Resensi Buku: “Sherlock Holmes: The Complete Novels and Stories”

“Once you eliminate the impossible, whatever remains, however improbable, must be the truth.”

-Sherlock Holmes

Begitulah salah satu quotes terkenal dari detektif nomor satu dunia ini. Dunianya fiktif tentu saja.

Pertama kali saya benar-benar menyimak cerita Sherlock Holmes adalah dari film layar lebar pada tahun 2009 dengan judul Sherlock Holmes yang disutradarai oleh Guy Ritchie. Sebelum-sebelumnya saya hanya tahu dari referensi-referensi yang banyak dipakai di film lain atau anime. Tapi kemudian Mark Gatiss dan Steven Moffats menculik Sherlock dan Watson ke masa depan. Serial berjudul Sherlock ini merupakan adaptasi dari novel dan cerita-cerita karya Arthur Conan Doyle, penulis Sherlock Holmes yang aseli. Jadilah saya menonton serial Sherlock dan sangat menyukai acara ini. Pada akhirnya saya jadi penasaran, bagaimana sih novelnya? Akhirnya saya berburu buku dari penerbit Bantam Classic yang hingga sekarang masih menerbitkan buku Sherlock Holmes.

Jpeg

Buku ini terdiri dari novel-novel serta cerita pendek karya Conan Doyle. Karya beliau yang pertama adalah A Study in Scarlet yang diterbitkan di majalah Beeton’s Christmas Annual pada tahun 1887.

Saya sendiri perlu penyesuaian lagi ketika pertama kali membaca buku ini, pasalnya Bahasa Inggris yang digunakan sangat jadul. Banyak istilah-istilah baru yang harus dipelajari lagi. Namun di zaman serba digital seperti sekarang ini, kesulitan tersebut dapat ditangani dengan cepat.

Bagi yang sudah menonton serial Sherlock, mungkin akan terasa berbeda ketika membaca bukunya. Disebabkan acara ini merupakan adaptasi, banyak elemen-elemen yang dirubah. Salah satunya judul. Dalam Sherlock judul episode pertama adalah A Study in Pink, dalam novelnya A Study in Scarlet. Begitu juga dengan A Scandal in Belgravia, di novelnya adalah A Scandal in Bohemia. Kasusnya pun berbeda. Yang saya lihat, Mark Gatiss hanya menyisipkan kisah-kisah di novel sebagai cameo.

Dari segi karakter, novelnya ternyata juga memiliki perbedaan. Dalam novelnya Sherlock Holmes sama-sama jenius tapi disini digambarkan bahwa dia tidak semenyebalkan dibanding yang di serial. Dia adalah orang yang sopan terhadap kliennya dan selalu mendengarkan keluhan mereka. Begitu juga dengan Watson. Di novelnya dia lebih bersifat penurut dan jarang sekali ada konflik dengan teman sekamarnya itu.

Namun demikian kasus-kasus yang diceritakan pada buku ini tetap menarik untuk disimak, beberapa kasus cenderung beraura horor tapi pada akhirnya semua bisa dijelaskan dengan logika Sherlock. Sebaiknya buang jauh-jauh dulu image Sherlock dan Watson yang ada di BBC sebelum membaca buku ini, karena isinya benar-benar berbeda.

ISBN                      : 0-553-21241-9 (Vol. 1) 0-553-21242-7 (Vol 2)

Tahun Terbit      : 1887-1903 (Cetak ulang Bantam Classic tahun 2003)

Penerbit              : Bantam Classic

Penulis                 : Sir Arthur Conan Doyle

Genre                   : Fiksi, kriminal

Tebal                     : 1.796 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 15 jam

Rating                   : 7.5/10

Advertisements

Resensi Buku: “Think And Grow Rich”

“Cara untuk menjadi kaya.”

Mungkin itu salah satu kalimat yang paling sering masuk di daftar pencarian Google. Siapa yang tidak mau kaya sih? Menolak rejeki saja sudah disebut tidak baik, apalagi tidak mau menjadi kaya. Definisi kaya disini kalau untuk saya sendiri lebih kepada makmur sebetulnya. Mau beli rumah bisa, beli mobil gampang, jalan-jalan ke luar negeri tinggal atur jadwal. Tidak mesti rumah elit atau apartemen mewah, tidak mesti Rolls-Royce atau Ferrari, BMW saja cukup (eh).

JpegNamun demikian, itu semua tetap memerlukan uang. Termasuk memberikan impact positif terhadap orang sekitar, jika ingin sustainable, juga perlu uang. Makanya saya tertarik ketika melihat sampul buku berjudul Think And Grow Rich. Terus terang saja ekspektasi saya terhadap buku ini pertama kali adalah cara atau teknik mendetail tertentu dalam rangka meraih kekayaan. Maksudnya metode yang rasional dan dapat terkuantifikasi. Tetapi ternyata setelah membaca buku ini, isinya lebih kepada latihan meningkatkan persepsi pikiran terhadap kekayaan. Contohnya begini, saya ingin uang dua ratus juta rupiah dalam enam bulan. Buku ini menginstruksikan kepada saya untuk melatih pikiran saya setiap harinya membayangkan uang dua ratus juta rupiah itu sudah berada di depan mata saya. Saya bisa merabanya, mencium baunya, dan seterusnya. Bayangan tersebut harus diikuti dengan keinginan keras yang juga dilatih setiap harinya. Dengan metode tersebut diharapkan, jika kita sudah terlatih, otak akan memberikan sendiri inspirasi bagi kita bagaimana cara untuk mendapatkan uang tersebut dalam waktu yang telah ditentukan.

