Selamat Ulang Tahun Untuk KP Saya!

Balikpapan 18 Juli 2011

Touchdown Balikpapan!

Itulah yang pertama kali terbersit di otak saya saat merogoh ponsel dari saku celana saya dan tampilan di layarnya menampilkan situs m.tweete.net.

Saya dan ayah saya tiba di Balikpapan pukul 15.30 WITA. Kenapa bersama ayah? Pertama, karena beliau ingin sekali bertemu dan mengucapkan terima kasih pada link KP/PKL saya yang berada di Bontang, walaupun pada akhirnya saya larang karena di Bontang belum tentu dapat penginapan dan perjalanannya pun melalui darat yang notabene 5 jam. Kedua, karena beliau ingin mengantar saya terutama kalau-kalau saya kebingungan di bandara, maklum saya sudah lama sekali tidak naik pesawat. Tidak lucu kalau saya ketinggalan pesawat hanya karena kebingungan harus ngapain di airport.

Setibanya di Sepinggan kami menginap di Hotal Santika dekat pantai dan masih termasuk bagian dari airport juga. Pemandangannya bagus, begitu buka jendela langsung terlihat pantai, tapi ini mah di Jawa juga banyak. Kami pun beristirahat sejenak dan pada malam harinya kami pergi ke Plaza Balikpapan untuk mencari makanan karena menurut saran kakak saya lebih baik makan di mall daripada di hotel, ya iya lah kakak. Kami pun berhenti di A&W, ayah memesan paket 2 : 1 ayam dan 1 nasi, dan saya memesan paket 1 : 2 ayam dan 1 nasi. Sementara ayah mencoba mengirit uang saya malah hedon.

Balikpapan-Samarinda, 19 Juli 2011

Bepergian ke tempat yang jauh seorang diri tanpa sanak kerabat satu pun merupakan hal yang baru bagi saya, begitu pula dengan bepergian ke luar pulau Jawa, dan dua hal baru inilah yang akan saya lakukan hari ini.

Kami membereskan barang-barang bawaan di hotel lalu pergi ke counter PT Pupuk Kaltim(PKT) di Sepinggan. Sebenarnya tinggal turun dua lantai saja. Setelah mengurus administrasi kami diminta untuk menunggu mobil travel. Katanya sih masih ada 8 orang calon mahasiswa PKL lainnya yang harus ditunggu, tapi kenyataannya saya hanya berangkat dengan dua orang saja itu pun bukan mahasiswa PKL. Dah papa! dadah Balikpapan!

Namanya Pak Sumiharto, asalnya dari Jawa Tengah tapi saya lupa persisnya, berusia paruh baya, berperawakan sedang, seorang lulusan SLTA/SMK (mungkin) karena beliau pernah bilang bahwa beliau tidak pernah kuliah. Orangnya baik dan cukup komunikatif sehingga bisa memecah kesunyian kami bertiga ditambah Pak Supir di dalam mobil. Beliau berangkat ke PKT bersama entah putrinya atau keponakannya, saya lupa, yang menurutku masih seumuran anak SMP, pun tak sempat berkenalan atau bahkan berbicara dengannya. Kami melaju dari Balikpapan ke Bontang, saya duduk di depan, Pak  Sumiharto bersama putrinya duduk di belakang, melewati jalan dengan topografi yang sulit dijelaskan secara ilmiah. Jalanan di sini lengang, tak heran banyak daerah rawan kecelakaan karena lekuk tubuh jalan akan sangat merangsang supir manapun untuk menginjak pedal gas lebih dalam lagi.

Bila di Bandung saya bepergian ke luar kota terutama ke kota-kota kecil tanpa jalan tol maka dalam perjalanan saya akan menemukan sengkedan-sengkedan dengan berbagai macam rekayasa tangan manusia. Tapi di Kalimantan saya melihat banyak hutan-hutan yang masih orisinil dengan topografi berbukit-bukit, indah sekali. Benar kata orang, seperti hamparan karpet hijau dan kita adalah makhluk mikroskopis yang berjalan-jalan di dalamnya. Hal yang menarik lainnya dari Kalimantan menurut saya adalah langit dan awannya, perbedaan warnanya sangat kontras, biru yang sangat biru dan putih yang sangat putih. Meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 tapi langit masih terang benderang, gabungkan kedua hal indah tadi, itulah Kalimantan. Panas memang, tapi panasnya “panas yaudah sih”. Tidak seperti Bandung yang panasnya annoying tapi saya masih tetep kangen.

Perjalanan darat selama 5 jam pun tidak akan membuat mabuk darat kalau mata kita disegarkan pemandangan seperti ini.

Kurang lebih dua jam perjalanan kami pun memasuki Samarinda dan wah ternyata di sini sedang hujan. “Aduh pingin kencing nih” bisikku dalam hati. Ah tapi nanti saja, tunggu Pak Sumiharto minta berhenti juga biar sekalian, pikirku. Hampir satu jam berlalu, ini orang gak kencing apa? Akhirnya saya memutuskan untuk meminta berhenti pada Pak Supir, saya tidak banyak berbicara dengannya, tidak sempat bertukar nama, beliau ini lahir dan besar di Sulawesi, entah dimananya, tapi kedua orang tuanya, begitupun istrinya berasal dari Jawa dan sekarang beliau tinggal di Sangatta menjadi travel pribadi mengubek-ubek kota-kota di Kalimantan Timur.

“Pak kalau ada pombensin berhenti dulu bisa ga? Saya pingin ke WC”

“Hah? Kalau mau tidur, tidur aja”

“Eh, bukan Pak! Saya mau ke WC”

“Ooh, iya saya juga belum makan dari tadi”

Entah dia menangkap inti pembicaraan kami tadi atau tidak, ya sudah kalau ada pombensin saya langsung suruh beliau berhenti saja. Percakapan aneh tadi mungkin terjadi karena beliau memutar musik disko pantura dengan volume yang lumayan, karena percakapan setelah-setelahnya normal saja. Saya sempat berpikir beliau mengidap gangguan pendengaran.

Sudah setengah jam perjalanan tidak satupun kami lewati pombensin yang berada di kiri jalan, kami hanya melewati dua pombensin yang berada di kanan jalan, itu pun yang satu penuh dan satu lagi tutup. Kota Samarinda hari ini hujan besar, banjir setinggi pinggang pun tidak segan bertamu, mengakibatkan mobil berjalan pelaaaaaaan sekali apabila melewati daerah yang banjir. Pelan ini relatif karena saya sedang menahan kencing. Daerah yang tergenang banjir pun hanya sepotong-sepotong sehingga mobil jalannya pelan, cepat, pelan, cepat.

“Nanti di terminal berenti saja, Pak. Kita makan di warung situ, di sana kan ada toilet juga.” Kata Pak Sumiharto pada Pak Supir. Luar biasa memang Pak Sumiharto ini, dia menangkap inti pembicaraan saya dan Pak Supir yang abstrak tadi. Kaki saya mulai terasa kaku, waduh gawat, kalau sampai bocor bisa-bisa disuruh bayar buat bersihin jok, belum ditambah malunya, ada cewek pula.

“Haduh Pak, banjirnya tepat di depan warung ini, mau gimana kita? Berenti sini saja?” Kata Pak Supir dengan logat Sangatta-Sulawesi, apapun itu.

Ya Tuhaaan, kenapa di depan warung sih banjirnya? Kataku dalam hati.

“Ya sudah, Pak jalan terus aja. Basah kita kalau turun di sini.” Jawab Pak Sumiharto.

Mobil pun melaju lagi, dengan kecepatan yang masih pelan relatif terhadap saya.

“Kalau ada masjid berenti saja Pak, kasian anak ini mau ke toilet” Kata Pak Sumiharto.

Iya ya, kenapa yang terpikir oleh saya malah pombensin bukannya masjid? Padahal tadi kami melewati banyak sekali masjid dengan berbagai ukuran dan arsitektur unik. Dan kalau sudah lewat terminal tidak ada lagi masjid apalagi pombensin dalam beberapa kilo kata Pak Supir. Waduh, waduh gimana ini?

Untungnya setelah melewati terminal kami hanya melewati dua atau tiga daerah banjir saja, pelan, cepat, pelan, cepat dan cepaaaaaat!

Alhamdulillah kami pun sampai di sebuah warteg yang di dalamnya ada toilet dan di seberang warung tersebut ada masjid. Saya pun cepat-cepat menyeberang jalan ke masjid dan akhirnya…fuaah! Kenapa tidak di toilet warteg saja saya pun bingung, mungkin karena panik.

Setelah makan kami kembali melaju, topografi jalan masih diluar nalar, kacau tapi keren. Sesekali ada lubang atau proyek galian di bahu jalan. Tak lama di depan kami sudah ada coklat-coklat beroperasi mencari Supir tanpa SIM atau surat kelengkapan lainnya. Pak Supir memberhentikan mobil di dekat petugas yang sedang menanyai seseorang. Beliau keluar mobil dengan membawa uang, kalau saya tidak salah lihat warnanya abu-abu, itu duit dua ribuan? Oh, polisi di sini memang semurah itu ya? Pikirku. Kemudian Beliau menyelipkan uang tersebut di tas petugas yang sedang menanyai tadi, Pak Petugas hanya memandang sekilas apa yang dilakukan Pak Supir kemudian kembali menanyai korbannya. Mobil kami melenggang dengan mudah sementara yang lain mengantri sampai gila.

