggarisbawahi bahwa instruksi yang dia berikan adalah yang memberikan kita pemasukan secukupnya saja.

Untuk mencapai target tersebut, ada sebuah tabel bernama Dreamline. Tabel ini berfungsi untuk mengumpulkan 4 hal yang paling kita inginkan di dunia ini, mau itu barang, skill, ataupun melancong. Setelah itu kita melakukan estimasi biaya, misalkan biaya totalnya 250 juta rupiah. Nah angka ini bisa dibagi ke dalam 12 bulan misalkan. Jadi untuk mencapai target ini dalam setahun, kita butuh pemasukan sebesar Rp. 20.833.333 setiap bulannya. Waw sebuah angka yang fantastis ya. Tapi, jika dikonversi ke dalam dolar, dengan asumsi $1 = Rp.13.000, maka Rp. 20.8333.333 = $1.603 saja. Angka yang tidak begitu besar dimana gaji rata-rata di AS berada di atas $2.000 per bulannya. Jadi ditambah tips-tips untuk menambah pemasukan dari Tim, target ini sangat feasible. Ini memang berkaitan dengan purchasing power masyarakat USA yang jauh lebih besar dibandingkan kita. Tapi bukan berarti buku ini mejadi bias dan tidak cocok diterapkan di sini. Tips dan instruksi mengenai hal lain selain traveling masih bisa diterapkan. Karena biasanya yang membuat estimasi biaya membengkak adalah dari traveling ini. Selain itu, kebanyakan negara lain purchasing power-nya di bawah USA, jadi traveling bagi masyarakat di sana juga cukup terjangkau menurut saya.

Di dalam bukunya, Tim menjelaskan hal-hal kecil yang bisa kita lakukan untuk membuat kita menjadi manusia yang lebih efektif. Diantaranya dengan tidak membalas setiap email (karena kita tahu tidak semuanya penting), belajar menolak permintaan orang lain (yang kita tahu tidak penting juga), dan belajar lobbying bahkan membaca cepat. Intinya menurut Tim waktu kita sangat berharga dan sudah begitu banyak terbuang selama ini.

New York Times best seller ini wajib dimiliki meskipun menurut saya perlu ada sedikit adaptasi ke dalam kultur masyarakat Indonesia. Berguna sekali untuk mengukur target hidup dan mengkuantifikasikan target tersebut dalam satuan mata uang.

ISBN                      : 978-0-0919-2911-4

Tahun Terbit      : 2007

Penerbit              : Ebury Pubishing

Penulis                 : Timothy Ferris

Genre                   : Nonfiksi, bisnis, pengembangan diri

Tebal                     : 396 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 7 jam

Rating                   : 8/10

Resensi Buku: “What Would Ben Stein Do?”

Ketika saya membeli buku ini, saya tidak menegenal siapa itu Ben Stein. Lho terus kenapa dibeli bukunya? Karena toko yang menjualnya sedang garage sale.

Jpeg

Ben Stein adalah seorang lulusan Yale University jurusan hokum. Dia adalah kolumnis The Wall Street Journal dan The New York Times, serta merupakan penulis naskah pidato Presiden Nixon dan Ford. Nah setelah membaca profil beliau ini, mungkin kita memang harus mendengarkan petuah-petuahnya.

Buku ini diawali dengan membahas pesan dalam memilih pasangan hidup, salah satunya adalah harus yang mau bekerja, baik pasangannya itu pria maupun wanita. Karena keinginan bekerja merupakan cerminan semangat hidup dan pencapaian.

Setelah itu, Ben membahas mengenai tabungan, dimana tabungan merupakan segalanya. Sebagai jarring pengaman ketika kita mengalami kejatuhan di dalam hidup. Menurut dia kejatuhan tersebut hampir pasti terjadi pada setiap orang, makanya kita perlu play it safe salah satunya dengan memiliki tabungan yang cukup. Tabungan tersebut tentu saja diperoleh dengan cara bekerja. Kerja, kerja, kerja!

Ada hal menarik yang diungkapkan dalam buku ini. Ben kenal dengan beberapa orang temannya yang merupakan pemimpi atau dreamer. Orang-orang dengan visi besar akan tetapi mereka tidak melakukan apapun demi mewujudkan mimpinya tersebut. Atau paling tidak Cuma berusaha seadanya. Nah mereka ini jadinya malah lebih sengsara dibandingkan dengan orang yang visi hidupnya biasa saja (cuma ingin punya rumah sederhana, keluarga kecil, dan mobil standar) dimana mereka dengan giat bekerja setiap hari dalam mewujudkan mimpi sederhananya tersebut. Sudut pandang yang realistis memang, tapi betul begitu adanya. Masalahnya bukan terletak pada visi yang besar ataupun kecil, tapi pada implementasi kerja yang diberikan terhadap visi tersebut.

Petuah penting lainnya adalah ‘teman’. Dengan menjaga hubungan pertemanan, semuanya bisa jadi lebih mudah. Relasi bisnis lebih luas serta membuka pintu rezeki lebih lebar.

Ben Stein memberikan petuah seputar karir, asmara, dan keuangan. Dibawakan dengan bahasa yang apa adanya. Sebagai generasi Baby Boomer yang mengalami masa the great depression, menurut saya menjadikan konten dalam buku ini menjadi sangat realis. Bahasa kasarnya mungkin cari aman. Berbeda dengan tren millennial sekarang ini yang seringkali bermain dengan resiko. Bukan berarti keduanya benar atau salah menurut saya. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Pesan yang disampaikan Ben Stein ada benarnya juga, kita harus siap dengan segala kemungkinan, karena perekonomian negara bisa mengalami krisis di waktu-waktu yang tidak terduga. Tetapi, kalau kita ingin melompat ke arah yang lebih baik, tidak ada salahnya sekali-sekali mengambil calculated risk.

