Tawas

Screenshot_2016-03-12-15-00-49_1.jpg

Aw! Kepalaku sakitnya minta ampun. Pagi-pagi buta begini…

Ini dimana!?

Ini hutan. Dari kejauhan aku dapat melihat gemerlap lampu-lampu perkampungan yang berada di bawah sana. Bukan hutan, ini gunung. Pantas dingin.

Tapi ada sesuatu yang lain di sini. Apa itu kantung mayat? Kenapa ada kantung mayat?

Kenapa dia bergerak-gerak!? Gerakannya semakin keras dan tidak teratur.

“Toloong!! Tolooong!!!” Jeritan suara wanita memecah keheningan lereng gunung yang entah bagaimana aku bisa sampai ke sini.

SINTING! Apa sih itu!? Kuntilanak? Korban penculikan? Apa aku juga akan jadi korban selanjutnya?

Sesaat aku mengangkat tubuhku mundur dengan posisi masih terduduk di atas tanah. Rumput ilalang tinggi mengelilingiku.

Duk! Pantatku membentur sesuatu.

Kantung mayat lain, tunggu, bukan. Ini sleeping bag. “Hmmm…mmmh” suara seorang pria seperti yang tidurnya terganggu. “Apaan sih tod, pagi-pagi gini?”

Iya betul, dia sedang tidur. Aku memberanikan diri membuka sleeping bag itu lebih lebar. Manusia yang ada di dalamnya terperanjat, mungkin karena di sekelilingnya cahaya remang, hanya dibantu cahaya bulan, bintang, dan patromaks redup di tengah kami bertiga.

“Astaghfirullah! Siapa lu!? Dimana gue!?” Teriak si lelaki.

Aku ikut kaget.

“Lah, Mas siapa?” Kami pasti terlihat bodoh sekarang.

“Gue dimana!? Jawab, buru!”

“Nggak tahu, Mas! Kita korban penculikan kayaknya. Human trafficking!” Gerutuku.

“Toloooong!!” Wanita di kantong mayat kembali menjerit seperti alarm shalat subuh.

Kami berdua cepat-cepat menghampiri kantung mayat yang tadi aku lihat. Risletingnya ternyata sudah sedikit terbuka, tapi sepertinya dia terlalu panik.

“Toolooong!” Teriaknya lagi.

“Mbak, tenang Mbak! Ssst…!” Kataku.

“Ampun, Bang. Ambil aja dompet sama HP saya, Bang. Tapi saya jangan diapa-apain tolong Bang!” Suaranya bergetar dan air matanya berurai.

“Bukan Mbak. Kami juga korban di sini.” Jawab si lelaki sleeping bag.

Wanita itu masih menangis entah bergumam apa.

Oh iya, ngomong-ngomong HP-ku mana ya?

“Mas, ada HP nggak?” Tanyaku.

“Oh iya, nggak ada!”

“Beneran gak ada Mas? Sini saya geledah dulu.” Kataku.

“Eh, jangan macem-macem lu!”

“Nggak, Mas. Saya juga gak ada HP. Maksudnya kalau kita semua gak ada HP, ada kemungkinan kita semua memang korbannya. Nanti Mas boleh geledah saya juga.” Ucapku sambil memerhatikan sekitar. Dari tadi serasa ada yang mengawasi kami.

“Oke lah. Terus mbaknya siapa yang geledah?”

“Beneran saya gak ada bawa apa-apa Bang. Cuma dompet. HP saya gak tahu kemana.” Kata si wanita kantung mayat. Dia tampak lebih tenang sekarang.

Setelah kami berdua menggeledah satu sama lain, kami bertiga sepakat untuk memberikan nama palsu kepada satu sama lain sehingga kita bisa saling memanggil. Aku Andri, si lelaki Doni, dan si wanita Ani.

Masih dalam posisi berjauhan satu sama lain, satu per satu kami menceritakan apa-apa yang diingat sebelum sampai di tempat ini. Semuanya sama. Kami menjalani hari seperti biasa dan mengakhirinya dengan tidur. Kemudian bangun dalam kondisi ini.

“Anjir, anjir! Kita mau diapain ini Ya Allaah?” Gerutu Doni. Kepanikan hakiki terpampang jelas di wajahnya. Sebenarnya aku pun panik. Yang terlihat paling tenang sekarang malah Ani. Rambutnya yang hitam panjang sekarang sudah tidak menutupi wajahnya lagi.

“Eh, itu siapa tuh? Ada yang dateng! Itu pelakunya pasti. Ambil batu cepet, ambil yang gede!” Seru Doni.

Dari jauh memang terlihat cahaya remang yang nampaknya berasal dari obor. Cahaya itu semakin mendekat. Kami setuju dengan usul Doni, mengambil apa saja yang bisa dijadikan senjata. Aneh juga bahwa kenyataannya kami tidak diikat ataupun disumpal.

Cahaya lampu patromaks kami padamkan, namun sepertinya si pembawa obor sudah hafal dengan lokasi kami.

