Monthly Archives: February 2012

Because Lovers Are Too Mainstream

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Kendaraan Umum, Haruskah Jadi Korban?

“Balik sama siapa, Man?”
“Sendiri.”
“Oh, lo bawa motor?”
“Nggak, pake angkot.”

Dan saya sudah tahu pertanyaan berikutnya pasti, “Hah? Emang masih ada angkot jam segini?”
Percakapan macam tadi pasti terjadi di atas jam 10 malam dimana tidak semua trayek angkot masih beroperasi di atas jam tersebut. Salah satu trayek yang masih beroperasi pada jam tersebut adalah Kalapa-Dago, angkot yang sehari-hari saya pergunakan jasanya untuk pergi ke kampus semenjak saya menjadi mahasiswa.

Wow, hebat memang trayek Kalapa-Dago ini. Saya dulu pernah pulang jam 2 pagi dari kampus dan masih ada angkot ini. Dulu pernah juga sih pulang jam 4 pagi tapi ternyata setelah setengah jam menunggu, tumpangan saya tak kunjung tiba. Akhirnya pulang pake taksi.
Terlepas dari itu, mendengar kabar dan berita akhir-akhir ini tentang keamanan (jangan tanya kenyamanan) berkendaraan umum, sebagai seorang pengguna setia angkot saya jadi was-was, apalagi saya seringkali pulang malam. Ya namanya juga mahasiswa, hihi. Selain itu saya juga merasa kasihan sama supir angkot yang lain karena bisa saja penumpang mereka berkurang atau imej mereka rusak, karena setiap ada kejahatan yang terjadi di suatu transportasi umum pasti ada semacam prasangka bahwa si pelaku kejahatan bekerja sama dengan supir.

Melenceng sejenak yuk.

Ngomong-ngomong soal supir, saya tiap hari ngangkot jadi sedikit-sedikit sih tahu pahit manisnya jadi supir angkot. Pertama, supir angkot itu dikejar setoran, kedua, angkot itu dianggap musuh oleh semua pengguna jalan karena bikin macet, dan masih banyak lagi. Perlu diketahui, supir angkot itu cuma ingin cari duit, dia nggak bakal bikin macet kalau nggak perlu. Para pengguna setia angkot pasti ngerti gimana tuh ngebutnya angkot yang setorannya udah kekejar. Ketika saya telat kuliah terus angkotnya ngetem, sebisa mungkin saya tidak menyalahkan supir angkot, emang sih muka supir angkot yang ngetem itu nyebelin tapi harusnya saya yang berangkat lebih awal ke kampus biar nggak telat.

Cukup melencengnya, sekarang balik lagi!

Sebagai seorang penyandang epilepsi, saya tidak diperbolehkan untuk mengemudikan kendaraan, apapun itu, mobil, motor, sepeda, becak. Maka dari itu, meskipun sudah setua ini saya masih belum memiliki SIM. Jadi mau tidak mau saya masih akan menggunakan kendaraan umum kecuali ada yang mau antar-jemput saya. Apalagi saya sudah tingkat akhir dan takutnya harus pulang malam dari lab (Iya ya? Atau nggak?).
Dihadapkan dengan permasalahan semacam ini saya pun bingung. Dan tepat ketika saya bingung kalimat apa yang harus ditulis selanjutnya, saya menemukan link ini dari sebuah tweet @infobandung , ini linknya. Ya semoga saja cepat direalisasikan, tapi kalau pakai lampu darurat bisa saja si supir diancam oleh si perampok agar tidak menekan tombolnya. Apalagi kalau penjahatnya pakai senjata api. Selain dari itu, bagaimana kalau si penjahat beraksi tengah malam dimana menyalakan lampu darurat adalah hal yang sia-sia karena jalanan sudah lengang?
Ah, nggak tau deh. Mari buka jendela terdekat dari posisi duduk kita jadi kalau-kalau terjadi sesuatu kita bisa lompat keluar jendela, haha. Berdoa saja lah untuk keselamatan seluruh pengguna kendaraan umum.

