Chapter Two : Seeding

Recirculated Activated Sludge means that you’re recirculating sludge, not water!” Seru seorang pria tinggi kurus, berkulit gelap, dan berkebangsaan India, namanya JK. Dia adalah Chief Engineer di perusahaan minyak sawit tempat proyekku dikerjakan. Beliau juga yang mengurus masalah kontrak antara kontraktor dengan perusahaan.

Semenjak masalah dengan chemicals  belum selesai kami belum pernah berbicara langsung, sampai akhirnya keduanya bertemu untuk mengasuh makhluk-makhluk kecil bernama bakteri.

No, Sir there’s a small amount of sludge there.”

How do you know?

If you turn the sludge pump on it discharges sludge for a few seconds.

Fine, but I want the SSV to be at least 100 ml / 500 ml.

Tetapi bukan hanya lumpur yang diinginkannya, melainkan activated sludge, atau mudahnya, bakteri yang berguna untuk mengurai limbah. Tidak pernah terpikir olehku bahwa activated sludge ini akan sangat berguna, karena memang tidak seberguna itu untuk kondisi limbah saat ini. Hasil uji laboratorium masih menunjukkan nilai yang bagus, angka pencemaran masih di bawah baku mutu. Lalu untuk apa limbah itu diurai lagi? Untuk apa bakteri?

Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah pertanyaan simpel seorang karyawan kelas teri yang lucunya dia adalah seorang commissioning engineer namun dia tidak berhak untuk mengetahui kontrak antara kontraktor dengan perusahaan. Ya, keseluruhuan isi kontrak mungkin boleh dijadikan rahasia, tetapi paling tidak si commissioning engineer berhak mengetahui poin-poin apa saja yang diperlukan sehingga IPAL ini layak jalan dan tugas si engineer bisa dibilang selesai.

Sedikit-demi sedikit para pekerja proyek mulai hijrah dari pabrik ini ke pabrik yang lain, karena kebetulan ada proyek juga di pabrik sawit lain di Dumai ini, sebut saja Pabrik-2. Cocok, semakin sedikit orang disini, semakin sedikit yang bisa dikerjakan, padahal permintaan klien tidak berhenti semata-mata karena pengerjaan instalasi plant sudah selesai. Ada saja permintaan ini itu selama kami disini dan serah-terima plant dari kontraktor ke pihak pabrik belum terjadi.

Orang bilang pembeli adalah raja, apa yang mereka minta harus kita turuti. Namun ketika raja terlalu banyak minta tanpa melakuka kontribusi yang berarti bagi rakyatnya, saat itulah rezim harus digulingkan. Tetapi itu semua hanya terjadi di dalam kepalaku. Toh yang jadi rakyat disini adalah bos-bosku di atas sana, merekalah rajaku.

Kembali ke realita. Bagaimana cara memperbanyak sludge? Bagaimana cara memperbanyak bakteri? Apa itu SSV? Ibu sudah gila ya mengirim seorang fresh graduate tanpa training atau mentor untuk menghadapi kondisi seperti ini? Pertanyaan-pertanyaan di atas kulemparkan kepada supervisorku di Pulau Jawa sana melalui layanan pesan singkat, ya kecuali pertanyaan terakhir.

“SSV itu sludge settling volume, vol. lumpur yg dihasilkan dr total air/sampel air limbah. Tambahin kotoran sapi aja 1,2 ton (3000 mg/L MLSS x 400 m3). Tp hrs diisolasi bak aerasinya, inlet/outlet tertutup kl ga nnti lama tumbuhnya.” Kira-kira semacam itu tampilan yang dikeluarkan layar ponselku beberapa menit setelah Pulau Jawa dibombardir oleh pertanyaanku.

“No, we can do it without isolating the system!” Celoteh JK.

“But I think that will make the bacteria grow slower.”

“No, you tell your engineering team wether we can do it or not.”

“Ok, Sir.”

Whatever dude. Kalimat yang sangat ingin aku ucapkan di depan batang hidungnya, namun tidak pernah terjadi.

“Ya kalo dia (JK) bilang begitu ya turuti aja…bla..bla..bla.”