 ISBN                     : 978-1-118-03817-8

Tahun Terbit      : 2011

Penerbit              : John Wiley & Sons, Inc.

Penulis                 : Ben Stein

Genre                   : Nonfiksi, pengembangan diri

Tebal                     : 210 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 3 jam

Rating                   : 7/10

Resensi Buku: “Creativity, Inc.”

Give a good idea to a mediocre team, and they will screw it up. But give a mediocre idea to a great team, and they will either fix it or come up with something better.

-Ed Catmull

Di tahun 1970-an, industri perfilman nomor satu di dunia, Hollywood, belum menyadari bahwa perfilman dan teknologi jika disandingkan dapat menghasilkan sebuah karya yang luar biasa. Akan tetapi, seorang bernama George Lucas sudah menyadari hal ini dan dia sangat yakin penerapan teknologi pada film sangatlah penting dan merupakan masa depan dunia layar lebar. Maka terbentuklah Lucasfilm yang mengguncang dunia dengan Star Wars.

Jpeg

Dalam usahanya mewujudkan dunia luar angkasa yang spektakuler pada masanya tersebut, George Lucas membentuk sebuah divisi khusus yang menangani masalah integrasi teknologi komputer dengan film, termasuk di antaranya proses editing. Untuk menjalankan divisi tersebut, Geroge Lucas merekrut seorang lulusan ilmu komputer dari University of Utah. Lulusan tersebut bernama Ed Catmull. Mungkin tidak banyak yang tahu ketika kita disodorkan nama ini. Tapi siapa yang tidak tahu ketika disodorkan nama Pixar Animation? Nah divisi komputer di Lucasfilm yang dikepalai oleh Ed Catmull ini lah cikal bakal terbentuknya Pixar.

Anak generasi 90-an pasti tahu Toy Story dong. Nah Toy Story ini merupakan debut Pixar Animation di layar lebar dimana film tersebut menggunakan komputer sepenuhnya untuk proses animasi. Walaupun film ini didanai dan hak miliknya diambil oleh Disney, Toy Story sepenuhnya dibuat oleh Pixar. Mulai dari cerita, animasi, editing, dan lain sebagainya. Disney hanya mengawasi pekerjaan tersebut dan memberikan masukan-masukan.

Kemunculan Pixar Animation ke dalam dunia animasi, tidak terlepas dari jasa-jasa Steve Jobs. Ketika George Lucas berniat menjual Pixar Imaging Computer dikarenakan kondisi keuangan Lucasfilm yang sedang menurun, Steve Jobs berani berinvestasi untuk Pixar dan melepaskannya dari Lucasfilm. Pixar menjadi perusahaan independen. Ketertarikan Steve Jobs terhadap Pixar menurut saya bisa jadi dikarenakan kesamaan visi diantara keduanya, yaitu membuat produk yang fantastis, spektakuler, berbeda kelas dengan saingan-saingannya, serta inovatif. Kalau bahasa Steve Jobs-nya “Insanely great product”. Demikianlah Ed Catmull dan Steve Jobs berkolaborasi mewujudkan film-film Pixar. Peran Steve Jobs berada di luar perusahaan sebagai investor dan pelindung Pixar. Sedangakan Ed Catmull mengatur jalannya internal perusahaan.

Saya tidak mengira ternyata orang-orang paling berpengaruh itu sebagian besar berhubungan atau paling tidak pernah berinteraksi satu sama lain. George Lucas, Steve Jobs, Bill Gates, Steven Spielberg, Martin Scorcese, semuanya disebut dalam buku ini, walaupun yang dua terakhir hanya sekilas. Namun demikian, seperti ada lingkaran yang menghubungkan orang-orang hebat ini (termasuk Ed Catmull). Sepintas sebagian dari mereka terlihat bersaing dengan yang lain, tapi menurut saya persaingan sehat tersebut mendorong ke arah tujuan yang lebih baik, salah satunya dengan lahirnya Pixar.

Selanjutnya Pixar memproduksi film-film lainnya yang memorable, sangat berkesan, dan menyampaikan pesan positif bagi dunia. Diantaranya A Bug’s Life, Monsters, Inc., Wall-E, dan Toy Story 3 yang fenomenal itu. Hingga sekarang Pixar masih aktif memproduksi film animasi.

Creativity, Inc. membawa kita dalam petualangan Pixar menemukan jati dirinya. Ed Catmull menceritakan sejarah  dirinya yang bercita-cita ingin menjadi animator Disney, sekaligus menerapkan teknologi animasi komputer terhadap perfilman. Namun sayang, Disney waktu itu belum melihat peluang ini dan berpandangan bahwa komputer malah menyusahkan. Karena memang komputer di masa itu tidak secanggih hari ini.

Buku ini merupakan buku tentang pengembangan perusahaan, namun dibalut dengan kemasan biografi. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri karena instruksi yang diberikan tidak terkesan menggurui. Kita benar-benar belajar dari kesalahan dan kesuksesan Pixar, terutama di tahun-tahun awalnya. Creativity, Inc. adalah buku yang sangat menarik, inspiratif, serta menghibur. Jika Anda penasaran dengan sejarah Pixar, maka buku ini lah yang Anda cari.

