Monthly Archives: February 2014

Imaji (bagian 2) : Trauma

Nika nampaknya sudah kelelahan memukuliku sedari tadi. Ayah sedang ke luar rumah, mungkin cari alkohol. Pendengaran Mbok Ijah sudah berkurang, dia tidak akan mungkin mendengar suara gaduh dari kamarku yang letaknya cukup jauh dari dapur. Apalagi ini jam tidur siang.

Aku tidak boleh melawan! Tidak boleh! Pikirku.

“Oh jadi cuma sampai di sini persahabatan kita, si anak kembar yang katanya dipertemukan takdir di rumah ini!?” Kata Nika sambil menamparku, lalu menendang kursi yang sedang aku duduki hingga terjatuh dan mau tidak mau aku terjerembab ke lantai. Bak buronan kelas teri yang diinterogasi polisi untuk mengetahui keberadaan bosnya, aku dihabisi, namun tetap bungkam. Nika masuk ke kamarnya di bawah karpet dengan menggebrak pintunya. Aku merangkak ke tempat tidur dan berlindung di balik selimut. Aku yakin beberapa saat lagi pintu mendatar itu akan terbuka kembali, dan benar saja.

“Aku yang duluan di sini, jadi jangan pikir aku yang bakal pergi!” Teriak Nika.

Brak! Sekali lagi dia menggebrak pintu kamarnya.

***

Sang dokter memeriksa jam tangan di tangan kanannya. Nampaknya dia sedang terburu-buru. Terapi, memang salah satu hal di dunia ini yang memerlukan kesabaran tingkat tinggi, baik itu bagi si pasien, kerabat pasien, bahkan mungkin sang terapis itu sendiri.

Malik duduk di samping Ehsan memandangi ruangan yang jauh berbeda dari ruangan psikolog yang sering dikunjunginya belakangan ini. Ruangan ini jauh lebih formal dibanding ruangan Rizka. Mungkin kesannya jadi menyeramkan bagi Malik karena semuanya tampak lebih serius. Ditambah lagi dengan ketidakhadiran ibunya.

“Anda tahu, Pak?” Sang psikiater memulai percakapan. “Pasien skizofrenia sering menyembunyikan keberadaan halusinasinya dari orang-orang lain.” Punggung si dokter mulai menyandar ke kursinya yang sedari tadi mencondongkan badannya karena bersandar ke meja. Wajahnya sekarang menghadap Malik. “Malik, ingat ya yang tadi kita bicarakan!” Katanya dengan tenang. “Apa yang kamu lihat itu tidak nyata. Kalau kamu melihat Nika melompat kesana kemari dan mengacak-ngacak kamarmu, itu sebenarnya kamu sendiri yang bikin kamarmu berantakan. Kalau kamu melihat dia memukul kepala ayahmu, itu artinya kamu yang bakal dihukum.” Ehsan sedikit terkejut mendengar kalimat terakhir.

“Apa itu berpotensi membahayakan keselamatan nyawa dia dan orang lain Dok?” Tanya Ehsan.

“Insyaallah tidak Pak. Selama obatnya diminum, dan Malik nda’ boleh menggubris Nika.” Jawab sang dokter yang dari tadi berusaha menyembunyikan logat Jawanya, namun gagal. “Itu salah satu cara biar mempercepat proses penyembuhan. Gejala skizofrenia biasanya mulai muncul di usia 20-an Pak, dan semakin parah di tahun-tahun berikutnya. Tapi mudah-mudahan Malik bisa sembuh total berhubung usianya masih dini.”

Malik yang sedang memandangi jendela tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke arah sang psikiater. “Dok, Nika mau mukul kepala dokter!”

Sang dokter siaga, begitu pula Ehsan yang bersiap mengunci Malik seandainya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Malik tertawa renyah. Kedua pria di ruangan itu menghela nafas, dan Ehsan bersiap menceramahi anaknya agar tidak menyalahgunakan halusinasinya itu.

***

Label yang menempel di botol itu bertuliskan chlorpromazine. Entah apa yang dilakukan tablet-tablet oranye ini di kamarku, dan entah apa yang membuatku bertahan untuk tetap meminumnya. Mungkin karena Ayah selalu memeriksa jumlah tabletnya setiap hari dan menanyakan padaku apa aku sudah meminumnya hari ini.

Di mana bocah itu? Dia betul marah atau memang obatnya manjur, aku tak bisa membedakan. Kalau dia memang nyata, aku harus minta maaf dan menjelaskan bahwa semua yang aku lakukan, termasuk mengacuhkannya, hanya anjuran dokter belaka dan aku hanya ingin membuktikan bahwa dia salah. Tapi kalau Nika memang halusinasi…

“Nik!” Teriakku. Aku membuka pintu mendatar kamar Nika

Kreek…

Meong! Seekor kucing memanjat keluar dari pintu itu. Aku tersentak dan mundur melepaskan daun pintu dari tanganku.

Brak!

Hampir saja pintu itu menimpanya. Untung kucing punya tujuh nyawa. Sekali lagi aku membuka pintu kamar Nika dan memanggil namanya. Tidak ada jawaban. Aku pun memberanikan diri untuk masuk ke kamarnya dan menyalakan lampu. Kamar ini sebetulnya cukup luas, kira-kira 4 x 4 meter, namun dikarenakan banyak rak bekas dan benda-benda lainnya yang tidak terpakai menyebabkan kamar ini lebih sempit dari gorong-gorong di depan rumah. Satu-satunya ruang leluasa hanya di atas kasur kapuk di sudut ruangan. Kamar ini sangat berdebu. Bagaimana mungkin ada orang yang tahan hidup di ruangan seperti ini?

Atau mungkin memang tidak pernah ada orang yang tinggal di sini? Sebuah pertanyaan melintas secepat kilat di benakku.

Aku berusaha membuyarkan pikiranku. Tapi hal itu malah semakin mengganggu, terutama karena aku belum pernah melihat Nika lagi sepekan terakhir ini. Sebelumnya jika kami bertengkar dia memang kerap hilang tiba-tiba, tapi tidak pernah lebih dari tiga hari.

Mungkin aku benar-benar bikin dia marah kali ini. Ya, itu dia. Pasti dia hanya sedang sangat marah dan aku yakin beberapa hari lagi dia pasti muncul untuk mengemis camilan.

Kamu gila Lik!? Kamu pikir orang yang bisa saling membaca pikiran satu sama lain itu benar-benar ada?

Tidak, aku harus berhenti minum obat! Aku mau Nika! Tidak peduli dia halusinasi atau nyata.

Aku sudah gila.

***

Tantri harus menekan bel berkali-kali sebelum akhirnya Mbok Ijah membukakan pintu.

“Ehsan mana Mbok?” Tanyanya seraya melempar tas ke sofa ruang tamu.

“Tuan lagi keluar Nyah, belanja mungkin.”

Tantri mengerti maksud kata belanja tadi, dia kemudian berjalan menuju ruang tengah dan menyandarkan dirinya di kursi. “Kebiasaan. Padahal aku udah janji sama dia loh Mbok.” Mbok Ijah tidak menggubris. Mungkin dia tidak mendengarnya.

“Maliiik, sini sayang, Mama bawa chunky bar!” Teriak Tantri ke arah kamar Malik yang berada di lantai atas.

Tiba-tiba terdengar suara lembut di belakang kursi yang diduduki Tantri. “Ma..”

Tantri terkejut, “Ya ampuun kamu ini! Sejak kapan ada di situ?”

“Dari tadi kok Ma.” Jawab Malik yang kemudian mengambil coklat chunky bar kesukaannya dan memakannya, satu per satu tapi tidak selahap biasanya.

Tantri mengelus-elus kepala Malik. “Kamu sebentar lagi tinggal sama Mama ya. Kita bisa ketemu tiap hari.” Katanya sambil mengembangkan senyum.

“Tapi Mama kan jarang di rumah. Tiap hari pulang jam 9 atau 10 malam. Nanti aku main sama siapa? Tanya PR ke siapa?” Kata Malik. Selama ini teman bermain dan belajarnya di rumah hanya Nika, walaupun dia sadar dirinya pindah rumah atau tidak pun mungkin Nika memang tidak akan muncul lagi. Selamanya.

“Kan ada Om Gino, dia ada di rumah terus kok. Ya kalau pulang pun nggak akan malam banget.”

Tiba-tiba Malik berhenti mengunyah, “Mama udah nikah sama Om Gino?”

Tantri menahan tawa kecil, “Belum lah sayang. Kamu pasti Mama kasih tau kalau kami nikah.”

“Lalu kenapa dia ada di rumah Mama terus?”

Tantri gelagapan, “Emm…maksudnya nanti kalau kami udah nikah, kamu bisa pindah ke rumah Mama dan Om Gino bakal di rumah terus nemenin kamu.”

Beberapa saat Malik hanya menatap dingin kedua mata Tantri, melanjutkan mengunyah, lalu mengambil sepotong coklat dan membaginya dengan sang ibu, seolah mengisyaratkan, sekarang giliranku yang bicara. Tantri melahap potongan coklat putih itu.

“Menurut Mama Nika itu nyata?” Tanya Malik dengan suara rendah.

Tantri menghela nafas, “Malik, kalau memang Nika itu nyata, kenapa Ayah nggak boleh tahu?”

“Karena Ayah bakal mengusir dia dari rumah, atau mungkin bakal bunuh Nika.”

Tantri tertawa. “Siapa bilang? Ayahmu itu orang baik-baik Lik…walaupun dia tukang minum.”

“Nika. Aku tahu dia sebenarnya sangat takut ketahuan walaupun tingkahnya pecicilan begitu.”

“Nika yang takut ketahuan, atau kamu yang takut menerima kenyataan? Takut kalau sewaktu-waktu kalian sedang main sondah atau gundu lalu Ayah memergoki, tapi yang dia lihat cuma kamu sendiri yang loncat kesana kemari?” Tawa Tantri perlahan menghilang ditelan percakapannya. “Oke, tadi Mama bohong masalah Om Gino, kamu jangan begitu ya, tapi setidaknya Mama jujur sama diri sendiri kalau yang Mama lakukan itu tujuannya biar dapat hak asuh kamu.”

“Maksudnya?”

Sekali lagi Tantri tertawa kecil, “Nanti kalau kamu udah dewasa pasti ngerti Lik. Kamu tahu Komisi Perlindungan Anak?” Tanpa menunggu jawaban Tantri melanjutkan, “Nah mereka pasti bakal lebih memilih hak asuh untuk orang tua yang lengkap, bukan yang sendiri.” Tantri mengumpulkan bungkus coklat yang berserakan. “Mama harus ke kantor lagi nih, nanti malam mungkin Mama ke sini lagi ketemu ayahmu.” Tantri memberikan kecup hangat di dahi Malik lalu berjalan ke arah pintu rumah.

“Bukan Ma. Maksudku hubungannya sama Nika apa?” Tanya Malik setengah berteriak pada ibunya yang sudah berada di ruang tamu.

Tantri yang sedang membuka pintu kemudian tersenyum ke arah buah hati satu-satunya itu, “Ooh. Maksudnya, jangan bohong sama diri sendiri.”

***

Perutku mual, dunia rasanya berputar-putar. Aku harus tidur. Entah pelajaran di sekolah, atau chunky bar pemberian Mama tadi sore, atau kenyataan bahwa aku akan punya ayah baru yang membuatku begini. Atau mungkin karena aku tiba-tiba menghentikan pemasukan tablet-tablet pahit itu ke dalam tubuhku. Sudah tiga hari ini aku diam-diam membuang satu tablet setiap harinya.

Aku terhuyung lalu mendamparkan diri di kasur, telungkup dan berusaha memejamkan mata. Baru beberapa detik aku memejamkan mata, tiba-tiba punggungku terasa berat. Kepalaku menoleh ke belakang.

“Nika!” Aku bisa merasakan kepuasan yang tergambar di wajahnya ketika menginjak punggungku. Aku mendorong paksa kakinya ke samping sebisaku. Akhirnya dia melompat turun ke lantai.

“Kangen?”  Nika kemudian tertawa lepas.

Aku hanya membalikkan badan untuk mencapai posisi terlentang karena masih pusing dan mual. “Berisik. Kemana aja?”

“Oh, jadi kita udah bisa bicara sekarang? Oke.” Katanya sambil membuka pintu kamarnya. “Puus, puus! ck..ck..Loh, kucingku mana?”

“Iya bisa, dan itu kucing jalanan bukan kucingmu.”

“Udah itu aja? Nggak ada penjelasan kenapa seminggu kemarin aku nggak pernah muncul?”

“Emm..maaf Nik. Itu cuma anjuran dokter.”

“Oh ya? Dokter Rizka itu?”

“Bukan, dokter yang lain. Yang ini laki-laki dan tampangnya menyeramkan. Dia bilang aku harus mengacuhkanmu, dan dia bilang kalau aku melihat kamu melakukan sesuatu, sebenarnya akulah yang melakukan itu. Dia bilang—Itu mempercepat proses penyembuhan…” Walaupun perutku masih sedikit mual aku mulai bangkit dan bersandar di dinding di samping tempat tidur.

“Mempercepat— Oh jadi menurutmu aku ini semacam penyakit?”

“Aku perlu bukti Nik…!” Kataku dengan nada memelas.

“Maksudnya bukti? Oh, bukti kalau aku ini bukan…?”

“Imaji.”

“Sialan Lik, harusnya aku memukulmu lebih keras kemarin! Kamu mau bukti? Ayo turun ke bawah!”

“Kamu mau Ayah melihatmu?”

“Nggak lah. Ayo, jangan banyak tanya.”

Aku membuntuti Nika keluar kamarku. Dari balkon atas aku dapat melihat Ayah sedang menenggak vodka di meja ruang tengah yang berdekatan dengan sebuah lemari tempat menyimpan minuman-minumannya. Biasanya lemari tempat menyimpan botol-botol minuman sisi-sisinya terbuat dari kaca, namun lemari yang satu ini terbuat dari kayu, hampir nampak seperti lemari baju.

“Oke, kamu bilang kalau kamu melihatku melakukan sesuatu itu artinya kamu yang melakukan itu. Sekarang aku akan minum vodka itu dan kita lihat siapa yang mabuk.”

“Eh, jangan Nik! Kamu tahu kan Ayahku pernah bilang kalau kita minum sebelum usia kita 20 kita bakal langsung mati!” Bisikku. Ayah terlihat sangat mabuk di sana. Aku belum pernah melihat dia seterhuyung itu. Oh, dia tahu hubungan Mama dan Om Gino dan kenyataan bahwa mereka akan segera menikah.

“Terus kamu percaya? Nggak mungkin lah Lik, lagipula paling aku hanya akan minum satu sendok teh.”

Ayah menenggak minumannya dan menyisakannya sedikit, barangkali untuk nanti. Lalu dia meninggalkan meja ruang tengah dan menuju ke kamarnya, berjalan tak karuan menabrak ornamen-ornamen rumah yang kebanyakan adalah barang pecah belah. Mbok Ijah akan terlalu takut untuk keluar kamarnya jika tidak dipanggil. Biasanya dia akan membereskan kekacauan esok paginya. Aku dan Nika menuruni tangga dan sampai di hadapan botol beserta gelas yang masih berisi setengah gelas vodka.

“Kamu yakin mau minum ini Nik?” Ekspresi wajah Nika yang menggambarkan keraguan mendorongku untuk bertanya. Aku tahu dirinya sebenarnya juga takut akan cerita Ayah. Dia hanya menatap cairan itu

Prang! Bruk! Prang! Tiba-tiba terdengar suara benda berjatuhan dan menabrak satu sama lain. Suara itu semakin mendekat dan aku melihat ayah berjalan terhuyung menenteng sesuatu. Desert Eagle-nya. Apa dia mau bunuh diri? Aku langsung berpaling ke arah Nika.

“Nik, Ayah!” Kataku sambil melirikkan mata ke arah sumber kegaduhan. Nika nampak panik dan langsung menyelinap masuk ke dalam lemari di samping meja.

Ayah yang sudah sampai di hadapanku terpaku untuk beberapa saat sambil bersandar di meja. Melihatku dengan tatapan tidak percaya.

Dari bisu kemudian tiba-tiba Ayah berteriak dengan nada tinggi, “Kamu…kamu minum itu Lik!?”

“Nggak kok Yah.” Kataku sambil menggelengkan kepala.

“Terus kemana isi gelas itu?”

Aku terbata-bata. Ingin sekali menelurkan pembelaan namun tak ada kalimat yang keluar.

“Aku nggak…”

“Kamu nggak minum itu? Lalu siapa? Teman bayanganmu itu!? Iya!? MANA DIA?”

Pistolnya dikokang dengan menghadap ke samping, ke arah lemari. Secara tidak sadar aku menarik nafas dengan cepat dan melirikkan mataku ke sana. Ayah melihatku.

“Oh, jadi dia di situ? Lihat ini Lik, di sana nggak ada siapa-siapa!”

Ayah mengarahkan pistolnya ke arah lemari. Aku tak tahu harus berkata apa. Nika sudah menenggak vodka itu tapi aku tidak merasakan apa-apa kecuali mual dan pusing. Bagaimana aku tahu aku ini mabuk atau tidak? Aku belum pernah mabuk sebelumnya.

Jangan, jangan tarik pelatuknya, Ayah!

Bisikan pasrah benakku seakan memperlambat perputaran waktu.

“JANGAN YAH!” Teriakku.

DOR!

“Mana hah? Udah kubilang nggak ada siapa-siapa di situ!” Teriak Ayah.

DOR! DOR! Ayah melepaskan dua kali tembakan lagi.

***

Kedua orang di ruang tengah rumah itu bernafas menderu. Badan mereka naik turun. Ibaratnya ruangan itu kekurangan oksigen. Malik dan Ehsan saling bertatapan di tempatnya masing-masing. Malik di balik meja, Ehsan di samping lemari. Cukup lama mereka membatu di situ. Ehsan yang nampaknya sudah menemukan sedikit kesadarannya melemparkan pistol dalam genggamannya itu jauh-jauh.

Tiba-tiba Ehsan merasakan kakinya lengket dan mencium bau amis. Darah. Cairan merah segar itu mengalir dari celah-celah pintu lemari seolah mencoba meraih sang pembunuhnya. Malik yang juga melihat darah itu mundur perlahan dengan ekspresi yang tak dapat diungkapkan wajahnya. Terkejut, takut, tidak percaya. Ehsan yang tak kalah terkejut perlahan membuka pintu lemari itu, lalu mundur beberapa langkah sehingga Malik dapat melihatnya.

“NIKAAAAA!!!” Malik berteriak sejadi-jadinya sambil berlari ke arah sesosok mayat yang berada di dalam lemari. Namun sebelum dia mencapai mulut lemari, Ehsan sudah mendekapnya terlebih dulu dan menghadapkan wajah Malik ke arah lain.

“Sshhh itu cuma kucing Lik. Cuma kucing. Sshhh..sshhh” Bisik Ehsan mencoba menenangkan putranya.

“NGGAAAK, ITU NIKAAA!!  ITU—” Malik memuntahkan isi perutnya di pundak ayahnya, lalu dunianya mendadak gelap. Dekapan Ehsan yang tadinya sangat erat perlahan melonggar. Sang ayah pun menggendong Malik menuju kamarnya dan sesaat setelah itu Ehsan mendengar bel rumahnya berbunyi.

Belum sempat Tantri mengucapkan ‘hai’ atau kalimat basa-basi lainnya, Ehsan sudah lebih dulu membuatnya panik.

“Tan, dengar! Eh, masuk dulu cepat!” Ehsan dengan sigap mengunci pintu rumahnya.

“Kamu kenapa San? Malik mana?” Tantri yang tadinya berharap akan mengobrol santai masalah pernikahannya dengan Gino pun nampaknya harus ikut panik. Walaupun dia tahu topik tersebut tidak mungkin bisa dibawakan sesantai itu.

“Tidur. Emm…nggak, dia pingsan Tan.”

“HAH? Kenapa dia? Kita harus bawa dia ke dokter San!” Suara Tantri mungkin bisa terdengar sampai ke tetangga sebelah, namun bahkan suara ledakan senjata api pun tidak dihiraukan orang-orang di sini.

