Resensi Buku “Consumer 3000 : Revolusi Konsumen Kelas Menengah Indonesia”

Berhentilah bilang Indonesia adalah negara berkembang!

Jpeg

Sejak tahun 2010, angka GDP kita telah melewati angka $3.000, dengan demikian menurut ADB (Asian Development Bank) Indonesia sudah masuk kategori middle-income country atau negara kelas menengah. Sedangkan GDP Indonesia tahun 2015 yang saya peroleh dari hasil googling adalah $3.346 berdasarkan data dari website World Bank. Meskipun World Bank membagi kategori middle income country  menjadi tiga bagian lagi, yaitu lower-middle income, middle-middle income, dan higher-middle income, tetap saja kita sudah masuk ke dalam kategori middle income country (lower).

Data dari ADB tersebut saya dapatkan dari sebuah buku berjudul Consumer 3000 : Revolusi Kelas Menengah Indonesia. Apa sih kelas menengah itu? Ada berbagai macam definisi yang dilontarkan oleh berbagai macam institusi pula. Akan tetapi sang penulis, Yuswohady, menggunakan data ADB yaitu kelas masyarakat yang pengeluaran per harinya $2-$20. Sudah bisa ditebak bahwa masyarakat yang memiliki pengeluaran dengan kisaran ini sebagian besar merupakan pekerja kantoran, supervisor pabrik, atau pekerjaan setingkat lainnya.

Menurut buku ini, masyarakat kelas menengah adalah orang-orang yang orientasinya nilai atau value. Jadi, kalua masyarakat kelas bawah berorientasi pada harga, masyarakat kelas atas berorientasi pada merk atau brand ternama, maka kelas berada di antara keduanya. Mereka adalah konsumen paling kritis, beroritentasi pada kualitas barang/jasa, namun tetap mempertimbangkan harga. Ketika harga yang diajukan dirasa lebih tinggi daripada kualitas yang ditawarkan, bye!

Itulah sekelumit insight atau pendangan yang saya ambil dari buku ini. Pada sampul depan tertera tulisan “Menangkan Pasar Paling Besar dan Paling Menguntungkan di Indonesia Be a Middle-Class Brand!!!”. Terkesan kuat bahwa buku ini bertujuan untuk memberikan saran pengembangan marketing. Memang betul, buku ini memberikan pandangan terhadap fenomena-fenomena yang marak terjadi ketika buku ini ditulis sekitar tahun 2012, fenomena ngopi di Starbucks, merebaknya virus K-Wave, dan menjamurnya media sosial dan medsospreneur. Akan tetapi yang saya dapatkan bukanlah saran-saran yang bersifat menggurui dan langsung jebret Anda harus begini, Anda harus begitu. Dengan kata lain, melalui pandangan-pandangan inilah penulis memaparkan terhadap kita kondisi perilaku konsumen kelas menegah Indonesia, yang porsinya 60% dari total populasi (waw!), dan dengan pandangan itu lah kita bisa menentukan produk yang cocok jika kita ingin menyosor pasar terbesar ini. Salah satu yang terpenting adalah orientasi terhadap value.

Ada banyak hal menarik lainnya yang dipaparkan Bang Yuswohady, banyak yang membuat kita optimis, ada juga yang bikin kita geleng-geleng kepala contohnya ketika antri panjang saat launching produk Blackberry di Pacific Place tahun 2011. Ternyata banyak juga orang kaya di Indonesia.

Buku kumpulan ide-ide Yuswohady ini dibawakan dengan bahasa yang simpel dan santai. Cocok untuk tema yang diangkat. Memang saya belum pernah membaca textbook Perilaku Konsumen yang menjadi buku panduan kuliah anak-anak jurusan bisnis dan ekonomi, tapi mungkin inilah versi sederhananya, CMIIW.

Tak dapat dipungkiri bahwa perubahan terus terjadi. Ketika buku ini ditulis memang Starbucks masih menjadi primadona tempat nongki alias nongkrong, sepertinya belum jadi anak gaul resmi kalua belum pernah ngopi disana. Media sosial berupa Facebook dan Twitter juga sedang asik-asiknya. Namun sekarang semua itu telah berubah, cafe atau coffee shop lokal menjamur, Facebook dan Twitter kehilangan sentuhan magisnya, ojek online bermunculan.

Akan tetapi, kebutuhan konsumen kelas menengah kurang lebih tetap sama, mereka butuh sense of achievement, butuh sarana untuk narsis, dan butuh tetap terkoneksi dengan kerabatnya, baik online maupun offline. Itu sebabnya café lokal dengan kualitas kopi underrated menjamur. Itu sebabnya Twitter berganti Snapchat dan Facebook berganti Instagram. Itu sebabnya buku ini akan tetap menarik untuk saya meskipun dibaca 5 tahun mendatang.

Bagi Anda yang bercita-cita ingin menjadi entrepreneur dengan sasaran kelas menengah, buku ini wajib khatam. Tebalnya hanya 260 halaman tapi saya yakin buku ini dapat memberikan Anda sebuah pandangan dan gagasan baru mengenai produk/jasa yang Anda jual.

Bagi Anda yang tidak ingin menjadi pebisnis atau pengusaha, silakan baca juga, toh saya bukan pengusaha tapi buku ini tetap menarik.

ISBN                      : 978-979-22-8746-2

Tahun Terbit      : 2012

Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama

Penulis                : Yuswohady

Tebal                    : 260 halaman (paperback)

Pembatas buku : Tidak ada

Estimasi waktu

membaca            : 4 jam

Rating                  : 7.8/10

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s