Resensi Buku: “The 4-Hour Work Week”

Orang kaya baru atau OKB biasanya disematkan pada orang-orang yang baru saja mendapatkan kekayaan melimpah atau tiba-tiba punya banyak uang. Akan tetapi, Tim Ferris punya definisi sediri untuk orang kaya baru atau new rich. New rich disini lebih dekat definisinya kepada golongan orang kaya ‘modern’ atau yang mengadaptasi gaya hidup yang baru. Gaya hidup tersebut tidak serta merta menjadikan orang memiliki harta berlimpah dan tabungannya bengkak.

Jpeg

Menurut Tim, waktu lebih berharga daripada uang. Jadi sebagian kekayaan kita akan dihabiskan untuk meluangkan waktu kita, yang tadinya 40 jam seminggu untuk bekerja, menjadi 4 jam saja. Salah satunya dengan cara menyewa asisten pribadi. Di samping uang yang dihabiskan untuk ‘membeli’ waktu ini, kita juga harus memiliki pemasukan tambahan. Karena Tim menyarankan pada kita untuk selalu traveling. Ke luar negeri, tidak boleh ke luar kota saja. Juga kita harus melakukan aktivitas ketika traveling tersebut yang berkaitan dengan ciri khas dengan negara yang dituju.

The 4-Hour Work Week berisi panduan mendetail mengenai bagaimana cara menekan jam kerja kita sehingga kita dapat melakukan hal lain yang kita inginkan. Goal dari buku ini bukan untuk membuat pembacanya jadi sekaya Steve Jobs atau Elon Musk. Tim menggarisbawahi bahwa instruksi yang dia berikan adalah yang memberikan kita pemasukan secukupnya saja.

Untuk mencapai target tersebut, ada sebuah tabel bernama Dreamline. Tabel ini berfungsi untuk mengumpulkan 4 hal yang paling kita inginkan di dunia ini, mau itu barang, skill, ataupun melancong. Setelah itu kita melakukan estimasi biaya, misalkan biaya totalnya 250 juta rupiah. Nah angka ini bisa dibagi ke dalam 12 bulan misalkan. Jadi untuk mencapai target ini dalam setahun, kita butuh pemasukan sebesar Rp. 20.833.333 setiap bulannya. Waw sebuah angka yang fantastis ya. Tapi, jika dikonversi ke dalam dolar, dengan asumsi $1 = Rp.13.000, maka Rp. 20.8333.333 = $1.603 saja. Angka yang tidak begitu besar dimana gaji rata-rata di AS berada di atas $2.000 per bulannya. Jadi ditambah tips-tips untuk menambah pemasukan dari Tim, target ini sangat feasible. Ini memang berkaitan dengan purchasing power masyarakat USA yang jauh lebih besar dibandingkan kita. Tapi bukan berarti buku ini mejadi bias dan tidak cocok diterapkan di sini. Tips dan instruksi mengenai hal lain selain traveling masih bisa diterapkan. Karena biasanya yang membuat estimasi biaya membengkak adalah dari traveling ini. Selain itu, kebanyakan negara lain purchasing power-nya di bawah USA, jadi traveling bagi masyarakat di sana juga cukup terjangkau menurut saya.

Di dalam bukunya, Tim menjelaskan hal-hal kecil yang bisa kita lakukan untuk membuat kita menjadi manusia yang lebih efektif. Diantaranya dengan tidak membalas setiap email (karena kita tahu tidak semuanya penting), belajar menolak permintaan orang lain (yang kita tahu tidak penting juga), dan belajar lobbying bahkan membaca cepat. Intinya menurut Tim waktu kita sangat berharga dan sudah begitu banyak terbuang selama ini.

New York Times best seller ini wajib dimiliki meskipun menurut saya perlu ada sedikit adaptasi ke dalam kultur masyarakat Indonesia. Berguna sekali untuk mengukur target hidup dan mengkuantifikasikan target tersebut dalam satuan mata uang.