Saya sempat kecewa dengan isi buku ini karena bukan membahas tentang apa yang saya inginkan dari awal yaitu hal-hal teknis dan mendetail. Think And Grow Rich menjelaskan cara menjadi kaya secara filosofis dan fundamental. Bahkan menurut saya instruksi di buku ini cenderung superstitious atau mistis. Akan tetapi sang Penulis, Napoleon Hill juga mengatakan dalam bukunya bahwa mungkin ini terdengar seperti omong kosong belaka, tapi percaya atau tidak inilah kesamaan orang-orang sukses yang beliau wawancarai macam Henry Ford, Andrew Carnegie, dan kawan-kawan. Mereka punya keyakinan mendalam bahwa mereka memang ditakdirkan untuk kaya.

Jadi, konsep cara untuk kaya yang dipaparkan pada buku ini sebetulnya lebih kepada the power of mind atau kekuatan pikiran. Tentu saja Napoleon Hill juga menginstruksikan kerja keras dan kegigihan. Tidak bisa serta merta kita memikirkan uang 200 juta setiap hari tapi tidak ada usaha apapun. Latihan pikiran tadi, atau autosugesti disebutnya, hanyalah cara agar kita tidak kehilangan semangat bekerja dan tidak kehabisan ide. Mulai masuk akal kan sekarang?

Itu hanyalah beberapa poin dari Think And Grow Rich. Sisanya silakan baca sendiri hehe.

Karena saya membeli versi terjemahan, bahasanya jadi terdengar kaku dan canggung. Tapi poin-poin penting tetap didapatkan kok. Think And Grow Rich pertama kali diterbitkan tahun 1937, waw sudah sangat tua memang. Tetapi karena isinya begitu mendasar, buku ini masih relevan sampai sekarang. Saya sarankan bagi Anda yang ingin membaca buku ini untuk membaca dulu sampai habis, jangan mencoba berargumen dengan penulis dahulu. Setelah selesai, baru Anda bisa membaca ulang, silakan memilih mau dari awal lagi atau langsung ke bab tertentu. Banyak yang bilang membaca buku ini tidak bisa hanya sekali, dan saya pun merasakannya. Minimal perlu dua kali baca agar buku ini bisa masuk akal dan bisa dicoba diterapkan perintah-perintahnya.

Pemikiran Napoleon Hill sangat unik. Idenya memiliki karakter tersendiri. Menurut saya buku ini wajib dimiliki siapa saja yang memiliki mimpi besar tentang apapun, tidak melulu uang atau kekayaan.

ISBN                      : 978-979-22-3939-3

Tahun Terbit      : 1937 (Cetakan Pertama PT GPU tahun 2008)

Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama

Penulis                 : Napoleon Hill

Genre                   : Nonfiksi, pengembangan diri

Tebal                     : 270 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 5 jam

Rating                   : 8/10

Resensi Buku: “When Buyers Say No”

“A confused mind will always say no”.

-When Buyers Say No

Semua orang pada dasarnya adalah penjual atau salesman. Seorang pegawai kantor adalah ‘penjual’ bagi atasannya yang menggajinya. Seorang konsultan adalah ‘penjual’ bagi kliennya. Bahkan dua orang yang sedang mengobrol untuk mencoba mengajak temannya mengikuti pendapatnya bisa dikatakan seorang penjual.

Jpeg

Bahkan penjual paling mahir pun, pada suatu saat akan pulang dengan tangan kosong. Begitulah yang dikatakan Tom Hopkins dan Ben Katt. Tidak semua penjualan berakhir dengan “Ya” tapi peluang tersebut dapat ditingkatkan jauh lebih besar daripada biasanya.

Mungkin yang terbayang oleh Anda adalah buku ini mengajarkan bagaimana cara untuk menjadi salesman annoying yang pantang menyerah dengan cara terus menerus mengganggu calon pembelinya. Tenang saja, buku ini memang mengajarkan kita untuk tidak mudah menyerah tapi bukan berarti terus mencoba dengan cara yang sama.

Dalam bukunya, Tom Hopkins dan Ben Katt memaparkan sebuah pendekatan yang disebut dengan The Circle of Persuasion. Perumpamaannya begini, salesman pada umumnya menggunakan metode penjualan dengan diagram berupa garis lurus seperti ini,

1—–>2—–>3—–>4.

Jadi, ketika si calon pembeli bilang “tidak” di poin ke 3, si salesman akan kembali ke poin 1 (yang akan tertahan lagi di poin 3), atau menyerah disana. Circle of persuasion berbeda dengan konsep tersebut karena membentuk sebuah garis spiral dengan pusatnya adalah kata “ya” dari calon pembeli, dan jika si calon pembeli mengatakan “tidak” pada suatu titik, missal di poin 5, si salesman harus menentukan apa yang harus dilakukan pada poin 6, bukan kembali lagi ke poin sebelumnya. Mungkin agak sulit dicerna tanpa gambar. Jangan khawatir, pada buku ini juga disediakan diagram circle of persuasion.

Sebagian salesman barangkali ada yang mengulang-ulang presentasinya walaupun calon pembeli sudah bilang “tidak” sehingga yang timbul malah perasaan jenuh. Karena si calon pembeli bilang tidak disebabkan ada yang tidak dijelaskan di dalam presentasi tersebut. “A confused mind will always say no.” Manusia takut akan hal-hal yang tidak dimengerti oleh dirinya.

Saya bukan salesman. Ketika saya membeli buku ini, saya memang sedang tertarik untuk mempelajari marketing produk. Ya meskipun bukan benar-benar yang saya harapkan dari buku ini, tapi ternyata saya sangat menikmati membaca When Buyers Say No. Para penulis ini adalah salesman tapi saya tidak menyangka mereka bisa menulis seapik ini. Gaya penulisan sistematis namun bahasanya mudah dipahami. Dilengkapi dengan contoh-contoh percakapan untuk kita pelajari juga.

