Monthly Archives: January 2015

15 Cerita, 13 Pengarang, 1 Buku

Sebuah buku yang cukup membingungkan ketika saya hendak membuat resensinya. Pasalnya buku terbitan Gramedia Pustaka Utama ini berisikan kumpulan cerpen dari berbagai pengarang kondang seperti Boim Lebon, Hilman Hariwijaya, dan Zara Zettira. Namun kemudian saya memutuskan untuk mengurutkan saja tujuh cerpen favorit versi pilihan pribadi dari total 15 cerpen yang mengisi tiap lembar buku ini, tidak lupa pula membuat resensi masing-masing cerpennya.

WP_20140803_002

Sebelum memulai resensi, saya ingin sedikit berkomentar mengenai redaksi dari cerpen-cerpen dalam buku terbitan tahun 2004 ini. Sebagian besar cerpen menggunakan kata “saya” sebagai kata ganti orang pertama yang menurut saya kurang begitu pas terutama untuk tema percintaan atau keluarga. Entah memang ini pilihan para pengarang tersebut atau memang karena adanya perubahan dari redaktur.

Baiklah, selamat menikmati tujuh cerpen terbaik Kupu-Kupu Tak Berkepak versi saya!

7. Kerinduan Si Kecil

Dimulai dengan mengenalkan tokoh Bunga yang kemudian diketahui merupakan sesosok arwah penasaran. Kiki, tokoh utama dalam cerpen adalah seorang mahasiswi UI yang memiliki kemampuan untuk melihat makhluk-makhluk supranatural dan menjadi mediator para arwah ini jika mereka hendak menyampaikan suatu pesan pada orang-orang yang ditinggalkannya.

Cerpen karya Arini Suryokusumo ini cukup menyentuh karena menampilkan sisi kemanusiaan dari sesosok hantu anak-anak yang merindukan orang tuanya. Di samping itu pengembangan cerita cukup baik dengan epilog yang cukup mengesankan. Namun dialog antar tokoh terasa sedikit canggung dan dipaksakan menggunakan kalimat baku.

6. Pacar Saya Pengarang

Kembali sebuah cerpen hasil goresan tinta Arini Suryokusumo. Berkisah tentang dua sejoli yang salah satunya berprofesi sebagai pengarang. Dalam cerpen ini Arini menggunakan bahasa yang lebih natural sehingga dialog antar tokoh dirasa lebih luwes. Banyak kalimat-kalimat lucu yang dilontarkan oleh Yo, sang pengarang, kepada pasangannya sehingga tidak terlalu menonjolkan kesan romantis namun tetap mengena di hati pembaca.

5. Kupu-Kupu Tak Berkepak

Bubin Lantang nampaknya menulis kisah pendek ini untuk mengingatkan kita para pembaca tentang bahaya prostitusi dari aspek garis keturunan. Pembawaan cerita yang unik seperti adanya efek cut, dissolve, fade in, membuat pembaca berimajinasi layaknya menonton sebuah film dokumenter. Pengembangan tokoh pun terjadi sangat cepat (berhubung ini cerpen) dan dinamis. Dialog yang disajikan tidak terkesan kaku dan bersifat natural. Meskipun akhir dari cerpen ini sedikit mudah ditebak, namun cukup menghibur dari mulai prolog sampai klimaks.

4. Bidadari Dari Langit

Walaupun saya kurang begitu menyukai tema percintaan, cerpen satu ini mengangkat sudut pandang science-fiction bertemakan alien atau makhluk luar angkasa. Cukup menarik bagaimana Liestyo menggambarkan kondisi manusia dari sudut pandang Planet Flipo, planet tempat sang alien berasal. Namun demikian, sang pengarang lebih memilih untuk memberikan penutup cerita yang membingungkan dan meninggalkan pembaca dengan berbagai pertanyaan. Saya agak kecewa dengan ending-nya namun secara keseluruhan cerpen ini cukup menghibur.

3. Napas

Berkisah tentang seorang Bondan yang memiliki masalah dengan paru-parunya atau lazimnya disebut penyakit bengek. Pengembangan karakter tokoh dan cerita dari prolog hingga klimaks sebetulnya biasa saja, ala-ala kisah cinta ABG tahun 2000-an. Namun saya terkesan pada twist di bagian akhir dari buah tangan Boim Lebon ini. Cukup membuat pembaca bingung dan bertanya-tanya apakah gerangan yang sebenarnya terjadi pada Bondan.

2. Dapur Bu Bardjo

Ya Allah, jangan sampai ibu atau istri saya kelak menjadi seorang Bu Bardjo. Memilukan, mengiris hati. Begitulah kesan yang saya dapatkan setelah membaca Dapur Bu Bardjo. Bu Bardjo yang bersahaja, Bu Bardjo yang menomorsatukan keluarga, Bu Bardjo yang tulus, dan Bu Bardjo yang sudah ketinggalan kereta menuju masa kini yang telah dinaiki keluarganya. Membaca kisah ini spontan saya langsung teringat mama saya di rumah. Rasanya ingin cepat pulang dan mencium tangannya lalu makan dengan lahap masakan beliau yang lezat.

Alberthiene Endah tampaknya sangat mahir menggambarkan tokoh seorang ibu yang introvert. Pengembangan cerita yang sangat baik disajikan demi membuat pembaca semakin teriris hatinya ketika dia membuka lembar demi lembar sampai lembar terakhir, kemudian menitikan air mata.

1. Jinzo Ningen

Ketika pertama kali saya membaca nama pengarang dari cerpen ini, tidak ada sedikitpun kesan yang muncul karena memang baru kali itu saya tahu ada seorang bernama Gus tf Sakai. Namun kesan luar biasa kemudian muncul setelah saya membaca karyanya yang dahsyat berjudul Jinzo Ningen. Saya membaca beberapa paragraf awal dan langsung nyeletuk bahwa Gus tf Sakai memang berbeda level dengan pengarang lain dalam kumpulan cerpen ini.

Berlatarkan tahun 2025 dimana robot-robot sudah sedemikian canggih dan mendekati “manusiawi”, Gus tf Sakai mengembangkan cerita dengan begitu memukau. Banyak kosakata unik yang digunakan terutama berkaitan dengan teknologi dan sains. Cerpen ini terasa begitu komperhensif dan memiliki detail tinggi. Bagi Anda penggemar serial Supernova karya Dewi Lestari pasti akan menyukai cerpen macam ini, balutan fiksi-ilmiah yang kental dengan alur cerita apik tanpa celah. Dialog yang digunakan pun menggunakan bahasa baku namun tidak terkesan canggung. Namun dibalik detail ilmiah dan komperhensifnya cerpen ini, Gus tf Sakai masih menyimpan bagian filosofis di akhir cerita. Sebuah kalimat yang sangat saya sukai untuk menutup sebuah kisah yang menakjubkan, “Menuju manusia. Itu terlalu ‘tinggi’…Terlalu Kuasa.”

Categories: Resensi | Tags: , , , , | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.