Kembali pesan singkat dari sang raja memenuhi layar ponselku. Rasanya ingin kulemparkan saja benda ini ke dalam kolam aerasi di depanku, siapa tahu bisa menambah jumlah SSV.

Kotoran sapi sebanyak 1,2 ton siap dimasukkan ke dalam bak aerasi. Jangan tanya bagaimana cara kami memasukkannya. Dengan hanya 4-5 orang tanpa conveyor atau alat berat lainnya, bisa ditebak kami seharusnya mendapat upah tambahan untuk ini. Posisiku secara hirarki memang engineer, di atas pekerja kasar. Tapi orang waras mana yang hanya petantang-petenteng menyaksikan 3 orang memanggul 1,2 ton kotoran sapi sejauh 30 m, 5 m diantaranya menaiki anak tangga. Belum lagi dengan kondisi cuaca khas Riau yang bersuhu 27-30° C. Bahkan orang sinting sekalipun akan terketuk pintu hatinya untuk membantu.

Bodoh kau JK! Sudah kubilang sistem ini harus diisolasi. Sekarang mana bakteri yang kita idam-idamkan!? Begitulah satu sisi pikiranku berteriak. Namun di sisi lain aku mengakui bahwa JK adalah orang yang konsisten, adil, disiplin, dan berintegritas tinggi serta humoris. Dia orang yang menyenangkan seandainya kami tidak bertemu dalam kondisi seperti ini.

Dua minggu kami menunggu tanda-tanda kehidupan dari dalam kolam aerasi, namun nihil.

“We’ve wasted a lot of time.” kata JK

“Agree, Sir.”

“OK, we isolate.”

Lagi, 1 ton kotoran sapi kami masukkan ke dalam kolam aerasi, karena yang sebelumnya sebagian besar tersapu oleh air limbah ke luar sistem mengakibatkan air hasil olahan keruh dengan COD (chemical oxygen demand) tinggi. Tidak lupa kami memasukkan pula urea dan fosfat sebagai nutrisi untuk adik-adik bakteri tersayang.

“Sir, the sludge, the SSV, it’s getting thicker. You should see!” Kata si karyawan kelas teri dengan penuh semangat.

“Well yeah that’s what I came here for.” Tukas JK, sebuah senyuman mengembang di wajahnya.

Sudah dua minggu semenjak kami mengisolasi dan memasukkan kembali kotoran sapi ke dalam kolam aerasi. Percayalah tumpkan activated sludge yang terjadi saat itu menjadi pemandangan terindah bagiku, mungkin juga bagi JK.

“That’s about 80 ml/500 ml.” Gumam JK.

“Yeah it’s almost 90 Sir, I think.”

“Very good Wilman, keep it up like this and tomorrow we’re going to recirculate the sludge to the old aeration tank. I want to see it working optimum before I leave.”

Memang terdapat dua kolam aerasi di pabrik ini, satu kolam aerasi lama, dan satu lagi kolam aerasi baru yang sedang dalam tahap commissioning. Dan kontrak JK dengan perusahaan sawit ini akan berakhir dua minggu lagi.

Saatnya semua ini berakhir, sang commissioning engineer kembali pulang ke pulaunya dengan membawa secarik kertas berita acara mengenai serah terima plant. Sebuah skenario yang sempurna bahkan ideal yang setiap hari aku bayangkan sebelum beranjak tidur.

“Woy, Man! Sini!” Seorang pemuda tinggi kurus bermata sayu memanggilku dari dekat bak penampung inlet. Namanya Ben, dia adalah operator IPAL pabrik sawit ini, baik IPAL lama maupun baru.

“Orang refinery tu buang caustic banyak, nggak apa-apa ni untuk bakterinya?” Lanjut Ben.

Cairan pekat hitam memenuhi bak penampung inlet. Secara logika, zat kimia apapun, sintetis maupun alami, apabila memapar makhluk hidup melebihi dosis maksimum, makhluk tersebut akan mengalami gangguan, atau lebih buruk, kematian. Dan mata kepalaku sedang memandang bahan berbahaya dalam dosis yang lebih dari cukup untuk membunuh seekor gajah, entah apa lagi yang bisa dilakukannya terhadap koloni-koloni bakteriku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s