Tiga Cinta

Kami bertiga, ditambah satu orang mentor merapat membentuk lingkaran kecil di teras masjid sebuah SMP di Bandung. Saya tidak pernah tahu pada saat itu bahwa forum-forum kecil semacam itu disebut mentoring. Tiga orang anak SMP kelas 3 yang hatinya dag-dig-dug karena akan menghadapi UAN, termasuk saya, pada waktu itu hanya ikut-ikutan dan merasa bahwa forum semacam itu cuma ajang untuk mengobrol santai sambil menambah wawasan tentang agama.

Di tengah topik yang tengah kami bahas, sayangnya saya lupa topiknya apa, tapi ada hubungannya dengan kalimat yang dilontarkan si mentor.

“Definisikan cinta!”

Kami bertiga tentu saja bingung, lha wong orang dewasa saja masih bingung dengan arti cinta, apalagi kami yang bahkan belum sampai 17 tahun hidup di dunia ini. Namun itulah kami para remaja, merasa tahu segalanya dan sangat ingin menyita perhatian.

“Perasaan suka yang sangat, Kang.” Tiba-tiba si A melontarkan argumen.

“Perasaan sayang yang membuat seseorang mau melakukan apapun untuk orang lain.” Si B tak mau kalah.

Ah, saya juga bisa mendefinisikan cinta. Pikir saya.

“Cinta itu, perasaan suka…dan sayang, Kang.” Wah, saking bingungnya saya malah menyimpulkan dua pernyataan sebelumnya.

Kami berempat tergelak, saya tertawa miris sih lebih tepatnya. Kemudian suasana kembali hening, jam 5 sore di hari Sabtu memang sudah bukan waktunya bagi anak SMP untuk berkeliaran di sekolah. Kami bertiga menatap sang mentor seakan bertanya, “Jadi cinta itu…?”.

“Cinta itu adalah memberi tanpa mengharapkan kembali. Setuju ga?” Kata sang mentor.

Semakin kami bingung dibuatnya, ternyata jawabannya sesimpel itu dan jujur saya dan mungkin juga kedua teman saya tidak setuju kalau cinta yang katanya sangat agung hanya didefinisikan dalam empat kata, sampai akhirnya si mentor melanjutkan.

“Itu makanya cinta di dunia ini cuma ada tiga. Cinta Allah terhadap makhluknya, cinta seorang rasul kepada umatnya, dan cinta seorang ibu kepada anaknya.”

Kasih ibu kepada beta

Tak terkira sepanjang masa

Hanya memberi, tak harap kembali

Entah mengapa lagu itulah yang langsung hinggap di kepala saya waktu itu. Iya juga ya, justru dengan definisi empat kata itulah malah menjadikan cinta menjadi sesuatu yang agung dan eksklusif yang tidak semua makhluk bisa memilikinya.

***

Postingan edisi ramadhan haha.

“Aldi kalau udah gede mau jadi apa?”

“Pilot!”

Pertanyaan yang sama dilontarkan kepada anak-anak lain, jawaban seperti dokter, polisi, guru, insinyur, atau bahkan pengusaha keluar dari mulut mereka.

Tibalah giliranku.

“Wilman mau jadi apa?”

“Emm…”

“Jadi dokter, pilot, atau insinyur?”

Bahkan anak kelas satu SD pun secara garis besar mengerti inti pekerjaan dari profesi semacam dokter, polisi, apalagi guru. Tapi waktu itu aku sama sekali belum mengerti apa yang dilakukan si insinyur sehingga dia pantas untuk dijadikan sebagai cita-cita.

“Eh, insinyur apa sih?” Aku bertanya kepada teman sebangkuku

“Gak tahu.” Jawabnya sambil mengangkat bahu.

Diantara semua jenis cita-cita yang dikeluarkan mulut teman-teman yang notabene sudah aku mengerti definisi kerjanya, aku memilih yang tidak aku mengerti sama sekali.

“Insinyur…Bu.”

 

 

Chapter Three : Troubleshoot

“Hahaha, Maaan, man. Cepat kau tengok ini, Man!” Ben yang sedang berada di walkway kolam aerasi memanggilku yang masih 50 m dari plant. Malam-malam begini tertawa bak kuntilanak, senang kali kawan ini, pikirku.

