Dari PEKKA Sampai Swasta

Dulu aku tak mengenalmu

Tak saling sapa tak menyatu

Potongan bait pertama dari lagu angkatan saya, angkatan 2008, Bhupalaka. Lagu ini dibuat oleh teman-teman angkatan saya, Nopa dan Wawank ketika kami satu angkatan sedang menjalani proses PEKKA, dimana waktu itu menyanyikan lagu ini masih terasa aneh karena ada kalimat “dulu aku tak mengenalmu”. Lah kan emang baru awal masuk, masa langsung kenal?

Tapi ternyata Nopa dan Wawank itu orangnya visioner *azek*, seiring berjalannya waktu, semakin kami merasakan kebersamaan di angkatan kami dan pada saat itu juga semakin dalam lirik lagu ini saya rasakan. Kata “dulu” akan semakin “dulu” seiring dengan bertambahnya usia kami.

Tak ada senyum di wajahmu itu

Dan aku tak ingat namamu

Sampai sekarang saya masih menyimpan buku angkatan saya, dan akan terus saya simpan sampai mati kalau bisa. Mengingat dulu itu ngisinya susah dan penuh perjuangan sampai copot-copot kertasnya dan akhirnya saya sebar untuk diisi oleh teman-teman seangkatan   lalu dikumpulkan kemudian saya jahit sendiri.

Di tengah agitasi Tadis, di tengah kerempongan tugas gambar perspektif, profil hidrolis mekflu, dan pemetaan, di tengah konflik internal, kami mulai mengenal satu sama lain. Disuruh ngafalin nama dan NIM lah, ngafalin penyakit tiap orang lah (ini yang paling nggak masuk akal), dikasih tugas ini-itu sampai gila. Saya juga masih tidak percaya pernah melewati masa-masa itu, mungkin saking nyantainya sekarang kali ya. Saya masih inget itu si Regi, ketua angkatan saya nyebutin satu-persatu nama & NIM dari awal sampai akhir. Saya masih inget dulu pernah nurunin rumus bareng Regi, Aya, dkk. buat formasi NIM berdasarkan shaf dan banjarnya waktu makan di Nasi Goreng Mawut.

Dan kini kita kan bernyanyi dan tertawa

Persahabatan kita tersimpan dalam hati sampai nanti

Sekarang kami semua sudah menyandang gelar Swasta. Kalau kami diibaratkan sebagai orang-orang yang terdampar di suatu pulau, maka orang-orang itu sekarang sedang bahu-membahu, saling membantu untuk membuat 97 perahu kecil yang nantinya akan digunakan berlayar oleh masing-masing orang ke arah yang berbeda-beda. Dan sekarang perahu-perahu itu sudah hampir jadi.

Antara senang karena kita bisa berlayar melanjutkan hidup, dan sedih karena kita akan meninggalkan orang-orang yang dulu pernah berjuang merakit perahu kecil bersama kita.

Kalau ada orang yang menyuruh saya untuk mendeskripsikan waktu, jawaban saya adalah “tidak terasa”. Bagaimana mungkin saya sudah jadi Swasta? Dulu kita yang diteriakin Danlap & Tadis, sekarang kita yang teriak-teriakin anak orang. Rasanya baru seminggu yang lalu Fazlur LPJ, rasanya baru kemarin Bekok lengser dari jabatannya, sekarang Faris sudah mewariskan amanahnya kepada Pepi.

Dengarkan lagu ini dan kita kan ingat slalu

Kebersamaan ini, dengan bernyanyi bersama

Kalau ada orang yang menyuruh saya untuk mendeskripsikan takdir, jawaban saya adalah “aneh”.  Semasa SMA saya bukan orang yang sering jalan-jalan, ke bioskop pun hanya pernah 1 kali selama di SMA dan itu pun karena ditraktir. Jangan tanya karaoke, saya belum pernah menyentuh tempat itu selama di sekolah. Kuliner? Saya nggak pernah makan di tempat macem-macem bareng teman selain di kantin SMA, kecuali sekali di Hartz Buffet, dan itu pun karena ditraktir juga. Pulang dari sekolah paling malem jam 5 sore, iya itu paling  pol. Ya mungkin pada dasarnya saya suka jalan-jalan tapi selama di SMA saya tidak bergaul dengan orang-orang yang kerjanya nongkrong di mall, nonton bioskop, atau karaokean. Itulah mungkin alasannya saya tidak hafal jalanan Bandung layaknya orang Bandung lainnya.