ISBN                      : 978-0-553-84122-0

Tahun Terbit      : 2014

Penerbit              : Random House

Penulis                 : Ed Catmull & Amy Wallace

Genre                   : Nonfiksi, biografi, pengembangan diri

Tebal                     : 340 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 5 jam

Rating                   : 9/10

Resensi Buku: “Elon Musk”

Dari usia 12 tahun Elon Musk sudah bisa membuat game berjudul The Blastar yang dimuat di salah satu majalah di Afrika Selatan. Seiring berjalannya waktu, dia pindah ke Canada kemudian ke Amerika, membawa mimpi kolonisasi Planet Mars serta membuat sistem transportasi di dunia jadi lebih baik. Maka terbentuklah dua perusahaan bernama SpaceX dan Tesla.

Jpeg

SpaceX merupakan perusahaan transportasi luar angkasa yang memiliki visi memulai kehidupan di Mars dan mewujudkan transportasi ke luar angkasa dengan harga murah namun kualitas terjaga. Jadi Elon Musk ini literally rocket scientist.

Sedangkan Tesla, adalah perusahaan yang mempoduksi mobil listrik. Harga bergantung kepada model mobilnya, ada Model T, Model S, Model X dan lain-lain.

Sebetulnya Elon Musk juga ikut andil dalam beberapa perusahaan lain. Ada SolarCity, Paypal, dan sebuah perusahaan startup yang memulai karirnya di bidang kewirausahaan yaitu Zip2, tapi sekarang dengan semakin canggihnya Google saya kira perusahaan ini sudah tutup.

Saat ini Elon Musk juga sedang mengembangkan moda transportasi baru bernama Hyperloop. Kalau dilihat-lihat bentuknya seperti moda transportasi di film-film sci-fi.

Perjalanan membentuk perusahaan-perusahaan tadi tidaklah mudah. Banyak lika-liku dan naik-turun bukitnya. Tapi sebaiknya And abaca sendiri detilnya karena saya tidak akan bahas disini. Saya hanya akan menyinggung sedikit tentang masa kecil Musk.

Musk adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Adik laki-laki pertamanya bernama Kimbal dan adik perempuan bungsunya bernama Tosca. Merka lahir dan menghabiskan masa kecilnya di Afrika Selatan. Ayahnya, Errol Musk, adalah seorang engineer sedangkan Maye Musk, ibunya, adalah seorang model yang menyukai sains dan matematik.

Musk kecil sangat-sangat senang membaca. Dia punya eidetic memory atau istilah umumnya photographic memory. Setelah pulang sekolah sekitar pukul 2 siang, dia pergi ke perpustakaan untuk melanjutkan membaca hingga pukul 6 sore. Setelah itu dia pulang ke rumah dan melanjutkan membaca fiksi atau komik. Terlihat dari kesehariannya, dia bukan merupakan anak yang memiliki banyak teman. Memang betul, seringkali dia harus berhadapan dengan bullying teman-teman di sekolahnya. Berbeda dengan Steve Jobs yang malah sering mengerjai orang lain ketika dia remaja.

Kira-kira seperti itulah masa kecil Musk secara garis besar. Jangan khawatir spoiler, masih banyak hal lain yang terjadi pada masa kecil Elon.

Ashlee Vance, penulis biografi ini menceritakan dengan gaya lugas. Elon Musk bukan malaikat. Dia punya kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dan kekurangan ini tetap dibeberkan penulis dengan jelas dengan cara mewawancarai pihak-pihak yang berhubungan atau telah berhubungan dengan Elon. Banyak inspirasi yang bisa dirasakan dari kelebihan-kelebihannya, dan banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kekurangannya. Yang pasti, secara keseluruhan saya sangat menikmati membaca buku ini dan akan membacanya lagi untuk yang ke dua kali.

ISBN                      : 978-0-75355-564-4

Tahun Terbit      : 2015

Penerbit              : Virgin Books

Penulis                 : Ashlee Vance

Genre                   : Nonfiksi, biografi

Tebal                     : 392 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 5 jam

Rating                   : 8.5/10

Resensi Buku: “Think And Grow Rich”

“Cara untuk menjadi kaya.”

Mungkin itu salah satu kalimat yang paling sering masuk di daftar pencarian Google. Siapa yang tidak mau kaya sih? Menolak rejeki saja sudah disebut tidak baik, apalagi tidak mau menjadi kaya. Definisi kaya disini kalau untuk saya sendiri lebih kepada makmur sebetulnya. Mau beli rumah bisa, beli mobil gampang, jalan-jalan ke luar negeri tinggal atur jadwal. Tidak mesti rumah elit atau apartemen mewah, tidak mesti Rolls-Royce atau Ferrari, BMW saja cukup (eh).

JpegNamun demikian, itu semua tetap memerlukan uang. Termasuk memberikan impact positif terhadap orang sekitar, jika ingin sustainable, juga perlu uang. Makanya saya tertarik ketika melihat sampul buku berjudul Think And Grow Rich. Terus terang saja ekspektasi saya terhadap buku ini pertama kali adalah cara atau teknik mendetail tertentu dalam rangka meraih kekayaan. Maksudnya metode yang rasional dan dapat terkuantifikasi. Tetapi ternyata setelah membaca buku ini, isinya lebih kepada latihan meningkatkan persepsi pikiran terhadap kekayaan. Contohnya begini, saya ingin uang dua ratus juta rupiah dalam enam bulan. Buku ini menginstruksikan kepada saya untuk melatih pikiran saya setiap harinya membayangkan uang dua ratus juta rupiah itu sudah berada di depan mata saya. Saya bisa merabanya, mencium baunya, dan seterusnya. Bayangan tersebut harus diikuti dengan keinginan keras yang juga dilatih setiap harinya. Dengan metode tersebut diharapkan, jika kita sudah terlatih, otak akan memberikan sendiri inspirasi bagi kita bagaimana cara untuk mendapatkan uang tersebut dalam waktu yang telah ditentukan.