Kolam-kolam aerasi ini tingginya 2 m sehingga harus didaki, dengan anak tangga tentunya. Aku pun mendaki, mendaki, dan mendaki.

Ya Tuhan, ampuni segala dosaku!

Semacam peribahasa dari mata turun ke hati, dari hati kita memohon pada Ilahi, ketika aku melihat gunung buih setinggi 1,5 m di kolam aerasi lama.

“Itu…itu apa, Bang!?” Tenggorokanku masih kering karena mendaki.

“Itu caustic yang siang tadi. Jeke (JK) dah kemari barusan, dia suruh tutup valep (valve) ke aerasi baru.”

Sungguh pemandangan yang mengejutkan dari kolam aerasi lama. Adapun kolam aerasi baru tak mau kalah, ia memberikan pemandangan yang juga mengejutkan, memilukan, menyayat hati. Lumpur-lumpur mantan activated sludge mengambang-ngambang di atas permukaan air, ini adalah pertanda bahwa sang sludge sudah tidak lagi activated, yang mana merupakan indikator bahwa bakteri-bakteriku telah tewas diracun caustic. Sungguh naas, hasil pekerjaan selama dua minggu bisa diruntuhkan hanya dalam waktu beberapa jam saja.

“Ah pulang aja lah wak, pening.” Gerutuku.

Caustic soda. Senyawa yang dipakai oleh refinery minyak sawit pabrik ini untuk membersihkan instrumen dan alat-alatnya. Paling tidak senyawa ini dibuang seminggu sekali, jadi sebenarnya pembuangan caustic ke IPAL sudah merupakan hal yang lumrah terjadi. Namun kemarin adalah yang paling pekat dan paling tinggi konsentrasinya yang pernah aku lihat, dan tentu saja kemarin nyawa koloni-koloni bakteriku jadi taruhan. Tidak ada satu pun yang lumrah kali ini.

Caustic attack! Last night I came here and told Ben to close the valve, and drained it.” Kata JK.

Yes Sir, I came here too last night. I don’t know what to do now.

I’ve called a friend in India, he’s my consultant for things like these. He said just add another 500 Kg of cow dung and it should be no problem.

Ya no problem untukmu Jek, buat kami itu berarti tiga kali kerja. Tidak nyaman rasanya meminta orang harian atau pekerja kasar lagi dan lagi untuk pekerjaan yang sama. Orang harian itu bukan robot yang bisa seenaknya disuruh, ada satu titik dimana mereka bertanya, “Kemarin kan dah dicampak tai sapi tu Pak Wilman, kenapa ditambah lagi?”

Sesungguhnya hal-hal seperti perasaan tidak nyaman ini tidak akan timbul bila si orang harian berada di bawah perusahaan yang sama dengan si engineer, tetapi urusan tidak sesimpel itu di sini. Dua perusahaan muda yang bergabung untuk menyelesaikan satu proyek nampaknya memerlukan manajemen khusus untuk mengatur orang-orangnya.

I will leave at 27th. I hope we can get a better result then.” Nada JK datar, berusaha menyembunyikan paniknya. Itu artinya kurang lebih seminggu lagi waktu dia di sini. Antara senang dan sedih. Senang karena aku tidak perlu melayani kecerewetannya setiap hari. Sedih karena tidak ada orang lain yang begitu memperhatikan perkembangan bakteri-bakteri selain dirinya dari pihak pabrik ini. JK adalah orang yang sangat berpengaruh, dia membawahi beberapa departemen mulai dari engineering, laboratorium, mekanikal, elektrikal, limbah, dan mungkin departemen teknis lainnya. Berbeda dengan bawahan-bawahannya yang cuma bisa bertanya, “Kek mana? Udah banyak bakterinya?” Berorientasi pada hasil tanpa mau tahu prosesnya, JK ikut mengamati proses dan berpusing-pusing ria memikirkan solusi dari setiap permasalahan yang terjadi. Itu sebabnya jika ada masalah aku lebih suka berdiskusi dengannya daripada dengan bawahannya, begitu instruksi JK turun maka semua tidak punya alasan untuk membantah. Bahkan setelah kejadian caustic attack dia langsung mengistruksikan untuk membuat penampung caustic sementara di refinery sehingga konsentrasinya dapat diencerkan terlebih dahulu sebelum masuk ke IPAL.

