Imaji (bagian 2) : Trauma

Nika nampaknya sudah kelelahan memukuliku sedari tadi. Ayah sedang ke luar rumah, mungkin cari alkohol. Pendengaran Mbok Ijah sudah berkurang, dia tidak akan mungkin mendengar suara gaduh dari kamarku yang letaknya cukup jauh dari dapur. Apalagi ini jam tidur siang.

Aku tidak boleh melawan! Tidak boleh! Pikirku.

“Oh jadi cuma sampai di sini persahabatan kita, si anak kembar yang katanya dipertemukan takdir di rumah ini!?” Kata Nika sambil menamparku, lalu menendang kursi yang sedang aku duduki hingga terjatuh dan mau tidak mau aku terjerembab ke lantai. Bak buronan kelas teri yang diinterogasi polisi untuk mengetahui keberadaan bosnya, aku dihabisi, namun tetap bungkam. Nika masuk ke kamarnya di bawah karpet dengan menggebrak pintunya. Aku merangkak ke tempat tidur dan berlindung di balik selimut. Aku yakin beberapa saat lagi pintu mendatar itu akan terbuka kembali, dan benar saja.

“Aku yang duluan di sini, jadi jangan pikir aku yang bakal pergi!” Teriak Nika.

Brak! Sekali lagi dia menggebrak pintu kamarnya.

***

Sang dokter memeriksa jam tangan di tangan kanannya. Nampaknya dia sedang terburu-buru. Terapi, memang salah satu hal di dunia ini yang memerlukan kesabaran tingkat tinggi, baik itu bagi si pasien, kerabat pasien, bahkan mungkin sang terapis itu sendiri.

Malik duduk di samping Ehsan memandangi ruangan yang jauh berbeda dari ruangan psikolog yang sering dikunjunginya belakangan ini. Ruangan ini jauh lebih formal dibanding ruangan Rizka. Mungkin kesannya jadi menyeramkan bagi Malik karena semuanya tampak lebih serius. Ditambah lagi dengan ketidakhadiran ibunya.

“Anda tahu, Pak?” Sang psikiater memulai percakapan. “Pasien skizofrenia sering menyembunyikan keberadaan halusinasinya dari orang-orang lain.” Punggung si dokter mulai menyandar ke kursinya yang sedari tadi mencondongkan badannya karena bersandar ke meja. Wajahnya sekarang menghadap Malik. “Malik, ingat ya yang tadi kita bicarakan!” Katanya dengan tenang. “Apa yang kamu lihat itu tidak nyata. Kalau kamu melihat Nika melompat kesana kemari dan mengacak-ngacak kamarmu, itu sebenarnya kamu sendiri yang bikin kamarmu berantakan. Kalau kamu melihat dia memukul kepala ayahmu, itu artinya kamu yang bakal dihukum.” Ehsan sedikit terkejut mendengar kalimat terakhir.

“Apa itu berpotensi membahayakan keselamatan nyawa dia dan orang lain Dok?” Tanya Ehsan.

“Insyaallah tidak Pak. Selama obatnya diminum, dan Malik nda’ boleh menggubris Nika.” Jawab sang dokter yang dari tadi berusaha menyembunyikan logat Jawanya, namun gagal. “Itu salah satu cara biar mempercepat proses penyembuhan. Gejala skizofrenia biasanya mulai muncul di usia 20-an Pak, dan semakin parah di tahun-tahun berikutnya. Tapi mudah-mudahan Malik bisa sembuh total berhubung usianya masih dini.”

Malik yang sedang memandangi jendela tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke arah sang psikiater. “Dok, Nika mau mukul kepala dokter!”

Sang dokter siaga, begitu pula Ehsan yang bersiap mengunci Malik seandainya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Malik tertawa renyah. Kedua pria di ruangan itu menghela nafas, dan Ehsan bersiap menceramahi anaknya agar tidak menyalahgunakan halusinasinya itu.

***

Label yang menempel di botol itu bertuliskan chlorpromazine. Entah apa yang dilakukan tablet-tablet oranye ini di kamarku, dan entah apa yang membuatku bertahan untuk tetap meminumnya. Mungkin karena Ayah selalu memeriksa jumlah tabletnya setiap hari dan menanyakan padaku apa aku sudah meminumnya hari ini.

