Negeri Pedang dan Negeri Permen

Di sebuah dunia antah berantah, ada dua negeri yang letaknya bersebelahan.

Yang satu Negeri Permen namanya, terletak di sebelah timur dunia tersebut. Layaknya nama dari negeri ini, komoditas utamanya adalah permen. Roda perekonomian mereka diisi penuh oleh permen-permen yang mereka buat dan mereka makan. Orang-orang Negeri Permen hidup damai dan sejahtera dilengkapi dengan warna-warni bangunan mereka bak permen yang menggugah selera.

Di belahan bumi lain di dunia tersebut, terdapat Negeri Pedang. Negeri ini terkenal miskin dan sulit untuk dikategorikan sebagai sebuah negeri yang layak ditinggali. Rakyatnya menyambung nyawa hanya dengan berburu atau membuat senjata. Bangunan-bangunan kumuh dan pakaian orang-orangnya yang lusuh sangat mencerminkan bagaimana kondisi sosial mereka.

Suatu ketika, hewan-hewan buruan di Negeri Pedang habis. Banyak dari warganya mati kelaparan. Pita ekonomi mereka terputus. Tidak ada lagi yang berburu apalagi membuat senjata.
Pada akhirnya, Pemimpin Negeri Pedang gundah kemudian lepas kendali dan memerintahkan rakyatnya untuk menyerang Negeri Permen. Maka pergilah mereka ke Negeri Permen dengan segenap kekuatan dan senjata yang ada.

Warga Negeri Permen yang berada di perbatasan negara mengetahui hal ini kemudian memberitahukannya kepada Pemimpin Negeri Permen. Sang Pemimpin Kembang Gula itu pun bingung, kalut karena dia baru menyadari bahwa negerinya tidak pernah menghadapi konflik apapun dengan negara tetangga. Dia takut, seisi Negeri Permen takut karena mereka tahu bahwa satu-satunya senjata yang mereka miliki…adalah permen. Tidak ada benteng pertahanan di perbatasan, tidak ada pedang, tidak ada jalur evakuasi, tidak ada keberanian, hanya sejuta ton permen.

Akhirnya Sang Pemimpin Negeri Permen memerintahkan seluruh rakyatnya untuk berlindung di rumahnya masing-masing, berdoa untuk yang terbaik.

Tibalah orang-orang Negeri Pedang di Negeri Permen. Mereka terkejut dengan keadaan yang begitu sepi seperti tanpa kehidupan, kemanakah orang-orang negeri ini? Tak inginkah mereka melawan kami, orang yang akan mengambil alih negerinya?
Pasukan Negeri Pedang sudah memenuhi setiap ruas jalan Negeri Permen, mereka hendak menuju pabrik permen pusat meskipun mereka pasrah dan tak mengerti bagaimana cara kerja pabrik itu.

Tiba-tiba dari dalam sebuah rumah, seseorang melempar permen-permennya ke arah orang-orang Negeri Pedang. Satu, dua, tiga, sekarung, dua karung permen. Aksi ini kemudian diikuti oleh rumah-rumah di sekitarnya. Empat karung, sepuluh, seratus, begitu seterusnya tindakan ini ditiru dari rumah ke rumah seperti wabah yang menyebar. Seribu, sejuta, semiliar karung permen hingga akhirnya seluruh jalanan di Negeri Permen dibanjiri oleh benda mungil nan manis ini.
Para pemimpin dari kedua negeri tertegun melihat pemandangan ini, mata mereka terbelalak, mulut keduanya terbuka lebar untuk beberapa detik.

Bruk!

Satu karung terakhir terlempar keluar rumah memecahkan lamunan orang-orang Negeri Pedang dan Pemimpin Negeri Permen.

“Apa yang kalian tunggu? Simpan senjata kalian dan ambil semua permen itu!” Seru Sang Pemimpin Negeri Pedang

Trang…trang…trang,trang,trang

Satu persatu senjata dijatuhkan, satu persatu pula karung permen mulai lenyap dari jalanan negeri itu. Hanya ada satu-dua pasang mata yang cukup berani untuk mengintip dari balik jendela rumahnya dan melihat apa yang sedang terjadi di negeri mereka. Tidak akan ada satu pun dari warga Negeri Permen yang cukup berani untuk keluar rumah dan mengancam balik warga Negeri Pedang, Sang Pemimpin Negeri Permen sangat yakin akan hal ini.