Begitu malam tiba, terpaksa aku harus meminta orang-orang harian untuk lembur dan memasukkan kotoran sapi lagi ke dalam kolam aerasi, meskipun secara teknis bukan perusahaanku yang membayar lemburan mereka. Orang-orang di sini sebenarnya termasuk tekun, cerdas, dan patuh, selama mereka meyakini apa yang dikerjakannya jelas. JK pun mengakui hal ini, berbeda dengan orang India yang bila disuruh mengerjakan sesuatu mereka bisa membangkang dengan mudah, katanya. Tapi setekun dan sepatuh-patuhnya manusia, jika disuruh melakukan hal yang menurut dia tidak jelas tujuannya, apalagi ditambah imej pemimpinnya yang buruk di mata dia maka tidak mustahil seseorang juga akan dengan mudah membangkang.

That’s a different type of sludge.” Ucap JK. Ini adalah hari terakhirnya di sini, namun tidak ada perkembangan yang berarti sebenarnya dari koloni-koloni generasi baru ini, hanya memang bentuk lumpurnya lebih halus dari leluhurnya. Selain dari itu, tingginya hanya 30 ml/500 ml.

I will come back here again after lunch to check for the last time.” Lanjut JK, dia tidak dapat menyembunyikan wajah girangnya karena akan kembali ke India dan hari-harinya bergelut dengan sawit pun segera berakhir.

Very hot today yes?” JK mengibaskan tangannya. Luar biasa memang panasnya pagi ini.

Yes, Sir.

I don’t like it here, I shall quit engineering, be an actor.

Kami berdua tergelak sejenak. JK pun kembali ke kantornya dengan alasan meeting terakhir. Namun dia tidak pernah kembali untuk mengecek bakteri untuk terakhir kalinya. Begitulah balada JK berakhir, pergi tanpa pamit dan hanya mewariskan sejumlah koloni utukku.

Satu minggu berlalu tanpa JK, sepi rasanya tidak ada orang yang bolak-balik ke plant untuk sekedar melihat lumpur. Bingung dengan hanya duduk di plant tanpa tahu apa yang bisa dilakukan. Ternyata selama ini aku selalu bergantung pada arahan JK, bahkan supervisorku di Bekasi sana seringkali kuabaikan. Di tengah kebimbangan yang memuncak aku pun memutuskan untuk mengirim pesan singkat kepada supervisorku yang aku pikir awalnya pesan semacam ini tidak akan pernah terjadi karena katanya commissioning itu paling hanya dua minggu sampai satu bulan. Nyatanya aku di sini sudah dua bulan dan tidak ada tanda-tanda bahwa semua ini akan selesai dalam waktu dekat.

Bu, tgl 6 nanti sy ada acara di bdg. Sy bisa pulang dulu ga?

Menyerah? Mungkin bisa dibilang semacam itu. Kalau saja kisah ini adalah sebuah film mungkin akan berakhir dengan laju pertumbuhan bakteri yang tiba-tiba naik tajam sesaat sebelum JK pulang ke India dan aku akan berlari-lari memburu JK ke kantornya lalu berseru, “Mr. JK, the bacteria have grown drastically, oh my god you’ve done a good job, Sir!” Dan JK akan menbalas, “No, Wilman, we did the good job, we did.” Tapi ini dunia nyata, harus diakui bahwa ending melempem seperti ini malah yang seringkali terjadi.

Tak ada JK berarti tak ada bakteri, atau setidaknya akan sangat sulit jika tidak ada orang sepeduli dia. Bukannya aku tidak sanggup bertahan di sini, aku hanya tidak menemukan alasan untuk itu.

*TAMAT*

Kejar tayang takut keburu lupa kejadian-kejadiannya, haha.