Jadi jika Anda merasa ragu untuk membeli buku ini karena profesi Anda bukan salesman, segera hilangkan keraguan itu. Saya merasa terbantu dengan membaca buku ini. Seperti yang saya bilang tadi, semua orang pada dasarnya adalah salesman.

ISBN                      : 978-1-4555-8393-5

Tahun Terbit      : 2014

Penerbit              : Business Plus

Penulis                 : Tom Hopkins & Ben Katt

Genre                   : Nonfiksi, bisnis, sales

Tebal                     : 304 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 5 jam

Rating                   : 8/10

Resensi Buku: “Alibaba’s World”

“Today is tough, tomorrow is tougher, and the day after tomorrow is beautiful. But most companies die tomorrow evening and can’t see the sunshine on the day after tomorrow.”

-Jack Ma

Tiongkok bisa dibilang merupakan negara manufaktur terbesar di dunia. Akan tetapi tentunya tidak semua barang disana diperjualbelikan dalam partai besar. Banyak juga pedagang-pedagang kecil-menengah yang tersebar di seantero negeri tirai bambu tersebut.

Pada tahun 90an, penggunaan internet belum seperti saat ini. Paling hanya digunakan untuk membuka email atau chatting via YM. Baru ada beberapa perusahaan besar saja yang bergerak di bidang e-commerce atau belanja online. Itu pun hanya di US saja, contohnya Amazon dan eBay.

Jpeg

Seorang guru Bahasa Inggris di Tiongkok, melihat peluang tersebut ketika dirinya pergi dinas ke Amerika, tapi malah ditodong pistol oleh kliennya yang ternyata penipu. Dia pun pergi ke rumah seorang kenalannya yang berada di Seattle. Ketika itulah kawannya memperkenalkan Sang Guru kepada internet. Dengan keluguannya dia mengetik “beer” di Google lalu muncullah artikel dan gambar berbagai macam bir yang berasal dari seluruh dunia. Takjub akan hal ini, Sang Guru bertekad untuk membawa perubahan bagi negerinya, yaitu dengan menghubungkan para pedagang di sana dengan dunia melalui internet. Ya, nama guru Bahasa Inggris yang gagal dua kali tes masuk PTN itu bernama Jack Ma.

Jack kemudian pulang ke apartemennya di Hangzhou, hanya bermodal ide dan laptop serta beberapa orang kenalannya yang memahami programming. Pekerjaan ini dilakukan di apartemennya yang kecil yang seringkali listriknya mati sehingga penghangat ruangan mati pula, akibatnya para programmer ini harus bekerja menggunakan sarung tangan, tanpa tahu apakah mimpinya akan terwujud dan tanpa tahu dia akan digaji atau tidak. Seperti itulah perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok bernama Alibaba dirintis.

Dikisahkan dalam ceritanya, Alibaba dapat membuka sebuah pintu ke dalam gudang harta karunnya dengan hanya mengucapkan “open sesame”. Nama Alibaba dirasa cocok menurut Jack. Karena menurut beliau, situs ini seperti pembuka pintu gerbang para pedagang terhadap harta karun, yaitu peluang-peluang baru yang lebih besar di luar Tiongkok.

Tak bisa dipungkiri bahwa barang sehari-hari kita didominasi oleh produk yang difabrikasi di Tiongkok. Banyak yang bilang, “Ah pantes cepet rusak, barang c**a sih.” Tapi menurut saya pernyataan tadi sudah mulai outdated. Barang kualitas tinggi dengan harga lebih murah yang berasal dari Tiongkok sudah mulai bermunculan. Yang sering kita dengar adalah Oppo dan Xiaomi. Pasar global sudah mengharuskan para produsen untuk memiliki standar kualitas tertentu agar dapat diterima oleh pembeli.

Mungkin ada beberapa orang lagi yang menulis biografi perusahaan Alibaba, tapi menurut saya ini yang paling cocok karena ditulis oleh mantan vice president disana. Sang Penulis, Porter Erisman, direkrut Jack Ma pada tahun 2000 sebagai penanggungjawab International PR (Public Relations). Sebelumnya, Erisman merupakan ekspat yang bekerja di salah satu perusahaan di Beijing. Beliau juga yang menulis/menyutradarai Crocodile in The Yangtze, sebuah film dokumenter mengenai Alibaba.

Bahasa yang dipakai di buku ini lugas, mudah dimengerti, dan apa adanya. Tidak terkesan menutupi kelemahan perusahaan atau Jack Ma sendiri. Erisman menggambarkan Jack Ma sebagai sosok yang lugu, naif, kurang percaya diri, dan cenderung puitis. Pada sebuah wawancara dengan majalah Forbes, Jack lebih terdengar seperti seorang filsuf ketimbang seorang CEO. Tapi begitulah orang yang menjadikan Alibaba raksasa e-commerce seperti sekarang ini.

Alibaba’s World memberikan inspirasi tersendiri serta penghiburan bagi saya. Mungkin ini obyektif tapi saya senang betul bagaimana orang seperti Jack Ma, yang biasa-biasa saja, tidak begitu nyentrik seperti Steve Jobs atau Elon Musk, bisa mengubah perspektif dunia dan membuat negaranya jadi lebih baik. Kalau Anda pernah membaca biografi almarhum Steve Jobs atau Elon Musk, mereka adalah orang-orang dengan passion sangat-sangat tinggi dan visioner tulen. Walaupun saya tidak memiliki produk Apple atau mobil listrik Tesla, tapi saya sangat mengagumi keduanya. Namun demikian, kalau saya ditawari bekerja di Apple, Tesla, SpaceX atau Alibaba, saya akan pilih Alibaba. Steve dan Elon, menurut biografinya, adalah orang-orang yang impossible to work with. Mungkin memang diperlukan kepribadian seperti itu untuk membangun visi besar, tapi saya tidak akan betah lama-lama bekerja disana. Lain dengan Jack Ma, seorang yang hanya ingin bersenang-senang sambil memberikan manfaat sekecil apapun bagi orang-orang di sekitarnya.