Kami bersembunyi meninggalkan ‘kepompong’ kami. Mereka datang, dan tidak sendiri. Dua, tidak, tiga orang. Satu obor.

Melihat jumlahnya yang sama dengan kami, ditambah kami ada satu wanita, tidak ada yang berani memberdayakan senjata yang telah kami siapkan. Kami bertiga hanya bergeming, mengelilingi tiga orang di tengah segitiga yang kami buat.

“Lho, pada kemana ini orang?” Tanya salah satu dari mereka.

“Nah kan udah gua bilangin harus ada yang jaga!” Sahut temannya.

“Ogah ah gua, masa jaga sendiri. Kalo ada babi hutan gimana?” Keluh orang ke tiga.

“Kalo gak dijagain pasti mereka panik terus cabut. Makin sedikit aja orang-orangnya. Mana tahu diantara mereka ada yang pinter. Anak S2 atau S3 gitu.”

Aku sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Mereka nampak sedang berpikir keras dan menimbang-nimbang sesuatu.

“Ah, bangke nih obor cuma satu lagi. Gak bisa mencar kan jadinya.” Tiba-tiba yang satu mengeluh.

“Eh, petromaksnya kok masih ada? Nggak dibawa kabur emang? Padahal gelap banget disini.”

Ketiga orang yang tadinya saling berhadapan kini semuanya menghadap ke luar, mencari-cari.

“Kayaknya mereka masih di sini.” Bisik salah satu dari mereka.

Ada sebentuk hentakan di jantungku ketika mendengar kalimat itu. Tanganku menggenggam batu sekepalan erat-erat. Tiba-tiba Ani keluar dari semak dengan mengangkat tangannya.

“Gue gak bawa apa-apa, Bang.” Katanya.

Apa dia bermaksud mengalihkan perhatian? Pikirku.

“Yang lainnya mana, Mbak?” Tanya si pemegang obor.

“Nggak tahu, dari tadi gue sendiri.”

Decakan mulut penuh kekecewaan terdengar jelas dari ketiga orang itu.

“Mbak lulusan mana?” Tanya salah seorang dari mereka.

“Kenapa emangnya, Bang?”

“Dijawab dulu aja, Mbak. Waktu kita nggak banyak.” Sergah yang lain.

“Gue dari ITB.” Kata Ani, masih mengangkat kedua tangannya di atas kepalanya.

“S1 atau S2 kimianya?” Si pemegang obor agak mendekat ke arah Ani.

“Kok tahu kimia, Ba–“

“Mbak!”

“S2 Bang.”

Aku yakin Doni pun heran dengan dialog ini. Mereka siapa? Kenapa tanya ini itu tentang latar belakang pendidikan?

Aku analis kimia, mungkin Doni juga latar belakangnya kimia. Apa mereka juga? Terus kenapa?

“Mbak, ikut kami!”

“Kemana?”

Helaan napas begitu terdengar di tengah-tengah bunyi jangkrik dan angin malam.

“Oke, oke. Kenalin dulu, gua Roy, S1 kimia Andalas, ini Tomy, D3 Kimia, ini Ihsan S1 Kimia juga.” Katanya dengan sangat terburu-buru seperti dikejar maut.

“Mbak mending baca ini dulu deh.” Ihsan menyerahkan selembar kertas, cahaya nampak remang tapi bagiku terlihat jelas bahwa itu adalah kertas daur ulang.

“Andri, Doni, keluar aja gak apa-apa.” Seru Ani.

Aku sangat-sangat ragu dengan perintah itu, tapi Doni melompat keluar dari semak persembunyiannya. Aku tak punya pilihan lain.

“Ini Andri, ini Doni. Sorry gue bohong tadi.” Lanjut Ani. Kami saling menyebut nama tapi tidak ada yang bersalaman. Aroma ketidakpercayaan masih sangat pekat. Ani menjulurkan tangannya untuk menunjukkan selembar kertas tadi padaku dan Doni.

Selamat malam generasi penerus bangsa!

Kalian semua dikumpulkan di sini bukan kebetulan. Kalian dibutuhkan di sini.

Di bawah sana tinggal orang-orang. Orang-orang biasa, petani, pedagang sayur, pekerja kasar, laki-laki dan perempuan, tua-muda, anak-anak dan dewasa. Semuanya tinggal di satu kampung di kaki gunung ini. Cahaya lampu rumah-rumahnya bisa kalian lihat dari tempat kalian bangun tadi.

Sekarang mereka masih terlelap, karena lelah bekerja keras setiap harinya. Menanam benih padi, jagung, sayur, kopi. Mengairinya ketika musim kemarau, memanennya, lalu mendistribusikannya ke kota agar sampai di tangan kalian, demi harga yang seringkali tidak sepadan dibandingkan usahanya. Kalian semua membutuhkan mereka setiap harinya tanpa kalian sadari.

Namun kali ini, mereka membutuhkan kalian. Mungkin juga tanpa mereka sadari.