Menu Warteg

Paket Akhir Bulan : Nasi + Kuah + Teh tawar

Paket Hemat : Nasi + Bakwan/Tempe + Kangkung + Teh Tawar

Paket Sedap : Nasi + Cumi/Kerang + Kangkung + Bakwan/Tempe + Teh Tawar

Paket Superior : Nasi + Ayam + Sayur Sop + Bakwan/Tempe + Es Teh Manis

Paket Deluxe : Nasi + Rendang Daging + Kerang + Sayur Sop + Es Jeruk

Chapter Two : Seeding

Recirculated Activated Sludge means that you’re recirculating sludge, not water!” Seru seorang pria tinggi kurus, berkulit gelap, dan berkebangsaan India, namanya JK. Dia adalah Chief Engineer di perusahaan minyak sawit tempat proyekku dikerjakan. Beliau juga yang mengurus masalah kontrak antara kontraktor dengan perusahaan.

Semenjak masalah dengan chemicals  belum selesai kami belum pernah berbicara langsung, sampai akhirnya keduanya bertemu untuk mengasuh makhluk-makhluk kecil bernama bakteri.

No, Sir there’s a small amount of sludge there.”

How do you know?

If you turn the sludge pump on it discharges sludge for a few seconds.

Fine, but I want the SSV to be at least 100 ml / 500 ml.

Tetapi bukan hanya lumpur yang diinginkannya, melainkan activated sludge, atau mudahnya, bakteri yang berguna untuk mengurai limbah. Tidak pernah terpikir olehku bahwa activated sludge ini akan sangat berguna, karena memang tidak seberguna itu untuk kondisi limbah saat ini. Hasil uji laboratorium masih menunjukkan nilai yang bagus, angka pencemaran masih di bawah baku mutu. Lalu untuk apa limbah itu diurai lagi? Untuk apa bakteri?

Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah pertanyaan simpel seorang karyawan kelas teri yang lucunya dia adalah seorang commissioning engineer namun dia tidak berhak untuk mengetahui kontrak antara kontraktor dengan perusahaan. Ya, keseluruhuan isi kontrak mungkin boleh dijadikan rahasia, tetapi paling tidak si commissioning engineer berhak mengetahui poin-poin apa saja yang diperlukan sehingga IPAL ini layak jalan dan tugas si engineer bisa dibilang selesai.

Sedikit-demi sedikit para pekerja proyek mulai hijrah dari pabrik ini ke pabrik yang lain, karena kebetulan ada proyek juga di pabrik sawit lain di Dumai ini, sebut saja Pabrik-2. Cocok, semakin sedikit orang disini, semakin sedikit yang bisa dikerjakan, padahal permintaan klien tidak berhenti semata-mata karena pengerjaan instalasi plant sudah selesai. Ada saja permintaan ini itu selama kami disini dan serah-terima plant dari kontraktor ke pihak pabrik belum terjadi.

Orang bilang pembeli adalah raja, apa yang mereka minta harus kita turuti. Namun ketika raja terlalu banyak minta tanpa melakuka kontribusi yang berarti bagi rakyatnya, saat itulah rezim harus digulingkan. Tetapi itu semua hanya terjadi di dalam kepalaku. Toh yang jadi rakyat disini adalah bos-bosku di atas sana, merekalah rajaku.

Kembali ke realita. Bagaimana cara memperbanyak sludge? Bagaimana cara memperbanyak bakteri? Apa itu SSV? Ibu sudah gila ya mengirim seorang fresh graduate tanpa training atau mentor untuk menghadapi kondisi seperti ini? Pertanyaan-pertanyaan di atas kulemparkan kepada supervisorku di Pulau Jawa sana melalui layanan pesan singkat, ya kecuali pertanyaan terakhir.

“SSV itu sludge settling volume, vol. lumpur yg dihasilkan dr total air/sampel air limbah. Tambahin kotoran sapi aja 1,2 ton (3000 mg/L MLSS x 400 m3). Tp hrs diisolasi bak aerasinya, inlet/outlet tertutup kl ga nnti lama tumbuhnya.” Kira-kira semacam itu tampilan yang dikeluarkan layar ponselku beberapa menit setelah Pulau Jawa dibombardir oleh pertanyaanku.

“No, we can do it without isolating the system!” Celoteh JK.

“But I think that will make the bacteria grow slower.”

“No, you tell your engineering team wether we can do it or not.”

“Ok, Sir.”

Whatever dude. Kalimat yang sangat ingin aku ucapkan di depan batang hidungnya, namun tidak pernah terjadi.

“Ya kalo dia (JK) bilang begitu ya turuti aja…bla..bla..bla.”

