Review Album “Suara Lainnya”

Mungkin agak terlambat ya untuk me-review album yang dirilis 9 Agustus 2012 lalu ini. Namun sangat disayangkan kalau terlewat begitu saja.

Album instrumental karya Ariel, Uki, Lukman, Reza, dan David ini dibuka dengan lagu “Di Atas Normal” dari album ke dua Peterpan, “Bintang Di Surga”. Aransemennya menurut saya membuat lagu ini berkarakter arogan. Nuansa orkestra terasa sangat kental pada lagu ini, begitu pula dengan kebanyakan lagu pada album ini.

Diikuti oleh lagu “Cobalah Mengerti”. Lagu ini merupakan satu dari dua lagu dalam album ini yang menggunakan vokal. Tidak ada yang istimewa dari aransemen lagu ini, bahkan saya lebih menyukai versi aslinya yang dibawakan oleh Peterpan.

Lagu ke tiga berjudul “Kota Mati”. Dominasi alunan piano indah diiringi dengan biola memberikan nuansa tersendiri dengan improvisasi yang unik di tengah lagu.

“Sahabat” merupakan salah satu lagu yang diambil dari album pertama Peterpan, “Taman Langit”. Lagu ini diaransemen ulang dengan mengundang Karinding Attack, sebuah grup musik dengan nuansa etnik Sunda. Dapat dibayangkan hasil perpaduan antara musik etnik Sunda dengan aransemen Ariel dkk yang modern. Hasilnya luar biasa indah. Lantunan suling dan celempung berpadu dengan gitar ternyata dapat menghasilkan sesuatu yang sangat harmonis.

Lagu berikutnya adalah “Walau Habis Terang”. Didominasi oleh nuansa jazz yang santai. Sangat cocok untuk didengarkan sebelum tidur atau untuk suasana kafe/lounge.

Salah satu lagu favorit saya di album ini, “Di Belakangku”. Jika Anda beranggapan lagu versi orisinalnya bagus karena terkesan gelap dan keras, Anda perlu mencoba mendengarkan aransemen ulang satu ini. Masih dengan nuansa orkestra yang dominan dengan sentuhan etnik Timur Tengah membuat lagu ini semakin gelap namun elegan.

Dilanjutkan dengan lagu “Melawan Dunia”. Menurut saya lagu ini memiliki gaya musik rock tahun 80-90an dengan ketukan yang bersemangat dan nada-nada simfonis.

“Langit Tak Mendengar” memiliki karakter sama seperti “Walau Habis Terang”. Musik dengan gaya lounge yang cukup enak didengar sekali-sekali namun akan cepat membuat Anda bosan.

Lagu ke sembilan dari album ini adalah “Taman Langit”. Aransemen lagu ini melibatkan sang violis Idris Sardi dan pemain cello Henri Lamiri. Jauh berbeda dengan versi orisinalnya yang sedikit bernuansa latin dan beat yang bersemangat, lagu “Taman Langit” pada album ini terkesan sendu dan gesekan Idris Sardi dijamin bakal membuat Anda merinding. Alunan nada-nada klasik yang dimainkan oleh Idris dan Henri benar-benar mengubah lagu ini menjadi sesuatu yang baru.

Sungguh sesuatu yang sangat memuaskan apabila lagu yang menurut Anda adalah lagu terbaik dari suatu album, itu terletak di bagian akhirnya sebagai lagu pamungkas, dan itulah yang menurut saya terjadi di album ini. Bagi saya, aransemen lagu “Bintang Di Surga” versi orisinal sudah cukup bagus dan tentu saja bulu kuduk saya dibuat naik-turun oleh aransemennya pada album ini. Orkestra yang kuat dan rapi ditunjukkan oleh lagu ini, harmonisasi biola dan improvisasi yang indah juga memperkaya karya besar satu ini. Sulit diungkap dengan kata-kata, Anda harus mendengarkannya sendiri terutama jika Anda sudah mendengarkan versi orisinalnya sebelumnya.