“Minta SIM sama surat-surat ya Pak biasanya kalau gitu?” Tanya Pak Sumiharto

“Iya, Pak. Tapi mau bawa gak bawa biasanya sama (saja) harus bayar mereka itu. Saya nggak bawa SIM STNK ini Pak. Lima puluh ribu biasanya mereka minta, yang penting kita jangan sampai ditanya(ngobrol) sama mereka, makanya saya selipkan itu uang tadi. Bukan lima puluh ribu itu tadi Pak (yang saya selipkan), sudah tau saya gimana caranya sama polisi ini.” Jawab Pak Supir

Wah hebat juga ya beliau saking berpengalamannya. Boleh dicoba tuh di Bandung nanti, haha.

Waktu menunjukkan pukul 16.30, langit masih memanjakan mata saya. Kembali di depan kami ada antrian mobil, heran saja kalau di jalanan lengang seperti ini tiba-tiba ada kemacetan.

“Eh ada apa ini, ada mobil tidak bisa naikkah?” Kata Pak Supir, lalu dia berbalik ke arah saya.

“Ini namanya Gunung Menangis.” Katanya

“Oh, tanjakan ini, Pak?” Tanyaku

“Iya, disebut begitu itu karena orang-orang yang bawa mobil ini menangis kalau mobilnya tak kuat naik.” Jawab Pak Supir masih dengan logat hibridanya. (CMIIW, karena waktu itu jendela mobil dalam keadaan terbuka dan banyak mobil truk yang bising sehingga saya tidak terlalu jelas menangkap perkataan Pak Supir)

Woh, The Crying Mountain. Keren juga kalau ditranslate ke Bahasa Inggris, pikirku.

“Yang menangis ini ya orang-orang yang bawa truk ini lho. Kita bisa-bisa aja toh naek sini.” Sambung Pak Sumiharto dengan logat Jawanya.

Sekitar 50 Km kemudian (menurut Pak Sumiharto) yaitu pukul 17.30-an akhirnya kami tiba di Bontang. Kota yang indah, rapi, dan bersih. Jalanannya sepi bila dibandingkan dengan Bandung. Angkot yang melintas juga jarang, kalau di Bandung mobilnya angkot semua. Suhunya hangat dan bersahabat.

“Man, kamu telfon coba ke orangnya di sana (PKT) kita udah mau sampe di pabrik, tanya dia kamu harus turun dimana” Pak Sumiharto mengingatkan. Saya pun menelepon orang PKT yang sebelum berangkat tadi sebenarnya dia sudah menelepon duluan ke ponsel saya dan meminta saya untuk menghubunginya kalau sudah sampai di Bontang.

“Halo, saya sudah mau sampe, Pak…oh gitu, dimana, Pak? Petrosi? Iya Pak, Pak Siin? Iya Pak, makasih Pak.” Saya diminta untuk turun di sebuah mess bernama Petrosea yang awalnya saya kira tulisannya Petrosi. Kemudian saya dikirimi nomor Pak Siin, orang PKT yang mengurusi penginapan di sana dan disuruh bertemu dengannya yang katanya sudah standby di Petrosea.

“Petrosea dimana, Pak?” Kata Pak Supir.

“Tau kok saya kalau Petrosea, jalan tembusan Loktuan itu loh, yang bla..bla…” Jawab Pak Sumiharto. Saya tidak ingat bagaimana ancer-ancer Pak Sumiharto. Lha wong jalanan ning Bandung wae aku ra ngerti. Wah berarti kalau seandainya Pak Sumiharto tidak ikut, saya dan Pak Supir bakal nyasar keliling kompleks PKT dulu dong.

“Nih Man, kita udah masuk Petrosea, coba kamu telpon lagi orangnya. Berenti di sini dulu aja Pak!” Kata Pak Sumiharto. Mobil pun berhenti di depan sebuah gedung berwarna krem berbalut kayu-kayu dicat cokelat. Nampaknya gedung ini adalah kantor pusat dari sebuah anak perusahaan PKT.

Saya pun mencoba menelepon Pak Siin, namun sebelum telepon tersambung di samping kanan mobil kami sudah ada pria bermotor berusia sekitar 40 an.

“Mahasiswa ya?” Tanyanya sambil membuka kaca helm.

Fiuh, hari yang sangaaaat panjang.

***

Bikin kisah nyata nggak sesulit bikin cerita fiksi ya, gak perlu banyak mikir, haha.

Semua hal tadi memang seru, menarik, dan menantang. Ada sensasi tersendiri ketika kita tahu kita jauh dari orang-orang yang kita sayangi dan dari tempat yang kita anggap nyaman. Tetapi semua hal tadi akan jauh lebih seru bila kita ditemani seseorang dari zona nyaman kita, siapapun itu, cewek, cowok, terserah, yang penting paling tidak ada satu orang di samping kita sehingga ketika kita melihat pemandangan bagus tadi kita bisa bilang,”Eh langitnya bagus cuy di sini!” atau “Kamu liat deh awan yang disana, bentuknya mirip kamu, bulet-bulet ga jelas”.

Haha, seperti kata film The Marvelous Misadventures of Flapjack, “Adventure is a sad thing when you’re all alone.” Dan seperti kata saya, “Sometimes friends make your life hard, but it’s always harder without them.”

Advertisements