ISBN                      : 978-0-0919-2911-4

Tahun Terbit      : 2007

Penerbit              : Ebury Pubishing

Penulis                 : Timothy Ferris

Genre                   : Nonfiksi, bisnis, pengembangan diri

Tebal                     : 396 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 7 jam

Rating                   : 8/10

Advertisements

Resensi Buku: “When Buyers Say No”

“A confused mind will always say no”.

-When Buyers Say No

Semua orang pada dasarnya adalah penjual atau salesman. Seorang pegawai kantor adalah ‘penjual’ bagi atasannya yang menggajinya. Seorang konsultan adalah ‘penjual’ bagi kliennya. Bahkan dua orang yang sedang mengobrol untuk mencoba mengajak temannya mengikuti pendapatnya bisa dikatakan seorang penjual.

Jpeg

Bahkan penjual paling mahir pun, pada suatu saat akan pulang dengan tangan kosong. Begitulah yang dikatakan Tom Hopkins dan Ben Katt. Tidak semua penjualan berakhir dengan “Ya” tapi peluang tersebut dapat ditingkatkan jauh lebih besar daripada biasanya.

Mungkin yang terbayang oleh Anda adalah buku ini mengajarkan bagaimana cara untuk menjadi salesman annoying yang pantang menyerah dengan cara terus menerus mengganggu calon pembelinya. Tenang saja, buku ini memang mengajarkan kita untuk tidak mudah menyerah tapi bukan berarti terus mencoba dengan cara yang sama.

Dalam bukunya, Tom Hopkins dan Ben Katt memaparkan sebuah pendekatan yang disebut dengan The Circle of Persuasion. Perumpamaannya begini, salesman pada umumnya menggunakan metode penjualan dengan diagram berupa garis lurus seperti ini,

1—–>2—–>3—–>4.

Jadi, ketika si calon pembeli bilang “tidak” di poin ke 3, si salesman akan kembali ke poin 1 (yang akan tertahan lagi di poin 3), atau menyerah disana. Circle of persuasion berbeda dengan konsep tersebut karena membentuk sebuah garis spiral dengan pusatnya adalah kata “ya” dari calon pembeli, dan jika si calon pembeli mengatakan “tidak” pada suatu titik, missal di poin 5, si salesman harus menentukan apa yang harus dilakukan pada poin 6, bukan kembali lagi ke poin sebelumnya. Mungkin agak sulit dicerna tanpa gambar. Jangan khawatir, pada buku ini juga disediakan diagram circle of persuasion.

Sebagian salesman barangkali ada yang mengulang-ulang presentasinya walaupun calon pembeli sudah bilang “tidak” sehingga yang timbul malah perasaan jenuh. Karena si calon pembeli bilang tidak disebabkan ada yang tidak dijelaskan di dalam presentasi tersebut. “A confused mind will always say no.” Manusia takut akan hal-hal yang tidak dimengerti oleh dirinya.

Saya bukan salesman. Ketika saya membeli buku ini, saya memang sedang tertarik untuk mempelajari marketing produk. Ya meskipun bukan benar-benar yang saya harapkan dari buku ini, tapi ternyata saya sangat menikmati membaca When Buyers Say No. Para penulis ini adalah salesman tapi saya tidak menyangka mereka bisa menulis seapik ini. Gaya penulisan sistematis namun bahasanya mudah dipahami. Dilengkapi dengan contoh-contoh percakapan untuk kita pelajari juga.

Jadi jika Anda merasa ragu untuk membeli buku ini karena profesi Anda bukan salesman, segera hilangkan keraguan itu. Saya merasa terbantu dengan membaca buku ini. Seperti yang saya bilang tadi, semua orang pada dasarnya adalah salesman.

