Resensi Buku: “What Would Ben Stein Do?”

Ketika saya membeli buku ini, saya tidak menegenal siapa itu Ben Stein. Lho terus kenapa dibeli bukunya? Karena toko yang menjualnya sedang garage sale.

Jpeg

Ben Stein adalah seorang lulusan Yale University jurusan hokum. Dia adalah kolumnis The Wall Street Journal dan The New York Times, serta merupakan penulis naskah pidato Presiden Nixon dan Ford. Nah setelah membaca profil beliau ini, mungkin kita memang harus mendengarkan petuah-petuahnya.

Buku ini diawali dengan membahas pesan dalam memilih pasangan hidup, salah satunya adalah harus yang mau bekerja, baik pasangannya itu pria maupun wanita. Karena keinginan bekerja merupakan cerminan semangat hidup dan pencapaian.

Setelah itu, Ben membahas mengenai tabungan, dimana tabungan merupakan segalanya. Sebagai jarring pengaman ketika kita mengalami kejatuhan di dalam hidup. Menurut dia kejatuhan tersebut hampir pasti terjadi pada setiap orang, makanya kita perlu play it safe salah satunya dengan memiliki tabungan yang cukup. Tabungan tersebut tentu saja diperoleh dengan cara bekerja. Kerja, kerja, kerja!

Ada hal menarik yang diungkapkan dalam buku ini. Ben kenal dengan beberapa orang temannya yang merupakan pemimpi atau dreamer. Orang-orang dengan visi besar akan tetapi mereka tidak melakukan apapun demi mewujudkan mimpinya tersebut. Atau paling tidak Cuma berusaha seadanya. Nah mereka ini jadinya malah lebih sengsara dibandingkan dengan orang yang visi hidupnya biasa saja (cuma ingin punya rumah sederhana, keluarga kecil, dan mobil standar) dimana mereka dengan giat bekerja setiap hari dalam mewujudkan mimpi sederhananya tersebut. Sudut pandang yang realistis memang, tapi betul begitu adanya. Masalahnya bukan terletak pada visi yang besar ataupun kecil, tapi pada implementasi kerja yang diberikan terhadap visi tersebut.

Petuah penting lainnya adalah ‘teman’. Dengan menjaga hubungan pertemanan, semuanya bisa jadi lebih mudah. Relasi bisnis lebih luas serta membuka pintu rezeki lebih lebar.

Ben Stein memberikan petuah seputar karir, asmara, dan keuangan. Dibawakan dengan bahasa yang apa adanya. Sebagai generasi Baby Boomer yang mengalami masa the great depression, menurut saya menjadikan konten dalam buku ini menjadi sangat realis. Bahasa kasarnya mungkin cari aman. Berbeda dengan tren millennial sekarang ini yang seringkali bermain dengan resiko. Bukan berarti keduanya benar atau salah menurut saya. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Pesan yang disampaikan Ben Stein ada benarnya juga, kita harus siap dengan segala kemungkinan, karena perekonomian negara bisa mengalami krisis di waktu-waktu yang tidak terduga. Tetapi, kalau kita ingin melompat ke arah yang lebih baik, tidak ada salahnya sekali-sekali mengambil calculated risk.

 ISBN                     : 978-1-118-03817-8

Tahun Terbit      : 2011

Penerbit              : John Wiley & Sons, Inc.

Penulis                 : Ben Stein

Genre                   : Nonfiksi, pengembangan diri

Tebal                     : 210 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 3 jam

Rating                   : 7/10

Advertisements
Categories: Resensi | Tags: , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: