Imaji (bagian 1) : Introversi

Jangan, jangan tarik pelatuknya, Ayah!

Bisikan pasrah benakku seakan memperlambat perputaran waktu.

***

Dekorasi kayu yang menarik. Sepertinya ruangan ini lebih mirip taman daripada ruang praktek. Begitu barangkali apa yang ada di pikiran Ehsan.

“Nuansa kayu dan pepohonan bisa membantu klien lebih rileks.” Ucap seorang wanita berpakaian kasual namun tetap sopan sambil menulis beberapa catatan.

Ehsan yang tadinya agak terkejut kemudian menyilangkan tangannya di dada. “Oh iya…psikolog.”

“Nggak, Pak Ehsan, kami nggak diajari cara membaca pikiran kok.” Sang psikolog menimpali diiringi senyum ramah. “Jadi, siapa namanya anak ganteng ini?” Lanjutnya.

Tok, tok, tok! Pintu lalu terbuka dengan diiringi sesosok ibu muda cantik yang kemudian menengok ke arah sang anak sambil melambaikan tangan, “Haiii!” Katanya dengan intonasi yang menyejukkan. “Maaf telat, Ka.” Lanjutnya dengan wajah agak tersipu.

Ehsan menghela napas panjang. “Ini hari Sabtu, Tantri.”

Tantri melepaskan tawa sinis. “Dokter Rizka masih tetep kerja kok di hari—”

“Oke, oke, baiklah Bapak Ehsan dan Ibu Tantri. Kita di sini bukan buat kalian.” Rizka memotong bibit konflik dan tidak berencana untuk memberikan konsultasi gratis bagi pasangan yang telah bercerai ini, apalagi di hari Sabtu.

Suasana hening sejenak, “Jadi, siapa namamu, Dek?” Lanjutnya sambil membungkukkan badan.

“Jawab, Nak!” Ehsan menepuk pundak sang anak, tidak keras namun tidak bisa dikatakan lembut. Dari sudut matanya dia dapat melihat Tantri menatap ketus ke arahnya.

“…lik.”

“Hmm? Siapa?”

“Malik.”

***

Kurang cekatan, kamu kurang cekatan, pikirku. Sedikit saja Ayah melirik ke kanan saat kamu mengambil gorengan di meja dapur itu pasti dia sudah melihatmu. Aku selalu berpikir demikian, tapi nyatanya kamu tak pernah terlihat siapapun, tidak oleh Ayah, atau Mbok Ijah, hanya olehku, bocah berumur 12 tahun yang terjebak di antara rumah ini dengan segala konflik yang telah dialaminya. Kamu pernah bilang, kalau sampai kamu ketahuan orang lain selain aku, terutama oleh Ayah, minimal kamu bakal diusir, maksimal ditembak desert eagle-nya karena dikira maling atau hantu.

Kenapa aku tidak ikut Ibu saja? Ya mungkin dia tidak akan bisa berada di rumah seharian, walaupun itu hari Sabtu, atau bahkan Minggu. Tapi setidaknya Ibu tidak mabuk-mabukan.

“Kenapa nggak ikut ibumu aja?”

Aku yang sedang terlentang santai di tempat tidur dan menatap langit-langit spontan menengok ke arah pintu mendatar di bawah karpet yang telah terbuka, kemudian ke kanan, ke sumber suara, ke arah Nika yang baru akan memotong kuku kakinya, di atas meja belajarku. Dasar jorok.

“Kenapa aku nggak pernah dengar suara pintu itu dibuka sih?” Tanyaku.

“Kenapa menurutmu?” Ujar Nika sambil melepaskan tawa. “Orang-orang yang tinggal sebelum kamu di kamar ini juga nggak pernah sadar waktu aku buka pintu itu.”

“Orang-orang?” Aku baru tahu. Tentu saja, ini rumah dinas, pasti sebelum keluarga kami pindah ke sini telah ada beberapa kali pergantian penghuni.

“Iya, dua orang, laki-laki dan perempuan, hampir tiap malam selalu berisik sambil melakukan gerakan aneh dan entah kenapa aku jijik melihatnya, tapi setelah itu mereka akan tidur pulas dan aku bisa keluar ke dapur buat cari makan.”

Setahun yang lalu kami datang bertiga ke rumah ini, aku, Ibu, dan Ayah. Namun seorang pria alkoholik yang lekat dengan pendidikan militer nampaknya tidak cocok dengan Ibu yang waktunya berada di rumah bisa dihitung jari. Ibu…

“Eh, tadi aku lagi mikir pertanyaan yang sama denganmu, ‘kenapa nggak ikut ibu aja?’” Tukasku.

