Namanya Pak Haji Kohmir

20 Januari 2012

Jalanan tidak begitu sepi, tidak ramai juga. Sekitar pukul 21.00 saya baru selesai nonton film Paranormal Activity 3 di Ciwalk bersama beberapa orang teman dan filmnya serem banget sih emang. Menimbulkan kesan paranoid paling tidak sampai sehari setelahnya untuk saya, haha.

Jalan pulang saya dari Ciwalk adalah melewati Plesiran, Gelap Nyawang, Jl. Ir. Juanda lalu angkot Kalapa-Dago. Melewati gang-gang Pelesiran memang membingungkan, pemukiman padat penduduk yang mungkin hanya Tuhan yang tahu satu per satu tembusan dari gang-gang ini, untungnya saya ditunjuki jalan oleh salah seorang teman sehingga berhasil keluar dari labirin ini dengan sedikit keberuntungan dan insting. Sambil menggendong tas ransel berisi laptop Toshiba 14” yang beratnya kayak batu bata, saya berhasil menghirup udara segar jalan raya.

Keluar dari Plesiran, di pertigaan Ayam Bungsu dan Mas Han, seorang lelaki paruh baya memanggil saya, rambutnya agak beruban dengan perawakan sedang, perut agak buncit. Dia mengenakan kemeja coklat bergaris-garis hitam vertikal dan celana bahan panjang.

“Dek, maaf numpang tanya, tau Jalan Pak Haji Sigiri?” Atau Pak siapapun itu, setidaknya itu yang terdengar di telinga saya.

“Wah gak tau Pak? Itu daerah Plesiran atau mana?” tanya saya

“Waduh ndak tau juga, dek. Saya bukan orang sini, Adek orang sini?”

“Iya Pak saya orang sini”

Ekspresi wajah lelaki ini seakan berkata, “orang sini kok gak tau alamat yang saya tanya?” Saat itu juga melintas seorang pria bertopi dengan kemeja kancing terbuka dan kaos putih, celana jeans, dengan tas ransel di punggungnya. Kasual layaknya mahasiswa. Lelaki paruh baya itu memanggil si pria bertopi sebelum akhirnya dia menghampiri kami. Dengan pertanyaan yang sama si lelaki paruh baya menanyakan alamat kepada si pria bertopi.

“gini aja Pak, alamatnya mana?” tanya si pria bertopi, maksudnya alamat dalam bentuk tertulis.

“nah itu dia dek, tadi jatuh alamatnya. Adek berdua ini mahasiswa?”

“Iya” Jawab saya dan si pria bertopi

kemudian si lelaki paruh baya mengulurkan tangannya kepada si pria bertopi mengisyaratkan dia hendak berkenalan. Wah, jangan-jangan ini orang mau ngehipnotis. Saya mengamati ketika lelaki paruh baya ini berjabatan tangan dengan si pria bertopi. Tidak terjadi apa-apa.

“Pak Haji Kohmir” Kata si leleaki paruh baya

“Delon” Kata si pria bertopi. Ya anggap saja itu namanya soalnya jalanan sedang ramai waktu itu jadi saya tidak terlalu jelas mendengar namanya.

Kini giliran Pak Haji Kohmir menjabat tangan saya.

“Wilman” Saya menyebutkan nama dengan agak bergumam sehingga tidak terdengar begitu jelas. Padahal kasih nama palsu aja sekalian ya.

Singkat cerita Pak Haji Kohmir yang masih kebingungan meminta saya untuk meng-sms seseorang yang dia hafal nomornya, haha aneh karena saya tidak begitu yakin dia hafal. Benar saja, smsnya langsung mendapat laporan tidak terkirim.

“Pak gak kekirim pak SMS nya, nomernya bener ini?”

“Iya, yasudah lah ndak apa-apa.” Yee,gimana sih Pa ‘Aji ini

“Kalau saya mau pulang ke Cirebon gimana ya Dek?” Tanya Pak Haji. Waduh saya nyerah kalau ditanya arah jalan, untung ada si Delon yang katanya orang Jakarta. Watdehel.

