Your City, Your Responsibility

Your city, your responsibility

-Ridwan Kamil

Quotes ini saya dapatkan sore tadi saat mengikuti salah satu seminar di acara ITB Fair 2012 dan sebenarnya masih banyak lagi quotes-quotes lainnya dari orang-orang hebat di seminar tersebut. FYI saya jarang banget mengikuti seminar apalagi yang bayar, tapi ya sekali-sekali lah ya. FYI lagi, ini sebenarnya bukan seminar tok, tapi bentuknya semacam talkshow.

Dulu, bahkan kemarin, sebelum saya menghadiri seminar ini saya punya cita-cita. Sederhana saja sih cita-citanya cuma beli rumah, tapi bukan di Bandung, kota yang semerawut, berantakan dan … dan… yah gitu lah. Saya pinginnya beli rumah di daerah-daerah yang jauh dari keramaian, dimana sejauh mata memandang di situ langit dijunjung. Saya juga bingung ini peribahasa dari mana, anyway artinya di situ enggak banyak gedung dsb. Saya sudah jenuh dengan keramaian kota, konflik-konfliknya, polusi udaranya, dan lainnya. Pokoknya enggak pengin deh tinggal di Bandung, enggak mau ambil pusing persoalan PKL, angkot, kemacetan, Trans Studio *loh?*.

Namun kemudian, saya mendengar quotes ini, melihat sih lebih tepatnya soalnya memang ditampilkan di layar, kemudian hati saya mengeluarkan suara, “jleb!”

Anda benar Pak Dosen Arsi!

Ih padahal gedung kita deketan ya Pak, tapi kok saya enggak pernah liat Bapak sih?

Kembali ke topik. Setiap orang yang dilahirkan dan dibesarkan di suatu kota punya tanggung jawab moral maupun sosial terhadap kota tersebut. Seberapa pun semerawutnya Bandung, ini adalah kota dimana saya dilahirkan dan dibesarkan, kalau diibaratkan kota itu rumah, lalu kita dibesarkan di situ dan sudah besar malah meninggalkan rumah itu, habis lah si rumah jadi makanan rayap soalnya semua orang besar yang ada di situ cabut. Ya cabut juga enggak apa-apa sih biar enggak overpopulated juga rumahnya. Tapi janganlah lupa untuk mengambil pusing rumah itu *kosakata carut-marut*. Maksudnya kita tetep mikirin dan mencari solusi konkrit, sekali lagi  konkrit, dari permasalahan yang terjadi di rumah itu.

Seringkali orang bicara bahwa sesuatu itu normatif karena enggak ada contohnya, kalau memang ingin dibilang konkrit maka sesuatu itu harus bisa dilakukan dan bisa dijadikan contoh. Stop, kalimat terakhir itu intermeso. Intinya adalah judul dari tulisan ini.

Yeay saya tetep bisa beli rumah di luar Bandung 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s