Nika terkekeh “Bohong.”

Klik, klik, klik! Suara gunting kuku menyelingi keheningan. Dari jendela kamarku aku bisa melihat di luar sedang gerimis dan sangat mendukung untuk tidur panjang di akhir pekan ini.

Bukan sekali ini Nika seakan dapat membaca pikiranku, dan terkadang aku pun dapat menebak apa yang sedang dia pikirkan. Kami bagaikan dua anak kembar yang terpisah setelah lahir lalu ditakdirkan untuk bertemu di rumah dinas angkatan bersenjata ini.

“Mungkin emang bagusnya kamu ikut ibumu.” Ujar Nika sambil mengikir kuku yang telah diguntingnya.

“Kenapa? Aku suka di sini.” Tanyaku.

Nika tak langsung menjawab, malah sibuk mengikir kuku yang telah diguntingnya. “Eh, ambilin makan dong, laper!” Serunya.

“Berisik! Jawab dulu!”

“Kupat tahu, tadi ayahmu makan tapi nggak habis. Sayang kalau cuma jadi makanan kucing, itu pun kalau dimakan.”

“Kupat tahu?” Giliranku yang cekikikan. “Serius, Nik? Mbok Ijah bakal makan itu duluan sebelum dikasih ke kucing. Sini gunting kukunya!”

“Serius, daripada mati kelaparan.” Jawabnya. “Belum, Kaki kananku belum dikikir. Kamu ambil kupat tahu…” Tiba-tiba Nika terhenti di tengah negosiasinya.

“Barulah aku selesai mengikir.” Sambungku. Iya, itu persis apa yang ada di dalam otak bocah itu.

“Sstt! Ada yang datang.” Seru Nika.

Suara langkah kaki menaiki anak tangga yang tadinya sayup-sayup menjadi semakin jelas. Dengan sigap aku mengambil satu buku di atas lemari kecil di samping tempat tidurku, kemudian pura-pura membaca. Di saat seperti ini pintu di bawah karpet sudah akan tertutup rapi, beserta karpetnya, dan Nika sudah hilang ditelan bumi bahkan seolah tak pernah muncul sebelumnya.

Pintu kamarku dibuka tanpa diketuk dahulu, seperti biasa, dan aku benci itu. Tumben, biasanya Mbok Ijah yang naik membawakan makanan kalau aku masih belum bangun di hari libur. Tak ada kupat tahu, nasi kuning pun jadi. Pasti si makhluk sedang kegirangan di kamarnya di bawah karpet sana.

Ayah meletakkan piring berisi nasi kuning di atas meja belajar, tempat Nika memotong kuku kakinya barusan.Ya Tuhan.

“Udah jam berapa ini Lik? Kenapa nggak makan?” Tanya Ayah yang berdiri menyandar ke meja belajar.

Aku sibuk membolak-balikkan lembaran kertas buku yang bahkan tidak kubaca judulnya. “Belum laper, Yah. Lagipula aku kan nggak suka nasi kuning.”

“Tadi ayah beli kupat tahu tapi basi. Kamu lagi ngomong sama siapa barusan?” Tanyanya sambil memandang sekitar dan seolah sedang menerawang. Pertanyaan yang seringkali jawabannya membuat dia kesal, geram, resah, untung dia tidak sedang dalam keadaan mabuk.

“Nggak ada, aku cuma lagi baca buku. Kan kadang aku bacanya keras-keras.”

Ayah menghela napas panjang. Setelah dipikir-pikir jawabanku memang bisa membuat orang kesal karena selalu diulang-ulang. Aku merasa trik ini sudah mulai usang. Lagipula bocah mana yang baca buku di Minggu pagi, keras-keras pula?

“Malik, kamu tahu artinya teman imajiner?” Tanyanya lagi. Tatapannya lekat. Ayah lalu melanjutkan panjang lebar tanpa menunggu jawaban. Selalu seperti ini. Bahwa semua yang aku lihat belum tentu nyata lah, bahwa aku harus dewasa dan meninggalkan teman imajiku, dan hal bodoh lainnya yang beliau anggap dewasa. Siapa yang mau dewasa jika itu berarti harus meninggalkan teman terbaiknya? Pantaslah orang dewasa banyak masalah. Dan lagi, Nika bukan teman imajiner. Aku tahu bedanya teman imajiner dan teman nyata. Nika hanya tidak mau seorang pun di rumah ini tahu keberadaannya kecuali aku.

