Catatan Si Mahasiswa Tingkat Akhir

Bak sebuah patok *ceileh* kalau orang mendengar frase mahasiswa tingkat akhir itu pasti gagasan, imej, paradigma yang muncul adalah tugas akhir, skripsi, stres. Memang benar, kalau seandainya otak kita dipatok, nah loh!? Dipatok buat TA (tugas akhir) aja maksudnya.

Terlepas dari TA, sebagai mahasiswa tingkat akhir saya memiliki lebih banyak waktu luang cenderung gabut. Nah di sinilah menariknya. Saya adalah orang yang sangat cepat bosan, tidak senang dengan rutinitas. Dengan banyaknya waktu kosong ini saya bisa mengerjakan banyak hal yang berbeda-beda setiap harinya dan inilah hidup menurut saya. I ain’t no shittin’ y’all, this is life dawg!  

Satu hari saya jadi mahasiswa (tingkat akhir), hari lain saya jadi pelamar kerja, besoknya jadi pengawas ujian, besoknya lagi jadi kuli. Satu hari ansos seharian di rumah eeh besoknya seharian keluar rumah nggak pulang-pulang.

Mungkin di semester sebelumnya memang saya sangat sulit untuk bisa merasakan yang namanya waktu luang, gabut, bahkan main, dikarenakan kuliah masih padat dan tugas-tugas yang bejibun. Maka di semester ini saya diberi kesempatan untuk lebih hidup *azek*.

Masih banyak hal lain yang ingin saya lakukan sebenarnya, les bahasa, les alat musik, ujung genteng (haha), apapun lah itu asalkan sesuatu yang baru buat saya.

Buat saya semester 8 itu semester paling seru selama di ITB! Sekali lagi, terlepas dari TA.

Namanya Pak Efrudin

ngeeng, ngeeng!

tiin tiin!

Bising, luminansi rendah, suhu cukup nyaman, itulah yang saya rasakan di kosan salah satu teman saya di Dago atas. Kebetulan kosan tersebut terletak tepat di pinggir jalan jadi begitulah kondisi yang saya rasakan. Tiga hal tadi, kebisingan, pencahayaan, dan suhu adalah pokok bahasan dalam mata kuliah Fisika Lingkungan yang saya ambil di semester 6. Untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan mata kuliah tersebut kami diwajibkan untuk melakukan praktikum pengkukuran kebisingan di salah satu tempat misalnya kosan, fasilitas umum seperti masjid, dsb.

Sebelum pengukuran berlangsung, semua berjalan normal. Yah apa yang menarik dari pengukuran kebisingan menggunakan sound level meter?

Pengukuran dilakukan oleh dua orang di tangga dekat ruang depan. Sound level meter sudah saya tenteng, menarik karena bentuk kotak pembungkusnya seperti koper. Orang pintar manapun tahu manakala membuka sebuah koper, maka hal pertama yang dilakukannya adalah menyimpan koper tersebut dalam posisi tidur kemudian baru membukanya. Namun sayangnya hari itu saya bukan orang pintar. Dengan kondisi koper masih dijinjing saya membukanya langsung dan brak! Sound level meter beserta antek-anteknya tumpah ruah menghantam anak tangga.

Saya dan teman saya tercengang sejenak. Mengambil alat ukur naas itu dan mengetesnya. Ketika sebuah SLM menerima suara maka jarumnya akan bergerak ke kanan, itu yang terjadi pada SLM yang normal, lain lagi dengan yang terjadi pada sebuah SLM yang celaka. Jarum dari SLM yang kami pinjam dari lab Fisika Bangunan tidak bergerak, hanya bergerak sedikit namun pada 1/4 perjalanan ke kanan jarum itu terhenti. Pada akhirnya saya menemukan cara, biarpun tidak selalu efektif, untuk membuat jarum itu senantiasa bergerak dengan cara memiringkan SLM. Pengukuran dilakukan dengan data seadanya entah benar atau salah.

Esok harinya saya mengembalikan alat ke lab Fisika Bangunan dan bertemu dengan seorang lelaki paruh baya, kurus, botak di tengah kepala yang seakan sudah menjadi ciri khas seorang senior lab.

“Pak ini alatnya saya kembalikan”

“Oke, ini KTM kamu”

Di luar dugaan Bapak ini tidak mengecek SLM itu terlebih dahulu, hanya membuka kopernya lalu menutupnya kembali.

“Emm… Pak, kemarin alatnya jatuh terus…” bla bla bla saya ceritakan balada SLM dengan muka memelas.

“Loh kok bisa gitu dek?”

Bapak ini kemudian mengetes SLM dan saya bersiap untuk apapun itu yang akan datang.

Lalu beliau berkata, “Wah kalau begini ini bisa ininya yang salah atau itunya yang salah” entah apa ininya dan itunya itu saya tidak ingat, yang saya ingat adalah kalimat berikutnya,”…ini harus dicek dulu ke Serang (kalau tidak salah), kalaupun cuma ininya yang salah, biayanya minimal Rp. 500.ooo”

“Waduh, Pak…gimana dong Pak?”

“Iya dek, saya juga harus melapor sama dosen kamu.”

Masya Allah, Rp. 500.000 (minimal) melayang dan saya akan dilaporkan ke dosen, bagaimana nasib nilai saya nanti?

Tapi..

“Ya sudah gini saja, saya minta nomor kamu, kalau seandainya alat ini dicek dan bisa diperbaiki, saya nggak bakal lapor ke dosen kamu.”

Saya pun memberikan nomor kontak dengan muka yang lebih memelas daripada di awal tadi.

“Oiya, coba lihat lagi KTM kamu… Wilman…Fathurochman. Kamu orang Bandung?”

“Iya, Pak” Nama dengan pengulangan memang menjadi ciri khas orang Sunda.

“Ya sudah nanti saya hubungi lagi ya”

“Baik, Pak. Bapak dengan Bapak siapa ya?”

“Efrudin”

***

Alhamdulillah sampai saat ini saya tidak pernah dihubungi oleh Bapak Efrudin ini, nilai mata kuliah Fisika Lingkungan saya pun nampaknya tidak terpengaruh oleh insiden ini. Terima kasih, Pak. Semoga kebaikan Bapak dibalas dengan yang lebih baik.

Bingung

Tanpa laju
Tidak pula urung

Senantiasa menemani arus meskipun pada akhirnya diriku akan ditanggalkannya juga
Tak terpancang meskipun hingga akhirnya terdiam merenungi pancang itu sendiri

Yang mana ruang?
Yang mana waktu?

Ah, aku bingung!

Sebagaimana pun alasan yang diukir
Serabun jelaga, seputih kilat, sebening supernatan

Bahkan bumi terkekeh, puas dengan segala kesinisan penghuninya

Masih bingung, selalu bingung

Bukankah ini harus dilalui? Tidak!
Bukankah setiap orang punya pilihan? Abaikan!

Tepat di jantung hati tertancap sifat pengecut yang paling dalam untuk melangkah
Nyali ciut, tanpa pecut, penuh kalut
Cukup satu alasan bagi seorang pengecut, bangkai lah yang tersisa di tempat ini

Anggap lah ini tempat yang tenang
Bingung adalah tempat yang tenang
Dan aku suka tempat yang tenang

***

Iseng di tengah malam dihimpit kebingungan, hadeh bingung cuy