Hotel Andrin Daspatt

Akhir-akhir ini kebetulan saya mendapat tugas dinas beberapa kali ke luar kota, dan perjalanan dinas ini mengharuskan saya untuk menginap di hotel. Berbagai macam hotel dengan kualitas bervariasi dalam range harga yang sama, antara Rp. 200.000-300.000, pernah saya kunjungi. Dengan range seperti itu pelayanan yang didapat pun sewajarnya saja, yang penting ada ac, kamar mandi dalam, dan dekat dengan kantor dinas PU, karena klien saya memang dari kementerian tersebut. Namun, beberapa minggu yang lalu saya mendapat tugas dinas di Makassar, Sulawesi Selatan, dan menginap di hotel Andrin Daspatt. Bukan ingin promosi, tetapi hotel ini menurut saya memiliki pelayanan paling oke dibanding hotel-hotel lain dengan range harga yang sudah saya sebutkan tadi.

DSC_0636

Tampak depan Hotel Andrin

Hotel Andrin Daspatt berlokasi di jl. Penjernihan Raya no. 2, tepat di samping kantor dinas PU Provinsi Sulawesi Selatan sehingga sangat memudahkan bagi saya yang kebetulan berkepentingan untuk ke sana. Hotel ini memiliki konsep homey, karena memang sejatinya hotel ini dulunya merupakan sebuah rumah milik direktur PDAM di sebuah kota (bukan Makassar tapi saya lupa dimana).

Begitu melewati pintu masuk, saya disambut dengan ruangan lobby yang rapi dan penuh dengan dekorasi barang antik. Lobby ini juga memiliki meja-meja bundar untuk ruang pertemuan.

DSC_0607

Lobby hotel beserta meja-meja bundarnya

Adapun kamar-kamar berada di ruangan yang lebih dalam setelah lobby. Harga kamar kelas standard di Andrin Despatt adalah Rp. 250.000, sedangkan untuk Deluxe Rp. 500.000 dan Suite Rp. 750.000. Masing-masing berbeda jauh memang harganya, tapi saya pastikan Anda tidak akan kecewa dengan kualitas kamar standard yang ditawarkan. Memang lebih baik memilih hotel dengan kamar standard yang agak mahal di hotel yang berkelas bagus dibandingkan hotel kelas rendah dengan kamar VIP/Suite yang murah.

Kamar standard memiliki dua bed, ac, satu televisi, satu sofa, dan gantungan baju. Betul, kamar ini tidak menyediakan lemari dan menggantinya dengan sofa. Kamar mandinya pun bersih dan luas, terdapat fasilitas air hangat. Masing-masing kamar mempunyai meja dan kursi di teras depannya untuk makan atau sekedar nongkrong. Jarak modem wi-fi pun sangat dekat dengan kamar sehingga tidak mengharuskan saya pergi ke lobby jika ingin menggunakannya.

DSC_0591DSC_0588

Penampakan Kamar Kelas Standard Hotel Andrin.

 

WP_20140813_002

Meja dan bangku di depan kamar beserta menu sarapannya.

 

DSC_0603DSC_0602DSC_0604

Kamar mandi yang bersih dan luas.

Ada satu cerita menarik ketika saya dan atasan saya menginap di sini. Suatu hari kami sedang menunggu di lobby karena baru saja pulang dari kantor PU dan kamar kami sedang dibereskan. Kemudian atasan saya bercerita kepada Bapak Resepsionis tentang Kepurung, salah satu makanan khas Palopo, beliau pun tampaknya sangat antusias dengan cerita atasan saya. Mungkin beliau orang Palopo dan sangat senang masakan khasnya disebut-sebut. Singkat cerita, kami pun masuk ke kamar yang sudah dibereskan. Sore harinya, kami mendapat kiriman dua porsi Kepurung Ikan ke kamar kami dengan cuma-cuma, haha.