Belakangan ini ada info yang mengatakan bahwa Jack Ma telah direkrut presiden kita untuk menjadi advisor di bidang e-commerce. Saya tidak tahu bagaimana kelanjutannya tapi semoga beliau juga bisa memberikan manfaat disana dan ikut memajukan perekonomian Indonesia.

ISBN                      : 978-1-4472-9064-3

Tahun Terbit      : 2015

Penerbit              : Macmillan

Penulis                 : Porter Erisman

Genre                   : Nonfiksi, bisnis

Tebal                     : 241 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 5 jam

Rating                   : 8.5/10

Resensi Buku: “Lisey’s Story”

Penggemar novel fiksi horor atau thriller mana yang tidak mengenal Stephen King? Beliau sudah menerbitkan banyak novel termasuk diantaranya The Shining, The Green Mile, dan seri The Dark Tower. Banyak karya SK yang sudah diadaptasi ke dalam bentuk film. Salah satu yang paling terkenal adalah film The Shawshank Redemption yang diadaptasi dari salah satu novella karyanya dengan judul Rita Hayworth and Shawsank Redemption.

Jpeg

Jujur saya baru membaca dua karyanya yang dalam bentuk tulisan, yaitu Lisey’s  Story dan Mr. Mercedes. Sisanya hanya menonton filmnya saja hehe.

Lisey’s Story berkisah tentang seorang istri penulis terkenal bernama Scott Landon. Istrinya bernama Lisey Landon. Scott adalah seseorang dengan kepribadian rumit. Dia bisa pergi ke suatu tempat yang bukan berasal dari dunia ini. Tempat yang indah namun, bisa menyembuhkan dan bisa juga mematikan. Sedangkan Lisey adalah seorang yang berkepribadian introvert, sederhana, dan setia.

Ketika Lisey dan Scott masih bersama, mereka memiliki permainan yang disebut berburu Bul. Saya pun kurang paham makna harfiahnya dari kata ini. Bagaimanapun, setelah Scott meninggal, dia meninggalkan petunjuk-petunjuk bagi Lisey untuk  menemukan Bul.

Lisey yang ketika itu diteror oleh salah satu fans Scott, berusaha memecahkan kode-kode yang diberikan suaminya. Beruntungnya dia dibantu oleh kakaknya Amanda, namun Amanda memiliki semacam kelainan jiwa dan terkadang tidak bisa diajak berbicara sama sekali atau katatonik.

Bagaimanakah Lisey memcahkan segala masalah tersebut dan apa kaitannya dengan tempat magis yang sering dikunjungi Scott semasa hidupnya? Jeng jeeeeng!

Lisey  Story berhasil memberikan kesan tersendiri, dengan gaya bercerita yang khas. Saya sangat berharap novel ini dapat segera diadaptasi menjadi film seperti karya Stephen King lainnya. Pengembangan plot memang terkesan lambat karena banyak flashback ke masa Scott masih hidup. Akan tetapi hal ini tidak mengurangi ketertarikan terhadap plot secara keseluruhan, karena kita memang perlu tahu bagaimana masa lalu Scott ketika masih hidup untuk memahami cerita novel ini.

ISBN                      : 978-979-22-7412-7

Tahun Terbit      : 2006

Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama

Penulis                 : Stephen King

Genre                   : Fiksi, horor, thriller

Tebal                     : 699 halaman (paperback)

Pembatas buku : Ada

Estimasi waktu

membaca            : 9 jam

Rating                   : 7.8/10

Resensi Buku: “My Hobby My Business: Kafe Buku”

Hmm…

Kafe buku sempat merebak beberapa waktu ini. Salah satu yang saya tahu di Bandung adalah Reading Lights, yang bertahan cukup lama tapi akhirnya tutup. Ada beberapa kafe buku baru bermunculan setelah itu, seperti Little Wings dan Nimna. Yang satu setahu saya sudah gulung tikar, satu lagi masih bertahan karena usianya belum 1 tahun. Saya pun sebenarnya punya mimpi ingin membuka kafe buku. Oleh karenanya saya membeli buku Kafe Buku karya Gunawan Ardiyanto.

Jpeg

Akan tetapi masuk beberapa halaman pertama saya sudah bosan membacanya. Instruksi yang diberikan terkesan normatif dan sangat umum. Saya berharap buku ini bisa memberikan penjelasan lebih detail mengenai teknis untuk memulai, mulai dari sumber dana, nama supplier, skema bisnis, dan lain sebagainya. Alih-alih yang saya dapatkan, contohnya, adalah penjelasan tentang pembelian bahan pokok atau buku, “Belilah bahan pokok dalam jumlah besar sehingga harganya bisa lebih murah.” Semua orang juga sudah paham kalau itu.

Selain itu juga banyak pengulangan pembahasan dari bab sebelumnya. Bahasa yang digunakan pun terkesan bertele-tele untuk menambah tebal halaman saja. Saya tidak menangkap adanya antusiasme dari penulis. Seolah-olah buku ini adalah tugas dari dosen.

Namun demikian ada juga poin-poin yang bisa dijadikan tambahan wawasan, diantaranya contoh-contoh kafe buku yang telah sukses, ide untuk menarik konsumen dengan welcome drink, dan mempergunakan jasa penitipan jual souvenir atau barang lain di kafe yang dimaksud. Yak, demikianlah resensi buku kali ini. Tidak banyak memang hal yang bisa saya bahas.