ISBN                      : 978-1-4555-8393-5

Tahun Terbit      : 2014

Penerbit              : Business Plus

Penulis                 : Tom Hopkins & Ben Katt

Genre                   : Nonfiksi, bisnis, sales

Tebal                     : 304 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 5 jam

Rating                   : 8/10

Resensi Buku: “Alibaba’s World”

“Today is tough, tomorrow is tougher, and the day after tomorrow is beautiful. But most companies die tomorrow evening and can’t see the sunshine on the day after tomorrow.”

-Jack Ma

Tiongkok bisa dibilang merupakan negara manufaktur terbesar di dunia. Akan tetapi tentunya tidak semua barang disana diperjualbelikan dalam partai besar. Banyak juga pedagang-pedagang kecil-menengah yang tersebar di seantero negeri tirai bambu tersebut.

Pada tahun 90an, penggunaan internet belum seperti saat ini. Paling hanya digunakan untuk membuka email atau chatting via YM. Baru ada beberapa perusahaan besar saja yang bergerak di bidang e-commerce atau belanja online. Itu pun hanya di US saja, contohnya Amazon dan eBay.

Jpeg

Seorang guru Bahasa Inggris di Tiongkok, melihat peluang tersebut ketika dirinya pergi dinas ke Amerika, tapi malah ditodong pistol oleh kliennya yang ternyata penipu. Dia pun pergi ke rumah seorang kenalannya yang berada di Seattle. Ketika itulah kawannya memperkenalkan Sang Guru kepada internet. Dengan keluguannya dia mengetik “beer” di Google lalu muncullah artikel dan gambar berbagai macam bir yang berasal dari seluruh dunia. Takjub akan hal ini, Sang Guru bertekad untuk membawa perubahan bagi negerinya, yaitu dengan menghubungkan para pedagang di sana dengan dunia melalui internet. Ya, nama guru Bahasa Inggris yang gagal dua kali tes masuk PTN itu bernama Jack Ma.

Jack kemudian pulang ke apartemennya di Hangzhou, hanya bermodal ide dan laptop serta beberapa orang kenalannya yang memahami programming. Pekerjaan ini dilakukan di apartemennya yang kecil yang seringkali listriknya mati sehingga penghangat ruangan mati pula, akibatnya para programmer ini harus bekerja menggunakan sarung tangan, tanpa tahu apakah mimpinya akan terwujud dan tanpa tahu dia akan digaji atau tidak. Seperti itulah perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok bernama Alibaba dirintis.

Dikisahkan dalam ceritanya, Alibaba dapat membuka sebuah pintu ke dalam gudang harta karunnya dengan hanya mengucapkan “open sesame”. Nama Alibaba dirasa cocok menurut Jack. Karena menurut beliau, situs ini seperti pembuka pintu gerbang para pedagang terhadap harta karun, yaitu peluang-peluang baru yang lebih besar di luar Tiongkok.

Tak bisa dipungkiri bahwa barang sehari-hari kita didominasi oleh produk yang difabrikasi di Tiongkok. Banyak yang bilang, “Ah pantes cepet rusak, barang c**a sih.” Tapi menurut saya pernyataan tadi sudah mulai outdated. Barang kualitas tinggi dengan harga lebih murah yang berasal dari Tiongkok sudah mulai bermunculan. Yang sering kita dengar adalah Oppo dan Xiaomi. Pasar global sudah mengharuskan para produsen untuk memiliki standar kualitas tertentu agar dapat diterima oleh pembeli.

Mungkin ada beberapa orang lagi yang menulis biografi perusahaan Alibaba, tapi menurut saya ini yang paling cocok karena ditulis oleh mantan vice president disana. Sang Penulis, Porter Erisman, direkrut Jack Ma pada tahun 2000 sebagai penanggungjawab International PR (Public Relations). Sebelumnya, Erisman merupakan ekspat yang bekerja di salah satu perusahaan di Beijing. Beliau juga yang menulis/menyutradarai Crocodile in The Yangtze, sebuah film dokumenter mengenai Alibaba.