Di mana bocah itu? Dia betul marah atau memang obatnya manjur, aku tak bisa membedakan. Kalau dia memang nyata, aku harus minta maaf dan menjelaskan bahwa semua yang aku lakukan, termasuk mengacuhkannya, hanya anjuran dokter belaka dan aku hanya ingin membuktikan bahwa dia salah. Tapi kalau Nika memang halusinasi…

“Nik!” Teriakku. Aku membuka pintu mendatar kamar Nika

Kreek…

Meong! Seekor kucing memanjat keluar dari pintu itu. Aku tersentak dan mundur melepaskan daun pintu dari tanganku.

Brak!

Hampir saja pintu itu menimpanya. Untung kucing punya tujuh nyawa. Sekali lagi aku membuka pintu kamar Nika dan memanggil namanya. Tidak ada jawaban. Aku pun memberanikan diri untuk masuk ke kamarnya dan menyalakan lampu. Kamar ini sebetulnya cukup luas, kira-kira 4 x 4 meter, namun dikarenakan banyak rak bekas dan benda-benda lainnya yang tidak terpakai menyebabkan kamar ini lebih sempit dari gorong-gorong di depan rumah. Satu-satunya ruang leluasa hanya di atas kasur kapuk di sudut ruangan. Kamar ini sangat berdebu. Bagaimana mungkin ada orang yang tahan hidup di ruangan seperti ini?

Atau mungkin memang tidak pernah ada orang yang tinggal di sini? Sebuah pertanyaan melintas secepat kilat di benakku.

Aku berusaha membuyarkan pikiranku. Tapi hal itu malah semakin mengganggu, terutama karena aku belum pernah melihat Nika lagi sepekan terakhir ini. Sebelumnya jika kami bertengkar dia memang kerap hilang tiba-tiba, tapi tidak pernah lebih dari tiga hari.

Mungkin aku benar-benar bikin dia marah kali ini. Ya, itu dia. Pasti dia hanya sedang sangat marah dan aku yakin beberapa hari lagi dia pasti muncul untuk mengemis camilan.

Kamu gila Lik!? Kamu pikir orang yang bisa saling membaca pikiran satu sama lain itu benar-benar ada?

Tidak, aku harus berhenti minum obat! Aku mau Nika! Tidak peduli dia halusinasi atau nyata.

Aku sudah gila.

***

Tantri harus menekan bel berkali-kali sebelum akhirnya Mbok Ijah membukakan pintu.

“Ehsan mana Mbok?” Tanyanya seraya melempar tas ke sofa ruang tamu.

“Tuan lagi keluar Nyah, belanja mungkin.”

Tantri mengerti maksud kata belanja tadi, dia kemudian berjalan menuju ruang tengah dan menyandarkan dirinya di kursi. “Kebiasaan. Padahal aku udah janji sama dia loh Mbok.” Mbok Ijah tidak menggubris. Mungkin dia tidak mendengarnya.

“Maliiik, sini sayang, Mama bawa chunky bar!” Teriak Tantri ke arah kamar Malik yang berada di lantai atas.

Tiba-tiba terdengar suara lembut di belakang kursi yang diduduki Tantri. “Ma..”

Tantri terkejut, “Ya ampuun kamu ini! Sejak kapan ada di situ?”

“Dari tadi kok Ma.” Jawab Malik yang kemudian mengambil coklat chunky bar kesukaannya dan memakannya, satu per satu tapi tidak selahap biasanya.

Tantri mengelus-elus kepala Malik. “Kamu sebentar lagi tinggal sama Mama ya. Kita bisa ketemu tiap hari.” Katanya sambil mengembangkan senyum.

“Tapi Mama kan jarang di rumah. Tiap hari pulang jam 9 atau 10 malam. Nanti aku main sama siapa? Tanya PR ke siapa?” Kata Malik. Selama ini teman bermain dan belajarnya di rumah hanya Nika, walaupun dia sadar dirinya pindah rumah atau tidak pun mungkin Nika memang tidak akan muncul lagi. Selamanya.

“Kan ada Om Gino, dia ada di rumah terus kok. Ya kalau pulang pun nggak akan malam banget.”

Tiba-tiba Malik berhenti mengunyah, “Mama udah nikah sama Om Gino?”

Tantri menahan tawa kecil, “Belum lah sayang. Kamu pasti Mama kasih tau kalau kami nikah.”

“Lalu kenapa dia ada di rumah Mama terus?”

Tantri gelagapan, “Emm…maksudnya nanti kalau kami udah nikah, kamu bisa pindah ke rumah Mama dan Om Gino bakal di rumah terus nemenin kamu.”