“Sstt! Oke, aku bisa jelasin semuanya. Di sana, di dalam lemari, ada mayat Nika. Aku menembak–“

“Apa? Nika? Aku nggak ngerti San.” Tantri yang tadinya panik jadi kebingungan, mungkin halusinasi ini memang penyakit turunan, pikirnya. Ehsan lalu menggenggam tangan Tantri dan menuntunnya ke ruang tengah sambil menempelkan telunjuknya di bibir.

“Ssstt! Jangan teriak ya! Jangan…teriak!” Kata Ehsan.

Mereka sampai di ruang tengah. Ehsan mencoba menarik lengan Tantri namun dia terpaku sesaat setelah melihat ke arah lemari dan sesosok mayat yang ada di dalamnya. Tangannya yang tidak digenggam Ehsan menutup bibir dan hidungnya. Air mata pun mengalir menuruni wajahnya. Ehsan melepaskan genggamannya dan sekarang kedua tangannya berada di atas pundak Tantri, namun Tantri secepat kilat mundur ke belakang untuk menghindarinya.

“Jangan dekat-dekat! Kamu udah gila San!?” Tantri mengecam.

“Tan aku lagi mabuk dan tadi lemarinya tertutup, jadi aku nggak tahu apa yang aku tembak. Lagipula siapa yang percaya kalau dia itu benar-benar ada? Kamu juga nggak percaya kan?” Ehsan mencoba menjelaskan dari kejauhan. Tangisan Tantri pun akhirnya meledak namun sebisa mungkin dia meredam suaranya agar tidak terlalu keras dan membangunkan Malik, atau siapapun selain mereka. Ehsan mencoba mendekat dan sekali lagi menempatkan tangannya di atas pundak Tantri. Kali ini dia tidak melawan.

“Tan, sekarang begini, kalau kamu kasih tahu Malik bahwa yang di dalam lemari itu mayat temannya, bayangkan efek trauma yang muncul nanti untuk dia, bisa-bisa dia benar-benar sakit skizofrenia nantinya. Jadi sekarang lebih baik kita sepakati, itu hanya mayat kucing dan aku bakal menguburnya di halaman belakang tanpa sepengetahuan Malik. Kalau kamu lapor polisi dan aku masuk penjara, efeknya sama aja. Ujung-ujungnya Malik pasti tahu kalau yang tergeletak di dalam situ adalah Nika. Kamu ngerti kan?”

Tantri hanya bisa berbisik sambil tersedu dan mengangguk-angguk, “Oke…oke.” Dia sebenarnya tidak bisa memutuskan apakah langkah mereka benar atau tidak dalam kondisi seperti ini, lain dengan mantan suaminya yang sudah sering menembak orang lain dan melihat mayat-mayat bergelimpangan. Ehsan mendekapnya untuk menenangkan mantan istrinya itu. Nafas Tantri sedikit demi sedikit mulai teratur.

“Tunggu San. Ini artinya Malik nggak akan pernah melihat Nika lagi seumur hidupnya.” Tantri mulai menemukan logikanya kembali. “Lagipula kamu kenapa pegang pistol sih? Kan tinggal dibuka lemarinya kalau mau tahu siapa atau apa yang ada di dalam.”

“Kan aku udah bilang aku lagi mabuk tadi. Dan sebelum Malik turun aku dengar suara-suara di halaman belakang jadi aku bawa pistol dari kamarku. Tapi mungkin itu cuma suara kucing, banyak sekali kucing di sekitar rumah ini.” Ehsan memberikan jeda sesaat bagi Tantri untuk mencerna kalimatnya, “Kita bisa bilang ke dokter untuk mengatakan pada Malik bahwa dia udah sembuh.

“Terus bilang bahwa kamu udah bunuh anak orang begitu? San, Malik pasti bilang ke si dokter bahwa Nika sudah dibunuh Ayah, dan itu nggak akan bikin si dokter menjatuhkan vonis sembuh, yang ada malah kamu yang diciduk.”

Ehsan menghela nafas. “Oke, jangan ke dokter. Besok atau lusa kamu bawa Malik ke tempatmu. Memang baiknya dia nggak lama-lama di sini.”

***

Aku membuka mata. Kepalaku terasa berat sekali. Rasanya seperti baru bangun dari hibernasi panjang.

Di mana aku?

Ruangan ini nampak tidak asing, namun ini bukan rumahku. Ini apartemen Mama.

NIKA!

Secepat kilat aku bangkit dan pintu di hadapanku kemudian terbuka. Mama masuk ke kamar dengan masih mengenakan piyamanya.

“Hey, udah bangun toh. Sarapan dulu yuk.” Katanya.

“Kenapa aku di sini Ma? Nika..?”

Mama mengelus kepalaku, “Kalau selama ini Nika yang kamu maksud itu seekor kucing, besok kita beli yang baru ya.”

Aku menghela nafas, merasa duniaku sudah terbalik. “Iya Ma, nanti aku nyusul.” Mama meninggalkan kamarku. Terdengar percakapannya dengan seorang pria di luar sana. Pasti Om Gino, pikirku.

Tok, tok, tok! Terdengar suara seseorang mengetuk-ngetuk jendela. Aku yang tadinya menghadap ke pintu terpaksa mengalihkan pandangan.

“…Nik?” Sepertinya aku masih bermimpi. Aku mencoba mencubit diriku. Sakit. Lalu bergegas membuka jendela.

“Ssst! Nggak boleh ada yang tahu ya!” Katanya.

Tapi bagaimana mungkin? Lagipula ini lantai 12, bagaimana cara dia masuk lewat jendela!? Ah, aku tak peduli.

***

(Tamat)

Categories: Cerbung | Leave a comment

Resensi : “Percikan Sains Dalam Al Quran”

Tahukah Anda bahwa bahwa 2,5 cm air per 10.000 tahun di muka bumi ini berasal dari langit? Langit, bukan awan. Tepatnya dari gunung-gunung es seberat 100 ton yang menghujani bumi sebanyak 19 buah per menitnya.

Tahukah Anda bahwa teori “parallel universe” sudah pernah disebutkan dalam sebuah hadits?

Tahukah Anda bahwa di atmosfer bumi terdapat bakteri yang bukan berasal dari bumi?

Jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas dapat didapatkan dari buku berjudul Percikan Sains Dalam Al Quran karya Ir. H. Bambang Pranggono, MBA, IAI.

Percikan Sains Dalam Al Quran

Buku setebal 200 halaman yang diterbitkan pertama kali oleh penerbit Khazanah Intelektual di tahun 2005 ini memiliki gaya bahasa dan pilihan kata yang cukup mudah dimengerti karena memang buku ini ditujukan untuk kalangan umum. Jadi, bagi Anda yang merasa bukan insinyur atau ilmuwan tidak perlu cemas akan kesulitan memahami buku ini.