Bahasa yang dipakai di buku ini lugas, mudah dimengerti, dan apa adanya. Tidak terkesan menutupi kelemahan perusahaan atau Jack Ma sendiri. Erisman menggambarkan Jack Ma sebagai sosok yang lugu, naif, kurang percaya diri, dan cenderung puitis. Pada sebuah wawancara dengan majalah Forbes, Jack lebih terdengar seperti seorang filsuf ketimbang seorang CEO. Tapi begitulah orang yang menjadikan Alibaba raksasa e-commerce seperti sekarang ini.

Alibaba’s World memberikan inspirasi tersendiri serta penghiburan bagi saya. Mungkin ini obyektif tapi saya senang betul bagaimana orang seperti Jack Ma, yang biasa-biasa saja, tidak begitu nyentrik seperti Steve Jobs atau Elon Musk, bisa mengubah perspektif dunia dan membuat negaranya jadi lebih baik. Kalau Anda pernah membaca biografi almarhum Steve Jobs atau Elon Musk, mereka adalah orang-orang dengan passion sangat-sangat tinggi dan visioner tulen. Walaupun saya tidak memiliki produk Apple atau mobil listrik Tesla, tapi saya sangat mengagumi keduanya. Namun demikian, kalau saya ditawari bekerja di Apple, Tesla, SpaceX atau Alibaba, saya akan pilih Alibaba. Steve dan Elon, menurut biografinya, adalah orang-orang yang impossible to work with. Mungkin memang diperlukan kepribadian seperti itu untuk membangun visi besar, tapi saya tidak akan betah lama-lama bekerja disana. Lain dengan Jack Ma, seorang yang hanya ingin bersenang-senang sambil memberikan manfaat sekecil apapun bagi orang-orang di sekitarnya.

Belakangan ini ada info yang mengatakan bahwa Jack Ma telah direkrut presiden kita untuk menjadi advisor di bidang e-commerce. Saya tidak tahu bagaimana kelanjutannya tapi semoga beliau juga bisa memberikan manfaat disana dan ikut memajukan perekonomian Indonesia.

ISBN                      : 978-1-4472-9064-3

Tahun Terbit      : 2015

Penerbit              : Macmillan

Penulis                 : Porter Erisman

Genre                   : Nonfiksi, bisnis

Tebal                     : 241 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 5 jam

Rating                   : 8.5/10

Resensi Buku: “My Hobby My Business: Kafe Buku”

Hmm…

Kafe buku sempat merebak beberapa waktu ini. Salah satu yang saya tahu di Bandung adalah Reading Lights, yang bertahan cukup lama tapi akhirnya tutup. Ada beberapa kafe buku baru bermunculan setelah itu, seperti Little Wings dan Nimna. Yang satu setahu saya sudah gulung tikar, satu lagi masih bertahan karena usianya belum 1 tahun. Saya pun sebenarnya punya mimpi ingin membuka kafe buku. Oleh karenanya saya membeli buku Kafe Buku karya Gunawan Ardiyanto.

Jpeg

Akan tetapi masuk beberapa halaman pertama saya sudah bosan membacanya. Instruksi yang diberikan terkesan normatif dan sangat umum. Saya berharap buku ini bisa memberikan penjelasan lebih detail mengenai teknis untuk memulai, mulai dari sumber dana, nama supplier, skema bisnis, dan lain sebagainya. Alih-alih yang saya dapatkan, contohnya, adalah penjelasan tentang pembelian bahan pokok atau buku, “Belilah bahan pokok dalam jumlah besar sehingga harganya bisa lebih murah.” Semua orang juga sudah paham kalau itu.

Selain itu juga banyak pengulangan pembahasan dari bab sebelumnya. Bahasa yang digunakan pun terkesan bertele-tele untuk menambah tebal halaman saja. Saya tidak menangkap adanya antusiasme dari penulis. Seolah-olah buku ini adalah tugas dari dosen.

