Posts Tagged With: Ayo Membaca

Resensi Buku: “The Count of Monte Cristo”

There is neither happiness nor misery in the world; there is only the comparison of one state with another—nothing more.

-Edmond Dantes

Pada tahun 1814, Napoleon Bonaparte yang ketika itu tengah menguasai Perancis, harus tunduk pada kekuatan sekutu (Austria, Inggris, Prussia, dan Russia). Dia dilengserkan dan diasingkan ke Pulau Elba. Namun setahun kemudian dia kembali ke Perancis dan berhasil merebut tahtanya walaupun hanya selama 100 hari. Setelah itu, monarki yang dipimpin oleh Raja Louis XVIII.

Jpeg

Sejarah tersebut berlangsung ketika seorang pelayar bernama Edmond Dantes, pulang ke Marseille menggantikan kapten kapalnya yang meninggal di perjalanan. Di Marseille dia digadang sebagai calon kuat kapten selanjutnya oleh si empunya kapal. Selain itu juga dia akan segera menikah dengan wanita kesayangannya, Mercedes. Edmond Dantes berasal dari keluarga kelas menengah ke bawah. Pencalonan dirinya menjadi kapten sesaat sebelum menikah kontan membuat dirinya bahagia. Taraf hidupnya bisa jauh lebih sejahtera dibanding yang sekarang.

Akan tetapi, salah seorang awak kapalnya, Danglars, tidak menyukai hal ini. Menurutnya dialah yang pantas menjadi kapten Pharaon (nama kapal tersebut). Dia menemui seorang pemuda lain bernama Fernand, yang dia ketahui cemburu terhadap Edmond karena dirinya akan menikahi Mercedes pujaan hatinya. Dari sinilah dimulai sebuah plot untuk menjatuhkan Edmond sehingga merubah hidupnya 180 derajat.

Sistem yang korup, pengkhianatan, dan balas dendam sepertinya merupakan motif ditulisnya buku ini. Bahwa dengan kekayaan melimpah, orang bisa melakukan apa yang dia mau dengan segala kemudahan dan relasi yang dimilikinya. Akan tetapi dibalik itu semua, ada sebuah pesan moral yang ingin disampaikan oleh Alexandre Dumas, bahwa seringkali dunia memang tidak seperti yang kita harapkan. Bahwa kita harus mengorbankan banyak hal sebelum bisa meraih apa yang kita inginkan. Dan bahwa setiap keputusan di masa lalu akan menimbulkan konsekuensi pada waktunya.

The Count of Monte Cristo sangat menghibur dengan pengembangan plot silih berganti antara cepat dan lambat. Alur memang berpusat pada Edmond Dantes namun tokoh-tokoh di sekitarnya juga memiliki peran dan kisah yang signifikan, menggambarkan kompleksitas yang terjadi pada tatanan masyarakat Paris kelas atas. Pada pertengahan novel ini kita akan dibuat berpikir, ternyata menjadi mastermind itu tidak mudah karena setiap orang punya kepentingan dan rencananya masing-masing.

Adanya beberapa statement deus-ex machina tidak mengurangi ketertarikan saya terhadap karya klasik ini. Walaupu ada beberapa bagian yang predictable, namun saya tetap menikmati membacanya dan semakin penasaran untuk membuka halaman berikutnya. Selain itu, kekurangan Alexandre Dumas memang dalam hal kronologi, tapi saya pun sejujurnya tidak menemukan hal itu terlalu mengganggu karena tidak paham betul sejarah Perancis.

Membaca novel klasik dalam bahasa asing bagi saya memang memerlukan konsentrasi ekstra. Kendala bahasa yang tidak familiar mewajibkan saya untuk sedia kamus setiap membacanya. Terutama di awal-awal. Tapi lama-kelamaan akan terbiasa juga karena bahasa tersebut akan sering digunakan nantinya.

ISBN                      : 978-1-4472-9064-3

Tahun Terbit      : 1846 (Woodsorth Classics 2002)

Penerbit              : Wordsworth Classics

Penulis                 : Alexandre Dumas

Genre                   : Fiksi

Tebal                     : 894 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 20 jam

Rating                   : 8/10

Categories: Resensi | Tags: , , , | Leave a comment

Resensi Buku: “Bilangan Fu”

“Tahukah engkau, sebelum nol disempurnakan oleh orang-orang Arab, ia memiliki asal sebuah tanda di India: tanda shunya.”