Terdiri dari tujuh bab, buku ini membagi dirinya menjadi aspek-aspek yang seringkali disebut-sebut dalam Al-Qur’an. Bab-bab tersebut adalah:

1. Angkasa

2. Buana

3. Samudera

4. Flora Fauna

5. Kota

6. Manusia

7. Ilmu

Buku ini banyak menjelaskan tentang penafsiran Al-Qur’an murni secara ilmiah, bukan secara aqidah. Terdapat banyak penelaahan mendalam mengenai diksi yang digunakan Allah subhanahu wa ta’ala. Contohnya dalam Q.S. An-Nahl ayat 65, Allah berfirman, “Dan Allah menurunkan air dari langit dan dengan air itu dihidupkan bumi sesudah matinya…”. Perlu digarisbawahi kata ‘langit’ berbeda secara bahasa dengan kata ‘awan’. Seperti dalam Q.S. An-Nur ayat 43, “Tidakkah engkau melihat bahwa Allah mengarak awan, lalu mengumpulkannya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka terlihat olehmu hujan keluar dari celah-celahnya…”. Dalam ayat ini memang dijelaskan bahwa hujan turun dari awan. Lalu apa maksudnya dengan ayat yang mengatakan bahwa hujan turun dari langit? Pertanyaan ini merupakan salah satu contoh saja yang akan menggelitik rasa penasaran Anda ketika membaca buku ini, dan insyaallah juga menambah iman. Aamiin.

Meskipun buku ini berjudul Percikan Sains Dalam Al Quran, namun teori-teori yang disampaikan penulis seringkali didukung oleh hadits-hadits, selain didukung oleh artikel-artikel ilmiah tentunya. Banyak fakta-fakta menarik yang bisa didapatkan dari membaca buku ini, misalnya saja air laut sebenarnya dapat digunakan sebagai baterai raksasa untuk memenuhi kebutuhan listrik dunia, teori ini pernah diujicobakan dengan skala kecil oleh seorang akademisi yang berasal dari Indonesia.

Sayangnya, sebagian isi dari buku ini masih merupakan teori yang belum bisa dibuktikan. Misalnya saja teori time travelling, teleportasi, tenaga dalam, dan masih banyak lagi.

Terlepas dari itu, Secara keseluruhan buku ini sangat menarik untuk dibaca. Apalagi bagi Anda yang memiliki rasa keingintahuan yang tinggi untuk mempelajari alam semesta dengan cara yang simpel, atau bagi Anda yang hanya ingin menambah wawasan mengenai fakta-fakta menarik mengenai sains sekaligus mengenal Tuhan lebih dekat.

Categories: Resensi | Leave a comment

Imaji (bagian 1) : Introversi

Jangan, jangan tarik pelatuknya, Ayah!

Bisikan pasrah benakku seakan memperlambat perputaran waktu.

***

Dekorasi kayu yang menarik. Sepertinya ruangan ini lebih mirip taman daripada ruang praktek. Begitu barangkali apa yang ada di pikiran Ehsan.

“Nuansa kayu dan pepohonan bisa membantu klien lebih rileks.” Ucap seorang wanita berpakaian kasual namun tetap sopan sambil menulis beberapa catatan.

Ehsan yang tadinya agak terkejut kemudian menyilangkan tangannya di dada. “Oh iya…psikolog.”

“Nggak, Pak Ehsan, kami nggak diajari cara membaca pikiran kok.” Sang psikolog menimpali diiringi senyum ramah. “Jadi, siapa namanya anak ganteng ini?” Lanjutnya.

Tok, tok, tok! Pintu lalu terbuka dengan diiringi sesosok ibu muda cantik yang kemudian menengok ke arah sang anak sambil melambaikan tangan, “Haiii!” Katanya dengan intonasi yang menyejukkan. “Maaf telat, Ka.” Lanjutnya dengan wajah agak tersipu.

Ehsan menghela napas panjang. “Ini hari Sabtu, Tantri.”

Tantri melepaskan tawa sinis. “Dokter Rizka masih tetep kerja kok di hari—”

“Oke, oke, baiklah Bapak Ehsan dan Ibu Tantri. Kita di sini bukan buat kalian.” Rizka memotong bibit konflik dan tidak berencana untuk memberikan konsultasi gratis bagi pasangan yang telah bercerai ini, apalagi di hari Sabtu.

Suasana hening sejenak, “Jadi, siapa namamu, Dek?” Lanjutnya sambil membungkukkan badan.

“Jawab, Nak!” Ehsan menepuk pundak sang anak, tidak keras namun tidak bisa dikatakan lembut. Dari sudut matanya dia dapat melihat Tantri menatap ketus ke arahnya.

“…lik.”

“Hmm? Siapa?”

“Malik.”

***

Kurang cekatan, kamu kurang cekatan, pikirku. Sedikit saja Ayah melirik ke kanan saat kamu mengambil gorengan di meja dapur itu pasti dia sudah melihatmu. Aku selalu berpikir demikian, tapi nyatanya kamu tak pernah terlihat siapapun, tidak oleh Ayah, atau Mbok Ijah, hanya olehku, bocah berumur 12 tahun yang terjebak di antara rumah ini dengan segala konflik yang telah dialaminya. Kamu pernah bilang, kalau sampai kamu ketahuan orang lain selain aku, terutama oleh Ayah, minimal kamu bakal diusir, maksimal ditembak desert eagle-nya karena dikira maling atau hantu.

Kenapa aku tidak ikut Ibu saja? Ya mungkin dia tidak akan bisa berada di rumah seharian, walaupun itu hari Sabtu, atau bahkan Minggu. Tapi setidaknya Ibu tidak mabuk-mabukan.

“Kenapa nggak ikut ibumu aja?”

Aku yang sedang terlentang santai di tempat tidur dan menatap langit-langit spontan menengok ke arah pintu mendatar di bawah karpet yang telah terbuka, kemudian ke kanan, ke sumber suara, ke arah Nika yang baru akan memotong kuku kakinya, di atas meja belajarku. Dasar jorok.

“Kenapa aku nggak pernah dengar suara pintu itu dibuka sih?” Tanyaku.

“Kenapa menurutmu?” Ujar Nika sambil melepaskan tawa. “Orang-orang yang tinggal sebelum kamu di kamar ini juga nggak pernah sadar waktu aku buka pintu itu.”

“Orang-orang?” Aku baru tahu. Tentu saja, ini rumah dinas, pasti sebelum keluarga kami pindah ke sini telah ada beberapa kali pergantian penghuni.

“Iya, dua orang, laki-laki dan perempuan, hampir tiap malam selalu berisik sambil melakukan gerakan aneh dan entah kenapa aku jijik melihatnya, tapi setelah itu mereka akan tidur pulas dan aku bisa keluar ke dapur buat cari makan.”

Setahun yang lalu kami datang bertiga ke rumah ini, aku, Ibu, dan Ayah. Namun seorang pria alkoholik yang lekat dengan pendidikan militer nampaknya tidak cocok dengan Ibu yang waktunya berada di rumah bisa dihitung jari. Ibu…

“Eh, tadi aku lagi mikir pertanyaan yang sama denganmu, ‘kenapa nggak ikut ibu aja?’” Tukasku.