Saya sempat kecewa dengan isi buku ini karena bukan membahas tentang apa yang saya inginkan dari awal yaitu hal-hal teknis dan mendetail. Think And Grow Rich menjelaskan cara menjadi kaya secara filosofis dan fundamental. Bahkan menurut saya instruksi di buku ini cenderung superstitious atau mistis. Akan tetapi sang Penulis, Napoleon Hill juga mengatakan dalam bukunya bahwa mungkin ini terdengar seperti omong kosong belaka, tapi percaya atau tidak inilah kesamaan orang-orang sukses yang beliau wawancarai macam Henry Ford, Andrew Carnegie, dan kawan-kawan. Mereka punya keyakinan mendalam bahwa mereka memang ditakdirkan untuk kaya.

Jadi, konsep cara untuk kaya yang dipaparkan pada buku ini sebetulnya lebih kepada the power of mind atau kekuatan pikiran. Tentu saja Napoleon Hill juga menginstruksikan kerja keras dan kegigihan. Tidak bisa serta merta kita memikirkan uang 200 juta setiap hari tapi tidak ada usaha apapun. Latihan pikiran tadi, atau autosugesti disebutnya, hanyalah cara agar kita tidak kehilangan semangat bekerja dan tidak kehabisan ide. Mulai masuk akal kan sekarang?

Itu hanyalah beberapa poin dari Think And Grow Rich. Sisanya silakan baca sendiri hehe.

Karena saya membeli versi terjemahan, bahasanya jadi terdengar kaku dan canggung. Tapi poin-poin penting tetap didapatkan kok. Think And Grow Rich pertama kali diterbitkan tahun 1937, waw sudah sangat tua memang. Tetapi karena isinya begitu mendasar, buku ini masih relevan sampai sekarang. Saya sarankan bagi Anda yang ingin membaca buku ini untuk membaca dulu sampai habis, jangan mencoba berargumen dengan penulis dahulu. Setelah selesai, baru Anda bisa membaca ulang, silakan memilih mau dari awal lagi atau langsung ke bab tertentu. Banyak yang bilang membaca buku ini tidak bisa hanya sekali, dan saya pun merasakannya. Minimal perlu dua kali baca agar buku ini bisa masuk akal dan bisa dicoba diterapkan perintah-perintahnya.

Pemikiran Napoleon Hill sangat unik. Idenya memiliki karakter tersendiri. Menurut saya buku ini wajib dimiliki siapa saja yang memiliki mimpi besar tentang apapun, tidak melulu uang atau kekayaan.

ISBN                      : 978-979-22-3939-3

Tahun Terbit      : 1937 (Cetakan Pertama PT GPU tahun 2008)

Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama

Penulis                 : Napoleon Hill

Genre                   : Nonfiksi, pengembangan diri

Tebal                     : 270 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 5 jam

Rating                   : 8/10

Resensi Buku: “Alibaba’s World”

“Today is tough, tomorrow is tougher, and the day after tomorrow is beautiful. But most companies die tomorrow evening and can’t see the sunshine on the day after tomorrow.”

-Jack Ma

Tiongkok bisa dibilang merupakan negara manufaktur terbesar di dunia. Akan tetapi tentunya tidak semua barang disana diperjualbelikan dalam partai besar. Banyak juga pedagang-pedagang kecil-menengah yang tersebar di seantero negeri tirai bambu tersebut.

Pada tahun 90an, penggunaan internet belum seperti saat ini. Paling hanya digunakan untuk membuka email atau chatting via YM. Baru ada beberapa perusahaan besar saja yang bergerak di bidang e-commerce atau belanja online. Itu pun hanya di US saja, contohnya Amazon dan eBay.

Jpeg

Seorang guru Bahasa Inggris di Tiongkok, melihat peluang tersebut ketika dirinya pergi dinas ke Amerika, tapi malah ditodong pistol oleh kliennya yang ternyata penipu. Dia pun pergi ke rumah seorang kenalannya yang berada di Seattle. Ketika itulah kawannya memperkenalkan Sang Guru kepada internet. Dengan keluguannya dia mengetik “beer” di Google lalu muncullah artikel dan gambar berbagai macam bir yang berasal dari seluruh dunia. Takjub akan hal ini, Sang Guru bertekad untuk membawa perubahan bagi negerinya, yaitu dengan menghubungkan para pedagang di sana dengan dunia melalui internet. Ya, nama guru Bahasa Inggris yang gagal dua kali tes masuk PTN itu bernama Jack Ma.

Jack kemudian pulang ke apartemennya di Hangzhou, hanya bermodal ide dan laptop serta beberapa orang kenalannya yang memahami programming. Pekerjaan ini dilakukan di apartemennya yang kecil yang seringkali listriknya mati sehingga penghangat ruangan mati pula, akibatnya para programmer ini harus bekerja menggunakan sarung tangan, tanpa tahu apakah mimpinya akan terwujud dan tanpa tahu dia akan digaji atau tidak. Seperti itulah perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok bernama Alibaba dirintis.