-Suhubudi, Bilangan Fu

Bagaimana kalau ternyata hal-hal berbau mitos itu sebenarnya bisa dijelaskan melalui fakta sejarah dan budaya? Atau paling tidak dicari hubungannya dengan rasio manusia modern. Bahwasanya mungkin ada penjelasan lain dibalik mitos-mitos tersebut jika kita membuka pikiran.

Jpeg

Diskusi demi diskusi dapat kita temukan dalam buku ini. Isu-isu yang diangkat sangat menarik. Mulai dari konservasi lingkungan, sejarah kerajaan Sunda dan Jawa, Nyi Roro Kidul, monoteisme, dan masih banyak lagi. Alur cerita tetap berjalan seiring dengan diskusi tersebut.

Bilangan Fu mengajak kita untuk berpikir terbuka dan lebih obyektif dalam menentukan apa yang kita lihat/dengar sebagai suatu kebenaran atau bukan. Tidak serta merta semua mitos itu bohong dan semua fakta itu benar adanya.

Berkisah tentang seorang pemanjat tebing bernama Yuda. Yuda kemudian bertemu dengan seorang pemanjat lain bernama Parang Jati. Sepintas tidak ada kepribadian yang menonjol dari mereka berdua, tapi saya kira mereka adalah pemikir ulung. Termasuk dari sinilah kita menyimak diskusi  mengenai topik-topik tersebut di atas. Terkadang saya merasa ini adalah sebuah skripsi atau karya ilmiah yang dibuat ke dalam bentuk novel. Sangat menghibur dan juga memberikan wawasan serta pandangan baru bagi pembacanya. Gaya peulisan Ayu Utami mengingatkan saya kepada Eka Kurniawan pada novelnya Cantik Itu Luka, namun Ayu Utami lebih menekankan sisi ilmiah dibanding fantasinya.

Salah satu contoh analogi yang ada di Bilangan Fu adalah ketika membahas ikonografi satria, atau kesatria, atau heroes. Dalam persepsi Amerika atau barat, satria digambarkan dengan otot-otot kekar seperti Superman, Batman, Rambo, dkk. Dalam pewayangan Jawa, tubuh satria digambarkan sebagai sosok yang ramping liat. Sama seperti pemanjat tebing, walaupun tidak memiliki dada yang mengkal, mereka tetap kuat, karena dada mengkal tidak dibutuhkan untuk memanjat. Dia cuma dibutuhkan untuk menarik wanita. Dari analogi ini kemudian berlanjut kepada pembahasan masuknya Islam ke dalam perwayangan Jawa dan bagaimana pengaruhnya terhadap penggambaran tokoh-tokoh yang ada di dalamnya.

Banyak lagi pesan kuat nan memukau lainnya. Bilangan Fu adalah komposisi cerdas yang memadukan antara filosofi, budaya, mistik, sejarah, sains, dan agama. Fu sendiri tentu saja memiliki arti dan akan dijelaskan di dalam karya Ayu Utami ini.

ISBN                      : 978-979-91-0122-8

Tahun Terbit      : 2008

Penerbit              : Kepustakaan Populer Gramedia

Penulis                 : Ayu Utami

Genre                   : Fiksi

Tebal                     : 536 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 6 jam

Rating                   : 9/10

Categories: Resensi | Tags: , , , | Leave a comment

Resensi Buku: “Sang Alkemis (The Alchemist)”

Novel yang sudah sangat populer yang membawa nama Paulo Coelho melejit. Namun demikian saya tetap tertarik untuk meresensi Sang Alkemis.

Jpeg

Berkisah tentang seorang anak laki-laki gembala bernama Santiago, yang kerap mengalami mimpi bahwa di Piramida-Piramida Mesir terdapat seonggok harta karun menunggu ditemukan olehnya. Dia kemudian berpetualang mencari harta karun tersebut.

Ide ceritanya boleh saja sederhana. Akan tetapi, Dalam perjalanannya ini banyak pelajaran yang dapat diambil dari kisah-kisah orang yang ditemui oleh si anak gembala. Serasa semua orang yang ditemuinya adalah filsuf haha. Tapi sepertinya memang demikian gaya bahasa yag dipakai oleh Paulo Coelho.

Saya membaca versi terjemahannya, yang menurut saya cukup enak dibaca. Mungkin memang cocok dengan versi aslinya. Berbeda dengan novel terjemahan yang berasal dari Bahasa Inggris pada umumnya, yang menjadikan bahasanya kaku. Diterjemahkan secara harfiah.

