Jam Malam

Berantakan, segalanya tentang ruangan itu seakan telah angkat bicara. Koridor di hadapannya akan sangat menjerit ketika sol sepatu menggesek lantainya. Sunyi total, adalah lebih mengerikan dibanding menangkap suara benda-benda jatuh atau derit pintu dan jendela yang acap kali sangat logis untuk dijelaskan. Cahaya remang adalah lebih membius otak untuk berimajinasi membentuk rasa takut dibanding gelap pekat.

Bersama-sama mengarungi malam dengan ruangan itu, Kalih sudah merasa lelah dan pikirnya malam ini sudah cukup untuknya. Satu orang dalam gedung enam lantai hingga jam 1 pagi bukanlah hal yang mudah.

Tas laptop menggantung di bahu kiri, map berisi berkas yang kebanyakan entah apa isinya menempel di tangan kanan.
Kabut menutupi jalanan kampus. Jarak pandang menipis sampai sebatas beberapa meter. Cuaca yang sangat nyaman untuk beristirahat. Bahkan Kalih mendapati petugas parkir yang terlelap di dalam ruangannya sedangkan TV nya tetap menyala.
Bagian tersulit dari pulang pada jam malam adalah mencari angkutan. Jangankan kendaraan umum, siapa yang mau berkendara di waktu dan cuaca seperti ini?

Kekhawatiran Kalih terjawab sudah. Satu angkot melaju dari kejauhan dan berhenti di hadapannya. Tanpa supir yang berbicara, mengklakson, apalagi berteriak ”Kalapa! Kalapa!” seperti pada saat hari terang. Semuanya tampak bisu malam itu, termasuk Kalih.
Lengang, lancar sekali angkot ini berjalan. Lain dengan siang hari yang supirnya gemar sekali berhenti setiap sepuluh meter. Lampu jalan hanya bisa mengawasi dari ketinggiannya ketika kendaraan yang ditumpangi Kalih melesat.

Tak lama kemudian angkot berwarna hijau cerah ini berhenti di depan semacam markas TNI di dekat sebuah pusat perbelanjaan. Pada saat hari masih ramai lokasi ini memang sering menjadi tempat pit stop para armada hijau untuk menggaet penumpang, tapi jam satu pagi? Siapa yang masih berkeliaran di pertigaan dengan cahaya remang seperti ini? Pikir Kalih.

Pak Supir, karena bosan Kalih sesekali mengamati nakhodanya. Gayanya wajar, tidak ada yang mencolok, gerak-geriknya pun tidak mencurigakan. Bosan, Kalih menggerutu dalam hatinya. Dia menerawang ke luar jendela. Pohon-pohon dan bangunan tua berjajar saling mengisi. Sebuah kombinasi yang tepat memang di jam seperti ini. Satu sedan melintas cepat di ruas jalan. Pandangan Kalih tertancap di sedan itu, kepalanya mengikuti arah gerak matanya dari kanan ke kiri sembari melamun, enaknya punya kendaraan pribadi, pikirnya.

Ngik!

Angkot miring ke kiri seperti pada saat ada penumpang naik. Kalih spontan mengalihkan pandangannya ke pintu masuk samping, namun kosong. Matanya beralih ke kursi depan, tak ada siapapun di samping Pak Supir.

Ngik!

Chassis angkot kembali bergerak, kali ini ke kanan namun kedudukannya agak seimbang. Mata Kalih terbelalak ketika dia mendapati busa kursi di samping kanannya melengkung perlahan seakan tengah ada yang menduduki, disambung dengan cengkeraman tangan seseorang, atau sesuatu, di tangan kanannya

”Pak?” Kalih gelagapan dan hanya itulah kata yang keluar dari mulutnya.

Pak Supir agak berbalik ke arah kursi penumpang, menempelkan telunjuknya di bibirnya kemudian kembali mengemudi.

Apa dia gila? Pikir Kalih. Dalam sekejap Kalih menarik tangan kanannya, melompat ke luar angkot melalui pintu samping dengan keadaan angkot yang masih berjalan namun tidak terlalu cepat. Kalih terguling di atas aspal, namun aspal itu semakin gelap, tidak! Seluruh dunia semakin gelap, termasuk angkot tadi pun hilang ditelan kegelapan. Semua kegelapan menuju ke arah Kalih, perlahan memangsa dirinya mulai dari tangan, kaki, badan, dan akhirnya semua gelap total.
Sebercak cahaya muncul di ujung pandangannya. Kalih membuka mata, di mana ini? Sebuah tempat yang cukup familiar di benaknya. Sebuah sekolah unggulan yang sering ia lewati ketika pulang atau pergi ke kampus. Tidak jauh dari situ, bertengger sebuah angkot berwarna hijau cerah dengan supir yang sama pada waktu terakhir kali dia naik angkot meskipun entah berapa waktu yang lalu. Kalih berniat melihat jam tangannya, namun dia tak bisa melihat tangannya sendiri. Ya, dia tak terlihat. Jawabanlah yang dicarinya dan dia yakin supir angkot itu tahu sesuatu.

Ngik

Angkot miring ke kiri. Betapa terkejutnya Kalih ketika dia melihat dirinya sendiri tengah duduk di dalam angkot. Kalih duduk di samping dirinya sendiri yang tengah panik dalam angkot. Dia mencoba mencengkeram tangan kanan dari Kalih yang panik namun terlambat. Kalih yang panik melompat ke luar angkot, terguling dan menghilang ditelan kegelapan.
Kalih yang tak terlihat masih berada di dalam angkot.
”Pak? Kenapa ini?” Suara Kalih yang parau disambut oleh telunjuk Pak Supir yang. ditempelkan ke bibir. Kalih dapat menyentuh semua benda dalam angkot itu, tapi tidak Pak Supir. Semuanya kembali ditelan gelap, dan Kalih terbangun di tempat lain namun masih ia kenal, ditunggui oleh angkot hijau cerah, dengan supir yang sama. Semuanya terulang lagi dan lagi, bagaikan mimpi buruk tak berujung.
=selesai=
*fiksi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s