Mata air gunung ini adalah sumber air bagi mereka. Sumber air minum, memasak, irigasi, cuci, kakus, dan sebagainya. Akan tetapi pada malam ini, ada yang salah dengan sumber air ini. Logam berat berupa timbal telah mengkontaminasinya dalam kadar tinggi. Jika terminum dapat menimbulkan efek akut dan mematikan. Jika dialurkan dengan sistem irigasi akan merusak tanaman yang diairinya.

Kalian mempunyai waktu hingga matahari terbit. Sampai air di bak penampung air penuh dan melimpah jatuh ke arah perkampungan.

Semoga berhasil!

“Di baliknya ada peta ke sumber mata air.” Roy mengambil kertas itu dari tanganku lalu membalikkannya

“Gimana kita tahu ini bukan jebakan atau orang iseng yang ngerjain?” Doni angkat bicara.

“Ada bak penampungnya yang dibilang di surat itu. Masih baru bangunannya. Mana ada orang ngerjain seniat itu? Kalau masih gak percaya minum aja airnya.” Gerutu Tommy.

“Alah sotoy lu! Paling kebetulan aja itu ada yang baru bikin baknya. Kalau di bawah beneran kampung penduduk mending kita ke sana aja minta tolong! Toh kelihatan jelas dari sini arahnya ke mana.” Sergah Doni.

“Mending jangan, Mas. Kita gak tahu daerah sini.” Aku mencoba menahannya. Yang lain bergumam tanda setuju.

“Bacot lu pada! Gua aja yang cabut dah.” Hardik Doni sambil meraih petromaks dan korek apinya lalu pergi ditelan kegelapan.

“Udah biarin aja. Menurut gue kita tunggu sampai terang kalaupun mau jalan. Dan lebih baik kalau kita nggak sendiri-sendiri.” Ujar Ani.

Beberapa saat kami melihat cahaya petromaks yang baru dinyalakan. Cahaya itu semakin menjauh, semakin menjauh. Lalu…

“Aaaaaaaaaarghhhh…!!” Jeritan pilu Doni menggelegar memecah malam. Kami saling berpandangan. Jelas terkejut sampai-sampai tak ada satupun dari kami yang mengeluarkan suara.

Roy memberi isyarat agar kami menuju sumber suara. Beberapa saat kemudian kami sampai di hadapan Doni. Dia masih berdiri menghadap ke arah gelap, tapi tubuhnya kaku. Mungkin ada sesuatu di sana yang mengagetkan dia. Tangan kanannya memegang petromaks, tangan kirinya seperti sedang bersandar pada sesuatu. Kami mencoba mendekat lagi. Tercium bau gosong. Ternyata Doni tak bernapas. Dia tewas terpanggang. Tangan kirinya memgang pagar kawat yang sepertinya telah dialiri listrik tegangan tinggi.

“Kyaaaa..!!” Ani menjerit sejadi-jadinya, lalu menangis. Wanita ini pada waktu tertentu bisa sangat tenang padahal.

“Astaghfirulloh! Allahuakbar!” Ihsan juga ikut menjerit. Kami semua sebetulnya berteriak, tapi hanya itu yang bisa aku dengar.

Kami semua terduduk lemas. Roy masih memegangi obornya sambil mencoba mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ani masih menangis. Tommy seperti telah melihat kuntilanak. Ihsan mengucap dzikir tak henti-henti.

“Oke semuanya tenang. Mending kita balik sekarang!” Perintah Roy. “Kayaknya satu-satunya cara kita keluar dari sini itu harus ikut aturan main dia.” Lanjutnya. Kami setuju, toh pemandangan di sini sangat mengganggu. Kami pun berjalan ke arah mata air.

“Ada yang pakai jam?” Tanya Tommy. Tak ada yang menjawab.

“Ani, itu kan jam tangan di tangan lo.” Ucap Ihsan.

“Hah? Oh iya. Gue gak biasa pakai jam sih jadi gak nyadar.”

“Jam 1.” Kataku, melihat jam tangan di lengan Ani.

Aku masih ingat jam 9 malam tadi aku terbaring di tempat tidur masih mengenakan jam tanganku saking lelahnya. Tapi sekarang jam itu raib.

Timbul bau yang tidak sedap begitu kami sampai di sumber mata air. Mungkin Roy dan kawan-kawan sudah terbiasa dengan bau ini. Aku dan Ani agak kaget. Baunya seperti campuran antara formalin dan ammonia.

“Gila apa air kayak gini dijadiin air minum?” Tanya Ani.

“Ini kayaknya sengaja dicemari beberapa jam yang lalu deh. Bisa aja sebelumnya emang airnya bersih.” Ihsan menimpali.

“Di sana ada botol-botol sampel tapi kita jelas gak bisa dekatin obor ke sana buat baca tulisan-tulisannya. Salah-salah malah meledak.” Kata Roy.

