Suatu Siang Di Rumah (Cerpen)

“Tri, jaga rumah ya! Mama belanja dulu”

“jangan beliin aku susu ma, gak bakal diminum”

“ck, kamu ini..”

Mama membalikkan badan, mengambil tas belanjanya lalu membanting pintu. Bukan berarti dia marah, pintunya memang harus agak dibanting supaya benar-benar terkunci rapat. Di siang bolong ini lagi-lagi aku ditinggal sendirian di rumah, mama tidak seperti tetangga lainnya yang menitipkan anak-anaknya di rumah tetangga yang lain ketika orang tuanya harus meninggalkan rumah. Toh aku juga tidak suka dititip-titip begitu, kayak barang bawaan atau helm di mall. Lagipula mama hanya pergi sebentar saja.

Lingkungan kompleks perumahanku termasuk sepi, padahal ini siang hari tapi orang yang lewat hanya satu-dua saja. Maka dari itu, aku memutuskan untuk tidur, sama seperti biasanya. Kamarku berada di sebelah pintu masuk, berisikan tempat tidur ternyaman, meja belajar, dan lemari pakaian. Dengan posisi tidur, aku bisa melihat halaman depan rumah dari jendela yang berada di sampingku.

Aku pun mulai memejamkan mata, tapi aku bukan orang yang semudah itu tertidur. Minimal harus menunggu 15 menit untuk benar-benar terbang ke alam mimpi. Aku pun membuka mata kembali, melamun, tutup mata lagi, buka lagi, tutup lagi, sampai akhirnya aku membuka mata lagi tiba-tiba aku melihat seorang lelaki tua renta berdiri bersandarkan tongkatnya di halaman depan menghadap pintu.

“itu siapa ya? mungkin temennya mama” gumamku

Aku tidak berani membukakan pintu, maling dengan tangan kosong pun pasti berani kalau tahu di rumah ini isinya hanya seorang bocah 12 tahun. Lagipula mama selalu melarangku membukakan pintu untuk orang yang tidak dikenal.

Akan tetapi dia hanya berdiri di situ, lama sekali, tidak menekan bel, tidak mengetuk pintu. Sampai akhirnya dia menoleh ke arahku. Ya ampun, biarpun aku ini anak tunggal tapi aku tidak cengeng, aku tidak pernah berharap mama bisa pulang lebih cepat, tapi kali ini keinginan itu begitu kuat. Mata lelaki tua itu jelas-jelas menatapku menembus tirai jendela, namun tidak jelas apa ekspresi wajahnya, apakah sedih atau marah. Air mukanya sangat datar.

Setelah beberapa detik menatapku, buatku seperti satu jam, dia membalikkan badan dan pergi. Aku menghela nafas panjang, panjang sekali. Kemudian menyambar selimut dan menutupi seluruh tubuhku dari kepala sampai ujung kaki.

tok,tok,tok..”

astaga, dia ngetuk pintu!“ 

Aku semakin menyelubungi diriku dalam selimut, namun suara ketukan itu malah semakin nyaring karena sekarang ia mengetuk kaca jendela kamarku.

tok,tok,tok,tok,tok…Tri, bangun sayang, bukain pintu!”

Lega sekali rasanya dadaku mendengar suara lembut itu.

“Ya ampun ma, kenapa nggak pencet bel sih?”

“belnya kan rusak, ayo cepet bukain pintunya”

Aku pun bergegas mencari kunci rumah.

“Ma, kuncinya dimana? kan biasanya di meja sini mama naronya

“Di laci situ, tadi mama buru-buru jadi ditaro di situ aja sekalian ngambil dompet”

Kunci puntu rumahku memang bisa dikunci tanpa menggunakan kunci, jadi ketika pintunya ditutup akan terkunci dengan sendirinya.

Aku pun membuka laci yang dimaksud mama, dan aku agak kaget saat aku melihat sebuah foto yang di dalamnya ada wajah yang mirip sekali dengan kakek tua tadi, dia berdiri di antara mama dan almarhum papa. Mungkin ini kakekku, pikirku. Ya ampun, dari tadi aku membiarkan kakekku ini di luar rumah sampai akhirnya dia pulang dengan sendirinya, pantas saja ekspresinya begitu.

tok,tok,tok…udah ketemu belum Tri kuncinya?”

Kaget, aku pun langsung mengambil kunci yang tergeletak di sebelah foto tadi dan membukakan pintu untuk mama.

“nih, mama beliin susu, yang ini merknya beda Tri, siapa tahu kamu suka”

“yah,ma susu itu dimana-mana sama aja, gak enak”

“coba dulu! Anaknya temen mama si Fara itu sama kayak kamu, gak suka susu, tapi akhirnya dia mau loh minum yang ini”

Sebelum perdebatan ini berlangsung lebih lama lagi, aku segera mengambil foto tadi dan menunjukkannya pada mama.

“Ini siapa,ma?” Kataku sambil menunjuk wajah kakek tadi.

“Oh, itu kakekmu”

“tadi dia kesini ma, tapi aku gak bukain pintu soalnya gak tahu kalau itu kakek”

“kakekmu itu meninggal waktu kamu umur 2 tahun,Tri. Makanya jangan kebanyakan nonton film horor, kebawa mimpi tuh filmnya”

Mendengar perkataan mama barusan aku benar-benar kaget, sekaget-kagetnya.

“Hah!? Tapi itu bukan mimpi, ma. Dia beneran ke sini, tadi dia berdiri di depan rumah kita”

“Hus,ngawur kamu! Nih minum susunya!”

Aku pun menenggak susu itu sampai habis, hal ini kulakukan lebih karena panik, bukan karena susunya enak. Sampai hari ini pun mama tidak pernah mau percaya dengan ceritaku.

*Tamat*

Cerita di atas saya reka ulang dengan kata-kata saya sendiri. Banyak sih yang dirubah karena saya sudah lupa detail ceritanya, intinya si anak itu melihat kakeknya yang sudah meninggal dari jendela kamarnya ketika dia ditinggal sendiri di rumah. Cerita ini saya dapatkan dari sebuah majalah anak, MAJALAH ANAK loh! Entah itu Bobo atau Orbit, saya lupa. Nggak tahu juga apakah ini kisah nyata atau bukan. Saya membacanya sekitar 10-12 tahun lalu, di siang bolong yang sepi di rumah dekat jendela kamar yang dari situ saya bisa melihat halaman depan rumah, ini serius tapi untung waktu itu ibu saya ada di rumah, haha.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s