Resensi Buku: “The Count of Monte Cristo”

There is neither happiness nor misery in the world; there is only the comparison of one state with another—nothing more.

-Edmond Dantes

Pada tahun 1814, Napoleon Bonaparte yang ketika itu tengah menguasai Perancis, harus tunduk pada kekuatan sekutu (Austria, Inggris, Prussia, dan Russia). Dia dilengserkan dan diasingkan ke Pulau Elba. Namun setahun kemudian dia kembali ke Perancis dan berhasil merebut tahtanya walaupun hanya selama 100 hari. Setelah itu, monarki yang dipimpin oleh Raja Louis XVIII.

Jpeg

Sejarah tersebut berlangsung ketika seorang pelayar bernama Edmond Dantes, pulang ke Marseille menggantikan kapten kapalnya yang meninggal di perjalanan. Di Marseille dia digadang sebagai calon kuat kapten selanjutnya oleh si empunya kapal. Selain itu juga dia akan segera menikah dengan wanita kesayangannya, Mercedes. Edmond Dantes berasal dari keluarga kelas menengah ke bawah. Pencalonan dirinya menjadi kapten sesaat sebelum menikah kontan membuat dirinya bahagia. Taraf hidupnya bisa jauh lebih sejahtera dibanding yang sekarang.

Akan tetapi, salah seorang awak kapalnya, Danglars, tidak menyukai hal ini. Menurutnya dialah yang pantas menjadi kapten Pharaon (nama kapal tersebut). Dia menemui seorang pemuda lain bernama Fernand, yang dia ketahui cemburu terhadap Edmond karena dirinya akan menikahi Mercedes pujaan hatinya. Dari sinilah dimulai sebuah plot untuk menjatuhkan Edmond sehingga merubah hidupnya 180 derajat.

Sistem yang korup, pengkhianatan, dan balas dendam sepertinya merupakan motif ditulisnya buku ini. Bahwa dengan kekayaan melimpah, orang bisa melakukan apa yang dia mau dengan segala kemudahan dan relasi yang dimilikinya. Akan tetapi dibalik itu semua, ada sebuah pesan moral yang ingin disampaikan oleh Alexandre Dumas, bahwa seringkali dunia memang tidak seperti yang kita harapkan. Bahwa kita harus mengorbankan banyak hal sebelum bisa meraih apa yang kita inginkan. Dan bahwa setiap keputusan di masa lalu akan menimbulkan konsekuensi pada waktunya.

The Count of Monte Cristo sangat menghibur dengan pengembangan plot silih berganti antara cepat dan lambat. Alur memang berpusat pada Edmond Dantes namun tokoh-tokoh di sekitarnya juga memiliki peran dan kisah yang signifikan, menggambarkan kompleksitas yang terjadi pada tatanan masyarakat Paris kelas atas. Pada pertengahan novel ini kita akan dibuat berpikir, ternyata menjadi mastermind itu tidak mudah karena setiap orang punya kepentingan dan rencananya masing-masing.

Adanya beberapa statement deus-ex machina tidak mengurangi ketertarikan saya terhadap karya klasik ini. Walaupu ada beberapa bagian yang predictable, namun saya tetap menikmati membacanya dan semakin penasaran untuk membuka halaman berikutnya. Selain itu, kekurangan Alexandre Dumas memang dalam hal kronologi, tapi saya pun sejujurnya tidak menemukan hal itu terlalu mengganggu karena tidak paham betul sejarah Perancis.

Membaca novel klasik dalam bahasa asing bagi saya memang memerlukan konsentrasi ekstra. Kendala bahasa yang tidak familiar mewajibkan saya untuk sedia kamus setiap membacanya. Terutama di awal-awal. Tapi lama-kelamaan akan terbiasa juga karena bahasa tersebut akan sering digunakan nantinya.

ISBN                      : 978-1-4472-9064-3

Tahun Terbit      : 1846 (Woodsorth Classics 2002)

Penerbit              : Wordsworth Classics

Penulis                 : Alexandre Dumas

Genre                   : Fiksi

Tebal                     : 894 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 20 jam

Rating                   : 8/10

Advertisements