Nika terkekeh “Bohong.”

Klik, klik, klik! Suara gunting kuku menyelingi keheningan. Dari jendela kamarku aku bisa melihat di luar sedang gerimis dan sangat mendukung untuk tidur panjang di akhir pekan ini.

Bukan sekali ini Nika seakan dapat membaca pikiranku, dan terkadang aku pun dapat menebak apa yang sedang dia pikirkan. Kami bagaikan dua anak kembar yang terpisah setelah lahir lalu ditakdirkan untuk bertemu di rumah dinas angkatan bersenjata ini.

“Mungkin emang bagusnya kamu ikut ibumu.” Ujar Nika sambil mengikir kuku yang telah diguntingnya.

“Kenapa? Aku suka di sini.” Tanyaku.

Nika tak langsung menjawab, malah sibuk mengikir kuku yang telah diguntingnya. “Eh, ambilin makan dong, laper!” Serunya.

“Berisik! Jawab dulu!”

“Kupat tahu, tadi ayahmu makan tapi nggak habis. Sayang kalau cuma jadi makanan kucing, itu pun kalau dimakan.”

“Kupat tahu?” Giliranku yang cekikikan. “Serius, Nik? Mbok Ijah bakal makan itu duluan sebelum dikasih ke kucing. Sini gunting kukunya!”

“Serius, daripada mati kelaparan.” Jawabnya. “Belum, Kaki kananku belum dikikir. Kamu ambil kupat tahu…” Tiba-tiba Nika terhenti di tengah negosiasinya.

“Barulah aku selesai mengikir.” Sambungku. Iya, itu persis apa yang ada di dalam otak bocah itu.

“Sstt! Ada yang datang.” Seru Nika.

Suara langkah kaki menaiki anak tangga yang tadinya sayup-sayup menjadi semakin jelas. Dengan sigap aku mengambil satu buku di atas lemari kecil di samping tempat tidurku, kemudian pura-pura membaca. Di saat seperti ini pintu di bawah karpet sudah akan tertutup rapi, beserta karpetnya, dan Nika sudah hilang ditelan bumi bahkan seolah tak pernah muncul sebelumnya.

Pintu kamarku dibuka tanpa diketuk dahulu, seperti biasa, dan aku benci itu. Tumben, biasanya Mbok Ijah yang naik membawakan makanan kalau aku masih belum bangun di hari libur. Tak ada kupat tahu, nasi kuning pun jadi. Pasti si makhluk sedang kegirangan di kamarnya di bawah karpet sana.

Ayah meletakkan piring berisi nasi kuning di atas meja belajar, tempat Nika memotong kuku kakinya barusan.Ya Tuhan.

“Udah jam berapa ini Lik? Kenapa nggak makan?” Tanya Ayah yang berdiri menyandar ke meja belajar.

Aku sibuk membolak-balikkan lembaran kertas buku yang bahkan tidak kubaca judulnya. “Belum laper, Yah. Lagipula aku kan nggak suka nasi kuning.”

“Tadi ayah beli kupat tahu tapi basi. Kamu lagi ngomong sama siapa barusan?” Tanyanya sambil memandang sekitar dan seolah sedang menerawang. Pertanyaan yang seringkali jawabannya membuat dia kesal, geram, resah, untung dia tidak sedang dalam keadaan mabuk.

“Nggak ada, aku cuma lagi baca buku. Kan kadang aku bacanya keras-keras.”

Ayah menghela napas panjang. Setelah dipikir-pikir jawabanku memang bisa membuat orang kesal karena selalu diulang-ulang. Aku merasa trik ini sudah mulai usang. Lagipula bocah mana yang baca buku di Minggu pagi, keras-keras pula?

“Malik, kamu tahu artinya teman imajiner?” Tanyanya lagi. Tatapannya lekat. Ayah lalu melanjutkan panjang lebar tanpa menunggu jawaban. Selalu seperti ini. Bahwa semua yang aku lihat belum tentu nyata lah, bahwa aku harus dewasa dan meninggalkan teman imajiku, dan hal bodoh lainnya yang beliau anggap dewasa. Siapa yang mau dewasa jika itu berarti harus meninggalkan teman terbaiknya? Pantaslah orang dewasa banyak masalah. Dan lagi, Nika bukan teman imajiner. Aku tahu bedanya teman imajiner dan teman nyata. Nika hanya tidak mau seorang pun di rumah ini tahu keberadaannya kecuali aku.

Aku tidak pernah merasa nyaman dengan kondisi bola mata orang yang menghakimi dan terpaksa mengalihkan pandangan ke tengah ruangan, ke arah karpet. Mataku menangkap posisi karpet yang agak terangkat dan samar-samar terlihat sepasang mata sedang mengintip ke arah sepiring nasi kuning. Satu-satunya hal yang membuatku yakin bahwa kami bukan anak kembar adalah bahwa Nika tidak suka kupat tahu dan sangat suka nasi kuning, dan aku sebaliknya. Si bodoh, kenapa harus mengintip segala sih?

“Hey, lihat sini Lik!” Suara Ayah yang setengah meninggi membuyarkan lamunanku. Mataku dengan sigap menatap balik Ayah, namun terlambat. Mata Ayah sudah tertuju ke arah karpet, yang untungnya sudah kembali ke posisi semula. Tapi ada yang salah. Matanya kembali memandangku, diiringi ekspresi wajahnya yang seakan bertanya-tanya, kamu lihat apa sih dari tadi?

Ayah berjalan ke tengah ruangan. Maju-mundur, membedakan bunyi hentakan kaki yang ditimbulkan kayu-kayu yang diinjaknya. Lantai kayu di dekat karpet bunyinya lebih nyaring dan dia sadar akan hal itu. Gawat.

Aku tidak pernah diizinkan masuk ke kamar Nika, katanya di sana ada anjing berkepala tiga yang sangat mengerikan yang dikurung, dan kalau sampai ada orang di rumah ini yang tahu keberadaan Nika selain aku maka anjing tersebut akan terlepas dan memakan semua orang di rumah ini. Aku saja tidak percaya akan hal ini, apalagi Ayah.

Karpet itu dibuka dan Ayah setengah terkejut ketika melihat sebuah pintu mendatar di bawahnya. Ingin sekali aku membuka topik baru untuk mengalihkan perhatiannya namun otakku tersendat, udara tersangkut di tenggorokanku, dan lidahku kaku. Ayah menatapku sejenak, lalu matanya kembali ke pintu itu. Pintu kemudian dibuka dan Ayah masuk ke sana dengan menuruni tangga, ke kamar Nika. Aku memejamkan mata dan berdoa meminta sesuatu yang mustahil. Ya Tuhan, jangan sampai Ayah melihat Nika. Aku akan sangat kesepian di sini jika Nika sampai diusir, apalagi dibunuh. Pikiranku segera kubuyarkan. Tidak enak rasanya walaupun hanya membayangkan.