Dikisahkan dalam ceritanya, Alibaba dapat membuka sebuah pintu ke dalam gudang harta karunnya dengan hanya mengucapkan “open sesame”. Nama Alibaba dirasa cocok menurut Jack. Karena menurut beliau, situs ini seperti pembuka pintu gerbang para pedagang terhadap harta karun, yaitu peluang-peluang baru yang lebih besar di luar Tiongkok.

Tak bisa dipungkiri bahwa barang sehari-hari kita didominasi oleh produk yang difabrikasi di Tiongkok. Banyak yang bilang, “Ah pantes cepet rusak, barang c**a sih.” Tapi menurut saya pernyataan tadi sudah mulai outdated. Barang kualitas tinggi dengan harga lebih murah yang berasal dari Tiongkok sudah mulai bermunculan. Yang sering kita dengar adalah Oppo dan Xiaomi. Pasar global sudah mengharuskan para produsen untuk memiliki standar kualitas tertentu agar dapat diterima oleh pembeli.

Mungkin ada beberapa orang lagi yang menulis biografi perusahaan Alibaba, tapi menurut saya ini yang paling cocok karena ditulis oleh mantan vice president disana. Sang Penulis, Porter Erisman, direkrut Jack Ma pada tahun 2000 sebagai penanggungjawab International PR (Public Relations). Sebelumnya, Erisman merupakan ekspat yang bekerja di salah satu perusahaan di Beijing. Beliau juga yang menulis/menyutradarai Crocodile in The Yangtze, sebuah film dokumenter mengenai Alibaba.

Bahasa yang dipakai di buku ini lugas, mudah dimengerti, dan apa adanya. Tidak terkesan menutupi kelemahan perusahaan atau Jack Ma sendiri. Erisman menggambarkan Jack Ma sebagai sosok yang lugu, naif, kurang percaya diri, dan cenderung puitis. Pada sebuah wawancara dengan majalah Forbes, Jack lebih terdengar seperti seorang filsuf ketimbang seorang CEO. Tapi begitulah orang yang menjadikan Alibaba raksasa e-commerce seperti sekarang ini.

Alibaba’s World memberikan inspirasi tersendiri serta penghiburan bagi saya. Mungkin ini obyektif tapi saya senang betul bagaimana orang seperti Jack Ma, yang biasa-biasa saja, tidak begitu nyentrik seperti Steve Jobs atau Elon Musk, bisa mengubah perspektif dunia dan membuat negaranya jadi lebih baik. Kalau Anda pernah membaca biografi almarhum Steve Jobs atau Elon Musk, mereka adalah orang-orang dengan passion sangat-sangat tinggi dan visioner tulen. Walaupun saya tidak memiliki produk Apple atau mobil listrik Tesla, tapi saya sangat mengagumi keduanya. Namun demikian, kalau saya ditawari bekerja di Apple, Tesla, SpaceX atau Alibaba, saya akan pilih Alibaba. Steve dan Elon, menurut biografinya, adalah orang-orang yang impossible to work with. Mungkin memang diperlukan kepribadian seperti itu untuk membangun visi besar, tapi saya tidak akan betah lama-lama bekerja disana. Lain dengan Jack Ma, seorang yang hanya ingin bersenang-senang sambil memberikan manfaat sekecil apapun bagi orang-orang di sekitarnya.

Belakangan ini ada info yang mengatakan bahwa Jack Ma telah direkrut presiden kita untuk menjadi advisor di bidang e-commerce. Saya tidak tahu bagaimana kelanjutannya tapi semoga beliau juga bisa memberikan manfaat disana dan ikut memajukan perekonomian Indonesia.

ISBN                      : 978-1-4472-9064-3

Tahun Terbit      : 2015

Penerbit              : Macmillan

Penulis                 : Porter Erisman

Genre                   : Nonfiksi, bisnis

Tebal                     : 241 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 5 jam

Rating                   : 8.5/10

Resensi Buku: “David & Goliath”

Malcolm Gladwell adalah salah satu kontributor majalah New York Times. Beliau juga adalah pengarang buku The Tipping Point, Outliers, Blink, dan lain sebagainya termasuk buku yang saya buat resensinya kali ini.

Jpeg

Jangan salah sangka, buku ini bukan menceritakan kisah Nabi Daud melawan raksasa Jalut atau Goliath. Kisah tersebut hanyalah sebuah analogi untuk kumpulan kisah nyata yang dipadukan oleh Gladwell ke dalam bukunya. Kisah-kisah mengenai bagaimana orang-orang yang diselimuti kekurangan dapat terus bertahan bahkan menjadi salah satu yang terbaik di bidangnya. Orang-orang ini berasal dari berbagai negara dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda pula. Mulai dari guru, mahasiswa, dokter, dan orang sebagai warga sipil biasa (ketika bercerita tentang pemerintah yang represif).

Berikut satu kisah yang saya ambil sebagai contoh, seorang remaja, sebut saja Mawar, bercita-cita ingin menajdi ilmuwan atau scientist. Semenjak kecil bakatanya sudah terlihat. Mawar senang berjalan-jalan di sekeliling rumah mencari serangga, mengumpulkannya dan membuat sketsa-sketsanya untuk mengidentifikasi anatomi tubuh serangga tersebut. Dia juga mulai tertarik pada anatomi dan fisiologi tubuh manusia. Menurutnya cara kerja tubuh manusia adalah hal yang menakjubkan. Sains adalah passion dan cinta pertama bagi Mawar. Nilai raport Mawar semasa sekolah selalu tinggi. Predikat ranking 1 sudah tidak asing lagi melekat pada dirinya.