Buku ini sangat recommended. Berisi pelajaran hidup berharga serta untuk memberikan masukan dan perspektif mengenai pemikiran mendasar manusia, seperti tujuan hidup, cita-cita, dan ilmu tapi tentu saja tetap dibawakan dengan pengembangan plot yang menarik.

ISBN                      : 978-979-22-1664-6

Tahun Terbit      : 1988 (cetakan pertama PT Gramedia Pustaka Utama tahun 2005)

Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama

Penulis                 : Paulo Coelho

Genre                   : Fiksi

Tebal                     : 213 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 3 jam

Rating                   : 8.5/10

Categories: Resensi | Tags: , , , | Leave a comment

Resensi Buku: “What Would Ben Stein Do?”

Ketika saya membeli buku ini, saya tidak menegenal siapa itu Ben Stein. Lho terus kenapa dibeli bukunya? Karena toko yang menjualnya sedang garage sale.

Jpeg

Ben Stein adalah seorang lulusan Yale University jurusan hokum. Dia adalah kolumnis The Wall Street Journal dan The New York Times, serta merupakan penulis naskah pidato Presiden Nixon dan Ford. Nah setelah membaca profil beliau ini, mungkin kita memang harus mendengarkan petuah-petuahnya.

Buku ini diawali dengan membahas pesan dalam memilih pasangan hidup, salah satunya adalah harus yang mau bekerja, baik pasangannya itu pria maupun wanita. Karena keinginan bekerja merupakan cerminan semangat hidup dan pencapaian.

Setelah itu, Ben membahas mengenai tabungan, dimana tabungan merupakan segalanya. Sebagai jarring pengaman ketika kita mengalami kejatuhan di dalam hidup. Menurut dia kejatuhan tersebut hampir pasti terjadi pada setiap orang, makanya kita perlu play it safe salah satunya dengan memiliki tabungan yang cukup. Tabungan tersebut tentu saja diperoleh dengan cara bekerja. Kerja, kerja, kerja!

Ada hal menarik yang diungkapkan dalam buku ini. Ben kenal dengan beberapa orang temannya yang merupakan pemimpi atau dreamer. Orang-orang dengan visi besar akan tetapi mereka tidak melakukan apapun demi mewujudkan mimpinya tersebut. Atau paling tidak Cuma berusaha seadanya. Nah mereka ini jadinya malah lebih sengsara dibandingkan dengan orang yang visi hidupnya biasa saja (cuma ingin punya rumah sederhana, keluarga kecil, dan mobil standar) dimana mereka dengan giat bekerja setiap hari dalam mewujudkan mimpi sederhananya tersebut. Sudut pandang yang realistis memang, tapi betul begitu adanya. Masalahnya bukan terletak pada visi yang besar ataupun kecil, tapi pada implementasi kerja yang diberikan terhadap visi tersebut.

Petuah penting lainnya adalah ‘teman’. Dengan menjaga hubungan pertemanan, semuanya bisa jadi lebih mudah. Relasi bisnis lebih luas serta membuka pintu rezeki lebih lebar.

Ben Stein memberikan petuah seputar karir, asmara, dan keuangan. Dibawakan dengan bahasa yang apa adanya. Sebagai generasi Baby Boomer yang mengalami masa the great depression, menurut saya menjadikan konten dalam buku ini menjadi sangat realis. Bahasa kasarnya mungkin cari aman. Berbeda dengan tren millennial sekarang ini yang seringkali bermain dengan resiko. Bukan berarti keduanya benar atau salah menurut saya. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Pesan yang disampaikan Ben Stein ada benarnya juga, kita harus siap dengan segala kemungkinan, karena perekonomian negara bisa mengalami krisis di waktu-waktu yang tidak terduga. Tetapi, kalau kita ingin melompat ke arah yang lebih baik, tidak ada salahnya sekali-sekali mengambil calculated risk.

 ISBN                     : 978-1-118-03817-8

Tahun Terbit      : 2011

Penerbit              : John Wiley & Sons, Inc.