Namun demikian ada juga poin-poin yang bisa dijadikan tambahan wawasan, diantaranya contoh-contoh kafe buku yang telah sukses, ide untuk menarik konsumen dengan welcome drink, dan mempergunakan jasa penitipan jual souvenir atau barang lain di kafe yang dimaksud. Yak, demikianlah resensi buku kali ini. Tidak banyak memang hal yang bisa saya bahas.

ISBN                      : 978-602-9212-75-4

Tahun Terbit      : 2014

Penerbit              : Metagraf

Penulis                 : Gunawan Ardiyanto

Genre                   : Nonfiksi, Bisnis

Tebal                     : 143 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 2 jam

Rating                   : 4/10

Resensi Buku: “Rework”

Perspektif unik! Itulah kesan pertama yang saya dapatkan dari buku ini. Gaya bahasa yang kasual, agak menggurui, dan dibawakan dengan intonasi “galak”, adalah kesan ke dua.

Maraknya startup atau bisnis UKM dan UMKM saat ini adalah salah satu sinyal positif bagi masyarakat kita. Artinya, sudah banyak orang dalam usia produktif yang memiliki jiwa entrepreneur yang diharapkan dapat meningkatkan perekonomian dan memperbesar lapangan pekerjaan.

Menurut buku hasil karya Jason Fried ini, 9 dari 10 startup atau bisnis baru akan mengalami kegagalan. Artinya peluang berhasilnya sebuah bisnis yang baru berkembang adalah 1 : 10. Angka yang realistis memang, tapi bukan berarti mustahil.

Menurut beliau, hal ini terjadi dikarenakan perusahaan berkembang banyak meniru cara kerja perusahaan-perusahaan besar yang sebetulnya tidak diperlukan, misalnya meeting terlalu sering, mencoba menjaring dana besar lewat investor, proses rekrutmen yang panjang, memblok facebok dan youtube dari internet kantor, dan lain sebagainya. Justru banyak hal yang bisa dilakukan dengan  keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Kondisi yang carut marut akan memaksa si pengambil keputusan dan rekan-rekannya untuk berpikir sekreatif dan secepat mungkin.

Jpeg

Jika Anda belum mengenal Jason Fried, beliau adalah founder dari aplikasi bernama Basecamp. Aplikasi yang berfungsi sebagai alat koordinasi proyek atau pekerjaan ini dibentuk tahun 2004. Dengan menggunakan Basecamp, konsultan/kontraktor atau pelaksana proyek dapat saling berkoordinasi melalui papan berita, chat grup, menentukan jadwal deadline, hingga berkomunikasi dengan klien (koordinasi di antara konsultan/kontraktor tidak dapat dilihat klien). Munculnya aplikasi ini sangat membantu, walaupun menurut saya sebagian besar user berasal dari konsultan IT.

Akan tetapi, buku ini tidak menceritakan tentang Basecamp. Bahkan sangat sedikit disinggung mengenai hal itu. Buku ini menjelaskan bagaimana cara suatu pola pikir yang segar dapat bertahan di tengah guncangan arus pemikiran mainstream. Karena seringkali pola pikir yang unik ini lah yang menjadikan perusahaan itu 1 yang berhasil dari 9 yang gagal. Dan tidak hanya pola pikir atau ide saja yang dibuat bertahan, tapi juga SDM yang berada di perusahaan tersebut.

Basecamp adalah perusahaan yang ngeyel. Karyawannya hanya 16 orang ketika buku ini diterbitkan, dan ke 16 orang itu lokasinya berjauhan secara geografis. Ada yang di Amerika dan ada yang di Eropa. Namun profitnya mencapai jutaan dolar per tahun. Bayangkan satu juta dolar dibagi 16 orang sahaja!