Setelah lulus SMA, tibalah waktu Mawar untuk memutuskan perguruan tinggi mana yang akan dipilihnya. Dari sekian banyak universitas di US, pilihan Mawar mengerucut pada 2 perguruan tinggi, sebut saja Universitas A dan Universitas B. Universitas A merupakan universitas ternama, termasuk ke dalam Ivy League (bisa dibilang 8 universitas paling prestisius di US), dan tentu saja dipandang sebagai salah satu kampus terbaik dunia. Di lain sisi, Universitas B merupakan universitas yang medioker. Tidak terlalu bagus dan juga tidak bontot amat. Maka jelas sudah pilihan Mawar jatuh pada Universitas A. Dia mengikuti tes masuk dan berhasil diterima di sana.

Di awal semester dirinya merasa seperti berada di surga. Banyak kelas yang menurutnya menarik hingga ia sendiri bingung mau memilih yang mana. Kegiatan ekstrakurikuler juga memadati jadwal semasa kuliahnya. Mawar sempat keteteran menjalani masa-masa ini namun ia tetap berusaha semaksimal mungkin.

Singkat cerita, di semester berikutnya Mawar diwajibkan mengambil mata kuliah kimia organik. Di semester ini Mawar gagal mendapatkan nilai yang diinginkannya, dia hanya mendapat nilai B. Semasa sekolah dia belum pernah mendapat nilai ini dan hatinya sangat terpukul. Mawar disarankan oleh dosennya untuk mengambil mata kuliah ini semester depan. Mawar mengikuti saran sang dosen, namun kelihatannya nilainya tidak kunjung membaik. Dia merasa teman-teman sekelasnya (yang waktu itu masih tingkat 1 sedangkan Mawar tingkat 2) selalu bisa memahami pelajaran jauh lebih mudah ketimbang dirinya, padahal awalnya sama-sama tidak mengerti.

Mawar bukanlah gadis yang mudah menyerah, dia terus berusaha mempelajari kimia organik bahkan sampai jam 3 pagi. Akan tetapi, hasil yang didapatkan tak kunjung memberikan perubahan yang berarti. Saat itulah Mawar memutuskan bahwa, mungkin sains bukan untuk dirinya.

Menurut cerita di atas, apakah Mawar bodoh? Tidak, ranking 1 di kelas selama bertahun-tahun tidak mungkin orang bodoh. Apakah dia malas? Tentu tidak. Lalu apa yang jadi kendala Mawar sebetulnya? Itu adalah rasa percaya diri. Self-esteem. Mawar tidak bodoh tapi teman-temannya di Kampus A membuat dia merasa bodoh. Perumpamaan ini seperti ikan kecil di kolam besar atau ikan besar di kolam kecil. Mawar adalah contoh kasus yang pertama.

Akhirnya Mawar telah memutuskan untuk hengkang dari Universitas A dan mencoba jurusan lain (tidak diceritakan di buku dia mengambil jurusan apa dan dimana). Sungguh sesuatu yang disayangkan bagi Mawar. Kita patut bersyukur diberi kemudahan baik secara fisik maupun mental untuk bisa lulus dan mendapatkan gelar.

Nah disinilah Gladwell memaparkan pandangannya mengenai contoh kasus di atas. Beliau memberikan data berupa statistik yang menunjukkan bahwa juka Mawar memilih Universitas B, bisa dipastikan dia saat ini telah mendapat gelar di bidang sains. Statistik tersebut kurang lebih menunjukkan bahwa, jumlah mahasiswa yang drop out, apakah itu di Kampus A atau di Kampus B, tidak jauh berbeda. Dengan asumsi bahwa mahasiswa yang drop out adalah mereka yang merasa “bodoh” (sekitar 13%-15% mahasiswa). Kenyataannya, skor terendah di Kampus A itu masih lebih tinggi dibanding skor tertinggi di Kampus B. Akan tetapi para mahasiswa dengan skor terendah tersebut memutuskan untuk putus kuliah, sedangkan mereka yang terbaik di Kampus B telah mendapatkan gelar dengan rasa percaya diri yang tinggi. Sangat disayangkan bahwa Kampus A memangkas 15% mahasiswa cerdasnya hanya karena krisis kepercayaan diri. Namun seperti itulah kenyataan yang ada. Malcolm Gladwell mencoba menjadikan kisah Mawar sebagai suatu pelajaran untuk kita bahwa, lebih baik menjadi ikan besar di kolam yang kecil, karena dengan begitu kita merasa memegang kendali hidup kita.

Meskipun beberapa kisah tersebut tidak berakhir dengan ideal, karena in kisah nyata, tidak bisa selalu diatur menjadi happy ending. Akan tetapi bukan berarti orang yang menjalani kisah itu tidak bahagia saat ini. Lagipula, tidak semua kisahnya berakhir seperti kisah Mawar, bahkan sebagian besar memiliki akhir yang bahagia.

Bahasa yang digunakan juga terbilang sederhana. Cukup mudah untuk dipahami. Juga ada sisipan data-data statistik berupa tabel dan grafik untuk mendukung argumen Penulis. Jadi buku ini tidak sebatas pada menceritakan hasil wawancara Gladwell dengan penutur cerita saja, namun ada ide-ide beliau juga yang disampaikan sebagai tanggapan terhadap kisah tersebut.

