Resensi Buku: “Alibaba’s World”

“Today is tough, tomorrow is tougher, and the day after tomorrow is beautiful. But most companies die tomorrow evening and can’t see the sunshine on the day after tomorrow.”

-Jack Ma

Tiongkok bisa dibilang merupakan negara manufaktur terbesar di dunia. Akan tetapi tentunya tidak semua barang disana diperjualbelikan dalam partai besar. Banyak juga pedagang-pedagang kecil-menengah yang tersebar di seantero negeri tirai bambu tersebut.

Pada tahun 90an, penggunaan internet belum seperti saat ini. Paling hanya digunakan untuk membuka email atau chatting via YM. Baru ada beberapa perusahaan besar saja yang bergerak di bidang e-commerce atau belanja online. Itu pun hanya di US saja, contohnya Amazon dan eBay.

Jpeg

Seorang guru Bahasa Inggris di Tiongkok, melihat peluang tersebut ketika dirinya pergi dinas ke Amerika, tapi malah ditodong pistol oleh kliennya yang ternyata penipu. Dia pun pergi ke rumah seorang kenalannya yang berada di Seattle. Ketika itulah kawannya memperkenalkan Sang Guru kepada internet. Dengan keluguannya dia mengetik “beer” di Google lalu muncullah artikel dan gambar berbagai macam bir yang berasal dari seluruh dunia. Takjub akan hal ini, Sang Guru bertekad untuk membawa perubahan bagi negerinya, yaitu dengan menghubungkan para pedagang di sana dengan dunia melalui internet. Ya, nama guru Bahasa Inggris yang gagal dua kali tes masuk PTN itu bernama Jack Ma.

Jack kemudian pulang ke apartemennya di Hangzhou, hanya bermodal ide dan laptop serta beberapa orang kenalannya yang memahami programming. Pekerjaan ini dilakukan di apartemennya yang kecil yang seringkali listriknya mati sehingga penghangat ruangan mati pula, akibatnya para programmer ini harus bekerja menggunakan sarung tangan, tanpa tahu apakah mimpinya akan terwujud dan tanpa tahu dia akan digaji atau tidak. Seperti itulah perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok bernama Alibaba dirintis.

Dikisahkan dalam ceritanya, Alibaba dapat membuka sebuah pintu ke dalam gudang harta karunnya dengan hanya mengucapkan “open sesame”. Nama Alibaba dirasa cocok menurut Jack. Karena menurut beliau, situs ini seperti pembuka pintu gerbang para pedagang terhadap harta karun, yaitu peluang-peluang baru yang lebih besar di luar Tiongkok.

Tak bisa dipungkiri bahwa barang sehari-hari kita didominasi oleh produk yang difabrikasi di Tiongkok. Banyak yang bilang, “Ah pantes cepet rusak, barang c**a sih.” Tapi menurut saya pernyataan tadi sudah mulai outdated. Barang kualitas tinggi dengan harga lebih murah yang berasal dari Tiongkok sudah mulai bermunculan. Yang sering kita dengar adalah Oppo dan Xiaomi. Pasar global sudah mengharuskan para produsen untuk memiliki standar kualitas tertentu agar dapat diterima oleh pembeli.

Mungkin ada beberapa orang lagi yang menulis biografi perusahaan Alibaba, tapi menurut saya ini yang paling cocok karena ditulis oleh mantan vice president disana. Sang Penulis, Porter Erisman, direkrut Jack Ma pada tahun 2000 sebagai penanggungjawab International PR (Public Relations). Sebelumnya, Erisman merupakan ekspat yang bekerja di salah satu perusahaan di Beijing. Beliau juga yang menulis/menyutradarai Crocodile in The Yangtze, sebuah film dokumenter mengenai Alibaba.

Bahasa yang dipakai di buku ini lugas, mudah dimengerti, dan apa adanya. Tidak terkesan menutupi kelemahan perusahaan atau Jack Ma sendiri. Erisman menggambarkan Jack Ma sebagai sosok yang lugu, naif, kurang percaya diri, dan cenderung puitis. Pada sebuah wawancara dengan majalah Forbes, Jack lebih terdengar seperti seorang filsuf ketimbang seorang CEO. Tapi begitulah orang yang menjadikan Alibaba raksasa e-commerce seperti sekarang ini.

Alibaba’s World memberikan inspirasi tersendiri serta penghiburan bagi saya. Mungkin ini obyektif tapi saya senang betul bagaimana orang seperti Jack Ma, yang biasa-biasa saja, tidak begitu nyentrik seperti Steve Jobs atau Elon Musk, bisa mengubah perspektif dunia dan membuat negaranya jadi lebih baik. Kalau Anda pernah membaca biografi almarhum Steve Jobs atau Elon Musk, mereka adalah orang-orang dengan passion sangat-sangat tinggi dan visioner tulen. Walaupun saya tidak memiliki produk Apple atau mobil listrik Tesla, tapi saya sangat mengagumi keduanya. Namun demikian, kalau saya ditawari bekerja di Apple, Tesla, SpaceX atau Alibaba, saya akan pilih Alibaba. Steve dan Elon, menurut biografinya, adalah orang-orang yang impossible to work with. Mungkin memang diperlukan kepribadian seperti itu untuk membangun visi besar, tapi saya tidak akan betah lama-lama bekerja disana. Lain dengan Jack Ma, seorang yang hanya ingin bersenang-senang sambil memberikan manfaat sekecil apapun bagi orang-orang di sekitarnya.

Belakangan ini ada info yang mengatakan bahwa Jack Ma telah direkrut presiden kita untuk menjadi advisor di bidang e-commerce. Saya tidak tahu bagaimana kelanjutannya tapi semoga beliau juga bisa memberikan manfaat disana dan ikut memajukan perekonomian Indonesia.

ISBN                      : 978-1-4472-9064-3

Tahun Terbit      : 2015

Penerbit              : Macmillan

Penulis                 : Porter Erisman

Genre                   : Nonfiksi, bisnis

Tebal                     : 241 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 5 jam

Rating                   : 8.5/10

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s