Beberapa saat Malik hanya menatap dingin kedua mata Tantri, melanjutkan mengunyah, lalu mengambil sepotong coklat dan membaginya dengan sang ibu, seolah mengisyaratkan, sekarang giliranku yang bicara. Tantri melahap potongan coklat putih itu.

“Menurut Mama Nika itu nyata?” Tanya Malik dengan suara rendah.

Tantri menghela nafas, “Malik, kalau memang Nika itu nyata, kenapa Ayah nggak boleh tahu?”

“Karena Ayah bakal mengusir dia dari rumah, atau mungkin bakal bunuh Nika.”

Tantri tertawa. “Siapa bilang? Ayahmu itu orang baik-baik Lik…walaupun dia tukang minum.”

“Nika. Aku tahu dia sebenarnya sangat takut ketahuan walaupun tingkahnya pecicilan begitu.”

“Nika yang takut ketahuan, atau kamu yang takut menerima kenyataan? Takut kalau sewaktu-waktu kalian sedang main sondah atau gundu lalu Ayah memergoki, tapi yang dia lihat cuma kamu sendiri yang loncat kesana kemari?” Tawa Tantri perlahan menghilang ditelan percakapannya. “Oke, tadi Mama bohong masalah Om Gino, kamu jangan begitu ya, tapi setidaknya Mama jujur sama diri sendiri kalau yang Mama lakukan itu tujuannya biar dapat hak asuh kamu.”

“Maksudnya?”

Sekali lagi Tantri tertawa kecil, “Nanti kalau kamu udah dewasa pasti ngerti Lik. Kamu tahu Komisi Perlindungan Anak?” Tanpa menunggu jawaban Tantri melanjutkan, “Nah mereka pasti bakal lebih memilih hak asuh untuk orang tua yang lengkap, bukan yang sendiri.” Tantri mengumpulkan bungkus coklat yang berserakan. “Mama harus ke kantor lagi nih, nanti malam mungkin Mama ke sini lagi ketemu ayahmu.” Tantri memberikan kecup hangat di dahi Malik lalu berjalan ke arah pintu rumah.

“Bukan Ma. Maksudku hubungannya sama Nika apa?” Tanya Malik setengah berteriak pada ibunya yang sudah berada di ruang tamu.

Tantri yang sedang membuka pintu kemudian tersenyum ke arah buah hati satu-satunya itu, “Ooh. Maksudnya, jangan bohong sama diri sendiri.”

***

Perutku mual, dunia rasanya berputar-putar. Aku harus tidur. Entah pelajaran di sekolah, atau chunky bar pemberian Mama tadi sore, atau kenyataan bahwa aku akan punya ayah baru yang membuatku begini. Atau mungkin karena aku tiba-tiba menghentikan pemasukan tablet-tablet pahit itu ke dalam tubuhku. Sudah tiga hari ini aku diam-diam membuang satu tablet setiap harinya.

Aku terhuyung lalu mendamparkan diri di kasur, telungkup dan berusaha memejamkan mata. Baru beberapa detik aku memejamkan mata, tiba-tiba punggungku terasa berat. Kepalaku menoleh ke belakang.

“Nika!” Aku bisa merasakan kepuasan yang tergambar di wajahnya ketika menginjak punggungku. Aku mendorong paksa kakinya ke samping sebisaku. Akhirnya dia melompat turun ke lantai.

“Kangen?”  Nika kemudian tertawa lepas.

Aku hanya membalikkan badan untuk mencapai posisi terlentang karena masih pusing dan mual. “Berisik. Kemana aja?”

“Oh, jadi kita udah bisa bicara sekarang? Oke.” Katanya sambil membuka pintu kamarnya. “Puus, puus! ck..ck..Loh, kucingku mana?”

“Iya bisa, dan itu kucing jalanan bukan kucingmu.”

“Udah itu aja? Nggak ada penjelasan kenapa seminggu kemarin aku nggak pernah muncul?”

“Emm..maaf Nik. Itu cuma anjuran dokter.”

“Oh ya? Dokter Rizka itu?”

“Bukan, dokter yang lain. Yang ini laki-laki dan tampangnya menyeramkan. Dia bilang aku harus mengacuhkanmu, dan dia bilang kalau aku melihat kamu melakukan sesuatu, sebenarnya akulah yang melakukan itu. Dia bilang—Itu mempercepat proses penyembuhan…” Walaupun perutku masih sedikit mual aku mulai bangkit dan bersandar di dinding di samping tempat tidur.

