Resensi Buku: “David & Goliath”

Malcolm Gladwell adalah salah satu kontributor majalah New York Times. Beliau juga adalah pengarang buku The Tipping Point, Outliers, Blink, dan lain sebagainya termasuk buku yang saya buat resensinya kali ini.

Jpeg

Jangan salah sangka, buku ini bukan menceritakan kisah Nabi Daud melawan raksasa Jalut atau Goliath. Kisah tersebut hanyalah sebuah analogi untuk kumpulan kisah nyata yang dipadukan oleh Gladwell ke dalam bukunya. Kisah-kisah mengenai bagaimana orang-orang yang diselimuti kekurangan dapat terus bertahan bahkan menjadi salah satu yang terbaik di bidangnya. Orang-orang ini berasal dari berbagai negara dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda pula. Mulai dari guru, mahasiswa, dokter, dan orang sebagai warga sipil biasa (ketika bercerita tentang pemerintah yang represif).

Berikut satu kisah yang saya ambil sebagai contoh, seorang remaja, sebut saja Mawar, bercita-cita ingin menajdi ilmuwan atau scientist. Semenjak kecil bakatanya sudah terlihat. Mawar senang berjalan-jalan di sekeliling rumah mencari serangga, mengumpulkannya dan membuat sketsa-sketsanya untuk mengidentifikasi anatomi tubuh serangga tersebut. Dia juga mulai tertarik pada anatomi dan fisiologi tubuh manusia. Menurutnya cara kerja tubuh manusia adalah hal yang menakjubkan. Sains adalah passion dan cinta pertama bagi Mawar. Nilai raport Mawar semasa sekolah selalu tinggi. Predikat ranking 1 sudah tidak asing lagi melekat pada dirinya.

Setelah lulus SMA, tibalah waktu Mawar untuk memutuskan perguruan tinggi mana yang akan dipilihnya. Dari sekian banyak universitas di US, pilihan Mawar mengerucut pada 2 perguruan tinggi, sebut saja Universitas A dan Universitas B. Universitas A merupakan universitas ternama, termasuk ke dalam Ivy League (bisa dibilang 8 universitas paling prestisius di US), dan tentu saja dipandang sebagai salah satu kampus terbaik dunia. Di lain sisi, Universitas B merupakan universitas yang medioker. Tidak terlalu bagus dan juga tidak bontot amat. Maka jelas sudah pilihan Mawar jatuh pada Universitas A. Dia mengikuti tes masuk dan berhasil diterima di sana.

Di awal semester dirinya merasa seperti berada di surga. Banyak kelas yang menurutnya menarik hingga ia sendiri bingung mau memilih yang mana. Kegiatan ekstrakurikuler juga memadati jadwal semasa kuliahnya. Mawar sempat keteteran menjalani masa-masa ini namun ia tetap berusaha semaksimal mungkin.

Singkat cerita, di semester berikutnya Mawar diwajibkan mengambil mata kuliah kimia organik. Di semester ini Mawar gagal mendapatkan nilai yang diinginkannya, dia hanya mendapat nilai B. Semasa sekolah dia belum pernah mendapat nilai ini dan hatinya sangat terpukul. Mawar disarankan oleh dosennya untuk mengambil mata kuliah ini semester depan. Mawar mengikuti saran sang dosen, namun kelihatannya nilainya tidak kunjung membaik. Dia merasa teman-teman sekelasnya (yang waktu itu masih tingkat 1 sedangkan Mawar tingkat 2) selalu bisa memahami pelajaran jauh lebih mudah ketimbang dirinya, padahal awalnya sama-sama tidak mengerti.

Mawar bukanlah gadis yang mudah menyerah, dia terus berusaha mempelajari kimia organik bahkan sampai jam 3 pagi. Akan tetapi, hasil yang didapatkan tak kunjung memberikan perubahan yang berarti. Saat itulah Mawar memutuskan bahwa, mungkin sains bukan untuk dirinya.

Menurut cerita di atas, apakah Mawar bodoh? Tidak, ranking 1 di kelas selama bertahun-tahun tidak mungkin orang bodoh. Apakah dia malas? Tentu tidak. Lalu apa yang jadi kendala Mawar sebetulnya? Itu adalah rasa percaya diri. Self-esteem. Mawar tidak bodoh tapi teman-temannya di Kampus A membuat dia merasa bodoh. Perumpamaan ini seperti ikan kecil di kolam besar atau ikan besar di kolam kecil. Mawar adalah contoh kasus yang pertama.

Akhirnya Mawar telah memutuskan untuk hengkang dari Universitas A dan mencoba jurusan lain (tidak diceritakan di buku dia mengambil jurusan apa dan dimana). Sungguh sesuatu yang disayangkan bagi Mawar. Kita patut bersyukur diberi kemudahan baik secara fisik maupun mental untuk bisa lulus dan mendapatkan gelar.

Nah disinilah Gladwell memaparkan pandangannya mengenai contoh kasus di atas. Beliau memberikan data berupa statistik yang menunjukkan bahwa juka Mawar memilih Universitas B, bisa dipastikan dia saat ini telah mendapat gelar di bidang sains. Statistik tersebut kurang lebih menunjukkan bahwa, jumlah mahasiswa yang drop out, apakah itu di Kampus A atau di Kampus B, tidak jauh berbeda. Dengan asumsi bahwa mahasiswa yang drop out adalah mereka yang merasa “bodoh” (sekitar 13%-15% mahasiswa). Kenyataannya, skor terendah di Kampus A itu masih lebih tinggi dibanding skor tertinggi di Kampus B. Akan tetapi para mahasiswa dengan skor terendah tersebut memutuskan untuk putus kuliah, sedangkan mereka yang terbaik di Kampus B telah mendapatkan gelar dengan rasa percaya diri yang tinggi. Sangat disayangkan bahwa Kampus A memangkas 15% mahasiswa cerdasnya hanya karena krisis kepercayaan diri. Namun seperti itulah kenyataan yang ada. Malcolm Gladwell mencoba menjadikan kisah Mawar sebagai suatu pelajaran untuk kita bahwa, lebih baik menjadi ikan besar di kolam yang kecil, karena dengan begitu kita merasa memegang kendali hidup kita.

Meskipun beberapa kisah tersebut tidak berakhir dengan ideal, karena in kisah nyata, tidak bisa selalu diatur menjadi happy ending. Akan tetapi bukan berarti orang yang menjalani kisah itu tidak bahagia saat ini. Lagipula, tidak semua kisahnya berakhir seperti kisah Mawar, bahkan sebagian besar memiliki akhir yang bahagia.

Bahasa yang digunakan juga terbilang sederhana. Cukup mudah untuk dipahami. Juga ada sisipan data-data statistik berupa tabel dan grafik untuk mendukung argumen Penulis. Jadi buku ini tidak sebatas pada menceritakan hasil wawancara Gladwell dengan penutur cerita saja, namun ada ide-ide beliau juga yang disampaikan sebagai tanggapan terhadap kisah tersebut.

ISBN                      : 978-0-14197-895-6

Tahun Terbit       : 2013

Penerbit                : Penguin Books

Penulis                 : Malcolm Gladwell

Genre                   : Nonfiksi

Tebal                     : 305 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 5 jam

Rating                   : 8/10

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s