Aku melihat –atau tepatnya meraba—sebuah meja kayu. Hati-hati aku menggerakkan tanganku di atas meja tersebut. Aku menyentuh plastik. Botol sampel? Sepertinya bukan. Aku mencoba meraihnya, berdoa tidak ada benda lain yang tersenggol. Doaku terkabul.

Klik!

Seberkas cahaya terang muncul dari benda yang aku pegang. Lampu senter. Semua mata yang tadinya sibuk terfokus pada apa yang diterangi obor, kini mengalihkan pandangannya kepada senter yang aku pegang. Mereka tampak seperti melihat tambang emas.

“Nah itu ada senter!” Seru Tomy. “Coba cari lagi, siapa tahu masih ada yang lain.” Lanjutnya.

Aku mengarahkan lampu senter ke atas meja kayu dan menemukan dua lampu senter lainnya di antara botol-botol sampel. Cerdik juga orang yang mengerjai kami. Menaruh sumber cahaya di tempat yang kami tahu tidak boleh didekati sumber cahaya satu-satunya yang kami miliki saat itu, obor. Kalau saja Doni tidak gegabah, mungkin kita bisa pakai petromaks untuk menerangi meja kayu ini.

Ada tiga lampu senter dan satu obor. Berarti ada satu orang yang tidak punya sumber cahaya.

“Oke, sekarang gimana caranya ngurangin kadar timbal di air ini?” Tanya Ihsan.

Tommy dan Ani sudah mendapatkan lampu senternya masing-masing. Roy dengan obornya. Hanya Ihsan yang tidak memiliki sumber penerangan.

Tommy lalu mengarahkan lampu senternya ke atas meja kayu. “Botol-botol sampelnya cuma ada tulisan A-1, B-2, C-1, C-2, gitu-gitu. Gimana cara tahu ini apa itu apa?”

“Coba buka satu-satu. Tapi ati-ati.” Aku menyarankan.

“Ini kapur.” Tomy agak terbatuk mengucapkannya.

“Ini apa gue gak tahu.” Kata Ani.

“Ini kaporit.” Balas Ihsan.

Roy berinisiatif untuk mencari-cari petunjuk lain. “Di sana ada bangunan kayaknya.” Ujarnya sambil menghampiri sebuah bangunan tua tak jauh dari posisi kami saat ini. Sangat sulit mendeskripsikan warna catnya karena gelap. Yang penting Roy sudah menemukan pintu masuknya. Anehnya tidak dikunci.

Dari kejauhan aku melihat cahaya obor yang menghilang di balik pintu tersebut. Lalu muncul kembali beberapa saat kemudian. “Senter, senter!” Seru Roy.

Ihsan buru-buru merampas senterku dan menghampirinya. Aku mengajak Ani dan Tommy untuk ikut serta. Berhubung aku tidak punya sumber cahaya.

Udara di dalam sini terasa sangat pengap, tidak ada jendela yang terbuka satu pun. Di sana kami melihat beberapa jerry can berukuran 30 liter dengan tulisan kode yang sama dengan yang di botol sampel yang tadi kami temui. A-1, B-2, C-2…

Sepertinya botol sampel tadi hanya untuk jartest.

“Ini gudang penyimpanan chemical ya?” Tanya Ani. Tak jelas ditujukan kepada siapa karena yang lain sibuk mengarahkan lampu senternya kesana-kemari.

“Bukan cuma gudang kayaknya. Ada pH meter, digester, beaker glass, pipet, bahkan ada spektro.” Tommy berujar sambil masih meliuk-liukkan cahaya lampu senternya. Ada nada girang terpancar dari kata-katanya barusan.

“Gua ambil sampel ya.” Ucap Roy. Orang ini tinggi sekali insiatifnya, pikirku.

“Kayaknya lumayan lengkap alat-alatnya. Lebih lengkap dibanding kampus gue.” Ujar Ani.

“Biasanya pakai apa ya Mbak ngilangin timbal?” Aku tergesa bertanya. Terkesan memotong tapi aku tak peduli. Aku punya firasat buruk jika ‘pekerjaan’ ini tidak cepat-cepat diselesaikan.

“Biasanya sih difilter aja mah kalo timbal.” Timpal Ihsan. Aku juga tahu itu, tapi dari tadi tak seorang pun dari kami yang menemukan tabung filter.

“Diendepin doang bisa gak ya? Kita gak ada PAC ya di sini?” Tanya Tommy.

Semua mata tertuju pada Ani.

“Ya ampun, anak S2 gak harus tahu segalanya!” Gerutu Ani. “Lagian gue S2-nya bukan di pengolahan air.” Lanjutnya.

Kami semua tertegun beberapa saat. “Oh.” Mungkin itu yang ada di kepala kami bertiga.

“Yaudah sekarang kita jartest aja!” Perintah Ani.

Kami semua membawa botol-botol sampel yang berada di meja kayu di luar. Semuanya dibariskan rapi di atas meja ‘lab’ kami.

“Coba cek lagi, siapa tahu ada PAC.” Ucap Ani.