“Mempercepat— Oh jadi menurutmu aku ini semacam penyakit?”

“Aku perlu bukti Nik…!” Kataku dengan nada memelas.

“Maksudnya bukti? Oh, bukti kalau aku ini bukan…?”

“Imaji.”

“Sialan Lik, harusnya aku memukulmu lebih keras kemarin! Kamu mau bukti? Ayo turun ke bawah!”

“Kamu mau Ayah melihatmu?”

“Nggak lah. Ayo, jangan banyak tanya.”

Aku membuntuti Nika keluar kamarku. Dari balkon atas aku dapat melihat Ayah sedang menenggak vodka di meja ruang tengah yang berdekatan dengan sebuah lemari tempat menyimpan minuman-minumannya. Biasanya lemari tempat menyimpan botol-botol minuman sisi-sisinya terbuat dari kaca, namun lemari yang satu ini terbuat dari kayu, hampir nampak seperti lemari baju.

“Oke, kamu bilang kalau kamu melihatku melakukan sesuatu itu artinya kamu yang melakukan itu. Sekarang aku akan minum vodka itu dan kita lihat siapa yang mabuk.”

“Eh, jangan Nik! Kamu tahu kan Ayahku pernah bilang kalau kita minum sebelum usia kita 20 kita bakal langsung mati!” Bisikku. Ayah terlihat sangat mabuk di sana. Aku belum pernah melihat dia seterhuyung itu. Oh, dia tahu hubungan Mama dan Om Gino dan kenyataan bahwa mereka akan segera menikah.

“Terus kamu percaya? Nggak mungkin lah Lik, lagipula paling aku hanya akan minum satu sendok teh.”

Ayah menenggak minumannya dan menyisakannya sedikit, barangkali untuk nanti. Lalu dia meninggalkan meja ruang tengah dan menuju ke kamarnya, berjalan tak karuan menabrak ornamen-ornamen rumah yang kebanyakan adalah barang pecah belah. Mbok Ijah akan terlalu takut untuk keluar kamarnya jika tidak dipanggil. Biasanya dia akan membereskan kekacauan esok paginya. Aku dan Nika menuruni tangga dan sampai di hadapan botol beserta gelas yang masih berisi setengah gelas vodka.

“Kamu yakin mau minum ini Nik?” Ekspresi wajah Nika yang menggambarkan keraguan mendorongku untuk bertanya. Aku tahu dirinya sebenarnya juga takut akan cerita Ayah. Dia hanya menatap cairan itu

Prang! Bruk! Prang! Tiba-tiba terdengar suara benda berjatuhan dan menabrak satu sama lain. Suara itu semakin mendekat dan aku melihat ayah berjalan terhuyung menenteng sesuatu. Desert Eagle-nya. Apa dia mau bunuh diri? Aku langsung berpaling ke arah Nika.

“Nik, Ayah!” Kataku sambil melirikkan mata ke arah sumber kegaduhan. Nika nampak panik dan langsung menyelinap masuk ke dalam lemari di samping meja.

Ayah yang sudah sampai di hadapanku terpaku untuk beberapa saat sambil bersandar di meja. Melihatku dengan tatapan tidak percaya.

Dari bisu kemudian tiba-tiba Ayah berteriak dengan nada tinggi, “Kamu…kamu minum itu Lik!?”

“Nggak kok Yah.” Kataku sambil menggelengkan kepala.

“Terus kemana isi gelas itu?”

Aku terbata-bata. Ingin sekali menelurkan pembelaan namun tak ada kalimat yang keluar.

“Aku nggak…”

“Kamu nggak minum itu? Lalu siapa? Teman bayanganmu itu!? Iya!? MANA DIA?”

Pistolnya dikokang dengan menghadap ke samping, ke arah lemari. Secara tidak sadar aku menarik nafas dengan cepat dan melirikkan mataku ke sana. Ayah melihatku.

“Oh, jadi dia di situ? Lihat ini Lik, di sana nggak ada siapa-siapa!”

Ayah mengarahkan pistolnya ke arah lemari. Aku tak tahu harus berkata apa. Nika sudah menenggak vodka itu tapi aku tidak merasakan apa-apa kecuali mual dan pusing. Bagaimana aku tahu aku ini mabuk atau tidak? Aku belum pernah mabuk sebelumnya.

