Inspirasi Itu Priceless

Masih tentang seminar yang saya hadiri 4 Februari lalu di ITB Fair 2012.

Saya adalah orang yang realistis, saking realistisnya, saya jadi seorang pesimis. Ditambah dengan kondisi lingkungan yang mendukung, tiap hari di TV banyak berita aneh-aneh mulai dari ditabrak Xenia sampai pilot yang nge fly 3 jam lebih awal dari jadwal penerbangan. Jadi lah saya seorang pesimis sejati. Mau kemana sih negeri ini? Udah lah hidup seadanya aja, pake sok-sokan mau berubah. Mana buktinya? Dari zaman Pak Harto turun masih begini-begini aja toh. Dan komentar-komentar semacam itu memang berakar dari sifat saya yang semakin ke sini semakin melihat bahwa menjadi idealis itu percuma. Bahwa dunia ini bekerja secara realistis. Bahwa saya tidak merasakan adanya idealisme di kalangan petinggi negeri ini.

Sampai sekarang saya masih berstatus mahasiswa di ITB, mahasiswa tingkat akhir tepatnya. Bagi mahasiswa, adalah wajar memiliki idealisme. Saya pun dulu, pada waktu tingkat 2 dan tingkat 3 awal masih memiliki idealisme. Namun entah kenapa semakin ke sini idealisme itu semakin terkikis, lama-lama hilang. Saya bahkan lupa apa idealisme saya dulu. Ya kalau secara garis besar dan idealisme normatif mah masih inget, tapi ada detail-detail kecil yang menyusun kerangka idealisme itu yang saya lupakan. Justru itu yang penting.

Satu tahun mungkin saya jadi orang yang oportunis, pesimis, pregmatis total, dan apatis. Tidak banyak pembelajaran yang didapat. Melakukan semua kewajiban dengan asal-asalan, yang penting jadi.

Sampai pada suatu ketika, saya mendatangi sebuah seminar hari Sabtu 4 Februari lalu. Salah satu kalimat yang menarik perhatian saya adalah, “Eropa masa lalu, Amerika sekarang, dan masa depan ada di tangan Asia”. Kalimat ini disampaikan oleh Pak Ridwan Kamil. Sebenarnya saya pernah juga mendatangi satu seminar yang sangat inspiratif yaitu seminar Indonesia Mengajar, tapi kayaknya waktu itu saya belum cukup umur untuk bisa mengambil esensinya.

Anyway mendengar kalimat menarik itu saya mulai berpikir, mungkin Indonesia gak se-desperate itu. Apalagi ketika Pak Kamil menyebutkan bahwa di Indonesia atau di Asia tingkat kebahagiaan masyarakatnya lebih tinggi daripada di Amerika, meskipun pendapatan per kapita kita lebih kecil daripada Amerika. Sebenarnya masih banyak kalimat-kalimat inspiratif lainnya dari tokoh-tokoh hebat lain di seminar itu, seperti dari Pak Sujiwo Tejo, Radithyadika, Ernest Prakasa, dan Pak Bakhtiar Rahman tapi kalau ditulis semua nanti kepanjangan 🙂 . Oh iya, beliau-beliau ini termasuk dalam segmen Creative-Preneurship yang artinya memiliki kemampuan untuk berpikir di luar kotak kemudian buah pikiran itu dijadikan sebagai suatu kewirausahaan, dan segmen inilah yang paling saya sukai diantara segmen lainnya (Socio-preneur dan Techno-preneur).

***

Dari situlah mulai muncul keinginan untuk membangun kembali detail-detail idealisme yang dulu pernah hilang. Aih, bahasanya. Terlepas dari situ, saya waktu itu bayar tiket masuk Rp. 30.000 dan dibandingkan dengan efek yang ditimbulkan selepas talkshow itu sangat-sangat timpang. Menurut saya inspirasi yang beliau-beliau berikan itu nggak bisa diukur dengan harga. 30.000 itu terlalu murah untuk sebuah inspirasi, beruntunglah kita mahasiswa yang selalu pingin yang murah. Belum lagi mungkin ada yang lebih terinspirasi lagi dari saya setelah keluar dari Sabuga sore itu, bukan mungkin sih, pasti kayaknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s