Categories: Renungan Malam | Tags: | 3 Comments

LINIMASA (bagian 1)

username : exatera

password : **********

log in

@Copernicus_Elgy

Hari hujan, lagi dan lagi  [4m]

@Edelweiss76 

Ibuku lucu sekali hahaha  [7m]

@Si_Labil

@HomelessKacy Harus dateng yang

April nanti Cy! highly recommended!!  [12m]

@Herm4nSA

Where the light goes, darkness follows  [15m]

Ruangan ini lembap, namun masih ada cukup oksigen untuk bertahan hidup. Kayu-kayu berderit saat mereka terjamah oleh telapak kaki manusia. Angin jarang sekali berkunjung ke ruangan itu dikarenakan lubang-lubang persegi di dinding yang senantiasa menutup diri. Sinar matahari pun hanya sesekali mengetuk pintu.

Terduduk di depan komputer, sambil menunggu log in akun Twitter nya dia memandangi sekitar. Matanya menjelajahi setiap sudut ruangan di depannya. Sadar betul dia dengan kondisi kamar kosannya yang suram. Barang-barang bergelimpangan seperti mayat sehabis kecelakaan massal, atau pun korban-korban serangan udara di zaman perang dunia. Terkadang dia takjub melihat dirinya bisa bertahan di tempat macam itu.

@exatera

tolonglah Tuhan beri saya keinginan untuk membereskan kamar  [0m]

@chocochips

@Imelda_nantidulu makasi ya mel! Berkat lo gw merasa sangat

beruntung memiliki pintu kamar  [3m]

@kingarthur

galau nih pencurinya RT @detik_com: Gagal Bobol Uang

Rp 100 juta, Pencuri Curhat di Dinding de.tk/xCldA  [3m]

@Copernicus_Elgy

Hari hujan, lagi dan lagi.  [8m]

@Edelweiss76

Ibuku lucu sekali hahaha  [11m]

Hari itu bukan hari yang bagus untuk me-reply tweet orang-orang. Kursor mouse nya melayang di atas tombol 3 new follower requests.

Amir Nasrul Haq @ANH_CHK

just an ordinary boy doing ordinary things. nice to meet you!            Accept | Decline

Menuju Terang @menujuterang

141 characters left                                                                               Accept | Decline

Gaby Anindya Sutanto @Eby_Maki

If i’m not your crush you’ll never intentionally read this                         Accept | Decline

 Accept, accept, accept. Selesai, pikirnya. Jumlah followers bertambah, jumlah following tetap.

Hari itu hujan masih turun dengan derasnya. Dengan sedikit imajinasinya dia bisa mendengarkan sayup-sayup nyanyian paduan suara yang berelegi di balik sengaunya rintik hujan, mengajaknya masuk ke dalam dunianya yang jauh lebih dalam dibanding ruangan lembap di sekitarnya.

Ternyata dunia SMA tidak seperti yang sebagian besar orang bilang, menyenangkan, tak terlupakan, haru-biru, dan lain sebagainya. Bangun pagi adalah hal pertama yang dibencinya di dunia ini. Kemudian duduk berjam-jam mendengarkan ceramah guru, belum lagi ujian dan segala tektek bengek lainnya. Hidupnya memang lebih bebas dibanding dengan anak sekolah lainnya karena dia berstatus sebagai anak kost. Namun tetap saja, ada yang kurang. Hidupnya terlalu monoton. Melihat tingkah anak-anak muda labil, menikmati pahit manis cinta monyet, mengamati dirinya yang begitu jenuh.