Itulah prinsip si penulis. Perusahaan tidak akan melakukan penambahan karyawan karena memang tidak diperlukan untuk saat ini. Orang lain akan bilang, “Dengan profit segitu apa tidak sebaiknya ekspansi?” dan pemikiran macam inilah yang coba dilawan oleh Rework. Sang Penulis yakin bahwa ekspansi menjadi perusahaan besar akan memperumit masalah dan memancing hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Bisnis tidak harus scalable.

Beberapa instruksi yang diberikan buku ini mungkin akan  membuat Anda mengernyitkan dahi ketimbang langsung mengiyakan. Akan tetapi banyak juga poin-poin yang saya sangat setuju dengan si Penulis. Buku ini ditulis murni berdasarkan pengalaman. Di dalamnya terdapat juga contoh-contoh kasus dari perusahaan-perusahaan ternama yang mengimplementasikan strategi-strategi khusus yang bisa ditiru. Jadi bukan berarti perusahaan berkembang tidak boleh meniru perusahaan besar, pastinya ada poin-poin positif yang bisa diadaptasi dari sana.

Secara keseluruhan buku ini menarik. Saya dapat merasakan intonasi penulis yang berapi-api, kadang sinis tapi tetap baik maksudnya. Hanya saja saya tidak begitu suka dengan buku yang memiliki terlalu banyak sekat. Sekat tersebut berisi gambar atau tulisan artistik yang mendukung penjelasan bab selanjutnya. Menurut saya hanya menjadi penebal halaman saja sehingga bukunya jadi lebih mahal hehe.

Rework adalah untuk Anda yang ingin mengimplementasikan hal baru tidak hanya dalam perusahaan tapi juga dalam hidup Anda. Buku ini memang agak berbeda dengan kebanyakan buku bertema bisnis lainnya. Menurut saya buku ini memberikan cara agar kita bisa stand out dibanding yang lain. Menyisihkan kita dari kerumunan orang banyak sehingga kita bertahan dengan prinsip walaupun digoyah dari segala arah.

ISBN                      : 978-0-09-192978-7

Tahun Terbit      : 2010

Penerbit              : Vermillion

Genre                   : Bisnis/Nonfiksi

Penulis                 : Jason Fried & David Heinemeier Hansson

Tebal                     : 279 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 3 jam

Rating                   : 8/10

Resensi Buku “Consumer 3000 : Revolusi Konsumen Kelas Menengah Indonesia”

Berhentilah bilang Indonesia adalah negara berkembang!

Jpeg

Sejak tahun 2010, angka GDP kita telah melewati angka $3.000, dengan demikian menurut ADB (Asian Development Bank) Indonesia sudah masuk kategori middle-income country atau negara kelas menengah. Sedangkan GDP Indonesia tahun 2015 yang saya peroleh dari hasil googling adalah $3.346 berdasarkan data dari website World Bank. Meskipun World Bank membagi kategori middle income country  menjadi tiga bagian lagi, yaitu lower-middle income, middle-middle income, dan higher-middle income, tetap saja kita sudah masuk ke dalam kategori middle income country (lower).

Data dari ADB tersebut saya dapatkan dari sebuah buku berjudul Consumer 3000 : Revolusi Kelas Menengah Indonesia. Apa sih kelas menengah itu? Ada berbagai macam definisi yang dilontarkan oleh berbagai macam institusi pula. Akan tetapi sang penulis, Yuswohady, menggunakan data ADB yaitu kelas masyarakat yang pengeluaran per harinya $2-$20. Sudah bisa ditebak bahwa masyarakat yang memiliki pengeluaran dengan kisaran ini sebagian besar merupakan pekerja kantoran, supervisor pabrik, atau pekerjaan setingkat lainnya.