Album ini juga memiliki bonus track berjudul “Dara”. Namun lagi-lagi menurut saya tidak ada yang istimewa dari aransemen lagu yang dilengkapi vokal ini, tipikal lagu-lagu Peterpan.

Oke, bagi Anda yang tidak suka Peterpan, Noah, atau Ariel dkk., tahan dulu. Mungkin menurut Anda musik Peterpan terlalu easy listening sehingga Anda cepat merasa bosan atau bahkan mungkin menurut Anda musik pop aliran Peterpan dkk kurang berkelas, tidak masalah karena saya pun berpikir demikian. Ketika masih di bangku SMP, saya suka sekali dengan Peterpan, namun terhenti di album ke dua karena lama-lama bosan.

Jika Anda memang penggemar musik, jadilah pendengar yang cerdas. Dengarkan bagaimana musiknya, jangan permasalahkan siapa yang membawakannya.

Ketika pertama kali saya mendengar lagu-lagu di album “Suara Lainnya”, hal pertama yang terlintas di otak saya adalah, “Ini beneran si Ariel dkk. yang bikin?”, karena karakter dan kelas musik yang jauh berbeda dari lagu-lagu Peterpan maupun Noah. Menurut saya ada dua kemungkinan. Pertama, Ariel dkk. memang sebetulnya adalah musisi jenius namun selama ini dihambat oleh label sehingga yang muncul adalah lagu-lagu yang terlampau easy listening tadi. Kedua, dominasi peran arranger, yang notabene adalah musisi-musisi jempolan macam Karinding Attack dan Idris Sardi, sangat besar sehingga influence mereka terhadap lagu-lagu di album ini begitu terasa dan pada akhirnya membuat karakter album “Suara Lainnya” terasa jauh lebih megah. Saya lebih memilih teori yang ke dua.

Akan tetapi, apapun teorinya, yang penting “Suara Lainnya” adalah album Ariel dkk. yang terbaik dari semua album pendahulunya, bahkan album karya Noah yang rilis setelahnya.

3.8/5 nilai yang saya berikan untuk album ini. Mantap!

Advertisements

2 thoughts on “Review Album “Suara Lainnya”

  1. Suara Lainnya emang keren banget. Menurut saya, arransementnya jadi keren banget karena mereka mengerjakannya dengan hati. Perbedaan album ini dg yg lain adl arransementnya tidak dibuat per-team tapi per-personil yg kemudian baru dikembangkan per-team. Jadi, setiap personil bisa mengeksplorasikan jiwa musisi mereka. Saya juga gak nyangka Noah bisa buat album sekeren ini. Disini mereka menunjukkan bahwa mereka bukan sekedar anak band biasa.
    Menurut saya, peran David di album ini sangat besar. Dia mengarransement sendiri 5 lagu di album ini. Pengalaman bermusiknya yg luas dan panjang mampu memberikan semua nuansa musik di album ini. David belajar musik dari umur 5 tahun, dan seluruh hidupnya kayanya emang cuma habis buat bermusik. Sebelum bergabung di Noah David adalah soloist pianist, dia juga punya grup musik orkestra. Dan ternyata album ini memang meletakkan David sbg frontman u/ memperkenalkan dia sbg personel baru.
    Musik Noah sekarang juga mengalami banyak perubahan dari pada Peterpan dulu. Di setiap lagu, contonya saja Separuh Aku, setiap alat musik seperti punya nada tersendiri, yang kemudiang bisa menyatu mjd sebuah lagu. Musik pada umumnya adalah mengiringi sang penyanyi bernyayi. Tapi berbeda dengan Noah, setiap alat musiknya seperti ikut bernyayi dengan sang penyayi dengan nada tersendiri tapi tetap menyatu bahkan saling melengkapi. Itu sih menurut saya. Sukses terus deh buat Noah. 🙂

  2. Betul, album satu ini memang sedikit berbeda dari album-album Peterpan/Noah lainnya dan patut diacungi jempol terutama oleh mereka penggemar musik instrumental.
    Terima kasih atas komentarnya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s