Si Hitam dan Si Putih

Kelabu
Kami adalah pintu, saling mengisi ketika terbuka
Saling menutup ketika tertutup

Tak beralasan untuk saling berbalas
Angkuh aku tak berharap
Selagi haus mendera
Aku takkan pernah jera

Bukan keajaiban yang aku lihat, melainkan hanya dirimu yang beratraksi
Bukan suara malaikat yang aku dengar, melainkan hanya dirimu yang berelegi

Namun peluh tidak selalu berbayar bukan?
Lantas untuk apa kau berharap cemas?
Sekarang gelagatmu ada di bawah telapak tanganku
Ikutilah ke mana dia menari hingga malam berganti hari

Bahkan seekor lalat pun tak sia diciptakan-Nya
Kau lebih dari seekor lalat bukan?
Maka bermandi peluh lah, berharap cemaslah
Karena kulihat itu lebih baik untukmu

Duniaku sembab
Meratap sudah biasa, namun itu bukan kerjaku
Bukan ibarat kau yang lemah, karena kau adalah putih

Tidak, kau yang lemah wahai pesimis!
Apa kau tak dengar sedari tadi?
Keluhanmu yang membabi buta memaksa orang sehingga membusuk!

Dia yang membusuk adalah yang tidak mengambil pelajaran
Wahai sang idealis, buatlah aku menjadi saksi atas apa yang diajarkanmu!

Ketika seseorang tak perlu mengambil pelajaran darimu, itulah ajaranku

Kelabu
Kami adalah awan
Saling berkumpul ketika terik
Saling menjauh ketika hujan

Advertisements

One thought on “Si Hitam dan Si Putih

  1. mang. sok nulis trnyata. jadi inget smp. komo eta judulna mata angin. asa inget naon. haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s