A Bit of Motivation Perhaps

Advertisements

Just Some Conversation

B : Hai!

A : Hai

B : Kenapa?

A : Bingung…Menurutmu kenapa kita harus dengerin suara hati?

B : Sebab, di mana hatimu berada. disitulah hartamu berada. Paulo Coelho, The Alchemist

A : Haha..

A : Aku mungkin nol, nihil, kosong, tapi tetap bernilai. Valiant Budi, Joker.

B : Bagi saya, ‘tidak ada’ pun adalah jawaban. Dee, Partikel.

A : Seseorang yang mencintai dengan mengharap kembali dicintai hanya membuang waktunya.  Paulo Coelho, Iblis dan Miss Prym

B : Bisakah kamu bayangkan, sebesar apa hati yang menampung seluruh cinta di semesta ini?–

A : Sebesar cinta itu sendiri.

B : Dee, Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

A : Mengapa kita tidak bersama saja jika saling mengagumi? Risa Saraswati, Danur.

B :Semua pertanyaan selalu berpasangan dengan jawaban. Untuk keduanya bertemu, yang dibutuhkan cuma waktu. Dee, Partikel.

A : Jadi?

B : Maktub. Paulo Coelho, The Alchemist.

 

 

 

 

Si Hitam dan Si Putih

Kelabu
Kami adalah pintu, saling mengisi ketika terbuka
Saling menutup ketika tertutup

Tak beralasan untuk saling berbalas
Angkuh aku tak berharap
Selagi haus mendera
Aku takkan pernah jera

Bukan keajaiban yang aku lihat, melainkan hanya dirimu yang beratraksi
Bukan suara malaikat yang aku dengar, melainkan hanya dirimu yang berelegi

Namun peluh tidak selalu berbayar bukan?
Lantas untuk apa kau berharap cemas?
Sekarang gelagatmu ada di bawah telapak tanganku
Ikutilah ke mana dia menari hingga malam berganti hari

Bahkan seekor lalat pun tak sia diciptakan-Nya
Kau lebih dari seekor lalat bukan?
Maka bermandi peluh lah, berharap cemaslah
Karena kulihat itu lebih baik untukmu

Duniaku sembab
Meratap sudah biasa, namun itu bukan kerjaku
Bukan ibarat kau yang lemah, karena kau adalah putih

Tidak, kau yang lemah wahai pesimis!
Apa kau tak dengar sedari tadi?
Keluhanmu yang membabi buta memaksa orang sehingga membusuk!

Dia yang membusuk adalah yang tidak mengambil pelajaran
Wahai sang idealis, buatlah aku menjadi saksi atas apa yang diajarkanmu!

Ketika seseorang tak perlu mengambil pelajaran darimu, itulah ajaranku

Kelabu
Kami adalah awan
Saling berkumpul ketika terik
Saling menjauh ketika hujan

Memory Rehearsal

Latar yang masih asing, gedung Labtek, Kolam Intel, CC Barat, CC Timur, GKU, bagi seorang mahasiswa baru yang di sore hari ini sedang berjalan di antara empat gedung Labtek menuju gerbang selatan, dengan segala keluguan atau entah kebodohannya, segala ketidakpercayaandirinya, dengan segala pasrahnya.

Dia mulai berpikir dirinya dibuat mengidap rabun senja oleh gelapnya sore hari ini. Lho, ke mana semua orang? Tentu saja, sekarang sudah kurang dari H-7 Lebaran, kontan kampus dibuat sepi oleh para civitas akademikanya. Dia berjalan mengitari Kolam Intel sampai akhirnya seorang wanita berhijab menghampiri.

“Permisi, Kak. Saya lagi nyebar kuesioner untuk survey kemampuan otak..bla bla bla. Boleh minta waktunya sebentar buat ngisi kak?”

Setelah meminta pena, si mahasiswa mulai mengisi tanpa berpikir panjang. Ada isian biodata, nomor telepon, dan pertanyaan-pertanyaan dasar semacam psikotes sederhana. Lumayan sambil menunggu adzan maghrib, pikirnya. Diserahkannya kembali kertas yang telah terisi penuh.