“Wah Bapak harus ke terminal Leuwi Panjang dulu kalo gitu, kalo nggak Bapak naik angkot dari sini nih (Caheum-Ledeng) ke arah sana (Ledeng) terus nanti tanya sama dripernya.” Kata si Delon

“Ooh gitu, driper itu apa?” Tanya Pak Haji,

“Itu loh, supir Pak” Jawab Delon

Yakali bang, bilang sopir aja napa?

Lalu tiba-tiba Pak Haji Kohmir menanyakan arah mata angin pada kami berdua.

“Dek, kalau Utara mana? Timur? Barat?”

Untung saya kuliah di ITB jadi tahu mana utara,selatan dsb karena ada gerbang utara, gerbang selatan, GKU Barat dan GKU Timur. Saya pun dengan faseh memberitahu Pak Haji. Nah lebih aneh lagi nih si Pa ‘Aji malah ngomong bahasa arab yang entah surat apa atau hadits mana yang artinya kurang lebih kata beliau, apabila kau menuntut ilmu maka janganlah ada perasaan sombong. Buset, ini orang tujuan awalnya emang bukan cari alamat deh kayaknya. Tiba-tiba tangan Pak Haji mengeluarkan  benda berwarna emas, bentuknya seperti Kujang, kemudian memberikan benda itu kepada kami masing-masing satu. Katanya kenang-kenangan dari Mekah-Cirebon, Ya Alloh apa lagi ini? Saya cuma pengen pulang, ini laptop beratnya udah kayak dosa.

“Sekarang coba kamu berdua baca bismillah 3x, jalan 200 langkah ke arah laut, arah laut kemana ya Dek? Utara? Selatan?” Kata Pak Haji

“Ya laut mah dimana-mana ada Pak.” Jawab saya, si Delon terkekeh, Pak Haji terdiam sejenak. ” Ya sudah kalian jalan ke utara 200 langkah, kalau bendanya terasa makin berat saya ambil lagi, kalau nggak kalian boleh ambil itu.”

“Ini mangpaatnya apa Pak?” Tanya Delon

“Macem-macem, bisa buat belajar, kesehatan, bla bla bla…Sekarang silakan ucapkan bismillah 3x lalu jalan berdua ke Utara 200 langkah, sambil ngobrol ya kalian”

Di benak saya terlintas kecurigaan mungkin si Delon dan Pak Haji ini sekongkol, karena jalan Tamansari setelah Kebun Binatang itu sepi, takutnya dipalak atau gimana. Selain itu juga saya tidak percaya dengan jimat-jimat dsb, bahkan horoskop pun saya tidak percaya.

Mata si Delon sudah mengarah pada saya, mengisyaratkan “Ayok buruan cabut 200 langkah!”

“Waduh saya gak bisa Pak, rasanya di sini sudah berat deh.” Kata saya ke Pak Haji

“Hah? Bohong kamu kalau sudah berat di sini!”

Ebuset, orang barangnya di gua sekarang, kenapa lo tau ga berat?

“Waduh maaf Pak, tapi saya orangnya kurang percaya sama yang beginian.” Saya menimpali.

“Ini sare’at dek, sare’at” Katanya, kemudian menatap Delon seakan bilang “ayo dong kamu pasti mau kan?”

“Waduh saya juga sebenernya kurang percaya sih Pak.” Kata Delon seketika itu juga

Hening sejenak, awkward moment. Kemudian Pak Haji Kohmir menengadahkan tangannya ke arah saya, saya kasih aja tuh kujang emas. Begitu pula dengan Delon.

“Angkot yang arah kesana ya?” Tanya Pak Haji

“Iya Pak”

“Assalamu’alaykum”

“Waalaykumsalam”

***

Sebenernya pengen nanya-nanya juga sih ke Pak Haji Kohmir ngapain dia ngasih jimat secara cuma-cuma sama 2 orang asing, cuma waktu itu karena sendirian dan takut kejadian apa-apa jadi yaudah mending pulang aja. Si Delon juga langsung cabut entah kemana. Kasian juga liat Pak Kohmir, kemana orang-orang terdekatnya? Kenapa beliau gak cari kerja aja daripada luntang-lantung gak jelas? Kalau jimat itu memang berguna kenapa gak dia pake sendiri?

Kalau ada diantara kawan-kawan yang ketemu beliau di sekitaran kampus tolong bantuin ya,hehe. Beliau keliatannya gak berbahaya kok.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s