“Gak ada kayaknya. Semuanya udah gua bukain satu-satu. Gua tahu warna dan bau PAC soalnya pernah praktek di PDAM. Ini apa ya?” Tanya Tommy sambil mengangkat satu botol sampel dengan kode B-1.

Aku tak begitu yakin dengan isi botol sampel yang ditanyakan Tommy. Roy sudah kembali membawa sampel air di dalam jerry can 5 liter.

Aku meraih botol sampel dari tangan Tommy, membuka jerrycan yang dibawa Roy dan mencampurkan isi keduanya di dalam sebuah beaker glass. Perlahan mulai terbentuk di dalamnya gumpalan-gumpalan lumpur yang biasa disebut ‘flok’.

“Ini tawas.” Kataku.

“Tau darimana? Bisa aja itu koagulan lain kan.” Tanya Ani.

“Warnanya putih, Mbak. Baunya juga beda.”

“Duh kenapa nggak Ferric Chloride aja sih, kan lebih bagus. Oke lah kita buat stock solution dulu 1%.” Lanjut Ani.

Roy malah masih tertegun. Biasanya dia bergerak paling cepat, padahal semuanya seketika itu sibuk sendiri.

“Ada listrik tapi gak ada lampu yang dipasang. Cerdas ya ini yang ngerjain.” Ihsan mendengus.

“Dia gak ngerjain, San. Dia serius..” Gumam Roy. Sebentuk kalimat aneh terdengar darinya. Maksudnya, ya tentu saja kita tahu si pelaku ini serius. Buktinya Doni gosong cuma gara-gara pegang pagar kawat. Tapi kami tak menghiraukan itu dan masih sibuk melakukan jartest. Pada kondisi normal, jartest dapat dilakukan oleh satu orang saja, mulai dari menimbang sampai melarutkan. Tapi dalam kondisi gelap gulita seperti ini, paling tidak butuh dua orang sehingga satu orang memegangi lampu senter. Dan butuh dua orang lagi untuk menyiapkan sampel-sampel.

“Di deket mata air tadi ada macan.” Nada bicara Roy datar tapi dibaliknya ada kesan cemas. Kami semua memalingkan muka ke arahnya, kecuali Tommy yang masih sibuk menuang sampel ke dalam beaker glass. Sepertinya dia sibuk dengan dunianya sendiri. “Hah? Apaan gua nggak denger?” Katanya. Ternyata dia menyimak dari tadi.

“Dikandangin sih. Tapi kayak ada timer-nya gitu di pintu kandangnya.” Lanjut Roy.

“Berapa jam timernya? Menit?” Sambar Ani.

“2 jam 48 menit.” Jawab Roy.

“Pas adzan subuh kayaknya.” Aku bergumam, entah yang lain mendengar atau tidak. Tapi firasatku benar. Ada sesuatu yang mengerikan jika kami di sini tidak berhasil menurunkan kadar timbal dalam sumber air ini.

“Gila ya! Sarap nih orang!” Teriak Tommy.

“Cepetan udah jangan banyak omong pada!” Teriak Ani.

Prang! Suara beaker glass yang pecah seakan menyuporteri Ani.

“Eh, bangke! Sorry, sorry.” Ihsan menyenggol salah satu beaker glass. Sial.

Kami pun memulai jartest dengan susah payah. Ditambah satu pipet lagi yang pecah. Dosis optimum sudah ditemukan. Artinya kadar tawas yang yang paling pas yang ditambahkan untuk mengurangi timbal dalam air.

“Emangnya berapa kadar minimal timbal di air?” Tanya Roy. Sepertinya sudah kembali ke sikap aslinya.

“10 ppb kalo gak salah. Gue pernah baca dimana gitu.” Jawab Ani.

“Waduh, itu sama aja 0 ppm. Emang mungkin ya?” Tanyaku.

Tidak ada yang menjawab. Semuanya malah tambah sibuk. Memang harus dicoba dulu, karena kami pun tak ada yang tahu pasti apa yang akan terjadi nanti. Mungkin kami akan mati diterkam binatang buas, tapi bukan berarti kami ikhlas nyawa kami melayang begitu saja tanpa perlawanan.

100 ppm dosis optimum tawas yang harus ditambahkan. Dikalkulasikan ke skala lapangan menjadi sebanyak 20 liter, dengan asumsi volume bak penampung 200 m3. Tapi, ada yang salah..

“Kalau kita masukin ke bak penampung langsung gimana cara ngaduknya?” Tanya Tommy.

Nah, itu yang salah. Kami saling bertatapan.

“Mending sekarang kita nyebar deh, siapa tahu ada petunjuk lain lagi. Kan sekarang kita ada senter banyak.” Kata Roy.

Aku, Ani, dan Ihsan ke bak penampung untuk mencari apakah ada semacam sistem pengaduk. Mustahil mengaduk 200 m3 air dengan tangan manusia. Kecuali kami ber-20.