Jangan, jangan tarik pelatuknya, Ayah!

Bisikan pasrah benakku seakan memperlambat perputaran waktu.

“JANGAN YAH!” Teriakku.

DOR!

“Mana hah? Udah kubilang nggak ada siapa-siapa di situ!” Teriak Ayah.

DOR! DOR! Ayah melepaskan dua kali tembakan lagi.

***

Kedua orang di ruang tengah rumah itu bernafas menderu. Badan mereka naik turun. Ibaratnya ruangan itu kekurangan oksigen. Malik dan Ehsan saling bertatapan di tempatnya masing-masing. Malik di balik meja, Ehsan di samping lemari. Cukup lama mereka membatu di situ. Ehsan yang nampaknya sudah menemukan sedikit kesadarannya melemparkan pistol dalam genggamannya itu jauh-jauh.

Tiba-tiba Ehsan merasakan kakinya lengket dan mencium bau amis. Darah. Cairan merah segar itu mengalir dari celah-celah pintu lemari seolah mencoba meraih sang pembunuhnya. Malik yang juga melihat darah itu mundur perlahan dengan ekspresi yang tak dapat diungkapkan wajahnya. Terkejut, takut, tidak percaya. Ehsan yang tak kalah terkejut perlahan membuka pintu lemari itu, lalu mundur beberapa langkah sehingga Malik dapat melihatnya.

“NIKAAAAA!!!” Malik berteriak sejadi-jadinya sambil berlari ke arah sesosok mayat yang berada di dalam lemari. Namun sebelum dia mencapai mulut lemari, Ehsan sudah mendekapnya terlebih dulu dan menghadapkan wajah Malik ke arah lain.

“Sshhh itu cuma kucing Lik. Cuma kucing. Sshhh..sshhh” Bisik Ehsan mencoba menenangkan putranya.

“NGGAAAK, ITU NIKAAA!!  ITU—” Malik memuntahkan isi perutnya di pundak ayahnya, lalu dunianya mendadak gelap. Dekapan Ehsan yang tadinya sangat erat perlahan melonggar. Sang ayah pun menggendong Malik menuju kamarnya dan sesaat setelah itu Ehsan mendengar bel rumahnya berbunyi.

Belum sempat Tantri mengucapkan ‘hai’ atau kalimat basa-basi lainnya, Ehsan sudah lebih dulu membuatnya panik.

“Tan, dengar! Eh, masuk dulu cepat!” Ehsan dengan sigap mengunci pintu rumahnya.

“Kamu kenapa San? Malik mana?” Tantri yang tadinya berharap akan mengobrol santai masalah pernikahannya dengan Gino pun nampaknya harus ikut panik. Walaupun dia tahu topik tersebut tidak mungkin bisa dibawakan sesantai itu.

“Tidur. Emm…nggak, dia pingsan Tan.”

“HAH? Kenapa dia? Kita harus bawa dia ke dokter San!” Suara Tantri mungkin bisa terdengar sampai ke tetangga sebelah, namun bahkan suara ledakan senjata api pun tidak dihiraukan orang-orang di sini.

“Sstt! Oke, aku bisa jelasin semuanya. Di sana, di dalam lemari, ada mayat Nika. Aku menembak–“

“Apa? Nika? Aku nggak ngerti San.” Tantri yang tadinya panik jadi kebingungan, mungkin halusinasi ini memang penyakit turunan, pikirnya. Ehsan lalu menggenggam tangan Tantri dan menuntunnya ke ruang tengah sambil menempelkan telunjuknya di bibir.

“Ssstt! Jangan teriak ya! Jangan…teriak!” Kata Ehsan.

Mereka sampai di ruang tengah. Ehsan mencoba menarik lengan Tantri namun dia terpaku sesaat setelah melihat ke arah lemari dan sesosok mayat yang ada di dalamnya. Tangannya yang tidak digenggam Ehsan menutup bibir dan hidungnya. Air mata pun mengalir menuruni wajahnya. Ehsan melepaskan genggamannya dan sekarang kedua tangannya berada di atas pundak Tantri, namun Tantri secepat kilat mundur ke belakang untuk menghindarinya.

“Jangan dekat-dekat! Kamu udah gila San!?” Tantri mengecam.