Trang! Tiba-tiba suara semacam piring mika yang jatuh ke lantai marmer di bawah sana memotong kekhusyukanku. Perlahan aku membuka mata.

“Woy, siapa di situ!?” Teriak Ayah.

Aku gelagapan, “Emm…kucing mungkin Yah! Kadang kucing sering masuk situ.”

Sesaat kemudian Nika menaiki tangga keluar melewati pintu mendatar kamarnya, terburu-buru tapi hampir tanpa suara. Setengah berlari menuju nasi kuning idamannya.

“Heh! Jangan diambil semua!” Seruku setengah berbisik. Walaupun itu nasi kuning tapi perutku yang mulai lapar tidak bisa dibohongi.

Nika melepaskan tawa kecil, lalu berbisik, “Serius? Ini bakal kamu makan, Lik?” Namun ekspresinya berubah secepat kilat, wajahnya menjadi kaku. “Aku harus pergi, Ayahmu tahu. Boleh ya aku ambil semua nasinya?”

Dunia seolah berhenti berputar. Aku ingin mengatakan, Iya ambil saja semua, Nik. Ambil juga semua makanan di kulkas. Bahkan ambil saja saudara kembarmu ini, kita sama-sama berpetualang di luar sana!

“Nik…” Namun hanya itu kata yang keluar dari mulutku. Nika hanya melempar tersenyum. Aku yakin dia juga punya banyak hal untuk disampaikan sebelum kami berpisah. Namun dengan tergesa dia mengambil nasi kuning beserta piringnya, lalu melompat keluar jendela. Kenapa sih harus pergi? Walaupun Ayah kadang keras tapi aku yakin dia masih punya akal sehat dan tidak akan sampai hati untuk mengusir apalagi membunuh bocah berumur 11 tahun. Rasanya ingin sekali menangis, tapi suara langkah kaki Ayah yang menaiki anak tangga kamar Nika semakin nyaring. Aku harus berpikir cepat apa kira-kira jawaban yang pas kalau-kalau dia bertanya, ‘Kemana dia pergi?’ Atau,’Siapa itu barusan? Apa dia yang selama ini sering ngobrol di kamar denganmu?’

Kepala ayah mulai terlihat diiringi badannya yang tinggi tegap melewati pintu datar kemudian menatapku canggung. Tanpa sadar aku berhenti mengambil napas karena panik.

“Ayah baru tahu kalau kita punya ruang bawah tanah.” Katanya setengah tertawa. “Kamu sering ke sana, Lik?” Lanjutnya sambil menutup pintu kamar Nika dan menata kembali karpetnya.

Aku bengong sejenak, teringat untuk mengambil napas lalu menjawab pertanyaan Ayah, “Emm…nggak, Yah. Di sana gelap.” Padahal aku tahu di sana ada lampu. “Tapi pintunya sering aku buka dan kucing sering masuk.”

Bocah sialan, pokoknya makan malam nanti tidak akan kubagi porsiku.

***

“Dia emang nggak banyak bicara, Dok. Tapi hubungan sosial sama teman-teman sekelasnya baik-baik aja sepertinya. Beberapa bulan yang lalu satu temannya pernah datang ke rumah, dan mereka kelihatannya akrab.” Ehsan mencoba menjawab pertanyaan Rizka mengenai hubungan sosial Malik.

“Oh ya? Bagus. Saya pun nggak melihat banyak masalah sama hubungan sosialnya, dia cukup baik terhadap orang asing.  Bisa dilihat sih dari sesi kami barusan.” Balas Rizka.

Tantri hanya terduduk, sesekali memandangi smartphone-nya.

Rizka menunggu komentar sang Ibu yang juga kawan lamanya itu, namun nihil. Akhirnya dia memutuskan untuk melanjutkan diagnosa. “Di banyak kasus, teman imaji mungkin bisa berganti-ganti, baik nama, wujud, sifat, jenis kelamin, dan lainnya dalam satu periode. Tapi biasanya teman imaji itu tidak hilang kemudian muncul lagi. Jarang sekali kasus seperti itu.”

“Dia cuma banyak bicara sama orang yang dianggap nyaman buat dia, Ka.” Tantri angkat bicara akhirnya.

“Oh, iya Tan. Dia punya tempramen yang sangat introvert. Kelihatan kok tadi. Orang yang tempramennya introvert emang sering begitu.” Jawab Rizka.

Bola mata Ehsan melirik mantan istrinya, “Maksudnya aku nggak nyaman buat dia?”

“Cuma ngasih info buat Ibu Dokter aja.” Ujar Tantri sambil memainkan gadget­-nya di tangan.

“Oh ya? Terus apa bagusnya kalau bisa buat dia nyaman tapi nggak pernah ada di rumah?”

Tantri menghadapkan badan ke arah Ehsan, “Percuma seharian di rumah kalau cuma bikin dia stres! Rizka baru kenal dia 30 menit dan Malik udah bicara lebih banyak dibanding dia 3 bulan sama kamu—”

“Skizofrenia.” Rizka menyambar. Keempat mata yang tadinya saling melotot marah sekarang melotot bingung ke arahnya. “Saya sarankan untuk merujuk Malik ke psikiater.” Kembali hening menghantui ‘taman praktek’ ini. “Seperti yang aku bilang tadi Tan, fase teman imaji jarang sekali muncul lebih dari sekali. Saat ini sih diagnosanya adalah kemungkinan anak Bapak dan Ibu mengalami yang namanya halusinasi.”

“Psikiater?” Tantri tersenyum getir. “Dia bukan psikopat, Dok!” Katanya setengah berbisik, berharap Malik yang sedang menunggu di balik pintu tidak mendengarnya. “Dan dia baru 12 tahun.” Lanjutnya

“Skizofrenia perlu penanganan medis, Tan, bukan cuma terapi. Aku tahu ini sulit.” Rizka membuat beberapa catatan, sepertinya semacam surat rujukan, menghela napas, sambil melanjutkan, “Ini baru sebatas diagnosa, pasti si psikiater nanti punya metodenya sendiri untuk memastikannya.”

Kali ini Ehsan yang jadi bisu. Bukan seperti bisunya Tantri yang sambil berpikir kalimat apa yang bagus untuk menyindir mantan suaminya, tapi bisu benar-benar bisu.

***

(bersambung)

Categories: Cerbung | Leave a comment

Tiga Banding Sepuluh Bulan

Ada ungkapan yang bunyinya begini, “Time flies.”

Saya pun cukup tersentak ketika menyadari bahwa 4 Februari 2013 sudah lewat satu tahun dua hari yang lalu. Tanggal 4 Februari dimana pada jam sepuluh malam saya dibangunkan tetangga rumah mess karyawan kami.

“Assalamualaikum, permisi Mbak, Mas, air udah tinggi!!”

Teriak sang tetangga di depan pintu gerbang mess yang digembok, namun suaranya sangat nyaring dan jelas karena kebetulan kamar saya tepat di samping halaman depan.

