Tiga Banding Sepuluh Bulan

Ada ungkapan yang bunyinya begini, “Time flies.”

Saya pun cukup tersentak ketika menyadari bahwa 4 Februari 2013 sudah lewat satu tahun dua hari yang lalu. Tanggal 4 Februari dimana pada jam sepuluh malam saya dibangunkan tetangga rumah mess karyawan kami.

“Assalamualaikum, permisi Mbak, Mas, air udah tinggi!!”

Teriak sang tetangga di depan pintu gerbang mess yang digembok, namun suaranya sangat nyaring dan jelas karena kebetulan kamar saya tepat di samping halaman depan.

Saya yang berharap bisa tidur nyenyak sebelum berangkat ke Dumai esok harinya, harus beranjak dan mengangkut sejumlah barang yang untungnya sudah dikemas ke dalam satu koper. Itu barang-barang saya, masih banyak barang lain di mess seperti tv dan kasur. Untungnya lagi, kami berempat di mess itu.

Oke, cukup dengan masalah banjir Bekasi-nya. Cerita di atas tidak begitu penting sebetulnya 🙂 .

Esok paginya saya bersama seorang kawan yang sedikit lebih junior karena posisinya hanya magang di perusahaan kontraktor kami dan dengan latar belakang pendidikan yang berbeda dengan saya, terbang ke Dumai yang kala itu saya pikir merupakan suatu kesalahan. Bayangkan seorang fresh graduate ditunjuk untuk commissioning test (uji kelayakan instalasi), tanpa tutorial apapun dan tanpa senior dengan background pendidikan yang sama di Dumai sana. Entah tapi bagi saya itu adalah sebuah lompatan jauh. Selama di kampus kami selalu diberi minimal satu contoh soal dahulu sebelum diperintahkan untuk mengerjakan soal-soal lain yang seringkali lebih sulit.

Akan tetapi, di sinilah letak rasa bangga itu muncul. Bahwa pekerjaan ini memang membutuhkan satu kalimat di iklan lowongan kerja yang berbunyi, “Dapat bekerja di bawah tekanan.” Atau, “Able to work under pressure.” Dan mungkin harus ditambah, ”…dan cuaca yang sangat panas.”

Di sana saya berperan sebagai engineer dan juga diperlakukan seperti itu oleh klien, dicap sebagai tenaga ahli padahal pengalamannya nol. Terutama ketika atasan-atasan “kabur” ke site lain, mungkin karena gerah oleh permintaan klien yang tak kunjung habis. Hampir setiap hari ditanyai ini itu oleh si manajer teknik, besoknya si asisten manajer menanyakan hal yang sama, walaupun keduanya menanggapi masalah dengan caranya masing-masing. Belum lagi masalah-masalah di lapangan yang muncul seperti pipa bocor, blade mixer patah, nilai TSS yang naik turun, mikroorganisme yang sulit berkembang, dan nampaknya masih banyak masalah lain di sana yang saya hadapi hampir setiap harinya, termasuk di mess karyawan setelah pulang kerja.

Tentu saja masalah-masalah ini memberikan efek yang bisa dibilang signifikan pada diri saya, selain kulit yang gosong karena terbakar matahari tentunya. Saya tidak terlalu sering berurusan dengan limbah cair, skripsi saya tentang limbah padat. Jadi pekerjaan ini merupakan peluang emas untuk belajar banyak hal. Pastinya semua mahasiswa diajarkan hal yang sama di masa perkuliahan, tapi tidak semua mengalaminya.

Hari ini, 6 Februari 2014. Satu tahun lewat satu hari ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Dumai. Saya tidak lagi bekerja di perusahaan kontraktor, melainkan di sebuah perusahaan konsultan. Mari kita bandingkan 10 bulan di perusahaan konsultan dan 3 bulan di perusahaan kontraktor, yang saya pernah bekerja di bawahnya tentunya, saya tidak bermaksud menggeneralisir perusahaan konsultan maupun kontraktor.

Dumai, walaupun cuacanya sangat panas, merupakan tempat yang cukup nyaman, bebas macet, kecuali di pinggiran kota karena banyak truk sawit yang hilir-mudik. Namun tidak banyak yang bisa dilihat selain pabrik sawit.

Jakarta, dengan cuaca yang lebih user-friendly dibanding Dumai, banyak mall dan tempat wisata kuliner yang bisa dikunjungi, ada bioskop, dan sejumlah tempat hiburan lainnya. Namun saya akan terlalu malas untuk pergi ketika hari kerja karena akan sangat macet terjebak rush hour.  Saya lebih memilih bepergian di akhir pekan dan nampaknya semua orang berpikiran sama yang mengakibatkan akhir pekan pun akan sama macetnya.

Di Dumai saya belajar jar test, menghitung jumlah kotoran sapi yang diperlukan untuk mengurai limbah (bahkan ikut memasukkan benda itu ke kolam aerasi), belajar meyakinkan klien (dan mendebat yang sok tahu), ditambah sedikit belajar menggunakan gerinda dan kunci pas.

Di sini saya belajar mengedit laporan beserta presentasinya, belajar menjadi fotografer yang handal ketika survey, mencari colokan terdekat saat atasan presentasi, mencetak sampai larut malam, ditambah sedikit belajar menggunakan mesin fotokopi.

Di Dumai saya meyakini bahwa pada prinsipnya pengolahan limbah cair adalah penurunan kadar COD, BOD, dan TSS. Jika tiga hal itu dapat diatasi, maka masalah lainnya akan lebih mudah dijangkau.

Di sini saya meyakini bahwa siapapun Anda, Anda akan bekerja dari level terbawah, menerima perintah yang menurut saya tidak memerlukan gelar S.T. untuk mengerjakannya, kemudian tingkat kesulitan pekerjaan akan semakin bertambah seiring dengan masa bakti Anda pada perusahaan.

Di Dumai, saya ditanya, “Terus kekmana selanjutnya?” ketika terjadi masalah di lapangan lalu berpikir, googling, dan bertanya kesana kemari termasuk kepada atasan yang berada di Bekasi.

Di sini saya ditanya, “Udah selesai yang kemarin?” lalu melanjutkan pekerjaan yang sudah terpola sambil mendengarkan musik atau melamun.

Saya tidak bilang Anda akan lebih berguna kelak jika bekerja di perusahaan kontraktor, menjadi berguna itu pilihan. Saya juga tidak bilang bahwa orang yang bekerja di kontraktor itu lebih baik, jika tidak saya tidak akan mengundurkan diri dan kemudian tahan 10 bulan (dan mungkin masih akan bertambah angkanya) di konsultan ini. Dan nyatanya di sini sangat nyaman juga banyak senior dengan latar belakang pendidikan yang sama dengan saya, walaupun tidak banyak yang ditanyakan masalah pekerjaan. Ditambah lagi, alhamdulillah daerah kosan dan kantor tidak tertimpa musibah banjir. Tidak perlu dibangunkan larut malam kemudian angkut barang sana-sini.

Perbandingan ini hanya sebagai pengingat diri bahwa sebenarnya dalam waktu yang singkat banyak hal yang bisa dilakukan ketika kita keluar dari zona nyaman. Sebaliknya, hal monoton, meskipun nyaman, akan membuat Anda nyaris tidak belajar sama sekali, kendati waktu yang dihabiskan tiga kali lebih panjang dibandingkan dengan si waktu yang diperlukan ketika kita keluar dari zona nyaman.

Time flies, so why aren’t we?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s