DSC_0639

Kepurung Ikan

Belum cukup sampai di situ, ketika kami hendak check-out, Andrin Daspatt juga memberikan semacam suvenir berupa gelas tupperware. Wah, baru kali ini saya menginap di sebuah hotel yang memberikan suvenir secara cuma-cuma. Biasanya hanya sabun atau sikat gigi serta sandal, itu pun kalau beruntung.

WP_20140825_002

Suvenir Hotel Andrin

Satu kelemahan Hotel Andrin Daspatt mungkin lokasinya yang kurang strategis. Saya harus berjalan cukup jauh untuk mencari tempat makan malam yang terjangkau harganya, maklum dana perjalanan dinas cukup terbatas, hehe. Namun selebihnya pelayanan yang diberikan sama sekali tidak mengecewakan. Saya yakin hotel ini akan cocok untuk Anda penggemar nuansa homey.

Advertisements

Terlambat Menekan Tombol Turbo

Pernah saya membaca sebuah buku karya Mawi Asgedom, seorang berkebangsaan Ethiopia yang mengungsi ke Amerika karena terjadi perang saudara. Judul buku tersebut adalah “Ini Gue!”. Aneh memang judul terjemahannya, tetapi judul aslinya adalah “The Code : The 5 Secrets of Teen Success”. Isinya bercerita seputar pengembangan diri terutama di kalangan remaja-dewasa yang seringkali terjebak dalam pandangan orang lain terhadap dirinya.

WP_20140815_001

Salah satu kunci pengembangan diri yang disebutkan dalam buku ini adalah setiap orang memiliki tombol turbo (tombol yang digunakan dalam joystick konsol agar menjadikan karakter yang kita mainkan menjadi lebih tangguh). Mudahnya, tombol turbo ini mempermudah kita menghadapi permasalahan dalam game. Itu kalau di dalam game di layar monitor. Bagaimana dengan tombol turbo di dunia nyata?

Menurut Mawi, tombol turbo di kehidupan nyata sangat mudah untuk ditemukan. Letaknya di samping otak kita dan bertuliskan “Tombol Turbo”. Tinggal kembali kepada kita apakah mau menekanya atau hanya menganggurkan tombol ajaib itu. Saya termasuk orang yang akhir-akhir ini tidak sadar akan keberadaan tombol itu. Akibatnya hidup terasa stagnan dan membosankan.

Tombol turbo Mawi pun sebenarnya terinspirasi dari kakaknya yang bernama Tewolde Asgedom ketika beliau SMA. Tewolde bekerja sampingan sebagai petugas cleaning service di sebuah gedung, dia bekerja untuk atasannya dengan upah 7$/hari. Merasa masih kekurangan dengan kondisi seperti ini, Tewolde menekan tombol turbonya dengan cara menanyakan ‘Pertanyaan Turbo’ (begitu kata bukunya) pada dirinya sendiri, “Apa yang bisa aku lakukan untuk menaikkan gajiku?” Dan dia menemukan jawabannya. Akhirnya Tewolde mangundurkan diri dari pekerjaan lamanya dan mendirikan sebuah perusahaan baru bernama “Pro Clean, Inc.” Perusahaan ini bergerak di bidang jasa cleaning service yang mana Tewolde sudah mahir. Awalnya memang tidak mudah, namun dengan menyebarkan kartu nama dan iklan dari mulut ke mulut akhirnya Pro Clean, Inc. mulai memperlihatkan tajinya. Gaji Tewolde meningkat drastis menjadi 35$/hari.

Begitulah kira-kira cara seseorang untuk menekan tombol turbo memperbaiki hidupnya. Sayang Tewolde meninggal di usia muda karena kecelakaan yang melibatkan supir truk yang mabuk.