@Edelweiss76

@Copernicus_Elgy angkat jemuran sonoh! malah ngetweet gy,gy  [1m]

@menujuterang

*!*  [4m]

@Imelda_nantidulu

@chocochips  \m/!!  [4m]

@exatera

tolonglah Tuhan beri saya keinginan untuk membereskan kamar [5m]

@chocochips

@Imelda_nantidulu makasi ya mel! Berkat lo gw merasa sangat

beruntung memiliki pintu kamar  [8m]

Terhenyak dalam lamunannya, sadar bahwa di tengah-tengah linimasa itu terdapat sebuah akun yang asing. Karena dia hanya mengizinkan akun itu untuk mem-follow dia, tidak ingat dia pernah mengklik tombol follow untuk mem-follow balik satu pun dari si pemberi request. Mungkin semacam akun spam, pikirnya.

Kursornya bergerak secepat kilat ke panel followers kemudian mencari-cari akun itu, mengklik tombol follow lalu mengklik tombol yang sama sehingga menjadi unfollow.

@menujuterang

haha  [0m]

@Si_Labil

i’m afraid of marriage  [2m]

@Edelweiss76

@Copernicus_Elgy angkat jemuran sonoh! malah ngetweet gy,gy [3m]

Wah, akun spam yang hebat, pikirnya. Usahanya untuk meng-unfollow ternyata sia-sia. Tak berani dia untuk me-mention akun tersebut karena siapa yang tahu apa yang bisa dilakukan sebuah akun spam bila seseorang berinteraksi dengannya. Bisa jadi virus, hack, atau mimpi buruk lainnnya.

@exatera

kawan2 jangan nge add akun (at)menujuterang , itu akun spam!  [0m]

@menujuterang

haha [1m]

@Si_Labil

i’m afraid of marriage  [3m]

Mungkin jika nanti akunnya bermasalah dia tinggal membuat akun baru, gampang kan? Lagipula “exatera” bukanlah nama yang cukup bagus menurutnya.

Dia kembali berkunjung ke dunia lamunannya yang bertemakan kebosanan. Ini masih hari Selasa, masih 3 hari lagi menuju akhir pekan. Betapa lambannya waktu berjalan baginya, di kamar ini, yang sunyi senyap, yang hampir setiap jam 3 pagi terdengar gonggongan anjing tetangga kemudian jam 5 pagi terdengar suara terompet tentara entah dari mana. Hanya pada saat akhir pekan lah mood nya bisa sedikit terangkat, entah itu karena berolahraga atau jalan-jalan bersama teman-temannya.

@menujuterang

salah  [0m]

@exatera

@Herm4nSA ga bisa man, tetep ada di timeline gw  [1m]

@Herm4nSA

@exatera haha buruan lo unfollow dah tuh akun!  [2m]

@exatera

kawan2 jangan nge add akun (at)menujuterang , itu akun spam!  [4m]

Mungkin ada satu cara untuk membuktikan apakah pemilik akun ini sebuah bot (software yang bisa mengeksekusi perintah tertentu apabila mendapatkan input yang spesifik) yang menyebarkan spam, ataukah seorang manusia.

@menujuterang

bukalah jendela, rasakan sejuknya angin sore layaknya karapan sapi.  [0m]

@kingarthur

RT @Herm4nSA@exatera haha buruan lo unfollow dah tuh akun!  [3m]

@exatera

haha, baku sekali bahasamu  [4m]

@menujuterang

saya lebih tahu kamu  [5m]

@Copernicus_Elgy 

@Edelweiss76 orang gw pake laundry -_-   [7m]

@exatera

Gw tau siapa lo!  [7m]

Ya, seperti yang ia duga. Mungkin akun itu memang merespon setiap tweet yang dia kirim namun responnya tidak relevan, layaknya sebuah robot yang diprogram secara amatiran.

Perutnya keroncongan, hujan sudah agak reda. Dia memutuskan untuk membeli seporsi nasi bungkus di warung nasi sekitar kostannya. Dia membuka pintu kamar, keluar, kemudian menutupnya dan menguncinya. Sudah menjadi kebiasaan standar anak kosan. Nampaknya pintu rumah kost juga terkunci rapat, tapi bukan anak kost namanya kalau tidak memiliki kunci rumahnya. Sepi, sunyi, nampaknya orang-orang sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing di luar kostan. Tidak ada satu pun terlihat tanda-tanda kehidupan di rumah itu. Bapak dan Ibu Kost juga tidak terlihat batang hidungnya, mungkin sedang mengantar anak mereka yang akhir-akhir ini sering sakit-sakitan ke dokter.