“Kak Wilman ya? Saya Annisa, Kak. Di sini kan ada nomor HP kak Wilman, nanti kalau udah keluar hasilnya saya hubungi lagi terus saya bisa kasih hasilnya langsung ke Kakak.” Kata Annisa tanpa sedikit pun mencabut senyumnya.

Iya terserah lah, apapun itu. Mungkin begitu isi pikiran si mahasiswa bodoh, tidak percaya diri yang pasrah ini.

“Makasih, Kak!”

***

Gema takbir mulai menghidupkan malam. Tak kalah pula gema ringtone SMS ikut menyambut hari nan suci ini. Puluhan Pesan singkat dari teman, sanak kerabat menggempur handphone yang hanya satu itu. Satu nomor tidak dikenal muncul di kotak masuk  pesan singkatnya.

Minal áidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Selamat Lebaran 1429 H.   -Annisa & keluarga

Kota Bandung termasuk salah satu kota yang sepi di hari Lebaran. Hampir seluruh penduduknya mudik ke kampung halamannya masing-masing. Namun si mahasiswa adalah orang Bandung asli, tanpa kampung halaman, tanpa tahu bagaimana rasanya mudik.

Kak Wilman ini hasilnya udah ada, saya harus kasih hasilnya soalnya saya dibayar Kak. Mau ketemu di mana? Di BIP aja gimana kak?

Lama menunggu akhirnya handphone Annisa berdering menandakan adanya sebuah pesan singkat masuk.

Waduh jangan di BIP deh, kayak orang pacaran aja, hehe. Di Taman Ganesha aja ya, saya kebetulan lagi ada acara di sana.

=selesai=

Mencoba mengingat-ingat kejadian masa lalu dan menuangkannya menjadi cerita, haha.

Jam Malam

Berantakan, segalanya tentang ruangan itu seakan telah angkat bicara. Koridor di hadapannya akan sangat menjerit ketika sol sepatu menggesek lantainya. Sunyi total, adalah lebih mengerikan dibanding menangkap suara benda-benda jatuh atau derit pintu dan jendela yang acap kali sangat logis untuk dijelaskan. Cahaya remang adalah lebih membius otak untuk berimajinasi membentuk rasa takut dibanding gelap pekat.

Bersama-sama mengarungi malam dengan ruangan itu, Kalih sudah merasa lelah dan pikirnya malam ini sudah cukup untuknya. Satu orang dalam gedung enam lantai hingga jam 1 pagi bukanlah hal yang mudah.

Tas laptop menggantung di bahu kiri, map berisi berkas yang kebanyakan entah apa isinya menempel di tangan kanan.
Kabut menutupi jalanan kampus. Jarak pandang menipis sampai sebatas beberapa meter. Cuaca yang sangat nyaman untuk beristirahat. Bahkan Kalih mendapati petugas parkir yang terlelap di dalam ruangannya sedangkan TV nya tetap menyala.
Bagian tersulit dari pulang pada jam malam adalah mencari angkutan. Jangankan kendaraan umum, siapa yang mau berkendara di waktu dan cuaca seperti ini?

Kekhawatiran Kalih terjawab sudah. Satu angkot melaju dari kejauhan dan berhenti di hadapannya. Tanpa supir yang berbicara, mengklakson, apalagi berteriak ”Kalapa! Kalapa!” seperti pada saat hari terang. Semuanya tampak bisu malam itu, termasuk Kalih.
Lengang, lancar sekali angkot ini berjalan. Lain dengan siang hari yang supirnya gemar sekali berhenti setiap sepuluh meter. Lampu jalan hanya bisa mengawasi dari ketinggiannya ketika kendaraan yang ditumpangi Kalih melesat.