ISBN                      : 978-602-9212-75-4

Tahun Terbit      : 2014

Penerbit              : Metagraf

Penulis                 : Gunawan Ardiyanto

Genre                   : Nonfiksi, Bisnis

Tebal                     : 143 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 2 jam

Rating                   : 4/10

Resensi Buku: “Sabtu Bersama Bapak”

Jpeg

“Keluarga ini adalah tanggung jawabnya, di alam mana pun dia berada.”

–Sabtu Bersama Bapak

Novel yang populer tidak lama setelah waktu terbitnya ini memang layak untuk populer *naon!?*.

Ketika saya memutuskan untuk membeli novel ini, saya kira isinya tentang suatu keluarga yang hanya bisa bertemu dan bermain bersama Sang Ayah setiap hari Sabtu. Yap, tebakan saya tidak melenceng amat, memang betul demikian, tapi saya tidak menyangka kalau si Bapak berada di dalam layar, bisa di-pause, play, fast forward dan rewind.

Dalam novelnya ini Adhitya Mulya menceritakan bagaimana kisah seorang kepala keluarga yang divonis kanker dengan sisa usia tinggal beberapa tahun lagi, membiming kedua anaknya, Satya dan Cakra dalam menjalani hidup bahkan bertahun-tahun setelah Sang Ayah berada di alam lain.

Banyak pelajaran hidup yang dapat diambil dari video-video yang dibuat oleh Bapak, tidak hanya untuk Cakra dan Satya tapi juga untuk para pembaca tentunya. Salah satu yang nyelekit buat saya adalah video Bapak ketika membahas IPK, huhu. Di dalam video terlihat Bapak memegang selembar ijazah dengan IPK yang pas-pasan. Kemudian Bapak mengatakan bahwa banyak yang bilang prestasi akademis itu tidak penting saat mencari kerja nanti, yang penting itu attitude atau soft skill. Bapak tidak setuju dengan hal ini karena beliau kesulitan mencari kerja akibat IPK di bawah standar.

Kenapa nyelekit untuk saya? karena saya pun merasakan hal yang sama. Semasa kuliah saya punya kepercayaan bahwa IPK itu tidak penting, yang penting bagaimana cara kita meng-handle orang dan mempunyai EQ yang tinggi. Tapi setelah lulus dan mencari kerja barulah terasa efeknya. IPK memang bukan segalanya, tapi bukan berarti tidak penting. Dia bisa sangat membantu ketika proses seleksi. Pintu peluang juga akan semakin banyak terbuka, seperti apapun attitude kita. Kelakuan masih bisa dirubah, soft skill masih bisa diasah seiring berjalannya waktu, tapi angka di ijazah sudah fix tertulis disitu. Kalau diotak-atik itu namanya hoax.

Lho kok malah curhat masalah IPK? Lanjut.

Cara penyampaian cerita Adhitya Mulya sangat mudah diterima. Diselipkan humor-humor jenaka. Meskipun ada beberapa plothole serta sisipan-sisipan dialog dengan bahasa Inggris, yang menurut saya malah membuat jadi cheesy, namun bisa dimaafkan karena saya sangat suka dengan ide cerita novel ini.

Desain buku juga menarik. Ada frame atau border tertentu yang tidak hanya berfungsi sebagai hiasan tapi memang ada gunanya sebagai visualisasi bagi pembaca. Contohnya ketika bercerita ada SMS masuk, maka teks akan berada di dalam textbox seperti ketika kita membaca layar di handphone. Juga ada frame khusus ketika video Bapak berlangsung.

Apa pembaca sekalian pernah nonton Breaking Bad? Sama-sama divonis kanker tapi alih-alih jadi gembong narkoba, Bapak memilih untuk membimbing anak-anaknya dengan cara yang ideal. Nonton Breaking Bad memang seru, tapi kita butuh juga asupan cerita idealis seperti ini untuk menyeimbangkannya. Tidak ada maksud untuk membandingkan kedua karya tersebut. 🙂

Sabtu Bersama Bapak cocok untuk dibaca siapa saja, apalagi yang sudah berkeluarga, saya sih belum *uhuk*. Novel ini berhasil meninggalkan kesan tersendiri pada diri saya setelah selesai membacanya hanya dalam waktu tiga hari kerja.

ISBN                      : (13) 978-979-780-721-4

Tahun Terbit      : 2014

Penerbit              : Gagasmedia

Penulis                 : Adhitya Mulya

Genre                   : Fiksi

Tebal                     : 277 halaman (paperback)

Pembatas buku : Ada

Estimasi waktu

membaca            : 3 jam

Rating                   : 8/10

Resensi Buku: “David & Goliath”

Malcolm Gladwell adalah salah satu kontributor majalah New York Times. Beliau juga adalah pengarang buku The Tipping Point, Outliers, Blink, dan lain sebagainya termasuk buku yang saya buat resensinya kali ini.

Jpeg

Jangan salah sangka, buku ini bukan menceritakan kisah Nabi Daud melawan raksasa Jalut atau Goliath. Kisah tersebut hanyalah sebuah analogi untuk kumpulan kisah nyata yang dipadukan oleh Gladwell ke dalam bukunya. Kisah-kisah mengenai bagaimana orang-orang yang diselimuti kekurangan dapat terus bertahan bahkan menjadi salah satu yang terbaik di bidangnya. Orang-orang ini berasal dari berbagai negara dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda pula. Mulai dari guru, mahasiswa, dokter, dan orang sebagai warga sipil biasa (ketika bercerita tentang pemerintah yang represif).