Penulis                 : Ben Stein

Genre                   : Nonfiksi, pengembangan diri

Tebal                     : 210 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 3 jam

Rating                   : 7/10

Categories: Resensi | Tags: , , , | Leave a comment

Resensi Buku: “Elon Musk”

Dari usia 12 tahun Elon Musk sudah bisa membuat game berjudul The Blastar yang dimuat di salah satu majalah di Afrika Selatan. Seiring berjalannya waktu, dia pindah ke Canada kemudian ke Amerika, membawa mimpi kolonisasi Planet Mars serta membuat sistem transportasi di dunia jadi lebih baik. Maka terbentuklah dua perusahaan bernama SpaceX dan Tesla.

Jpeg

SpaceX merupakan perusahaan transportasi luar angkasa yang memiliki visi memulai kehidupan di Mars dan mewujudkan transportasi ke luar angkasa dengan harga murah namun kualitas terjaga. Jadi Elon Musk ini literally rocket scientist.

Sedangkan Tesla, adalah perusahaan yang mempoduksi mobil listrik. Harga bergantung kepada model mobilnya, ada Model T, Model S, Model X dan lain-lain.

Sebetulnya Elon Musk juga ikut andil dalam beberapa perusahaan lain. Ada SolarCity, Paypal, dan sebuah perusahaan startup yang memulai karirnya di bidang kewirausahaan yaitu Zip2, tapi sekarang dengan semakin canggihnya Google saya kira perusahaan ini sudah tutup.

Saat ini Elon Musk juga sedang mengembangkan moda transportasi baru bernama Hyperloop. Kalau dilihat-lihat bentuknya seperti moda transportasi di film-film sci-fi.

Perjalanan membentuk perusahaan-perusahaan tadi tidaklah mudah. Banyak lika-liku dan naik-turun bukitnya. Tapi sebaiknya And abaca sendiri detilnya karena saya tidak akan bahas disini. Saya hanya akan menyinggung sedikit tentang masa kecil Musk.

Musk adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Adik laki-laki pertamanya bernama Kimbal dan adik perempuan bungsunya bernama Tosca. Merka lahir dan menghabiskan masa kecilnya di Afrika Selatan. Ayahnya, Errol Musk, adalah seorang engineer sedangkan Maye Musk, ibunya, adalah seorang model yang menyukai sains dan matematik.

Musk kecil sangat-sangat senang membaca. Dia punya eidetic memory atau istilah umumnya photographic memory. Setelah pulang sekolah sekitar pukul 2 siang, dia pergi ke perpustakaan untuk melanjutkan membaca hingga pukul 6 sore. Setelah itu dia pulang ke rumah dan melanjutkan membaca fiksi atau komik. Terlihat dari kesehariannya, dia bukan merupakan anak yang memiliki banyak teman. Memang betul, seringkali dia harus berhadapan dengan bullying teman-teman di sekolahnya. Berbeda dengan Steve Jobs yang malah sering mengerjai orang lain ketika dia remaja.

Kira-kira seperti itulah masa kecil Musk secara garis besar. Jangan khawatir spoiler, masih banyak hal lain yang terjadi pada masa kecil Elon.

Ashlee Vance, penulis biografi ini menceritakan dengan gaya lugas. Elon Musk bukan malaikat. Dia punya kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dan kekurangan ini tetap dibeberkan penulis dengan jelas dengan cara mewawancarai pihak-pihak yang berhubungan atau telah berhubungan dengan Elon. Banyak inspirasi yang bisa dirasakan dari kelebihan-kelebihannya, dan banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kekurangannya. Yang pasti, secara keseluruhan saya sangat menikmati membaca buku ini dan akan membacanya lagi untuk yang ke dua kali.

ISBN                      : 978-0-75355-564-4

Tahun Terbit      : 2015

Penerbit              : Virgin Books

Penulis                 : Ashlee Vance

Genre                   : Nonfiksi, biografi

Tebal                     : 392 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 5 jam

Rating                   : 8.5/10

Categories: Resensi | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Resensi Buku: “Sherlock Holmes: The Complete Novels and Stories”

“Once you eliminate the impossible, whatever remains, however improbable, must be the truth.”

-Sherlock Holmes

Begitulah salah satu quotes terkenal dari detektif nomor satu dunia ini. Dunianya fiktif tentu saja.