Ketika karung terakhir diambil, Pemimpin Negeri Pedang memberikan seruan terakhirnya pada hari itu

“Kumpulkan semua permen, mari kita pulang, tinggalkan semua senjata kalian di sini!”

Di senja itu, setelah semua orang Negeri Pedang pergi, setelah Sang Pemimpin Negeri Permen menghela nafas panjang, warga Negeri Permen berlarian ke luar rumah, mengambil satu pedang dan tameng kemudian menyimpannya di dapur mereka. Tanpa kata-kata, tanpa komunikasi satu dengan yang lainnya, seolah seisi negeri telah mengerti bahwa hari ini, sebuah permen bisa menyelamatkan nyawa mereka dan pada saat itu juga di sisi lain masih ada orang yang lebih membutuhkan permen tersebut. Bahwa musuh mereka saat itu bukanlah orang-orang Negeri Pedang, melainkan keadaan dan sistem.

*Tamat*

Terinspirasi dari mimpi tadi pagi.

It’s not just about what you have, it’s also about what you do with it.

Suara Itu…

Zamannya mata kuliah Gartek (Gambar Teknik), berarti sekitar dua tahun yang lalu.

Jadi ceritanya di hari itu harusnya ada asistensi Gartek jam 12.00 WIB, tapi karena satu dan lain hal asistensinya dibatalkan. Hore, saya dkk bebas tanpa kuliah padahal perjalanan saya dari rumah ke kampus cukup jauh. Akhirnya saya memutuskan untuk sholat dzuhur dulu di musholla di gedung prodi kami. Waktu itu siang bolong dan ramai pula, karena tidak hanya saya yang berniat solat di musholla itu. Saking ramainya saya harus menunggu kloter ke dua untuk bisa sholat. Waktu itu yang menunggu kloter ke dua di dalam musholla ada dua orang, saya dan teman saya sebut saja si A, kebetulan dia perempuan. Saya menunggu di samping pintu masuk sedangkan si A menunggu di tembok yang berlawanan dengan saya jadi posisi kami berhadapan dan dipisahkan oleh orang-orang yang sholat.

Nah, beberapa saat setelah Imam mengucapkan salam, ada space kosong untuk dua orang di depan si A yang tadinya diisi dua  jamaah yang kemudian cepat-cepat pergi, mungkin karena terburu-buru. Shaf yang memiliki space kosong ini adalah shaf laki-laki dan masih ada dua orang laki-laki yang solat di shaf ini karena masbuk (terlambat berjamaah). Dalam aturannya, wanita tidak boleh sholat sejajar (satu shaf) dengan laki-laki.

Saya pun bergegas untuk sholat di situ, di space kosong tadi, tapi kemudian si A bertanya

“Aku boleh nggak ya solat di sini?”

Baru saja saya akan membuka mulut untuk menjawab, tiba-tiba muncul suara lembut seorang perempuan

“Nggak booleeh.”

Secara refleks saya melihat sekitar dan semua perempuan yang ada di musholla itu sedang sholat kecuali si A. Saya membalikkan badan untuk melihat ke luar pintu musholla tapi tak ada siapa-siapa di luar musholla, kecuali orang-orang yang duduk-duduk jauh dari musholla, di dekat tempat wudhu.

“Tadi siapa yang bilang nggak boleh ,A?” Tanya saya

“Hah? Apa?”

“Tadi yang bilang nggak boleh siapa?”

“Yang bilang nggak boleh? Maksudnya?”

“Tadi ada yang bilang nggak boleh, kamu nggak denger?”

“Nggak”

“Oh, yaudah deh, mundur dikit dong, saya mau solat.”

Saya pun sholat tanpa memperpanjang urusan tentang apa yang saya dengar tadi. Kemungkinan sih suara itu dari orang-orang yang duduk-duduk di dekat tempat wudhu, tapi kok si A nggak denger ya? Mungkin karena dia berada di ujung ruangan. Tapi FYI, ruangan itu hanya kurang lebih 3 x 3 m dan semua orang kecuali saya dan si A di dalam ruangan itu sedang sholat jadi seharusnya ruangan itu hening dan suara yang masuk bisa didengar dengan jelas. Mungkin saya yang salah dengar atau si A yang tidak mendengar.