Kembali ke topik, bahwa sebetulnya tombol turbo seringkali luput ditelan kesibukan sehari-hari. Jika tidak luput pun, menekan tombol turbo di dunia nyata tidak semudah menekannya di game. Tombol turbo di dunia nyata memerlukan konsistensi dan daya juang dari diri kita sendiri selama kita menekan tombol itu.

Bila dikaitkan dengan kondisi kehidupan saya yang notabene sudah dewasa, bukan remaja-dewasa lagi, tombol ini masih sangat relevan untuk ditekan.

Mawi selalu membandingkan antara orang yang belum menekan tombol turbo dengan yang sudah menekannya. Orang yang belum menekan tombol turbo, bila dihadapkan dengan suatu permasalahan dirinya akan bertanya, “Kenapa aku (yang menderita), bukan dia?” atau, “Kenapa dia (yang sukses), bukan aku?” Bedakan dengan pertanyaan turbo Tewolde tadi. Alih-alih mengeluh, Tewolde melontarkan pertanyaan “Bagaimana caranya membuat hidupku lebih baik?” Bukan, “Kenapa hidup tidak baik untukku?”

Kasus yang terjadi pada diri saya sekarang sebetulnya mirip dengan kasus Tewolde. Saya yang bekerja di perusahaan konsultan dengan gaji yang biasa saja seringkali membanding-bandingkan dengan kondisi orang lain yang terlihat lebih baik di mata saya, saking sibuknya mebandingkan akhirnya tombol turbo ini luput dari pandangan. Namun semakin ke sini saya semakin menyadari bahwa uang itu tidak semata-mata datang tanpa kerja keras. Konsultan saya merupakan konsultan yang bisa dibilang sangat santai. Saat ini saya hanya memegang dua proyek, itu pun di satu proyek tidak terlalu fokus. Setiap hari bisa bangun jam 8.30 untuk masuk kantor dan kalau lebih telat dari itu pun tidak masalah. Jarang lembur hingga larut malam dan belum pernah dimarahi atasan, tidak ada istilah work under pressure. Bila dibandingkan dengan perusahaan kontaktor di tempat bekerja saya sebelumnya, setiap hari saya harus bangun pagi sekitar jam 6, jadi setelah subuh tidak bisa tidur lagi haha, sampai kembali ke mess sekitar jam 18.30. Kadang hari Minggu masuk. Belum lagi tekanan kerja dari klien dan atasan yang berat. Namun honor yang didapat pun lebih besar.

Nah kembali ke kondisi sekarang, saya baru menyadari bahwa selama bekerja di konsultan saya memiliki banyak waktu luang. Jam pulang kantor jam 17.00, asumsikan saya tidur jam 23.00 artinya setiap harinya saya memiliki 6 jam waktu luang, belum ditambah Sabtu-Minggu. Bandingkan dengan bekerja di kontraktor sebelumnya yang baru pulang jam 18.30, itupun kalau tidak terjebak macet dan jam 22.00 pun saya sudah tertidur pulas karena pekerjaan yang melelahkan.

Pepatah “Time is Money” sangat berlaku di sini. Dengan banyaknya waktu luang kita bisa melakukan apa saja, baik itu yang menghasilkan uang atau tidak, tergantung pada kita. Misalnya saja berbisnis online (clickbank atau paid to click), atau menyalurkan hobi menulis seperti yang saya lakukan sekarang dengan harapan hobi ini suatu saat nanti juga dapat menjadi bisnis (aamiin). Jadi menurut saya memang uang dan peluang memerlukan kerja keras dari kita sehingga tercapai, memerlukan tombol turbo yang senantiasa ditekan sampai kita menyelesakan game-nya. Dan keduanya mempunyai banyak jalan. Tidak melulu dari perusahaan ternama atau misalnya yang berbasis oil and gas (karena saya sudah sering melamar ke situ tapi tidak pernah lolos seleksinya, hahah). Toh tidak diterima di perusahaan mentereng bukan berarti game over, justru ini adalah start a new game.
Jadi, mari kita tekan tombol turbo!