Mungkin dari situ juga terbentuk mindset saya tentang kuliah bahwa kuliah adalah belajar, ujian, pulang, individualisme, ansos. Apalagi kalau masuk ITB, orangnya SO semua. Dan waw! Mindset saya benar sampai saya memasuki tahap TPB. Minder karena saya tahu saya orangnya nggak jago matematika dan nggak selalu masuk 10 besar di kelas dulu. Wah, skenario hidup saya berjalan mulus sampai di tahap ini, nanti penjurusan, lulus, kerja, foya-foya beberapa tahun, nikah and live happily ever after.

Namun siapa sangka, paradigma saya tentang kuliah ini hancur berantakan ketika saya memasuki tingkat 2, memasuki jurusan? Siapa yang mengira, sekarang saya bisa nonton di bioskop sampai dua kali seminggu, sering teriak-teriak di ruang karaoke sepuasnya, wisata kuliner kesana kemari diajak oleh teman-teman yang malah berasal dari luar Bandung, bisa pulang jam 2 pagi, apalagi sampai nembak cewek.

Skenario mana yang menyebutkan saya bakal memiliki teman-teman yang sangat saya inginkan kehadirannya padahal baru 2 bulan kepisah untuk KP? Skenario konyol macam apa yang menyebutkan bahwa saya akan bisa terbang ke Batam dan Singapur bersama mereka 4 bulan kemudian?

Skenario apa yang bisa merubah skenario hidup saya semasa SMA dari yang asalnya foya-foya beberapa tahun menjadi mendirikan sebuah LSM bernama Langit Biru (amin)?

Aneh kan?

Sebagai pribumi saya senang didatangi oleh kalian semua. Bisa dibayangkan dulu ketika sekolah kalian masih berada di Padang, Riau, Medan, Balikpapan, Banjarmasin, Jakarta, Garut, Cilacap, Kediri, Malang, sampai Bali. Betapa berjauhan dan tidak kenalnya kita dulu, dan sekarang kita semua dipersatukan di sini, di Bandung.

Dan sebagai seorang Wilman saya sangat terkejut karena merasakan perubahan yang drastis ini. Mungkin perubahan drastis ini adalah perahu kecil saya yang sekarang tinggal menunggu dipasangi layarnya saja, sama seperti perahu-perahu kecil lainnya.

Ya apalagi yang bisa diucapkan selain terima kasih karena, telah memberikan perubahan drastis pada hidup saya, telah merubah skenario hidup saya, telah memberikan pembelajaran yang sangat berharga untuk saya dari mulai PEKKA, wisudaan, sampai Kulap, telah membuat kalian menjadi orang yang paling banyak yang pernah saya rindukan, telah menjadikan saya sebagai Wilman yang sekarang.

Dan apalagi yang kurang kalau saya belum mengucapkan maaf, kalau saya tidak selalu menyenangkan, kalau saya sering bersikap oportunis, kalau saya sering terlihat belagu dan kekanak-kanakan, kalau saya ternyata belum bisa merangkul kalian semua, kalau perahu saya, yang sebenarnya adalah hasil bantuan kalian terlihat lebih bagus jadinya ketimbang perahu kalian yang  notabene adalah hasil bantuan saya.

Yup, dulu aku tak mengenalmu, Bhupalaka.

Dan mungkin kini adalah saat-saat terakhir kita bernyanyi dan tertawa.

Advertisements

4 thoughts on “Dari PEKKA Sampai Swasta

  1. Tekarasa man
    urang ngan apal maneh tukang maen gitar weh_alim_rajin mengaji_tara ulin
    tapi ayeuna??
    ulin wae maneh!
    hha
    nu pasti ma
    urang kudu

    berjuang terus walau sudah terpisah
    Tetap tersenyum walau tak bertemu
    Tetap bersama walau tak saling “berada”
    tetap menyatu walau tak tahu, dimana sahabat ku.
    tak menyapa, karena tak ada, dan
    nanti disangka gila kalo nyapa yang engga ada.. hha
    btw… thx man

    maneh sahabat urang ti SMA, ti TPB bareng wae..
    bosen?
    hu uh.. tapi saya akan menyesal telah berkata bosen
    karena

    man.. saya minta tolong.. sebuah permintaan terakhir yang akan saya minta di july nanti
    wacana yang kita rencanakan.. harus di-“nyata”-kan
    inget pesenan urang di bulan april nya… 🙂

  2. ahh ada yang engga ke ketik… siallll 😦

    “karena saya tau saya akan merindukan kalian semua”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s