ISBN                      : 978-0-14197-895-6

Tahun Terbit       : 2013

Penerbit                : Penguin Books

Penulis                 : Malcolm Gladwell

Genre                   : Nonfiksi

Tebal                     : 305 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 5 jam

Rating                   : 8/10

Resensi Buku: “Rework”

Perspektif unik! Itulah kesan pertama yang saya dapatkan dari buku ini. Gaya bahasa yang kasual, agak menggurui, dan dibawakan dengan intonasi “galak”, adalah kesan ke dua.

Maraknya startup atau bisnis UKM dan UMKM saat ini adalah salah satu sinyal positif bagi masyarakat kita. Artinya, sudah banyak orang dalam usia produktif yang memiliki jiwa entrepreneur yang diharapkan dapat meningkatkan perekonomian dan memperbesar lapangan pekerjaan.

Menurut buku hasil karya Jason Fried ini, 9 dari 10 startup atau bisnis baru akan mengalami kegagalan. Artinya peluang berhasilnya sebuah bisnis yang baru berkembang adalah 1 : 10. Angka yang realistis memang, tapi bukan berarti mustahil.

Menurut beliau, hal ini terjadi dikarenakan perusahaan berkembang banyak meniru cara kerja perusahaan-perusahaan besar yang sebetulnya tidak diperlukan, misalnya meeting terlalu sering, mencoba menjaring dana besar lewat investor, proses rekrutmen yang panjang, memblok facebok dan youtube dari internet kantor, dan lain sebagainya. Justru banyak hal yang bisa dilakukan dengan  keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Kondisi yang carut marut akan memaksa si pengambil keputusan dan rekan-rekannya untuk berpikir sekreatif dan secepat mungkin.

Jpeg

Jika Anda belum mengenal Jason Fried, beliau adalah founder dari aplikasi bernama Basecamp. Aplikasi yang berfungsi sebagai alat koordinasi proyek atau pekerjaan ini dibentuk tahun 2004. Dengan menggunakan Basecamp, konsultan/kontraktor atau pelaksana proyek dapat saling berkoordinasi melalui papan berita, chat grup, menentukan jadwal deadline, hingga berkomunikasi dengan klien (koordinasi di antara konsultan/kontraktor tidak dapat dilihat klien). Munculnya aplikasi ini sangat membantu, walaupun menurut saya sebagian besar user berasal dari konsultan IT.

Akan tetapi, buku ini tidak menceritakan tentang Basecamp. Bahkan sangat sedikit disinggung mengenai hal itu. Buku ini menjelaskan bagaimana cara suatu pola pikir yang segar dapat bertahan di tengah guncangan arus pemikiran mainstream. Karena seringkali pola pikir yang unik ini lah yang menjadikan perusahaan itu 1 yang berhasil dari 9 yang gagal. Dan tidak hanya pola pikir atau ide saja yang dibuat bertahan, tapi juga SDM yang berada di perusahaan tersebut.

Basecamp adalah perusahaan yang ngeyel. Karyawannya hanya 16 orang ketika buku ini diterbitkan, dan ke 16 orang itu lokasinya berjauhan secara geografis. Ada yang di Amerika dan ada yang di Eropa. Namun profitnya mencapai jutaan dolar per tahun. Bayangkan satu juta dolar dibagi 16 orang sahaja!

Itulah prinsip si penulis. Perusahaan tidak akan melakukan penambahan karyawan karena memang tidak diperlukan untuk saat ini. Orang lain akan bilang, “Dengan profit segitu apa tidak sebaiknya ekspansi?” dan pemikiran macam inilah yang coba dilawan oleh Rework. Sang Penulis yakin bahwa ekspansi menjadi perusahaan besar akan memperumit masalah dan memancing hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Bisnis tidak harus scalable.

Beberapa instruksi yang diberikan buku ini mungkin akan  membuat Anda mengernyitkan dahi ketimbang langsung mengiyakan. Akan tetapi banyak juga poin-poin yang saya sangat setuju dengan si Penulis. Buku ini ditulis murni berdasarkan pengalaman. Di dalamnya terdapat juga contoh-contoh kasus dari perusahaan-perusahaan ternama yang mengimplementasikan strategi-strategi khusus yang bisa ditiru. Jadi bukan berarti perusahaan berkembang tidak boleh meniru perusahaan besar, pastinya ada poin-poin positif yang bisa diadaptasi dari sana.

Secara keseluruhan buku ini menarik. Saya dapat merasakan intonasi penulis yang berapi-api, kadang sinis tapi tetap baik maksudnya. Hanya saja saya tidak begitu suka dengan buku yang memiliki terlalu banyak sekat. Sekat tersebut berisi gambar atau tulisan artistik yang mendukung penjelasan bab selanjutnya. Menurut saya hanya menjadi penebal halaman saja sehingga bukunya jadi lebih mahal hehe.

Rework adalah untuk Anda yang ingin mengimplementasikan hal baru tidak hanya dalam perusahaan tapi juga dalam hidup Anda. Buku ini memang agak berbeda dengan kebanyakan buku bertema bisnis lainnya. Menurut saya buku ini memberikan cara agar kita bisa stand out dibanding yang lain. Menyisihkan kita dari kerumunan orang banyak sehingga kita bertahan dengan prinsip walaupun digoyah dari segala arah.

ISBN                      : 978-0-09-192978-7

Tahun Terbit      : 2010

Penerbit              : Vermillion

Genre                   : Bisnis/Nonfiksi

Penulis                 : Jason Fried & David Heinemeier Hansson

Tebal                     : 279 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 3 jam

Rating                   : 8/10

Resensi Buku “Consumer 3000 : Revolusi Konsumen Kelas Menengah Indonesia”

Berhentilah bilang Indonesia adalah negara berkembang!