Aku tidak pernah merasa nyaman dengan kondisi bola mata orang yang menghakimi dan terpaksa mengalihkan pandangan ke tengah ruangan, ke arah karpet. Mataku menangkap posisi karpet yang agak terangkat dan samar-samar terlihat sepasang mata sedang mengintip ke arah sepiring nasi kuning. Satu-satunya hal yang membuatku yakin bahwa kami bukan anak kembar adalah bahwa Nika tidak suka kupat tahu dan sangat suka nasi kuning, dan aku sebaliknya. Si bodoh, kenapa harus mengintip segala sih?

“Hey, lihat sini Lik!” Suara Ayah yang setengah meninggi membuyarkan lamunanku. Mataku dengan sigap menatap balik Ayah, namun terlambat. Mata Ayah sudah tertuju ke arah karpet, yang untungnya sudah kembali ke posisi semula. Tapi ada yang salah. Matanya kembali memandangku, diiringi ekspresi wajahnya yang seakan bertanya-tanya, kamu lihat apa sih dari tadi?

Ayah berjalan ke tengah ruangan. Maju-mundur, membedakan bunyi hentakan kaki yang ditimbulkan kayu-kayu yang diinjaknya. Lantai kayu di dekat karpet bunyinya lebih nyaring dan dia sadar akan hal itu. Gawat.

Aku tidak pernah diizinkan masuk ke kamar Nika, katanya di sana ada anjing berkepala tiga yang sangat mengerikan yang dikurung, dan kalau sampai ada orang di rumah ini yang tahu keberadaan Nika selain aku maka anjing tersebut akan terlepas dan memakan semua orang di rumah ini. Aku saja tidak percaya akan hal ini, apalagi Ayah.

Karpet itu dibuka dan Ayah setengah terkejut ketika melihat sebuah pintu mendatar di bawahnya. Ingin sekali aku membuka topik baru untuk mengalihkan perhatiannya namun otakku tersendat, udara tersangkut di tenggorokanku, dan lidahku kaku. Ayah menatapku sejenak, lalu matanya kembali ke pintu itu. Pintu kemudian dibuka dan Ayah masuk ke sana dengan menuruni tangga, ke kamar Nika. Aku memejamkan mata dan berdoa meminta sesuatu yang mustahil. Ya Tuhan, jangan sampai Ayah melihat Nika. Aku akan sangat kesepian di sini jika Nika sampai diusir, apalagi dibunuh. Pikiranku segera kubuyarkan. Tidak enak rasanya walaupun hanya membayangkan.

Trang! Tiba-tiba suara semacam piring mika yang jatuh ke lantai marmer di bawah sana memotong kekhusyukanku. Perlahan aku membuka mata.

“Woy, siapa di situ!?” Teriak Ayah.

Aku gelagapan, “Emm…kucing mungkin Yah! Kadang kucing sering masuk situ.”

Sesaat kemudian Nika menaiki tangga keluar melewati pintu mendatar kamarnya, terburu-buru tapi hampir tanpa suara. Setengah berlari menuju nasi kuning idamannya.

“Heh! Jangan diambil semua!” Seruku setengah berbisik. Walaupun itu nasi kuning tapi perutku yang mulai lapar tidak bisa dibohongi.

Nika melepaskan tawa kecil, lalu berbisik, “Serius? Ini bakal kamu makan, Lik?” Namun ekspresinya berubah secepat kilat, wajahnya menjadi kaku. “Aku harus pergi, Ayahmu tahu. Boleh ya aku ambil semua nasinya?”

Dunia seolah berhenti berputar. Aku ingin mengatakan, Iya ambil saja semua, Nik. Ambil juga semua makanan di kulkas. Bahkan ambil saja saudara kembarmu ini, kita sama-sama berpetualang di luar sana!

“Nik…” Namun hanya itu kata yang keluar dari mulutku. Nika hanya melempar tersenyum. Aku yakin dia juga punya banyak hal untuk disampaikan sebelum kami berpisah. Namun dengan tergesa dia mengambil nasi kuning beserta piringnya, lalu melompat keluar jendela. Kenapa sih harus pergi? Walaupun Ayah kadang keras tapi aku yakin dia masih punya akal sehat dan tidak akan sampai hati untuk mengusir apalagi membunuh bocah berumur 11 tahun. Rasanya ingin sekali menangis, tapi suara langkah kaki Ayah yang menaiki anak tangga kamar Nika semakin nyaring. Aku harus berpikir cepat apa kira-kira jawaban yang pas kalau-kalau dia bertanya, ‘Kemana dia pergi?’ Atau,’Siapa itu barusan? Apa dia yang selama ini sering ngobrol di kamar denganmu?’

