Chapter Three : Troubleshoot

“Hahaha, Maaan, man. Cepat kau tengok ini, Man!” Ben yang sedang berada di walkway kolam aerasi memanggilku yang masih 50 m dari plant. Malam-malam begini tertawa bak kuntilanak, senang kali kawan ini, pikirku.

Kolam-kolam aerasi ini tingginya 2 m sehingga harus didaki, dengan anak tangga tentunya. Aku pun mendaki, mendaki, dan mendaki.

Ya Tuhan, ampuni segala dosaku!

Semacam peribahasa dari mata turun ke hati, dari hati kita memohon pada Ilahi, ketika aku melihat gunung buih setinggi 1,5 m di kolam aerasi lama.

“Itu…itu apa, Bang!?” Tenggorokanku masih kering karena mendaki.

“Itu caustic yang siang tadi. Jeke (JK) dah kemari barusan, dia suruh tutup valep (valve) ke aerasi baru.”

Sungguh pemandangan yang mengejutkan dari kolam aerasi lama. Adapun kolam aerasi baru tak mau kalah, ia memberikan pemandangan yang juga mengejutkan, memilukan, menyayat hati. Lumpur-lumpur mantan activated sludge mengambang-ngambang di atas permukaan air, ini adalah pertanda bahwa sang sludge sudah tidak lagi activated, yang mana merupakan indikator bahwa bakteri-bakteriku telah tewas diracun caustic. Sungguh naas, hasil pekerjaan selama dua minggu bisa diruntuhkan hanya dalam waktu beberapa jam saja.

“Ah pulang aja lah wak, pening.” Gerutuku.

Caustic soda. Senyawa yang dipakai oleh refinery minyak sawit pabrik ini untuk membersihkan instrumen dan alat-alatnya. Paling tidak senyawa ini dibuang seminggu sekali, jadi sebenarnya pembuangan caustic ke IPAL sudah merupakan hal yang lumrah terjadi. Namun kemarin adalah yang paling pekat dan paling tinggi konsentrasinya yang pernah aku lihat, dan tentu saja kemarin nyawa koloni-koloni bakteriku jadi taruhan. Tidak ada satu pun yang lumrah kali ini.

Caustic attack! Last night I came here and told Ben to close the valve, and drained it.” Kata JK.

Yes Sir, I came here too last night. I don’t know what to do now.

I’ve called a friend in India, he’s my consultant for things like these. He said just add another 500 Kg of cow dung and it should be no problem.

Ya no problem untukmu Jek, buat kami itu berarti tiga kali kerja. Tidak nyaman rasanya meminta orang harian atau pekerja kasar lagi dan lagi untuk pekerjaan yang sama. Orang harian itu bukan robot yang bisa seenaknya disuruh, ada satu titik dimana mereka bertanya, “Kemarin kan dah dicampak tai sapi tu Pak Wilman, kenapa ditambah lagi?”

Sesungguhnya hal-hal seperti perasaan tidak nyaman ini tidak akan timbul bila si orang harian berada di bawah perusahaan yang sama dengan si engineer, tetapi urusan tidak sesimpel itu di sini. Dua perusahaan muda yang bergabung untuk menyelesaikan satu proyek nampaknya memerlukan manajemen khusus untuk mengatur orang-orangnya.

I will leave at 27th. I hope we can get a better result then.” Nada JK datar, berusaha menyembunyikan paniknya. Itu artinya kurang lebih seminggu lagi waktu dia di sini. Antara senang dan sedih. Senang karena aku tidak perlu melayani kecerewetannya setiap hari. Sedih karena tidak ada orang lain yang begitu memperhatikan perkembangan bakteri-bakteri selain dirinya dari pihak pabrik ini. JK adalah orang yang sangat berpengaruh, dia membawahi beberapa departemen mulai dari engineering, laboratorium, mekanikal, elektrikal, limbah, dan mungkin departemen teknis lainnya. Berbeda dengan bawahan-bawahannya yang cuma bisa bertanya, “Kek mana? Udah banyak bakterinya?” Berorientasi pada hasil tanpa mau tahu prosesnya, JK ikut mengamati proses dan berpusing-pusing ria memikirkan solusi dari setiap permasalahan yang terjadi. Itu sebabnya jika ada masalah aku lebih suka berdiskusi dengannya daripada dengan bawahannya, begitu instruksi JK turun maka semua tidak punya alasan untuk membantah. Bahkan setelah kejadian caustic attack dia langsung mengistruksikan untuk membuat penampung caustic sementara di refinery sehingga konsentrasinya dapat diencerkan terlebih dahulu sebelum masuk ke IPAL.