Jpeg

Sejak tahun 2010, angka GDP kita telah melewati angka $3.000, dengan demikian menurut ADB (Asian Development Bank) Indonesia sudah masuk kategori middle-income country atau negara kelas menengah. Sedangkan GDP Indonesia tahun 2015 yang saya peroleh dari hasil googling adalah $3.346 berdasarkan data dari website World Bank. Meskipun World Bank membagi kategori middle income country  menjadi tiga bagian lagi, yaitu lower-middle income, middle-middle income, dan higher-middle income, tetap saja kita sudah masuk ke dalam kategori middle income country (lower).

Data dari ADB tersebut saya dapatkan dari sebuah buku berjudul Consumer 3000 : Revolusi Kelas Menengah Indonesia. Apa sih kelas menengah itu? Ada berbagai macam definisi yang dilontarkan oleh berbagai macam institusi pula. Akan tetapi sang penulis, Yuswohady, menggunakan data ADB yaitu kelas masyarakat yang pengeluaran per harinya $2-$20. Sudah bisa ditebak bahwa masyarakat yang memiliki pengeluaran dengan kisaran ini sebagian besar merupakan pekerja kantoran, supervisor pabrik, atau pekerjaan setingkat lainnya.

Menurut buku ini, masyarakat kelas menengah adalah orang-orang yang orientasinya nilai atau value. Jadi, kalua masyarakat kelas bawah berorientasi pada harga, masyarakat kelas atas berorientasi pada merk atau brand ternama, maka kelas berada di antara keduanya. Mereka adalah konsumen paling kritis, beroritentasi pada kualitas barang/jasa, namun tetap mempertimbangkan harga. Ketika harga yang diajukan dirasa lebih tinggi daripada kualitas yang ditawarkan, bye!

Itulah sekelumit insight atau pendangan yang saya ambil dari buku ini. Pada sampul depan tertera tulisan “Menangkan Pasar Paling Besar dan Paling Menguntungkan di Indonesia Be a Middle-Class Brand!!!”. Terkesan kuat bahwa buku ini bertujuan untuk memberikan saran pengembangan marketing. Memang betul, buku ini memberikan pandangan terhadap fenomena-fenomena yang marak terjadi ketika buku ini ditulis sekitar tahun 2012, fenomena ngopi di Starbucks, merebaknya virus K-Wave, dan menjamurnya media sosial dan medsospreneur. Akan tetapi yang saya dapatkan bukanlah saran-saran yang bersifat menggurui dan langsung jebret Anda harus begini, Anda harus begitu. Dengan kata lain, melalui pandangan-pandangan inilah penulis memaparkan terhadap kita kondisi perilaku konsumen kelas menegah Indonesia, yang porsinya 60% dari total populasi (waw!), dan dengan pandangan itu lah kita bisa menentukan produk yang cocok jika kita ingin menyosor pasar terbesar ini. Salah satu yang terpenting adalah orientasi terhadap value.

Ada banyak hal menarik lainnya yang dipaparkan Bang Yuswohady, banyak yang membuat kita optimis, ada juga yang bikin kita geleng-geleng kepala contohnya ketika antri panjang saat launching produk Blackberry di Pacific Place tahun 2011. Ternyata banyak juga orang kaya di Indonesia.

Buku kumpulan ide-ide Yuswohady ini dibawakan dengan bahasa yang simpel dan santai. Cocok untuk tema yang diangkat. Memang saya belum pernah membaca textbook Perilaku Konsumen yang menjadi buku panduan kuliah anak-anak jurusan bisnis dan ekonomi, tapi mungkin inilah versi sederhananya, CMIIW.

Tak dapat dipungkiri bahwa perubahan terus terjadi. Ketika buku ini ditulis memang Starbucks masih menjadi primadona tempat nongki alias nongkrong, sepertinya belum jadi anak gaul resmi kalua belum pernah ngopi disana. Media sosial berupa Facebook dan Twitter juga sedang asik-asiknya. Namun sekarang semua itu telah berubah, cafe atau coffee shop lokal menjamur, Facebook dan Twitter kehilangan sentuhan magisnya, ojek online bermunculan.

Akan tetapi, kebutuhan konsumen kelas menengah kurang lebih tetap sama, mereka butuh sense of achievement, butuh sarana untuk narsis, dan butuh tetap terkoneksi dengan kerabatnya, baik online maupun offline. Itu sebabnya café lokal dengan kualitas kopi underrated menjamur. Itu sebabnya Twitter berganti Snapchat dan Facebook berganti Instagram. Itu sebabnya buku ini akan tetap menarik untuk saya meskipun dibaca 5 tahun mendatang.

Bagi Anda yang bercita-cita ingin menjadi entrepreneur dengan sasaran kelas menengah, buku ini wajib khatam. Tebalnya hanya 260 halaman tapi saya yakin buku ini dapat memberikan Anda sebuah pandangan dan gagasan baru mengenai produk/jasa yang Anda jual.

Bagi Anda yang tidak ingin menjadi pebisnis atau pengusaha, silakan baca juga, toh saya bukan pengusaha tapi buku ini tetap menarik.

ISBN                      : 978-979-22-8746-2

Tahun Terbit      : 2012

Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama

Penulis                : Yuswohady

Tebal                    : 260 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 4 jam

Rating                  : 7.8/10