Kembali pesan singkat dari sang raja memenuhi layar ponselku. Rasanya ingin kulemparkan saja benda ini ke dalam kolam aerasi di depanku, siapa tahu bisa menambah jumlah SSV.

Kotoran sapi sebanyak 1,2 ton siap dimasukkan ke dalam bak aerasi. Jangan tanya bagaimana cara kami memasukkannya. Dengan hanya 4-5 orang tanpa conveyor atau alat berat lainnya, bisa ditebak kami seharusnya mendapat upah tambahan untuk ini. Posisiku secara hirarki memang engineer, di atas pekerja kasar. Tapi orang waras mana yang hanya petantang-petenteng menyaksikan 3 orang memanggul 1,2 ton kotoran sapi sejauh 30 m, 5 m diantaranya menaiki anak tangga. Belum lagi dengan kondisi cuaca khas Riau yang bersuhu 27-30° C. Bahkan orang sinting sekalipun akan terketuk pintu hatinya untuk membantu.

Bodoh kau JK! Sudah kubilang sistem ini harus diisolasi. Sekarang mana bakteri yang kita idam-idamkan!? Begitulah satu sisi pikiranku berteriak. Namun di sisi lain aku mengakui bahwa JK adalah orang yang konsisten, adil, disiplin, dan berintegritas tinggi serta humoris. Dia orang yang menyenangkan seandainya kami tidak bertemu dalam kondisi seperti ini.

Dua minggu kami menunggu tanda-tanda kehidupan dari dalam kolam aerasi, namun nihil.

“We’ve wasted a lot of time.” kata JK

“Agree, Sir.”

“OK, we isolate.”

Lagi, 1 ton kotoran sapi kami masukkan ke dalam kolam aerasi, karena yang sebelumnya sebagian besar tersapu oleh air limbah ke luar sistem mengakibatkan air hasil olahan keruh dengan COD (chemical oxygen demand) tinggi. Tidak lupa kami memasukkan pula urea dan fosfat sebagai nutrisi untuk adik-adik bakteri tersayang.

“Sir, the sludge, the SSV, it’s getting thicker. You should see!” Kata si karyawan kelas teri dengan penuh semangat.

“Well yeah that’s what I came here for.” Tukas JK, sebuah senyuman mengembang di wajahnya.

Sudah dua minggu semenjak kami mengisolasi dan memasukkan kembali kotoran sapi ke dalam kolam aerasi. Percayalah tumpkan activated sludge yang terjadi saat itu menjadi pemandangan terindah bagiku, mungkin juga bagi JK.

“That’s about 80 ml/500 ml.” Gumam JK.

“Yeah it’s almost 90 Sir, I think.”

“Very good Wilman, keep it up like this and tomorrow we’re going to recirculate the sludge to the old aeration tank. I want to see it working optimum before I leave.”

Memang terdapat dua kolam aerasi di pabrik ini, satu kolam aerasi lama, dan satu lagi kolam aerasi baru yang sedang dalam tahap commissioning. Dan kontrak JK dengan perusahaan sawit ini akan berakhir dua minggu lagi.

Saatnya semua ini berakhir, sang commissioning engineer kembali pulang ke pulaunya dengan membawa secarik kertas berita acara mengenai serah terima plant. Sebuah skenario yang sempurna bahkan ideal yang setiap hari aku bayangkan sebelum beranjak tidur.

“Woy, Man! Sini!” Seorang pemuda tinggi kurus bermata sayu memanggilku dari dekat bak penampung inlet. Namanya Ben, dia adalah operator IPAL pabrik sawit ini, baik IPAL lama maupun baru.

“Orang refinery tu buang caustic banyak, nggak apa-apa ni untuk bakterinya?” Lanjut Ben.

Cairan pekat hitam memenuhi bak penampung inlet. Secara logika, zat kimia apapun, sintetis maupun alami, apabila memapar makhluk hidup melebihi dosis maksimum, makhluk tersebut akan mengalami gangguan, atau lebih buruk, kematian. Dan mata kepalaku sedang memandang bahan berbahaya dalam dosis yang lebih dari cukup untuk membunuh seekor gajah, entah apa lagi yang bisa dilakukannya terhadap koloni-koloni bakteriku.