Minat Baca Bangsa Indonesia Rendah?

Capture.PNG

Baru-baru ini saya menemukan artikel di media online yang menerangkan bahwa minat baca bangsa kita sangat rendah peringkatnya dibanding negara lain. Kita berada di peringkat 60 dari 61 negara yang disurvei. Sebenarnya survei ini tadinya akan diterapkan kepada lebih dari 200 negara, akan tetapi negara-negara lain terkendala data statistik. Hanya 61 negara yang dapat dikatakan memenuhi syarat survei.

Survei dan studi terbaru ini dilakukan oleh John W. Miller, presiden Central Connecticut State University. Namun, telisik punya telisik, ternyata faktor-faktor yang dipertimbangkan bukan hanya minat baca lho. Ada beberapa indeks yang digunakan pada studi ini. Berikut adalah deskripsi indeks dan variabel tersebut yang saya kutip dari web WMLN (World’s Most Literate Nations):

1. Media Massa (Indonesia peringkat ke 55)

Terdiri dari 4 variabel:

  • Jumlah media cetak harian yang dibeli per kapita.
  • Sirkulasi media cetak harian
  • Jumlah media massa online
  • Jumlah media massa yang diekspor ke luar negeri

2. Perpustakaan (Indonesia peringkat ke 37)

Terdiri dari 4 variabel:

  • Jumlah perpustakaan akademik (perpustakaan untuk universitas)
  • Jumlah perpustakaan umum
  • Jumlah perpustakaan sekolah
  • Jumlah buku di perpustakaan (hanya perpustakaan umum)

3. Input Sistem Pendidikan (Indonesia peringkat ke 54)

Terdiri dari 2 variabel:

  • Lama tahun wajib belajar
  • Pengeluaran untuk biaya pendidikan

4. Output Sistem Pendidikan (Indonesia peringkat ke 45)

Minat baca, atau motivasi untuk membaca termasuk ke dalam indeks ini, walaupun tidak dijelaskan seberapa besar bobot yang dimiliki minat baca terhadap skor keseluruhan indeks. Indeks ini terdiri dari 2 variabel:

  • Hasil tes PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study) yaitu tes untuk kemampuan membaca bagi siswa kelas 4 hingga kelas 8. (Mungkin kalau di Indonesia setara kelas 4 SD hingga kelas 2 SMP).
  • Hasil tes PISA (Programme for International Student Assessment) yaitu tes kompetensi bagi siswa dengan usia 15-18 tahun (setara SMA). Di dalam tes ini ada tes membaca, di situlah aspek yang dilihat.

5. Komputer (Indonesia peringkat ke 60)

Hanya terdiri dari satu variabel, yaitu persentase banyaknya rumah yang memiliki PC atau laptop (tidak termasuk gadget atau TV).

Jadi indeks-indeks dan variabel-variabel di atas sebetulnya masih memerlukan interpretasi yang lebih mendalam sehingga penanganan yang dilakukan bisa tepat sasaran.

Hasil survey WMLN yang dipublikasi dan beredar media online kita hanya menjelaskan bahwa peringkat kita berada di posisi 60 dari 61, tanpa kita tahu rincian skor tersebut dari setiap aspek yang dinilainya. Sebenarnya untuk membantu menginterpretasikan peringkat ini, John W. Miller telah menerbitkan sebuah buku berjudul World Literacy : How Countries Rank and Why It MattersTapi harganya cukup mahal jadi saya belum sanggup beli hehe.

Toh skor kita memang rendah dari segi penetrasi komputer ke daerah terpencil, tapi ketersediaan infrastruktur dan buku tinggi, banyak perpustakaan keliling yang beredar. Atau memang kebiasaan membaca kita rendah? Yang mana menurut saya memang betul namun perlu diperkuat lagi dengan data yang valid. Dari aspek manapun skor kita yang rendah, kita layak tahu dari segi mana rendahnya. Jadi sebaiknya jangan dulu terbawa media dengan langsung menelan bahwa kita peringkat ke dua terbontot di dunia. Ke dua terbontot dari segi apa dulu?

Skor itu mungkin skor rata-rata atau tiap indeks punya bobot masing-masing, saya pun kurang tahu. Namun sebaiknya perlu dikaji lebih mendalam sehingga kita tahu mana yang bikin skor kita jatuh.

Kalau hanya dilihat tingkat literasi (kemampuan membaca) saja, ternyata Indonesia tidak parah-parah amat. Seperti dikutip dari web world.bymap.org, Indonesia memiliki persentase literasi 93,9%. Artinya sekian persen sudah bisa membaca. Sangat baik jika dibandingkan negara-negara di Afrika.

Jika ingin mengkaji minat baca, data yang menurut saya seharusnya dipakai adalah berapa banyak halaman atau buku yang dibaca oleh setiap orang dalam setiap bulan atau tahunnya. Atau berapa jam waktu yang dihabiskan untuk membaca setiap minggunya. Saya coba searching di internet tapi hanya menemukan satu data dari NOP World Culture Index yang sepertinya diragukan validitasnya. Web NOP World sendiri ternyata domainnya sudah kosong.

Saya bukan kutu buku yang setiap saat menenteng buku kemana-mana. Tapi setidaknya setiap bulan ada lah 1-2 buku yang saya habiskan. Saya seringkali bertanya-tanya kenapa sebagian besar orang di sekitar saya tidak senang membaca? Atau minimal 1 bulan 1 buku seperti saya. Apakah faktor genetik? Apakah faktor lingkungan? Budaya? Pendidikan? Infrastruktur?

Sebetulnya kekhawatiran saya bukan pada minat baca terhadap buku, tapi lebih kepada minat orang untuk menerima dan menyeleksi informasi yang valid. Dengan adanya internet dan media sosial, banyak berita dan fakta hoax karena setiap orang punya hak untuk mempublikasi apapun dengan kepentingan bermacam-macam. Di lain sisi, buku sebagai aliran informasi sifatnya lebih terkendali karena sebelum dipublikasi secara massal, buku harus melewati beberapa tahapan misalnya melalui editor yang akan mengecek apakah naskah layak terbit, setelah itu ada proses revisi. Jika buku yang diterbitkan adalah non-fiksi, data-data yang disajikan perlu diklarifikasi ulang dan mungkin perlu persetujuan dari para ahli sehingga menjadi terpercaya isinya. Dan yang terpenting, buku yang diterbitkan akan mencantumkan nama penulisnya. Sumber informasi dapat ditelusuri kepada si penulis dan dia dapat mempertanggungjawabkan informasi yang dia publikasikan. Berbeda dengan postingan media sosial yang viral yang seringkali kita tidak tahu siapa yang pertama kali memposting, entah itu dari teman sodara saya, atau dari kakak teman adik saya, ataukah dari sebuah akun tanpa nama jelas.

Ya walaupun patut diakui bahwa minat baca bangsa kita masih rendah, tapi mari kita berdoa semoga bangsa kita jadi bangsa yang pandai dalam menyeleksi informasi sebelum menyebarkannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s