Resensi Buku: “Elon Musk”

Dari usia 12 tahun Elon Musk sudah bisa membuat game berjudul The Blastar yang dimuat di salah satu majalah di Afrika Selatan. Seiring berjalannya waktu, dia pindah ke Canada kemudian ke Amerika, membawa mimpi kolonisasi Planet Mars serta membuat sistem transportasi di dunia jadi lebih baik. Maka terbentuklah dua perusahaan bernama SpaceX dan Tesla.

Jpeg

SpaceX merupakan perusahaan transportasi luar angkasa yang memiliki visi memulai kehidupan di Mars dan mewujudkan transportasi ke luar angkasa dengan harga murah namun kualitas terjaga. Jadi Elon Musk ini literally rocket scientist.

Sedangkan Tesla, adalah perusahaan yang mempoduksi mobil listrik. Harga bergantung kepada model mobilnya, ada Model T, Model S, Model X dan lain-lain.

Sebetulnya Elon Musk juga ikut andil dalam beberapa perusahaan lain. Ada SolarCity, Paypal, dan sebuah perusahaan startup yang memulai karirnya di bidang kewirausahaan yaitu Zip2, tapi sekarang dengan semakin canggihnya Google saya kira perusahaan ini sudah tutup.

Saat ini Elon Musk juga sedang mengembangkan moda transportasi baru bernama Hyperloop. Kalau dilihat-lihat bentuknya seperti moda transportasi di film-film sci-fi.

Perjalanan membentuk perusahaan-perusahaan tadi tidaklah mudah. Banyak lika-liku dan naik-turun bukitnya. Tapi sebaiknya And abaca sendiri detilnya karena saya tidak akan bahas disini. Saya hanya akan menyinggung sedikit tentang masa kecil Musk.

Musk adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Adik laki-laki pertamanya bernama Kimbal dan adik perempuan bungsunya bernama Tosca. Merka lahir dan menghabiskan masa kecilnya di Afrika Selatan. Ayahnya, Errol Musk, adalah seorang engineer sedangkan Maye Musk, ibunya, adalah seorang model yang menyukai sains dan matematik.

Musk kecil sangat-sangat senang membaca. Dia punya eidetic memory atau istilah umumnya photographic memory. Setelah pulang sekolah sekitar pukul 2 siang, dia pergi ke perpustakaan untuk melanjutkan membaca hingga pukul 6 sore. Setelah itu dia pulang ke rumah dan melanjutkan membaca fiksi atau komik. Terlihat dari kesehariannya, dia bukan merupakan anak yang memiliki banyak teman. Memang betul, seringkali dia harus berhadapan dengan bullying teman-teman di sekolahnya. Berbeda dengan Steve Jobs yang malah sering mengerjai orang lain ketika dia remaja.

Kira-kira seperti itulah masa kecil Musk secara garis besar. Jangan khawatir spoiler, masih banyak hal lain yang terjadi pada masa kecil Elon.

Ashlee Vance, penulis biografi ini menceritakan dengan gaya lugas. Elon Musk bukan malaikat. Dia punya kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dan kekurangan ini tetap dibeberkan penulis dengan jelas dengan cara mewawancarai pihak-pihak yang berhubungan atau telah berhubungan dengan Elon. Banyak inspirasi yang bisa dirasakan dari kelebihan-kelebihannya, dan banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kekurangannya. Yang pasti, secara keseluruhan saya sangat menikmati membaca buku ini dan akan membacanya lagi untuk yang ke dua kali.

ISBN                      : 978-0-75355-564-4

Tahun Terbit      : 2015

Penerbit              : Virgin Books

Penulis                 : Ashlee Vance

Genre                   : Nonfiksi, biografi

Tebal                     : 392 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 5 jam

Rating                   : 8.5/10

Advertisements