Monthly Archives: April 2013

Chapter One : Chemicals

Belum kudapati fakta bahwa semua ini cuma permainan logika. Semuanya terjadi begitu cepat. Seminggu yang lalu di jam yang sama dan hari yang sama aku masih tergeletak di ranjangku yang empuk di rumah, entah itu kasur kapuk ataupun kasur angin, keduanya sama nyamannya. Tiga hari kemudian aku diterima bekerja di sebuah perusahaan kontraktor yang sedang berkembang di Bekasi. Empat hari setelah itu aku sudah berada di Dumai, Riau.

Ringtone ponselku berdering menandakan ada panggilan masuk.

“Halo Wilman, gimana hari pertama di site?” Terdengar suara wanita berusia 40-an di ujung telepon. Ibu Ayu namanya. Alumni Teknik Kimia ’89 dari institut terkemuka di Bandung yang saat ini menjadi supervisorku.

“Hmm…masih berkutat dengan perhitungan chemical, Bu.” Jawabku sedapatnya.

“Ooh ya di jar test aja nanti kan dapet berapa konsentrasinya terus tinggal mainin stroke pompanya, kayak soal tes masuk kamu dulu itu lho.”

Mengiyakan setiap perkataannya seakan sudah menjadi auto-pilot yang terpasang di dalam mentalku, atau mungkin mental semua bawahan di dunia ini. Namun teori hanyalah teori, kaku, saklek, tetapi seringkali jauh lebih mudah dibanding praktek. Mungkin disinilah kebijaksanaan Tuhan menciptakan dua bagian otak. Bila otak kiri terpaku pada teori, maka sebagai orang lapangan seringkali otak kanan melakukan improvisasi. Ya, ditambah sedikit pengalaman akan sangat membantu.

Tuut tuut telepon terputus. Kumasukkan ponselku ke dalam kantong celana dan membalikkan badan ke belakang, melihat site project yang sedang dipoles, melihat para pekerja yang bersimbah keringat melakukan apa yang bisa dilakukan, melihat realitaku yang baru tanpa tahu sampai kapan aku disitu.

Kupikir bisnis mengelola limbah khususnya limbah pabrik minyak sawit hilir adalah hal yang menarik, dan kenyataan memang berkata demikian. Toh limbah yang dihasilkan tidak terlalu jorok, kadar polutannya pun tidak jauh melebihi baku mutu. Akan tetapi semuanya tak semudah mengupas bawang. Air limbah hasil olahan hari itu masih tampak merah dan keruh. Jar test sudah kulakukan dan hasil yang didapat bervariasi tentunya untuk setiap konsentrasi.

“Nah ini bagus ini, berapa ppm ini mas?” Seorang klien memboyong beaker glass berisi air bening beserta endapannya mendatangi kami yang sedang sibuk bekerja.

“Oh itu 600 ppm, Pak” Jawabku.

“600 ppm!? Bikin pabrik kimia aja sekalian di sebelah itu.”

Hmm…oke, mungkin bukan itu poin permasalahannya. Ingatlah bahwa ketika kita tidur dunia ini masih sibuk berputar. Jadi tidak ada salahnya kalau kita kurang atau tidak mengerti apa yang bukan menjadi bidang kita, karena bumi sibuk berotasi bukan hanya untukku, atau untuk kalian sendiri. Bukan hanya air putih bening yang dicari, tetapi yang terpenting adalah kondisi optimal yang dapat dicapai dari segi parameter outlet dan biaya pemakaian chemicals. Toh air outlet limbah tidak harus berwarna putih transparan layaknya air PDAM.

Dalam menghitung kebutuhan chemicals aku tidak sendiri, melainkan dibantu oleh seorang kawan, Pak Hari namanya, seorang yang berpengalaman di industri minyak sawit dan mantan analis laboratorium. Berdasarkan perhitungan beliau didapatkan hasil sekian ppm kemudian dikonversi menjadi 96 kg/hari. Angka yang tanggung, pikirku. Maka kunaikkan menjadi 100 kg/hari. Nah, tepat empat karung chemicals berhubung satu karung beratnya 25 kg. Hal ini juga memudahkan para operator dalam penghitungan chemicals yang terpakai.

Dua-tiga hari masih belum ada perubahan pada outlet air olahan. Stroke (bukaan) pompa kunaikkan menjadi 80%, tanpa jar test, tanpa rumus ataupun perhitungan, karena semua ini cuma permainan logika. Hari ke empat mulai terlihat perubahan, air tampak berwarna kuning pucat dan kekeruhannya pun semakin hari semakin berkurang. Hasil tes laboratorium pun menunjukkan angka yang cukup baik.

Commissioning (uji kelayakan) IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) sampai saat ini berjalan mulus. Sempat terpikir olehku bahwa masalah sudah berakhir. Aku dikirim pulang, libur untuk beberapa hari, kembali ke kasur anginku di rumah di Bandung. Namun sang logika yang baru saja kutemui hendak berkata, bahkan masalah sama sekali belum muncul.

Categories: Cerbung, Memory Rehearsal | Leave a comment

Blog at WordPress.com.