Kendaraan Umum, Haruskah Jadi Korban?

“Balik sama siapa, Man?”
“Sendiri.”
“Oh, lo bawa motor?”
“Nggak, pake angkot.”

Dan saya sudah tahu pertanyaan berikutnya pasti, “Hah? Emang masih ada angkot jam segini?”
Percakapan macam tadi pasti terjadi di atas jam 10 malam dimana tidak semua trayek angkot masih beroperasi di atas jam tersebut. Salah satu trayek yang masih beroperasi pada jam tersebut adalah Kalapa-Dago, angkot yang sehari-hari saya pergunakan jasanya untuk pergi ke kampus semenjak saya menjadi mahasiswa.

Wow, hebat memang trayek Kalapa-Dago ini. Saya dulu pernah pulang jam 2 pagi dari kampus dan masih ada angkot ini. Dulu pernah juga sih pulang jam 4 pagi tapi ternyata setelah setengah jam menunggu, tumpangan saya tak kunjung tiba. Akhirnya pulang pake taksi.
Terlepas dari itu, mendengar kabar dan berita akhir-akhir ini tentang keamanan (jangan tanya kenyamanan) berkendaraan umum, sebagai seorang pengguna setia angkot saya jadi was-was, apalagi saya seringkali pulang malam. Ya namanya juga mahasiswa, hihi. Selain itu saya juga merasa kasihan sama supir angkot yang lain karena bisa saja penumpang mereka berkurang atau imej mereka rusak, karena setiap ada kejahatan yang terjadi di suatu transportasi umum pasti ada semacam prasangka bahwa si pelaku kejahatan bekerja sama dengan supir.

Melenceng sejenak yuk.

Ngomong-ngomong soal supir, saya tiap hari ngangkot jadi sedikit-sedikit sih tahu pahit manisnya jadi supir angkot. Pertama, supir angkot itu dikejar setoran, kedua, angkot itu dianggap musuh oleh semua pengguna jalan karena bikin macet, dan masih banyak lagi. Perlu diketahui, supir angkot itu cuma ingin cari duit, dia nggak bakal bikin macet kalau nggak perlu. Para pengguna setia angkot pasti ngerti gimana tuh ngebutnya angkot yang setorannya udah kekejar. Ketika saya telat kuliah terus angkotnya ngetem, sebisa mungkin saya tidak menyalahkan supir angkot, emang sih muka supir angkot yang ngetem itu nyebelin tapi harusnya saya yang berangkat lebih awal ke kampus biar nggak telat.

Cukup melencengnya, sekarang balik lagi!

Sebagai seorang penyandang epilepsi, saya tidak diperbolehkan untuk mengemudikan kendaraan, apapun itu, mobil, motor, sepeda, becak. Maka dari itu, meskipun sudah setua ini saya masih belum memiliki SIM. Jadi mau tidak mau saya masih akan menggunakan kendaraan umum kecuali ada yang mau antar-jemput saya. Apalagi saya sudah tingkat akhir dan takutnya harus pulang malam dari lab (Iya ya? Atau nggak?).
Dihadapkan dengan permasalahan semacam ini saya pun bingung. Dan tepat ketika saya bingung kalimat apa yang harus ditulis selanjutnya, saya menemukan link ini dari sebuah tweet @infobandung , ini linknya. Ya semoga saja cepat direalisasikan, tapi kalau pakai lampu darurat bisa saja si supir diancam oleh si perampok agar tidak menekan tombolnya. Apalagi kalau penjahatnya pakai senjata api. Selain dari itu, bagaimana kalau si penjahat beraksi tengah malam dimana menyalakan lampu darurat adalah hal yang sia-sia karena jalanan sudah lengang?
Ah, nggak tau deh. Mari buka jendela terdekat dari posisi duduk kita jadi kalau-kalau terjadi sesuatu kita bisa lompat keluar jendela, haha. Berdoa saja lah untuk keselamatan seluruh pengguna kendaraan umum.

Advertisements

3 thoughts on “Kendaraan Umum, Haruskah Jadi Korban?

  1. serba salah juga yak man. bawa alat pertahanan diri. something sharp. atau pakai botol axe diisi sama sesuatu bersifat asam dan pedih dimata.. sabun atau sambal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s