Roy dan Tommy ke sumber mata air lagi, siapa tahu ada yang terlewat setelah Roy melihat si macan itu, atau macan-macan. Ah aku tak mau memikirkan berapa jumlahnya.

“Gak ada pengadukan di sini. Ini lebih cocok jadi bak pengendap, air bersih langung melimpah ke jalur sungai sana.” Ujar Tommy.

“Eh apaan nih?” Ani menunjuk sebuah benda berbentuk silinder, berwarna abu. Pipa PVC.

“Ujungnya mana ya?” Aku mencoba mencari-cari kemana benda itu berakhir, dan aku menemukannya. Sebuah pompa. Di tengah hutan begini tapi dilihat sekilas kondisinya masih baru.

“Nih ujung yang satu lagi. Masuk ke bak. Hah? Masuk ke bak? Buat apa ya?” Tommy sibuk sendiri.

“Oke, ada yang anak teknik?” Tanya Ani yang dari tadi menempel pada Tommy karena hanya dia dan aku yang memegang senter.

“Roy sama Ihsan bukan teknik bilangnya. Kayaknya almarhum teknik deh.” Jawab Tommy.

Hujan turun. Tidak deras, namun tidak bisa disebut gerimis juga.

P_20160312_145433.jpg

Setelah puas di hilir, kami menyusuri pipa tersebut. Ternyata naik sampai ke hulu, dekat sumber mata air. Di sana sudah ada Roy dan Ihsan. Kami menceritakan apa yang kami temui di hilir.

“Kita nemu semacam ruang kontrol gitu di samping kandang macan. Mungkin buat nyalain pompanya ya.” Kata Ihsan sambil sesekali melemparkan pandangannya ke kandang macan.

“Tapi nggak ada mixer atau apapun buat pengadukan.” Sambung Roy.

“Apa kita paksain masukin alum (tawas)-nya di ujung pipa ini?” Tanya Ani, menunjuk ujung pipa yang berakhir di atas jalur sungai sumber mata air.

“Ini flownya berapa juga kita nggak tahu.” Jawabku.

“Coba nyalain dulu pompanya.” Kata Tommy.

“Caranya?” Tanya Roy.

“Ah sini gue aja lah. Gue pernah PKL di PDAM, jadi dikit-dikit ngerti panel kontrol. Mana tempatnya?”

Ihsan mengantar Tommy ke ruang panel. Tak lama kemudian air mengalir deras dari ujung pipa dan mendarat di jalur mata air, mengalir kembali ke hilir. Jalur mata air ini mengalirkan air dari sumbernya di hulu dan akan mengisi penuh bak penampung di hilir hingga airnya melimpah.

“Jadi gini toh cara ngaduknya. Diputer-puter dari hilir ke hulu pakai pompa. Berarti kita bisa masukin di bak penampung.” Ujar Ani.

Hujan bertambah deras. Kami semua basah kuyup tapi nampaknya tidak ada yang menyadari hal itu. Kami kembali ke lab untuk mengambil satu jerrycan 30 liter dengan kode B-1, tawas, dan satu jerrycan lagi dengan kode C-2, kaporit sebagai desinfektan. Lalu menuangkannya ke dalam bak penampung yang sudah hampir melimpah itu. Meskipun air dipompa ke hulu kembali, ada tambahan air dari sumber mata air yang terus mengalir, mengakibatkan tinggi muka air di bak penampung terus naik. Belum lagi ditambah air hujan.

P_20160312_145552.jpg

“Jam?” Tanya Roy.

“4.20” Balas Ani.

“Sekitar 20 menit lagi berarti waktu kita?” Tanya Tommy.

“Coba cek spektro dulu berapa Pb-nya.” Ujarku.

Kami kembali ke lab. Ihsan melakukan uji spektrofotometri untuk mengukur kadar timbal yang ada di air terolah dari sampel yang kami ambil.

“1,5 ppm. Anjir! Kok nggak ngaruh sih!?” Gerutu Ihsan.

“Gak mungkin, cek lagi coba!” Sergah Ani.

“BENERAN! Lu cek sendiri nih kalo nggak percaya!.” Nada Ihsan meninggi.

“Kenapa, apa yang salah nih? Jartestnya salah?” Roy memotong.

“Nggak, tadi udah bener kok gue jartestnya!” Teriak Ani. Walaupun air hujan telah membasahi pipinya, aku bisa melihat matanya juga berkaca-kaca.

“Udahan nih? Kita mati di sini dimakan singa?” Ihsan terduduk bersandar pada dinding. Pandangannya kosong. Geraman petir mengiringi kalimatnya.

“Harimau.” Ujar Roy.

Ani sudah benar-benar menangis, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Jam tangannya menunjukkan pukul 4.35. Mungkin sekitar 10 menit lagi kandang macan itu akan terbuka. Tidak ada dari kami yang bergerak atau berbicara. Aku…aku bingung mau diapakan umurku yang tinggal beberapa menit ini.