Kepala ayah mulai terlihat diiringi badannya yang tinggi tegap melewati pintu datar kemudian menatapku canggung. Tanpa sadar aku berhenti mengambil napas karena panik.

“Ayah baru tahu kalau kita punya ruang bawah tanah.” Katanya setengah tertawa. “Kamu sering ke sana, Lik?” Lanjutnya sambil menutup pintu kamar Nika dan menata kembali karpetnya.

Aku bengong sejenak, teringat untuk mengambil napas lalu menjawab pertanyaan Ayah, “Emm…nggak, Yah. Di sana gelap.” Padahal aku tahu di sana ada lampu. “Tapi pintunya sering aku buka dan kucing sering masuk.”

Bocah sialan, pokoknya makan malam nanti tidak akan kubagi porsiku.

***

“Dia emang nggak banyak bicara, Dok. Tapi hubungan sosial sama teman-teman sekelasnya baik-baik aja sepertinya. Beberapa bulan yang lalu satu temannya pernah datang ke rumah, dan mereka kelihatannya akrab.” Ehsan mencoba menjawab pertanyaan Rizka mengenai hubungan sosial Malik.

“Oh ya? Bagus. Saya pun nggak melihat banyak masalah sama hubungan sosialnya, dia cukup baik terhadap orang asing.  Bisa dilihat sih dari sesi kami barusan.” Balas Rizka.

Tantri hanya terduduk, sesekali memandangi smartphone-nya.

Rizka menunggu komentar sang Ibu yang juga kawan lamanya itu, namun nihil. Akhirnya dia memutuskan untuk melanjutkan diagnosa. “Di banyak kasus, teman imaji mungkin bisa berganti-ganti, baik nama, wujud, sifat, jenis kelamin, dan lainnya dalam satu periode. Tapi biasanya teman imaji itu tidak hilang kemudian muncul lagi. Jarang sekali kasus seperti itu.”

“Dia cuma banyak bicara sama orang yang dianggap nyaman buat dia, Ka.” Tantri angkat bicara akhirnya.

“Oh, iya Tan. Dia punya tempramen yang sangat introvert. Kelihatan kok tadi. Orang yang tempramennya introvert emang sering begitu.” Jawab Rizka.

Bola mata Ehsan melirik mantan istrinya, “Maksudnya aku nggak nyaman buat dia?”

“Cuma ngasih info buat Ibu Dokter aja.” Ujar Tantri sambil memainkan gadget­-nya di tangan.

“Oh ya? Terus apa bagusnya kalau bisa buat dia nyaman tapi nggak pernah ada di rumah?”

Tantri menghadapkan badan ke arah Ehsan, “Percuma seharian di rumah kalau cuma bikin dia stres! Rizka baru kenal dia 30 menit dan Malik udah bicara lebih banyak dibanding dia 3 bulan sama kamu—”

“Skizofrenia.” Rizka menyambar. Keempat mata yang tadinya saling melotot marah sekarang melotot bingung ke arahnya. “Saya sarankan untuk merujuk Malik ke psikiater.” Kembali hening menghantui ‘taman praktek’ ini. “Seperti yang aku bilang tadi Tan, fase teman imaji jarang sekali muncul lebih dari sekali. Saat ini sih diagnosanya adalah kemungkinan anak Bapak dan Ibu mengalami yang namanya halusinasi.”

“Psikiater?” Tantri tersenyum getir. “Dia bukan psikopat, Dok!” Katanya setengah berbisik, berharap Malik yang sedang menunggu di balik pintu tidak mendengarnya. “Dan dia baru 12 tahun.” Lanjutnya

“Skizofrenia perlu penanganan medis, Tan, bukan cuma terapi. Aku tahu ini sulit.” Rizka membuat beberapa catatan, sepertinya semacam surat rujukan, menghela napas, sambil melanjutkan, “Ini baru sebatas diagnosa, pasti si psikiater nanti punya metodenya sendiri untuk memastikannya.”

Kali ini Ehsan yang jadi bisu. Bukan seperti bisunya Tantri yang sambil berpikir kalimat apa yang bagus untuk menyindir mantan suaminya, tapi bisu benar-benar bisu.

***

(bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s