Pertama kali saya benar-benar menyimak cerita Sherlock Holmes adalah dari film layar lebar pada tahun 2009 dengan judul Sherlock Holmes yang disutradarai oleh Guy Ritchie. Sebelum-sebelumnya saya hanya tahu dari referensi-referensi yang banyak dipakai di film lain atau anime. Tapi kemudian Mark Gatiss dan Steven Moffats menculik Sherlock dan Watson ke masa depan. Serial berjudul Sherlock ini merupakan adaptasi dari novel dan cerita-cerita karya Arthur Conan Doyle, penulis Sherlock Holmes yang aseli. Jadilah saya menonton serial Sherlock dan sangat menyukai acara ini. Pada akhirnya saya jadi penasaran, bagaimana sih novelnya? Akhirnya saya berburu buku dari penerbit Bantam Classic yang hingga sekarang masih menerbitkan buku Sherlock Holmes.

Jpeg

Buku ini terdiri dari novel-novel serta cerita pendek karya Conan Doyle. Karya beliau yang pertama adalah A Study in Scarlet yang diterbitkan di majalah Beeton’s Christmas Annual pada tahun 1887.

Saya sendiri perlu penyesuaian lagi ketika pertama kali membaca buku ini, pasalnya Bahasa Inggris yang digunakan sangat jadul. Banyak istilah-istilah baru yang harus dipelajari lagi. Namun di zaman serba digital seperti sekarang ini, kesulitan tersebut dapat ditangani dengan cepat.

Bagi yang sudah menonton serial Sherlock, mungkin akan terasa berbeda ketika membaca bukunya. Disebabkan acara ini merupakan adaptasi, banyak elemen-elemen yang dirubah. Salah satunya judul. Dalam Sherlock judul episode pertama adalah A Study in Pink, dalam novelnya A Study in Scarlet. Begitu juga dengan A Scandal in Belgravia, di novelnya adalah A Scandal in Bohemia. Kasusnya pun berbeda. Yang saya lihat, Mark Gatiss hanya menyisipkan kisah-kisah di novel sebagai cameo.

Dari segi karakter, novelnya ternyata juga memiliki perbedaan. Dalam novelnya Sherlock Holmes sama-sama jenius tapi disini digambarkan bahwa dia tidak semenyebalkan dibanding yang di serial. Dia adalah orang yang sopan terhadap kliennya dan selalu mendengarkan keluhan mereka. Begitu juga dengan Watson. Di novelnya dia lebih bersifat penurut dan jarang sekali ada konflik dengan teman sekamarnya itu.

Namun demikian kasus-kasus yang diceritakan pada buku ini tetap menarik untuk disimak, beberapa kasus cenderung beraura horor tapi pada akhirnya semua bisa dijelaskan dengan logika Sherlock. Sebaiknya buang jauh-jauh dulu image Sherlock dan Watson yang ada di BBC sebelum membaca buku ini, karena isinya benar-benar berbeda.

ISBN                      : 0-553-21241-9 (Vol. 1) 0-553-21242-7 (Vol 2)

Tahun Terbit      : 1887-1903 (Cetak ulang Bantam Classic tahun 2003)

Penerbit              : Bantam Classic

Penulis                 : Sir Arthur Conan Doyle

Genre                   : Fiksi, kriminal

Tebal                     : 1.796 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 15 jam

Rating                   : 7.5/10

Categories: Resensi | Tags: , , , , , | Leave a comment

Resensi Buku: “Think And Grow Rich”

“Cara untuk menjadi kaya.”

Mungkin itu salah satu kalimat yang paling sering masuk di daftar pencarian Google. Siapa yang tidak mau kaya sih? Menolak rejeki saja sudah disebut tidak baik, apalagi tidak mau menjadi kaya. Definisi kaya disini kalau untuk saya sendiri lebih kepada makmur sebetulnya. Mau beli rumah bisa, beli mobil gampang, jalan-jalan ke luar negeri tinggal atur jadwal. Tidak mesti rumah elit atau apartemen mewah, tidak mesti Rolls-Royce atau Ferrari, BMW saja cukup (eh).

JpegNamun demikian, itu semua tetap memerlukan uang. Termasuk memberikan impact positif terhadap orang sekitar, jika ingin sustainable, juga perlu uang. Makanya saya tertarik ketika melihat sampul buku berjudul Think And Grow Rich. Terus terang saja ekspektasi saya terhadap buku ini pertama kali adalah cara atau teknik mendetail tertentu dalam rangka meraih kekayaan. Maksudnya metode yang rasional dan dapat terkuantifikasi. Tetapi ternyata setelah membaca buku ini, isinya lebih kepada latihan meningkatkan persepsi pikiran terhadap kekayaan. Contohnya begini, saya ingin uang dua ratus juta rupiah dalam enam bulan. Buku ini menginstruksikan kepada saya untuk melatih pikiran saya setiap harinya membayangkan uang dua ratus juta rupiah itu sudah berada di depan mata saya. Saya bisa merabanya, mencium baunya, dan seterusnya. Bayangan tersebut harus diikuti dengan keinginan keras yang juga dilatih setiap harinya. Dengan metode tersebut diharapkan, jika kita sudah terlatih, otak akan memberikan sendiri inspirasi bagi kita bagaimana cara untuk mendapatkan uang tersebut dalam waktu yang telah ditentukan.