Berikut satu kisah yang saya ambil sebagai contoh, seorang remaja, sebut saja Mawar, bercita-cita ingin menajdi ilmuwan atau scientist. Semenjak kecil bakatanya sudah terlihat. Mawar senang berjalan-jalan di sekeliling rumah mencari serangga, mengumpulkannya dan membuat sketsa-sketsanya untuk mengidentifikasi anatomi tubuh serangga tersebut. Dia juga mulai tertarik pada anatomi dan fisiologi tubuh manusia. Menurutnya cara kerja tubuh manusia adalah hal yang menakjubkan. Sains adalah passion dan cinta pertama bagi Mawar. Nilai raport Mawar semasa sekolah selalu tinggi. Predikat ranking 1 sudah tidak asing lagi melekat pada dirinya.

Setelah lulus SMA, tibalah waktu Mawar untuk memutuskan perguruan tinggi mana yang akan dipilihnya. Dari sekian banyak universitas di US, pilihan Mawar mengerucut pada 2 perguruan tinggi, sebut saja Universitas A dan Universitas B. Universitas A merupakan universitas ternama, termasuk ke dalam Ivy League (bisa dibilang 8 universitas paling prestisius di US), dan tentu saja dipandang sebagai salah satu kampus terbaik dunia. Di lain sisi, Universitas B merupakan universitas yang medioker. Tidak terlalu bagus dan juga tidak bontot amat. Maka jelas sudah pilihan Mawar jatuh pada Universitas A. Dia mengikuti tes masuk dan berhasil diterima di sana.

Di awal semester dirinya merasa seperti berada di surga. Banyak kelas yang menurutnya menarik hingga ia sendiri bingung mau memilih yang mana. Kegiatan ekstrakurikuler juga memadati jadwal semasa kuliahnya. Mawar sempat keteteran menjalani masa-masa ini namun ia tetap berusaha semaksimal mungkin.

Singkat cerita, di semester berikutnya Mawar diwajibkan mengambil mata kuliah kimia organik. Di semester ini Mawar gagal mendapatkan nilai yang diinginkannya, dia hanya mendapat nilai B. Semasa sekolah dia belum pernah mendapat nilai ini dan hatinya sangat terpukul. Mawar disarankan oleh dosennya untuk mengambil mata kuliah ini semester depan. Mawar mengikuti saran sang dosen, namun kelihatannya nilainya tidak kunjung membaik. Dia merasa teman-teman sekelasnya (yang waktu itu masih tingkat 1 sedangkan Mawar tingkat 2) selalu bisa memahami pelajaran jauh lebih mudah ketimbang dirinya, padahal awalnya sama-sama tidak mengerti.

Mawar bukanlah gadis yang mudah menyerah, dia terus berusaha mempelajari kimia organik bahkan sampai jam 3 pagi. Akan tetapi, hasil yang didapatkan tak kunjung memberikan perubahan yang berarti. Saat itulah Mawar memutuskan bahwa, mungkin sains bukan untuk dirinya.

Menurut cerita di atas, apakah Mawar bodoh? Tidak, ranking 1 di kelas selama bertahun-tahun tidak mungkin orang bodoh. Apakah dia malas? Tentu tidak. Lalu apa yang jadi kendala Mawar sebetulnya? Itu adalah rasa percaya diri. Self-esteem. Mawar tidak bodoh tapi teman-temannya di Kampus A membuat dia merasa bodoh. Perumpamaan ini seperti ikan kecil di kolam besar atau ikan besar di kolam kecil. Mawar adalah contoh kasus yang pertama.

Akhirnya Mawar telah memutuskan untuk hengkang dari Universitas A dan mencoba jurusan lain (tidak diceritakan di buku dia mengambil jurusan apa dan dimana). Sungguh sesuatu yang disayangkan bagi Mawar. Kita patut bersyukur diberi kemudahan baik secara fisik maupun mental untuk bisa lulus dan mendapatkan gelar.

Nah disinilah Gladwell memaparkan pandangannya mengenai contoh kasus di atas. Beliau memberikan data berupa statistik yang menunjukkan bahwa juka Mawar memilih Universitas B, bisa dipastikan dia saat ini telah mendapat gelar di bidang sains. Statistik tersebut kurang lebih menunjukkan bahwa, jumlah mahasiswa yang drop out, apakah itu di Kampus A atau di Kampus B, tidak jauh berbeda. Dengan asumsi bahwa mahasiswa yang drop out adalah mereka yang merasa “bodoh” (sekitar 13%-15% mahasiswa). Kenyataannya, skor terendah di Kampus A itu masih lebih tinggi dibanding skor tertinggi di Kampus B. Akan tetapi para mahasiswa dengan skor terendah tersebut memutuskan untuk putus kuliah, sedangkan mereka yang terbaik di Kampus B telah mendapatkan gelar dengan rasa percaya diri yang tinggi. Sangat disayangkan bahwa Kampus A memangkas 15% mahasiswa cerdasnya hanya karena krisis kepercayaan diri. Namun seperti itulah kenyataan yang ada. Malcolm Gladwell mencoba menjadikan kisah Mawar sebagai suatu pelajaran untuk kita bahwa, lebih baik menjadi ikan besar di kolam yang kecil, karena dengan begitu kita merasa memegang kendali hidup kita.

Meskipun beberapa kisah tersebut tidak berakhir dengan ideal, karena in kisah nyata, tidak bisa selalu diatur menjadi happy ending. Akan tetapi bukan berarti orang yang menjalani kisah itu tidak bahagia saat ini. Lagipula, tidak semua kisahnya berakhir seperti kisah Mawar, bahkan sebagian besar memiliki akhir yang bahagia.