Begitu malam tiba, terpaksa aku harus meminta orang-orang harian untuk lembur dan memasukkan kotoran sapi lagi ke dalam kolam aerasi, meskipun secara teknis bukan perusahaanku yang membayar lemburan mereka. Orang-orang di sini sebenarnya termasuk tekun, cerdas, dan patuh, selama mereka meyakini apa yang dikerjakannya jelas. JK pun mengakui hal ini, berbeda dengan orang India yang bila disuruh mengerjakan sesuatu mereka bisa membangkang dengan mudah, katanya. Tapi setekun dan sepatuh-patuhnya manusia, jika disuruh melakukan hal yang menurut dia tidak jelas tujuannya, apalagi ditambah imej pemimpinnya yang buruk di mata dia maka tidak mustahil seseorang juga akan dengan mudah membangkang.

That’s a different type of sludge.” Ucap JK. Ini adalah hari terakhirnya di sini, namun tidak ada perkembangan yang berarti sebenarnya dari koloni-koloni generasi baru ini, hanya memang bentuk lumpurnya lebih halus dari leluhurnya. Selain dari itu, tingginya hanya 30 ml/500 ml.

I will come back here again after lunch to check for the last time.” Lanjut JK, dia tidak dapat menyembunyikan wajah girangnya karena akan kembali ke India dan hari-harinya bergelut dengan sawit pun segera berakhir.

Very hot today yes?” JK mengibaskan tangannya. Luar biasa memang panasnya pagi ini.

Yes, Sir.

I don’t like it here, I shall quit engineering, be an actor.

Kami berdua tergelak sejenak. JK pun kembali ke kantornya dengan alasan meeting terakhir. Namun dia tidak pernah kembali untuk mengecek bakteri untuk terakhir kalinya. Begitulah balada JK berakhir, pergi tanpa pamit dan hanya mewariskan sejumlah koloni utukku.

Satu minggu berlalu tanpa JK, sepi rasanya tidak ada orang yang bolak-balik ke plant untuk sekedar melihat lumpur. Bingung dengan hanya duduk di plant tanpa tahu apa yang bisa dilakukan. Ternyata selama ini aku selalu bergantung pada arahan JK, bahkan supervisorku di Bekasi sana seringkali kuabaikan. Di tengah kebimbangan yang memuncak aku pun memutuskan untuk mengirim pesan singkat kepada supervisorku yang aku pikir awalnya pesan semacam ini tidak akan pernah terjadi karena katanya commissioning itu paling hanya dua minggu sampai satu bulan. Nyatanya aku di sini sudah dua bulan dan tidak ada tanda-tanda bahwa semua ini akan selesai dalam waktu dekat.

Bu, tgl 6 nanti sy ada acara di bdg. Sy bisa pulang dulu ga?

Menyerah? Mungkin bisa dibilang semacam itu. Kalau saja kisah ini adalah sebuah film mungkin akan berakhir dengan laju pertumbuhan bakteri yang tiba-tiba naik tajam sesaat sebelum JK pulang ke India dan aku akan berlari-lari memburu JK ke kantornya lalu berseru, “Mr. JK, the bacteria have grown drastically, oh my god you’ve done a good job, Sir!” Dan JK akan menbalas, “No, Wilman, we did the good job, we did.” Tapi ini dunia nyata, harus diakui bahwa ending melempem seperti ini malah yang seringkali terjadi.

Tak ada JK berarti tak ada bakteri, atau setidaknya akan sangat sulit jika tidak ada orang sepeduli dia. Bukannya aku tidak sanggup bertahan di sini, aku hanya tidak menemukan alasan untuk itu.

*TAMAT*

Kejar tayang takut keburu lupa kejadian-kejadiannya, haha.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s