Saya sempat kecewa dengan isi buku ini karena bukan membahas tentang apa yang saya inginkan dari awal yaitu hal-hal teknis dan mendetail. Think And Grow Rich menjelaskan cara menjadi kaya secara filosofis dan fundamental. Bahkan menurut saya instruksi di buku ini cenderung superstitious atau mistis. Akan tetapi sang Penulis, Napoleon Hill juga mengatakan dalam bukunya bahwa mungkin ini terdengar seperti omong kosong belaka, tapi percaya atau tidak inilah kesamaan orang-orang sukses yang beliau wawancarai macam Henry Ford, Andrew Carnegie, dan kawan-kawan. Mereka punya keyakinan mendalam bahwa mereka memang ditakdirkan untuk kaya.

Jadi, konsep cara untuk kaya yang dipaparkan pada buku ini sebetulnya lebih kepada the power of mind atau kekuatan pikiran. Tentu saja Napoleon Hill juga menginstruksikan kerja keras dan kegigihan. Tidak bisa serta merta kita memikirkan uang 200 juta setiap hari tapi tidak ada usaha apapun. Latihan pikiran tadi, atau autosugesti disebutnya, hanyalah cara agar kita tidak kehilangan semangat bekerja dan tidak kehabisan ide. Mulai masuk akal kan sekarang?

Itu hanyalah beberapa poin dari Think And Grow Rich. Sisanya silakan baca sendiri hehe.

Karena saya membeli versi terjemahan, bahasanya jadi terdengar kaku dan canggung. Tapi poin-poin penting tetap didapatkan kok. Think And Grow Rich pertama kali diterbitkan tahun 1937, waw sudah sangat tua memang. Tetapi karena isinya begitu mendasar, buku ini masih relevan sampai sekarang. Saya sarankan bagi Anda yang ingin membaca buku ini untuk membaca dulu sampai habis, jangan mencoba berargumen dengan penulis dahulu. Setelah selesai, baru Anda bisa membaca ulang, silakan memilih mau dari awal lagi atau langsung ke bab tertentu. Banyak yang bilang membaca buku ini tidak bisa hanya sekali, dan saya pun merasakannya. Minimal perlu dua kali baca agar buku ini bisa masuk akal dan bisa dicoba diterapkan perintah-perintahnya.

Pemikiran Napoleon Hill sangat unik. Idenya memiliki karakter tersendiri. Menurut saya buku ini wajib dimiliki siapa saja yang memiliki mimpi besar tentang apapun, tidak melulu uang atau kekayaan.

ISBN                      : 978-979-22-3939-3

Tahun Terbit      : 1937 (Cetakan Pertama PT GPU tahun 2008)

Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama

Penulis                 : Napoleon Hill

Genre                   : Nonfiksi, pengembangan diri

Tebal                     : 270 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 5 jam

Rating                   : 8/10

Categories: Resensi | Tags: , , , , | Leave a comment

Resensi Buku: “Lisey’s Story”

Penggemar novel fiksi horor atau thriller mana yang tidak mengenal Stephen King? Beliau sudah menerbitkan banyak novel termasuk diantaranya The Shining, The Green Mile, dan seri The Dark Tower. Banyak karya SK yang sudah diadaptasi ke dalam bentuk film. Salah satu yang paling terkenal adalah film The Shawshank Redemption yang diadaptasi dari salah satu novella karyanya dengan judul Rita Hayworth and Shawsank Redemption.

Jpeg

Jujur saya baru membaca dua karyanya yang dalam bentuk tulisan, yaitu Lisey’s  Story dan Mr. Mercedes. Sisanya hanya menonton filmnya saja hehe.