Bahasa yang digunakan juga terbilang sederhana. Cukup mudah untuk dipahami. Juga ada sisipan data-data statistik berupa tabel dan grafik untuk mendukung argumen Penulis. Jadi buku ini tidak sebatas pada menceritakan hasil wawancara Gladwell dengan penutur cerita saja, namun ada ide-ide beliau juga yang disampaikan sebagai tanggapan terhadap kisah tersebut.

ISBN                      : 978-0-14197-895-6

Tahun Terbit       : 2013

Penerbit                : Penguin Books

Penulis                 : Malcolm Gladwell

Genre                   : Nonfiksi

Tebal                     : 305 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 5 jam

Rating                   : 8/10

Resensi Buku: “Rework”

Perspektif unik! Itulah kesan pertama yang saya dapatkan dari buku ini. Gaya bahasa yang kasual, agak menggurui, dan dibawakan dengan intonasi “galak”, adalah kesan ke dua.

Maraknya startup atau bisnis UKM dan UMKM saat ini adalah salah satu sinyal positif bagi masyarakat kita. Artinya, sudah banyak orang dalam usia produktif yang memiliki jiwa entrepreneur yang diharapkan dapat meningkatkan perekonomian dan memperbesar lapangan pekerjaan.

Menurut buku hasil karya Jason Fried ini, 9 dari 10 startup atau bisnis baru akan mengalami kegagalan. Artinya peluang berhasilnya sebuah bisnis yang baru berkembang adalah 1 : 10. Angka yang realistis memang, tapi bukan berarti mustahil.

Menurut beliau, hal ini terjadi dikarenakan perusahaan berkembang banyak meniru cara kerja perusahaan-perusahaan besar yang sebetulnya tidak diperlukan, misalnya meeting terlalu sering, mencoba menjaring dana besar lewat investor, proses rekrutmen yang panjang, memblok facebok dan youtube dari internet kantor, dan lain sebagainya. Justru banyak hal yang bisa dilakukan dengan  keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Kondisi yang carut marut akan memaksa si pengambil keputusan dan rekan-rekannya untuk berpikir sekreatif dan secepat mungkin.

Jpeg

Jika Anda belum mengenal Jason Fried, beliau adalah founder dari aplikasi bernama Basecamp. Aplikasi yang berfungsi sebagai alat koordinasi proyek atau pekerjaan ini dibentuk tahun 2004. Dengan menggunakan Basecamp, konsultan/kontraktor atau pelaksana proyek dapat saling berkoordinasi melalui papan berita, chat grup, menentukan jadwal deadline, hingga berkomunikasi dengan klien (koordinasi di antara konsultan/kontraktor tidak dapat dilihat klien). Munculnya aplikasi ini sangat membantu, walaupun menurut saya sebagian besar user berasal dari konsultan IT.

Akan tetapi, buku ini tidak menceritakan tentang Basecamp. Bahkan sangat sedikit disinggung mengenai hal itu. Buku ini menjelaskan bagaimana cara suatu pola pikir yang segar dapat bertahan di tengah guncangan arus pemikiran mainstream. Karena seringkali pola pikir yang unik ini lah yang menjadikan perusahaan itu 1 yang berhasil dari 9 yang gagal. Dan tidak hanya pola pikir atau ide saja yang dibuat bertahan, tapi juga SDM yang berada di perusahaan tersebut.

Basecamp adalah perusahaan yang ngeyel. Karyawannya hanya 16 orang ketika buku ini diterbitkan, dan ke 16 orang itu lokasinya berjauhan secara geografis. Ada yang di Amerika dan ada yang di Eropa. Namun profitnya mencapai jutaan dolar per tahun. Bayangkan satu juta dolar dibagi 16 orang sahaja!

Itulah prinsip si penulis. Perusahaan tidak akan melakukan penambahan karyawan karena memang tidak diperlukan untuk saat ini. Orang lain akan bilang, “Dengan profit segitu apa tidak sebaiknya ekspansi?” dan pemikiran macam inilah yang coba dilawan oleh Rework. Sang Penulis yakin bahwa ekspansi menjadi perusahaan besar akan memperumit masalah dan memancing hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Bisnis tidak harus scalable.

Beberapa instruksi yang diberikan buku ini mungkin akan  membuat Anda mengernyitkan dahi ketimbang langsung mengiyakan. Akan tetapi banyak juga poin-poin yang saya sangat setuju dengan si Penulis. Buku ini ditulis murni berdasarkan pengalaman. Di dalamnya terdapat juga contoh-contoh kasus dari perusahaan-perusahaan ternama yang mengimplementasikan strategi-strategi khusus yang bisa ditiru. Jadi bukan berarti perusahaan berkembang tidak boleh meniru perusahaan besar, pastinya ada poin-poin positif yang bisa diadaptasi dari sana.

Secara keseluruhan buku ini menarik. Saya dapat merasakan intonasi penulis yang berapi-api, kadang sinis tapi tetap baik maksudnya. Hanya saja saya tidak begitu suka dengan buku yang memiliki terlalu banyak sekat. Sekat tersebut berisi gambar atau tulisan artistik yang mendukung penjelasan bab selanjutnya. Menurut saya hanya menjadi penebal halaman saja sehingga bukunya jadi lebih mahal hehe.

Rework adalah untuk Anda yang ingin mengimplementasikan hal baru tidak hanya dalam perusahaan tapi juga dalam hidup Anda. Buku ini memang agak berbeda dengan kebanyakan buku bertema bisnis lainnya. Menurut saya buku ini memberikan cara agar kita bisa stand out dibanding yang lain. Menyisihkan kita dari kerumunan orang banyak sehingga kita bertahan dengan prinsip walaupun digoyah dari segala arah.

