Angkot (Part 6)

P : kiri!

*Angkot berenti, penumpang ngasih duit

S : dari mana, Neng?

P : pombensin

S : pombensin mana?

P : pombensin mana hayoo?

Advertisements

Impian yang Terwujud

Ini kisah nyata

Aduh laper nih, wah kebetulan ada Indomie goreng di depan mata.

nyam…nyam…

nyam

Ih kok bumbunya nggak ngaduk sih?

aduk, aduk, aduk

Kok susah banget ngaduk bumbunya? Kan nggak enak makan mie instan nggak pake bumbu! Ah, yaudah lah makan aja daripada laper, hoek.

perut mual

Loh mana Indomienya? Alhamdulillah ternyata cuma mimpi, tapi ternyata perut beneran mual.

bangun, keluar kamar, turun tangga, mual berubah jadi laper, pergi ke dapur.

Wah ada Indomie goreng!

Panasin air, buka bumbu

Kok bumbunya (yang bubuk) ngegumpal? Ya ampun ini pasti bakal susah diaduk, dan memang benar

makan mie dengan bumbu yang susah diaduk, tapi masih lebih enak dibanding dengan yang di mimpi.

***

Iya, judulnya emang lebay.

Sehari Tanpa Jam dan HP

Matahari belum muncul, tapi hari sudah cukup terang untuk bisa membedakan benang hitam dan benang putih di cakrawala. Saya bangun untuk melaksanakan sholat Subuh, kemudian tidur lagi, hehe.

Alarm dari HP berbunyi, hari ini adalah hari terakhir saya kuliah di ITB dan tidak mau mengambil resiko melewatkannya hanya karena sebuah percobaan iseng. Mau tidak mau saya harus tahu bahwa pada saat itu waktu menunjukkan pukul 7.45. Saya pun mandi dan berangkat ke kampus setelah mematikan HP.

Selama perjalanan saya hanya bisa mengira-ngira waktu. Saat mematikan HP tadi, sekali lagi saya mau tidak mau harus melihat waktu.  Jam di HP menunjukkan pukul 8.20. Perjalanan saya ke kampus maksimal 45 menit dan kuliah dimulai pada jam 09.00. Sesampainya di kampus saya bertemu dua orang teman saya, sebutlah si A dan si B. Nampaknya saya sudah terlambat karena mereka berdua terlihat terburu-buru.

“Emang kita udah telat ya?” Tanya saya pada si A, si B sudah setengah berlari mendahului kami karena dia harus presentasi di kelas.

“Udah jam 9 lebih 5 sih.”

Wah lagi-lagi saya tahu waktu, memang sulit sekali hidup tanpa jam (waktu). Padahal saya sudah berusaha bertanya yang jawabannya sebenarnya bisa dijawab dengan ‘sudah’ atau ‘belum’.

Hari itu berlangsung biasa, normal, memang sulit melalui hari tanpa melirik ke arah jam, seringkali sudah refleks mata ini memandang jam apalagi jam dinding, tapi hari itu saya jalani sebisanya.

Anehnya saya tidak menemukan banyak kendala dalam menjalani sehari tanpa HP. Kecuali ada keadaan yang mengharuskan saya menyalakan HP, saya tidak akan menyentuhnya. Semalam sebelumnya saya sudah memutuskan untuk mengecek HP pada waktu tertentu yaitu pada sore hari kalau-kalau ada panggilan darurat dari orang tua, itu saja.

***

Jadi sehari itu saya iseng mencoba bagaimana rasanya hidup dengan hanya mengandalkan pergerakan matahari (seharusnya, karena masih banyak kejadian-kejadian yang membuat saya tahu jam) dan tanpa alat komunikasi jarak jauh (seharusnya, karena masih ada internet di komputer :p). Yah, namanya juga iseng.

Oh iya, jam di komputer sudah saya acak sehari sebelumnya sehingga saya tidak bisa mengetahui jam ketika menggunakan komputer.