Tak lama kemudian angkot berwarna hijau cerah ini berhenti di depan semacam markas TNI di dekat sebuah pusat perbelanjaan. Pada saat hari masih ramai lokasi ini memang sering menjadi tempat pit stop para armada hijau untuk menggaet penumpang, tapi jam satu pagi? Siapa yang masih berkeliaran di pertigaan dengan cahaya remang seperti ini? Pikir Kalih.

Pak Supir, karena bosan Kalih sesekali mengamati nakhodanya. Gayanya wajar, tidak ada yang mencolok, gerak-geriknya pun tidak mencurigakan. Bosan, Kalih menggerutu dalam hatinya. Dia menerawang ke luar jendela. Pohon-pohon dan bangunan tua berjajar saling mengisi. Sebuah kombinasi yang tepat memang di jam seperti ini. Satu sedan melintas cepat di ruas jalan. Pandangan Kalih tertancap di sedan itu, kepalanya mengikuti arah gerak matanya dari kanan ke kiri sembari melamun, enaknya punya kendaraan pribadi, pikirnya.

Ngik!

Angkot miring ke kiri seperti pada saat ada penumpang naik. Kalih spontan mengalihkan pandangannya ke pintu masuk samping, namun kosong. Matanya beralih ke kursi depan, tak ada siapapun di samping Pak Supir.

Ngik!

Chassis angkot kembali bergerak, kali ini ke kanan namun kedudukannya agak seimbang. Mata Kalih terbelalak ketika dia mendapati busa kursi di samping kanannya melengkung perlahan seakan tengah ada yang menduduki, disambung dengan cengkeraman tangan seseorang, atau sesuatu, di tangan kanannya

”Pak?” Kalih gelagapan dan hanya itulah kata yang keluar dari mulutnya.

Pak Supir agak berbalik ke arah kursi penumpang, menempelkan telunjuknya di bibirnya kemudian kembali mengemudi.

Apa dia gila? Pikir Kalih. Dalam sekejap Kalih menarik tangan kanannya, melompat ke luar angkot melalui pintu samping dengan keadaan angkot yang masih berjalan namun tidak terlalu cepat. Kalih terguling di atas aspal, namun aspal itu semakin gelap, tidak! Seluruh dunia semakin gelap, termasuk angkot tadi pun hilang ditelan kegelapan. Semua kegelapan menuju ke arah Kalih, perlahan memangsa dirinya mulai dari tangan, kaki, badan, dan akhirnya semua gelap total.
Sebercak cahaya muncul di ujung pandangannya. Kalih membuka mata, di mana ini? Sebuah tempat yang cukup familiar di benaknya. Sebuah sekolah unggulan yang sering ia lewati ketika pulang atau pergi ke kampus. Tidak jauh dari situ, bertengger sebuah angkot berwarna hijau cerah dengan supir yang sama pada waktu terakhir kali dia naik angkot meskipun entah berapa waktu yang lalu. Kalih berniat melihat jam tangannya, namun dia tak bisa melihat tangannya sendiri. Ya, dia tak terlihat. Jawabanlah yang dicarinya dan dia yakin supir angkot itu tahu sesuatu.

Ngik

Angkot miring ke kiri. Betapa terkejutnya Kalih ketika dia melihat dirinya sendiri tengah duduk di dalam angkot. Kalih duduk di samping dirinya sendiri yang tengah panik dalam angkot. Dia mencoba mencengkeram tangan kanan dari Kalih yang panik namun terlambat. Kalih yang panik melompat ke luar angkot, terguling dan menghilang ditelan kegelapan.
Kalih yang tak terlihat masih berada di dalam angkot.
”Pak? Kenapa ini?” Suara Kalih yang parau disambut oleh telunjuk Pak Supir yang. ditempelkan ke bibir. Kalih dapat menyentuh semua benda dalam angkot itu, tapi tidak Pak Supir. Semuanya kembali ditelan gelap, dan Kalih terbangun di tempat lain namun masih ia kenal, ditunggui oleh angkot hijau cerah, dengan supir yang sama. Semuanya terulang lagi dan lagi, bagaikan mimpi buruk tak berujung.
=selesai=
*fiksi