“Tan aku lagi mabuk dan tadi lemarinya tertutup, jadi aku nggak tahu apa yang aku tembak. Lagipula siapa yang percaya kalau dia itu benar-benar ada? Kamu juga nggak percaya kan?” Ehsan mencoba menjelaskan dari kejauhan. Tangisan Tantri pun akhirnya meledak namun sebisa mungkin dia meredam suaranya agar tidak terlalu keras dan membangunkan Malik, atau siapapun selain mereka. Ehsan mencoba mendekat dan sekali lagi menempatkan tangannya di atas pundak Tantri. Kali ini dia tidak melawan.

“Tan, sekarang begini, kalau kamu kasih tahu Malik bahwa yang di dalam lemari itu mayat temannya, bayangkan efek trauma yang muncul nanti untuk dia, bisa-bisa dia benar-benar sakit skizofrenia nantinya. Jadi sekarang lebih baik kita sepakati, itu hanya mayat kucing dan aku bakal menguburnya di halaman belakang tanpa sepengetahuan Malik. Kalau kamu lapor polisi dan aku masuk penjara, efeknya sama aja. Ujung-ujungnya Malik pasti tahu kalau yang tergeletak di dalam situ adalah Nika. Kamu ngerti kan?”

Tantri hanya bisa berbisik sambil tersedu dan mengangguk-angguk, “Oke…oke.” Dia sebenarnya tidak bisa memutuskan apakah langkah mereka benar atau tidak dalam kondisi seperti ini, lain dengan mantan suaminya yang sudah sering menembak orang lain dan melihat mayat-mayat bergelimpangan. Ehsan mendekapnya untuk menenangkan mantan istrinya itu. Nafas Tantri sedikit demi sedikit mulai teratur.

“Tunggu San. Ini artinya Malik nggak akan pernah melihat Nika lagi seumur hidupnya.” Tantri mulai menemukan logikanya kembali. “Lagipula kamu kenapa pegang pistol sih? Kan tinggal dibuka lemarinya kalau mau tahu siapa atau apa yang ada di dalam.”

“Kan aku udah bilang aku lagi mabuk tadi. Dan sebelum Malik turun aku dengar suara-suara di halaman belakang jadi aku bawa pistol dari kamarku. Tapi mungkin itu cuma suara kucing, banyak sekali kucing di sekitar rumah ini.” Ehsan memberikan jeda sesaat bagi Tantri untuk mencerna kalimatnya, “Kita bisa bilang ke dokter untuk mengatakan pada Malik bahwa dia udah sembuh.

“Terus bilang bahwa kamu udah bunuh anak orang begitu? San, Malik pasti bilang ke si dokter bahwa Nika sudah dibunuh Ayah, dan itu nggak akan bikin si dokter menjatuhkan vonis sembuh, yang ada malah kamu yang diciduk.”

Ehsan menghela nafas. “Oke, jangan ke dokter. Besok atau lusa kamu bawa Malik ke tempatmu. Memang baiknya dia nggak lama-lama di sini.”

***

Aku membuka mata. Kepalaku terasa berat sekali. Rasanya seperti baru bangun dari hibernasi panjang.

Di mana aku?

Ruangan ini nampak tidak asing, namun ini bukan rumahku. Ini apartemen Mama.

NIKA!

Secepat kilat aku bangkit dan pintu di hadapanku kemudian terbuka. Mama masuk ke kamar dengan masih mengenakan piyamanya.

“Hey, udah bangun toh. Sarapan dulu yuk.” Katanya.

“Kenapa aku di sini Ma? Nika..?”

Mama mengelus kepalaku, “Kalau selama ini Nika yang kamu maksud itu seekor kucing, besok kita beli yang baru ya.”

Aku menghela nafas, merasa duniaku sudah terbalik. “Iya Ma, nanti aku nyusul.” Mama meninggalkan kamarku. Terdengar percakapannya dengan seorang pria di luar sana. Pasti Om Gino, pikirku.

Tok, tok, tok! Terdengar suara seseorang mengetuk-ngetuk jendela. Aku yang tadinya menghadap ke pintu terpaksa mengalihkan pandangan.

“…Nik?” Sepertinya aku masih bermimpi. Aku mencoba mencubit diriku. Sakit. Lalu bergegas membuka jendela.

“Ssst! Nggak boleh ada yang tahu ya!” Katanya.

Tapi bagaimana mungkin? Lagipula ini lantai 12, bagaimana cara dia masuk lewat jendela!? Ah, aku tak peduli.

***

(Tamat)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s