ISBN                      : 978-0-09-192978-7

Tahun Terbit      : 2010

Penerbit              : Vermillion

Genre                   : Bisnis/Nonfiksi

Penulis                 : Jason Fried & David Heinemeier Hansson

Tebal                     : 279 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 3 jam

Rating                   : 8/10

Resensi Buku “Consumer 3000 : Revolusi Konsumen Kelas Menengah Indonesia”

Berhentilah bilang Indonesia adalah negara berkembang!

Jpeg

Sejak tahun 2010, angka GDP kita telah melewati angka $3.000, dengan demikian menurut ADB (Asian Development Bank) Indonesia sudah masuk kategori middle-income country atau negara kelas menengah. Sedangkan GDP Indonesia tahun 2015 yang saya peroleh dari hasil googling adalah $3.346 berdasarkan data dari website World Bank. Meskipun World Bank membagi kategori middle income country  menjadi tiga bagian lagi, yaitu lower-middle income, middle-middle income, dan higher-middle income, tetap saja kita sudah masuk ke dalam kategori middle income country (lower).

Data dari ADB tersebut saya dapatkan dari sebuah buku berjudul Consumer 3000 : Revolusi Kelas Menengah Indonesia. Apa sih kelas menengah itu? Ada berbagai macam definisi yang dilontarkan oleh berbagai macam institusi pula. Akan tetapi sang penulis, Yuswohady, menggunakan data ADB yaitu kelas masyarakat yang pengeluaran per harinya $2-$20. Sudah bisa ditebak bahwa masyarakat yang memiliki pengeluaran dengan kisaran ini sebagian besar merupakan pekerja kantoran, supervisor pabrik, atau pekerjaan setingkat lainnya.

Menurut buku ini, masyarakat kelas menengah adalah orang-orang yang orientasinya nilai atau value. Jadi, kalua masyarakat kelas bawah berorientasi pada harga, masyarakat kelas atas berorientasi pada merk atau brand ternama, maka kelas berada di antara keduanya. Mereka adalah konsumen paling kritis, beroritentasi pada kualitas barang/jasa, namun tetap mempertimbangkan harga. Ketika harga yang diajukan dirasa lebih tinggi daripada kualitas yang ditawarkan, bye!

Itulah sekelumit insight atau pendangan yang saya ambil dari buku ini. Pada sampul depan tertera tulisan “Menangkan Pasar Paling Besar dan Paling Menguntungkan di Indonesia Be a Middle-Class Brand!!!”. Terkesan kuat bahwa buku ini bertujuan untuk memberikan saran pengembangan marketing. Memang betul, buku ini memberikan pandangan terhadap fenomena-fenomena yang marak terjadi ketika buku ini ditulis sekitar tahun 2012, fenomena ngopi di Starbucks, merebaknya virus K-Wave, dan menjamurnya media sosial dan medsospreneur. Akan tetapi yang saya dapatkan bukanlah saran-saran yang bersifat menggurui dan langsung jebret Anda harus begini, Anda harus begitu. Dengan kata lain, melalui pandangan-pandangan inilah penulis memaparkan terhadap kita kondisi perilaku konsumen kelas menegah Indonesia, yang porsinya 60% dari total populasi (waw!), dan dengan pandangan itu lah kita bisa menentukan produk yang cocok jika kita ingin menyosor pasar terbesar ini. Salah satu yang terpenting adalah orientasi terhadap value.

Ada banyak hal menarik lainnya yang dipaparkan Bang Yuswohady, banyak yang membuat kita optimis, ada juga yang bikin kita geleng-geleng kepala contohnya ketika antri panjang saat launching produk Blackberry di Pacific Place tahun 2011. Ternyata banyak juga orang kaya di Indonesia.

Buku kumpulan ide-ide Yuswohady ini dibawakan dengan bahasa yang simpel dan santai. Cocok untuk tema yang diangkat. Memang saya belum pernah membaca textbook Perilaku Konsumen yang menjadi buku panduan kuliah anak-anak jurusan bisnis dan ekonomi, tapi mungkin inilah versi sederhananya, CMIIW.

Tak dapat dipungkiri bahwa perubahan terus terjadi. Ketika buku ini ditulis memang Starbucks masih menjadi primadona tempat nongki alias nongkrong, sepertinya belum jadi anak gaul resmi kalua belum pernah ngopi disana. Media sosial berupa Facebook dan Twitter juga sedang asik-asiknya. Namun sekarang semua itu telah berubah, cafe atau coffee shop lokal menjamur, Facebook dan Twitter kehilangan sentuhan magisnya, ojek online bermunculan.

Akan tetapi, kebutuhan konsumen kelas menengah kurang lebih tetap sama, mereka butuh sense of achievement, butuh sarana untuk narsis, dan butuh tetap terkoneksi dengan kerabatnya, baik online maupun offline. Itu sebabnya café lokal dengan kualitas kopi underrated menjamur. Itu sebabnya Twitter berganti Snapchat dan Facebook berganti Instagram. Itu sebabnya buku ini akan tetap menarik untuk saya meskipun dibaca 5 tahun mendatang.

Bagi Anda yang bercita-cita ingin menjadi entrepreneur dengan sasaran kelas menengah, buku ini wajib khatam. Tebalnya hanya 260 halaman tapi saya yakin buku ini dapat memberikan Anda sebuah pandangan dan gagasan baru mengenai produk/jasa yang Anda jual.

Bagi Anda yang tidak ingin menjadi pebisnis atau pengusaha, silakan baca juga, toh saya bukan pengusaha tapi buku ini tetap menarik.

ISBN                      : 978-979-22-8746-2

Tahun Terbit      : 2012

Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama

Penulis                : Yuswohady

Tebal                    : 260 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 4 jam

Rating                  : 7.8/10