Lisey’s Story berkisah tentang seorang istri penulis terkenal bernama Scott Landon. Istrinya bernama Lisey Landon. Scott adalah seseorang dengan kepribadian rumit. Dia bisa pergi ke suatu tempat yang bukan berasal dari dunia ini. Tempat yang indah namun, bisa menyembuhkan dan bisa juga mematikan. Sedangkan Lisey adalah seorang yang berkepribadian introvert, sederhana, dan setia.

Ketika Lisey dan Scott masih bersama, mereka memiliki permainan yang disebut berburu Bul. Saya pun kurang paham makna harfiahnya dari kata ini. Bagaimanapun, setelah Scott meninggal, dia meninggalkan petunjuk-petunjuk bagi Lisey untuk  menemukan Bul.

Lisey yang ketika itu diteror oleh salah satu fans Scott, berusaha memecahkan kode-kode yang diberikan suaminya. Beruntungnya dia dibantu oleh kakaknya Amanda, namun Amanda memiliki semacam kelainan jiwa dan terkadang tidak bisa diajak berbicara sama sekali atau katatonik.

Bagaimanakah Lisey memcahkan segala masalah tersebut dan apa kaitannya dengan tempat magis yang sering dikunjungi Scott semasa hidupnya? Jeng jeeeeng!

Lisey  Story berhasil memberikan kesan tersendiri, dengan gaya bercerita yang khas. Saya sangat berharap novel ini dapat segera diadaptasi menjadi film seperti karya Stephen King lainnya. Pengembangan plot memang terkesan lambat karena banyak flashback ke masa Scott masih hidup. Akan tetapi hal ini tidak mengurangi ketertarikan terhadap plot secara keseluruhan, karena kita memang perlu tahu bagaimana masa lalu Scott ketika masih hidup untuk memahami cerita novel ini.

ISBN                      : 978-979-22-7412-7

Tahun Terbit      : 2006

Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama

Penulis                 : Stephen King

Genre                   : Fiksi, horor, thriller

Tebal                     : 699 halaman (paperback)

Pembatas buku : Ada

Estimasi waktu

membaca            : 9 jam

Rating                   : 7.8/10

Categories: Resensi | Tags: , , , , , | Leave a comment

Resensi Buku: “My Hobby My Business: Kafe Buku”

Hmm…

Kafe buku sempat merebak beberapa waktu ini. Salah satu yang saya tahu di Bandung adalah Reading Lights, yang bertahan cukup lama tapi akhirnya tutup. Ada beberapa kafe buku baru bermunculan setelah itu, seperti Little Wings dan Nimna. Yang satu setahu saya sudah gulung tikar, satu lagi masih bertahan karena usianya belum 1 tahun. Saya pun sebenarnya punya mimpi ingin membuka kafe buku. Oleh karenanya saya membeli buku Kafe Buku karya Gunawan Ardiyanto.

Jpeg

Akan tetapi masuk beberapa halaman pertama saya sudah bosan membacanya. Instruksi yang diberikan terkesan normatif dan sangat umum. Saya berharap buku ini bisa memberikan penjelasan lebih detail mengenai teknis untuk memulai, mulai dari sumber dana, nama supplier, skema bisnis, dan lain sebagainya. Alih-alih yang saya dapatkan, contohnya, adalah penjelasan tentang pembelian bahan pokok atau buku, “Belilah bahan pokok dalam jumlah besar sehingga harganya bisa lebih murah.” Semua orang juga sudah paham kalau itu.

Selain itu juga banyak pengulangan pembahasan dari bab sebelumnya. Bahasa yang digunakan pun terkesan bertele-tele untuk menambah tebal halaman saja. Saya tidak menangkap adanya antusiasme dari penulis. Seolah-olah buku ini adalah tugas dari dosen.

Namun demikian ada juga poin-poin yang bisa dijadikan tambahan wawasan, diantaranya contoh-contoh kafe buku yang telah sukses, ide untuk menarik konsumen dengan welcome drink, dan mempergunakan jasa penitipan jual souvenir atau barang lain di kafe yang dimaksud. Yak, demikianlah resensi buku kali ini. Tidak banyak memang hal yang bisa saya bahas.

ISBN                      : 978-602-9212-75-4

Tahun Terbit      : 2014

Penerbit              : Metagraf

Penulis                 : Gunawan Ardiyanto

Genre                   : Nonfiksi, Bisnis

Tebal                     : 143 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 2 jam

Rating                   : 4/10

Categories: Resensi | Tags: , , , | Leave a comment

Resensi Buku: “Sabtu Bersama Bapak”

Jpeg

“Keluarga ini adalah tanggung jawabnya, di alam mana pun dia berada.”