Saya yang berharap bisa tidur nyenyak sebelum berangkat ke Dumai esok harinya, harus beranjak dan mengangkut sejumlah barang yang untungnya sudah dikemas ke dalam satu koper. Itu barang-barang saya, masih banyak barang lain di mess seperti tv dan kasur. Untungnya lagi, kami berempat di mess itu.

Oke, cukup dengan masalah banjir Bekasi-nya. Cerita di atas tidak begitu penting sebetulnya 🙂 .

Esok paginya saya bersama seorang kawan yang sedikit lebih junior karena posisinya hanya magang di perusahaan kontraktor kami dan dengan latar belakang pendidikan yang berbeda dengan saya, terbang ke Dumai yang kala itu saya pikir merupakan suatu kesalahan. Bayangkan seorang fresh graduate ditunjuk untuk commissioning test (uji kelayakan instalasi), tanpa tutorial apapun dan tanpa senior dengan background pendidikan yang sama di Dumai sana. Entah tapi bagi saya itu adalah sebuah lompatan jauh. Selama di kampus kami selalu diberi minimal satu contoh soal dahulu sebelum diperintahkan untuk mengerjakan soal-soal lain yang seringkali lebih sulit.

Akan tetapi, di sinilah letak rasa bangga itu muncul. Bahwa pekerjaan ini memang membutuhkan satu kalimat di iklan lowongan kerja yang berbunyi, “Dapat bekerja di bawah tekanan.” Atau, “Able to work under pressure.” Dan mungkin harus ditambah, ”…dan cuaca yang sangat panas.”

Di sana saya berperan sebagai engineer dan juga diperlakukan seperti itu oleh klien, dicap sebagai tenaga ahli padahal pengalamannya nol. Terutama ketika atasan-atasan “kabur” ke site lain, mungkin karena gerah oleh permintaan klien yang tak kunjung habis. Hampir setiap hari ditanyai ini itu oleh si manajer teknik, besoknya si asisten manajer menanyakan hal yang sama, walaupun keduanya menanggapi masalah dengan caranya masing-masing. Belum lagi masalah-masalah di lapangan yang muncul seperti pipa bocor, blade mixer patah, nilai TSS yang naik turun, mikroorganisme yang sulit berkembang, dan nampaknya masih banyak masalah lain di sana yang saya hadapi hampir setiap harinya, termasuk di mess karyawan setelah pulang kerja.

Tentu saja masalah-masalah ini memberikan efek yang bisa dibilang signifikan pada diri saya, selain kulit yang gosong karena terbakar matahari tentunya. Saya tidak terlalu sering berurusan dengan limbah cair, skripsi saya tentang limbah padat. Jadi pekerjaan ini merupakan peluang emas untuk belajar banyak hal. Pastinya semua mahasiswa diajarkan hal yang sama di masa perkuliahan, tapi tidak semua mengalaminya.

Hari ini, 6 Februari 2014. Satu tahun lewat satu hari ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Dumai. Saya tidak lagi bekerja di perusahaan kontraktor, melainkan di sebuah perusahaan konsultan. Mari kita bandingkan 10 bulan di perusahaan konsultan dan 3 bulan di perusahaan kontraktor, yang saya pernah bekerja di bawahnya tentunya, saya tidak bermaksud menggeneralisir perusahaan konsultan maupun kontraktor.

Dumai, walaupun cuacanya sangat panas, merupakan tempat yang cukup nyaman, bebas macet, kecuali di pinggiran kota karena banyak truk sawit yang hilir-mudik. Namun tidak banyak yang bisa dilihat selain pabrik sawit.

Jakarta, dengan cuaca yang lebih user-friendly dibanding Dumai, banyak mall dan tempat wisata kuliner yang bisa dikunjungi, ada bioskop, dan sejumlah tempat hiburan lainnya. Namun saya akan terlalu malas untuk pergi ketika hari kerja karena akan sangat macet terjebak rush hour.  Saya lebih memilih bepergian di akhir pekan dan nampaknya semua orang berpikiran sama yang mengakibatkan akhir pekan pun akan sama macetnya.

Di Dumai saya belajar jar test, menghitung jumlah kotoran sapi yang diperlukan untuk mengurai limbah (bahkan ikut memasukkan benda itu ke kolam aerasi), belajar meyakinkan klien (dan mendebat yang sok tahu), ditambah sedikit belajar menggunakan gerinda dan kunci pas.

Di sini saya belajar mengedit laporan beserta presentasinya, belajar menjadi fotografer yang handal ketika survey, mencari colokan terdekat saat atasan presentasi, mencetak sampai larut malam, ditambah sedikit belajar menggunakan mesin fotokopi.

Di Dumai saya meyakini bahwa pada prinsipnya pengolahan limbah cair adalah penurunan kadar COD, BOD, dan TSS. Jika tiga hal itu dapat diatasi, maka masalah lainnya akan lebih mudah dijangkau.

Di sini saya meyakini bahwa siapapun Anda, Anda akan bekerja dari level terbawah, menerima perintah yang menurut saya tidak memerlukan gelar S.T. untuk mengerjakannya, kemudian tingkat kesulitan pekerjaan akan semakin bertambah seiring dengan masa bakti Anda pada perusahaan.

Di Dumai, saya ditanya, “Terus kekmana selanjutnya?” ketika terjadi masalah di lapangan lalu berpikir, googling, dan bertanya kesana kemari termasuk kepada atasan yang berada di Bekasi.

Di sini saya ditanya, “Udah selesai yang kemarin?” lalu melanjutkan pekerjaan yang sudah terpola sambil mendengarkan musik atau melamun.

Saya tidak bilang Anda akan lebih berguna kelak jika bekerja di perusahaan kontraktor, menjadi berguna itu pilihan. Saya juga tidak bilang bahwa orang yang bekerja di kontraktor itu lebih baik, jika tidak saya tidak akan mengundurkan diri dan kemudian tahan 10 bulan (dan mungkin masih akan bertambah angkanya) di konsultan ini. Dan nyatanya di sini sangat nyaman juga banyak senior dengan latar belakang pendidikan yang sama dengan saya, walaupun tidak banyak yang ditanyakan masalah pekerjaan. Ditambah lagi, alhamdulillah daerah kosan dan kantor tidak tertimpa musibah banjir. Tidak perlu dibangunkan larut malam kemudian angkut barang sana-sini.

Perbandingan ini hanya sebagai pengingat diri bahwa sebenarnya dalam waktu yang singkat banyak hal yang bisa dilakukan ketika kita keluar dari zona nyaman. Sebaliknya, hal monoton, meskipun nyaman, akan membuat Anda nyaris tidak belajar sama sekali, kendati waktu yang dihabiskan tiga kali lebih panjang dibandingkan dengan si waktu yang diperlukan ketika kita keluar dari zona nyaman.

Time flies, so why aren’t we?

Categories: The Save Points of My Life | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.