Satu persatu botol sampel aku buka dan aku lemparkan ke pojok ruangan.

Uhuk! Uhuk, uhuk! Tommy terbatuk-batuk karena aku melempar botol sampel berisi kapur ke hadapannya. “pH nya!” Uhuk! “Anjir lupa gua kalo alum bakal nurunin pH.” Lanjutnya.

Kami semua mengangkat kepala.

“Kalo pH-nya rendah nggak ngendap ya timbalnya. Terus dosisnya gimana? Tinggal 7 menit lagi, gak cukup buat jartest.” Tanya Roy.

“Bodo amat, masukin aja satu jerrycan!” Potong Tommy.

“Satu orang pegangin senter! Saya ambil kapurnya.” Aku berseru. Roy buru-buru mengambil satu senter.

“San, Tom, jagain pintunya! Jangan ditutup sebelum kita balik!” Perintah Roy.

Kami berdua pun pergi membawa kapur satu jerrycan, belum dilarutkan, tapi masa bodoh. Yang penting masuk ke bak penampung dulu. 3 menit lagi. Hujan masih mengguyur. Susah payah aku menenteng jerrycan itu karena bebannya lumayan berat dan jalan licin. Namun setelah perjuangan keras akhirnya kami sampai di hilir. Aku membuka tutup jerrycan dan menuangkan isinya ke dalam bak. Mengguncang-guncangnya sehingga isinya benar-benar keluar berhubung bentuknya berupa serbuk.

Secepat mungkin kami kembali ke lab. Di tengah jalan, kami mendengar adzan subuh dikumandangkan. Di luar dugaan, dalam kondisi ini ternyata terdengar menyejukkan hati. Bahwa di bawah sana memang benar ada manusia. Tapi, ini artinya waktu kami kemungkinan telah habis.

Lab sudah terlihat oleh kami.

“Pintunya ketutup.” Bisik Roy, seketika mematikan lampu senternya.

Ada semcam aliran listrik di tubuhku yang membuatku menjadi lemas. “Ada berapa tadi macannya?” Kataku sambil megap-megap karena nafas menjadi sesak seketika.

“Tiga.”

Sinting! Satu harimau masih bisa diakali kalau lawan dua orang. Dua harimau aku lebih memilih terjun ke bak penampung. Tiga harimau….tunggu.

“Mas, kita balik ke bak penampung aja!” Bisikanku hampir tidak terdengar. Entah kenapa Roy masih sanggup memahminya. Dia mengacungkan jempol tanda setuju. Sesaat sebelum berbalik arah, samar-samar aku melihat bayangan kucing besar yang berjalan di hadapan pintu lab. Aku berdoa sangat khusyuk semoga langkah kaki kami tidak terdengar oleh mereka.

Akan tetapi, kami kesulitan berjalan tanpa cahaya. “Mending kita nyalain senternya terus lari yang kenceng sekalian!” Ide gila itu tiba-tiba aku utarakan. Area di bak penampung lebih terbuka, kami bisa pakai lampu senter untuk mengecoh macan-macan ini, semoga. Selain itu juga ada suara pompa yang bising yang bisa menyamarkan suara langkah kaki kami. Jika itu semua tidak berhasil, kami taruhan nyawa untuk nyemplung ke bak penampung. Bukan mati tenggelam, tapi mati karena meminum timbal dalam jumlah yang sangat tinggi jika dosisnya masih 1,5 ppm.

Suara pompa sudah mulai terdengar, cukup bising di tempat seperti ini. Bak penampung sudah dekat berarti. Kami masih berlari ditemani hujan deras. Namun tiba-tiba Roy mengerem sprintnya. Aku menubruk punggungnya. Dia mengarahkan senter ke hadapan kami. Tampak makhluk itu silau oleh cahaya yang dihasilkan lampu senter. Dia mengaum, pelan-pelan mendekat. Kami pun pelan-pelan mundur.

“Kenapa ditutup duluan sih pintunya!?” Gerutuku.

Roy tidak menjawab. Semuanya berakhir di sini. Satu harimau ini yang terlihat saja, mungkin ada satu lagi entah di belakang kami atau di mana.

Kenapa aku mau-maunya menjinjing kapur satu jerrycan untuk orang-orang yang bahkan baru aku kenal beberapa jam yang lalu!? Lebih baik aku tinggal di dalam lab seperti yang lain, dasar bego! Dan sekarang aku akan mati karena ketololanku sendiri.

Kami terduduk lemas. Sepertinya kaki ini kehilangan tenaganya sama sekali bahkan untuk menopang tubuh kami. Aku memjamkan mata. Aneh, terdengar lebih hening. Hanya terdengar suara hujan. Mana suara pompanya? Apa aku sudah mati?

Aku membuka mata kembali, masih ada Roy memegang lampu senter dan harimau itu di depan kami kurang dari satu meter. Basah pula diguyur hujan.

Suiiiiiiiiittt! Semacam suara siulan atau peluit, aku tak tahu.