–Sabtu Bersama Bapak

Novel yang populer tidak lama setelah waktu terbitnya ini memang layak untuk populer *naon!?*.

Ketika saya memutuskan untuk membeli novel ini, saya kira isinya tentang suatu keluarga yang hanya bisa bertemu dan bermain bersama Sang Ayah setiap hari Sabtu. Yap, tebakan saya tidak melenceng amat, memang betul demikian, tapi saya tidak menyangka kalau si Bapak berada di dalam layar, bisa di-pause, play, fast forward dan rewind.

Dalam novelnya ini Adhitya Mulya menceritakan bagaimana kisah seorang kepala keluarga yang divonis kanker dengan sisa usia tinggal beberapa tahun lagi, membiming kedua anaknya, Satya dan Cakra dalam menjalani hidup bahkan bertahun-tahun setelah Sang Ayah berada di alam lain.

Banyak pelajaran hidup yang dapat diambil dari video-video yang dibuat oleh Bapak, tidak hanya untuk Cakra dan Satya tapi juga untuk para pembaca tentunya. Salah satu yang nyelekit buat saya adalah video Bapak ketika membahas IPK, huhu. Di dalam video terlihat Bapak memegang selembar ijazah dengan IPK yang pas-pasan. Kemudian Bapak mengatakan bahwa banyak yang bilang prestasi akademis itu tidak penting saat mencari kerja nanti, yang penting itu attitude atau soft skill. Bapak tidak setuju dengan hal ini karena beliau kesulitan mencari kerja akibat IPK di bawah standar.

Kenapa nyelekit untuk saya? karena saya pun merasakan hal yang sama. Semasa kuliah saya punya kepercayaan bahwa IPK itu tidak penting, yang penting bagaimana cara kita meng-handle orang dan mempunyai EQ yang tinggi. Tapi setelah lulus dan mencari kerja barulah terasa efeknya. IPK memang bukan segalanya, tapi bukan berarti tidak penting. Dia bisa sangat membantu ketika proses seleksi. Pintu peluang juga akan semakin banyak terbuka, seperti apapun attitude kita. Kelakuan masih bisa dirubah, soft skill masih bisa diasah seiring berjalannya waktu, tapi angka di ijazah sudah fix tertulis disitu. Kalau diotak-atik itu namanya hoax.

Lho kok malah curhat masalah IPK? Lanjut.

Cara penyampaian cerita Adhitya Mulya sangat mudah diterima. Diselipkan humor-humor jenaka. Meskipun ada beberapa plothole serta sisipan-sisipan dialog dengan bahasa Inggris, yang menurut saya malah membuat jadi cheesy, namun bisa dimaafkan karena saya sangat suka dengan ide cerita novel ini.

Desain buku juga menarik. Ada frame atau border tertentu yang tidak hanya berfungsi sebagai hiasan tapi memang ada gunanya sebagai visualisasi bagi pembaca. Contohnya ketika bercerita ada SMS masuk, maka teks akan berada di dalam textbox seperti ketika kita membaca layar di handphone. Juga ada frame khusus ketika video Bapak berlangsung.

Apa pembaca sekalian pernah nonton Breaking Bad? Sama-sama divonis kanker tapi alih-alih jadi gembong narkoba, Bapak memilih untuk membimbing anak-anaknya dengan cara yang ideal. Nonton Breaking Bad memang seru, tapi kita butuh juga asupan cerita idealis seperti ini untuk menyeimbangkannya. Tidak ada maksud untuk membandingkan kedua karya tersebut. 🙂

Sabtu Bersama Bapak cocok untuk dibaca siapa saja, apalagi yang sudah berkeluarga, saya sih belum *uhuk*. Novel ini berhasil meninggalkan kesan tersendiri pada diri saya setelah selesai membacanya hanya dalam waktu tiga hari kerja.

ISBN                      : (13) 978-979-780-721-4

Tahun Terbit      : 2014

Penerbit              : Gagasmedia

Penulis                 : Adhitya Mulya

Genre                   : Fiksi

Tebal                     : 277 halaman (paperback)

Pembatas buku : Ada

Estimasi waktu

membaca            : 3 jam

Rating                   : 8/10

Categories: Resensi | Tags: , , , , | Leave a comment

Blog at WordPress.com.