Menurut buku ini, masyarakat kelas menengah adalah orang-orang yang orientasinya nilai atau value. Jadi, kalua masyarakat kelas bawah berorientasi pada harga, masyarakat kelas atas berorientasi pada merk atau brand ternama, maka kelas berada di antara keduanya. Mereka adalah konsumen paling kritis, beroritentasi pada kualitas barang/jasa, namun tetap mempertimbangkan harga. Ketika harga yang diajukan dirasa lebih tinggi daripada kualitas yang ditawarkan, bye!

Itulah sekelumit insight atau pendangan yang saya ambil dari buku ini. Pada sampul depan tertera tulisan “Menangkan Pasar Paling Besar dan Paling Menguntungkan di Indonesia Be a Middle-Class Brand!!!”. Terkesan kuat bahwa buku ini bertujuan untuk memberikan saran pengembangan marketing. Memang betul, buku ini memberikan pandangan terhadap fenomena-fenomena yang marak terjadi ketika buku ini ditulis sekitar tahun 2012, fenomena ngopi di Starbucks, merebaknya virus K-Wave, dan menjamurnya media sosial dan medsospreneur. Akan tetapi yang saya dapatkan bukanlah saran-saran yang bersifat menggurui dan langsung jebret Anda harus begini, Anda harus begitu. Dengan kata lain, melalui pandangan-pandangan inilah penulis memaparkan terhadap kita kondisi perilaku konsumen kelas menegah Indonesia, yang porsinya 60% dari total populasi (waw!), dan dengan pandangan itu lah kita bisa menentukan produk yang cocok jika kita ingin menyosor pasar terbesar ini. Salah satu yang terpenting adalah orientasi terhadap value.

Ada banyak hal menarik lainnya yang dipaparkan Bang Yuswohady, banyak yang membuat kita optimis, ada juga yang bikin kita geleng-geleng kepala contohnya ketika antri panjang saat launching produk Blackberry di Pacific Place tahun 2011. Ternyata banyak juga orang kaya di Indonesia.

Buku kumpulan ide-ide Yuswohady ini dibawakan dengan bahasa yang simpel dan santai. Cocok untuk tema yang diangkat. Memang saya belum pernah membaca textbook Perilaku Konsumen yang menjadi buku panduan kuliah anak-anak jurusan bisnis dan ekonomi, tapi mungkin inilah versi sederhananya, CMIIW.

Tak dapat dipungkiri bahwa perubahan terus terjadi. Ketika buku ini ditulis memang Starbucks masih menjadi primadona tempat nongki alias nongkrong, sepertinya belum jadi anak gaul resmi kalua belum pernah ngopi disana. Media sosial berupa Facebook dan Twitter juga sedang asik-asiknya. Namun sekarang semua itu telah berubah, cafe atau coffee shop lokal menjamur, Facebook dan Twitter kehilangan sentuhan magisnya, ojek online bermunculan.

Akan tetapi, kebutuhan konsumen kelas menengah kurang lebih tetap sama, mereka butuh sense of achievement, butuh sarana untuk narsis, dan butuh tetap terkoneksi dengan kerabatnya, baik online maupun offline. Itu sebabnya café lokal dengan kualitas kopi underrated menjamur. Itu sebabnya Twitter berganti Snapchat dan Facebook berganti Instagram. Itu sebabnya buku ini akan tetap menarik untuk saya meskipun dibaca 5 tahun mendatang.

Bagi Anda yang bercita-cita ingin menjadi entrepreneur dengan sasaran kelas menengah, buku ini wajib khatam. Tebalnya hanya 260 halaman tapi saya yakin buku ini dapat memberikan Anda sebuah pandangan dan gagasan baru mengenai produk/jasa yang Anda jual.

Bagi Anda yang tidak ingin menjadi pebisnis atau pengusaha, silakan baca juga, toh saya bukan pengusaha tapi buku ini tetap menarik.

ISBN                      : 978-979-22-8746-2

Tahun Terbit      : 2012

Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama

Penulis                : Yuswohady

Tebal                    : 260 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 4 jam

Rating                  : 7.8/10