“Suara apa tuh?” Nada Roy bergetar. Giliranku yang tidak menjawab, karena aku pun belum pernah mendengar suara semacam itu. Sang harimau berbalik arah, berlari kemudian hilang dimakan gelap. Benar saja, dari belakang kami juga ada satu lagi, ikut berlari tanpa menghiraukan mangsanya. Ditinggalkannya aku dan Roy yang sesak napas di sini.

Dari kejauhan, langit hitam mulai memunculkan benang-benang fajar. Walaupun masih samar, tapi mentari mulai terbit. Aku dan Roy saling bantu berdiri, entah berapa kali kami jatuh bangun. Kami berjalan kembali ke lab, dengan keyakinan seharusnya harimau yang menunggui di sana pun sudah kembali ke alamnya.

“Kita nggak ada yang kepikiran matiin pompa ya, Mas?” Kataku sambil berjalan bersusah payah. Walaupun hujan sudah reda namun jalanan masih licin.

“Iya ya. Padahal kalau nggak ada yang matiin pompa gak bakal ngendap timbalnya, keaduk aja terus.”

Pintu lab masih tertutup. Roy mengetuknya, sesuatu yang mustahil dilakukan seekor harimau. Pintu kayu itu pun terbuka. Kami yang dekil penuh lumpur di sana-sini masuk. Mereka tampak seperti melihat hantu. Tak ada yang berani berkomentar. Mungkin mereka merasa bersalah, mungkin juga tidak. Insting untuk bertahan hidup apa bisa disalahkan?

Ada rasa canggung luar biasa saat ini diantara kami.

Semuanya hanya terduduk menunggu hari terang. Walaupun kami belum paham betul apakah ‘misi’ ini berhasil atau gagal. Mungkin si penculik sinting ini masih akan melancarkan aksinya. Mungkin kami hanya ditinggalkan terjebak di sini tanpa air bersih dan makanan.

Ani tertidur di pojok, Tommy di pojok lain. Roy mencoba membersihkan dirinya dengan aquadest, sia-sia. Ihsan bangkit dari duduknya, membuka pintu. Hari sudah terang. Cuit burung mulai terdengar. Jam tangan Ani menunjukkan pukul 6.15 ketika aku hendak membangunkannya. Tommy dibangunkan Roy. Kami semua berjalan ke luar lab. Masih tanpa kata-kata.

“Kita nggak ngecek lagi airnya?” Tiba-tiba Ani menghancurkan rekor bisu kami.

“Macannya udah pada pergi, jadi kayaknya udah aman deh airnya.” Jawab Ihsan.

“Ya siapa tahu sebenernya belum. Orang ini kan psikopat, mana tahu dia emang mau bunuh semua orang di kampung itu.” Balas Ani.

Tommy dan Ihsan pergi ke bak penampung dan mengambil sampel air yang terolah. Ketika mereka kembali, Ani melakukan pengukuran spektro. Aku dan Roy masih mencoba menerima kenyataan bahwa kami masih hidup.

“0 ppm, 2 ppb.” Kata Ani.

Kami semua berjalan ke arah titik awal kami bertemu dengan sedikit lebih lega. Setelah itu menuju jalur yang dilewati Doni semalam. Satu hal yang kami tidak suka tapi kami tahu bahwa arah ke sana adalah arah menuju perkampungan.

Jenazahnya sudah raib. Entah kemana. Kami yakin betul posisinya di situ di dekat pohon mangga ini.

“Mayatnya kemana?” Tommy spontan bertanya. Tak ada yang bisa menjawab.

“Kenapa kita ya yang diambil?” Ihsan mencoba mengalihkan topik.

“Nggak tahu, apa bedanya kita sama anak-anak kimia lain? Toh intinya tetep sama kan, si penculik ini nggak waras. Otaknya keganggu.” Jawab Roy.

“Eh di sana ada gerbang tuh! Kebuka kayaknya.” Ani berseru.

Kami semua berbelok sedikit dari arah jenazah Doni. Entah pintu gerbang ini sudah terbuka semenjak tadi malam atau memang baru dibuka. Aku tak mau ambil pusing.

Satu hal yang kami tahu, perjuangan terberat kami bukan melakukan jartest dengan cahaya minim, bukan melihat orang mati tersengat listrik, bukan karena hampir dimangsa harimau.

Ketika kami sudah tiba di perkampungan itu, tidak ada dari mereka yang mengetahui bahwa kami adalah pahlawan mereka malam itu. Bagi warga di sana, kami hanyalah sekelompok pemuda yang nyasar ke gunung dan hampir diterkam binatang buas. Mereka malah kebingungan ketika kami menceritakan perjuangan kami di atas sana, beberapa dari mereka malah menertawakan dan menganggap kami tidak waras.

Inilah perjuangan terberat kami, ketika jerih payah kami dianggap nihil hanya karena tidak ada orang lain yang mengetahuinya.

Ah, aku ingin pulang saja.

***Tamat***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s