Kembali ke kamar dengan sebungkus nasi. Kembali terduduk di singgasananya di depan komputer. Sempat tersentak sepersekian detik, namun kembali normal.

@Edelweiss76

can’t wait what tomorrow will bring!  [1m]

@Herm4nSA

Praise to the Lord. Semua pasti ada hikmahnya  [4m]

@kingarthur

@Si_Labil @HomelessKacy ikut doong April!  [7m]

@menujuterang

kamu sendirian : D  [11m]

@Copernicus_Elgy

ngopi tugas aja males, apalagi bikin sendiri [15m]

@chocochips

Selamat ulang tahun @tuanTandatanya ! traktir billiard udah paling pas nih besok [18m]

Betapa bodohnya, ini hanya sebuah akun bot. Dia bisa menulis tweet apa pun sesuai keinginan programmer-nya, pikirnya.

Bungkus nasi yang membalut hidangan nasi, ayam, dan tempe bacem pun ia buka. Hawa panas dari hidangan itu terasa seperti neraka bocor baginya. Ventilasi di ruangan ini bukannya tidak ada, hanya kurang layak untuk disebut demikian. Lubang tipis setebal kurang dari 1 cm dan panjang 100 cm sebanyak dua buah memang tidak memadai untuk ruangan 3 x 3 m yang beralaskan kayu ini. Membuka jendela sebelum makan adalah kebiasaannya yang lain selain mengunci pintu kamar, dan ketika melakukan kebiasaannya itulah dia benar-benar merasa ada yang sedang mengawasinya. Ketika dia membuka jendela, dan udara luar berlomba-lomba masuk…layaknya karapan sapi.

*bersambung

***

Cerita ini hanya fiktif belaka, kemiripan tokoh, nama akun twitter, dan/atau kejadian merupakan kebetulan dan tidak direkayasa. Maaf buat yang ngerasa tweet-tweet nya “dicuri”, hehe. 

Categories: Cerbung | 2 Comments

Suatu Siang Di Rumah (Cerpen)

“Tri, jaga rumah ya! Mama belanja dulu”

“jangan beliin aku susu ma, gak bakal diminum”

“ck, kamu ini..”

Mama membalikkan badan, mengambil tas belanjanya lalu membanting pintu. Bukan berarti dia marah, pintunya memang harus agak dibanting supaya benar-benar terkunci rapat. Di siang bolong ini lagi-lagi aku ditinggal sendirian di rumah, mama tidak seperti tetangga lainnya yang menitipkan anak-anaknya di rumah tetangga yang lain ketika orang tuanya harus meninggalkan rumah. Toh aku juga tidak suka dititip-titip begitu, kayak barang bawaan atau helm di mall. Lagipula mama hanya pergi sebentar saja.

Lingkungan kompleks perumahanku termasuk sepi, padahal ini siang hari tapi orang yang lewat hanya satu-dua saja. Maka dari itu, aku memutuskan untuk tidur, sama seperti biasanya. Kamarku berada di sebelah pintu masuk, berisikan tempat tidur ternyaman, meja belajar, dan lemari pakaian. Dengan posisi tidur, aku bisa melihat halaman depan rumah dari jendela yang berada di sampingku.

Aku pun mulai memejamkan mata, tapi aku bukan orang yang semudah itu tertidur. Minimal harus menunggu 15 menit untuk benar-benar terbang ke alam mimpi. Aku pun membuka mata kembali, melamun, tutup mata lagi, buka lagi, tutup lagi, sampai akhirnya aku membuka mata lagi tiba-tiba aku melihat seorang lelaki tua renta berdiri bersandarkan tongkatnya di halaman depan menghadap pintu.

“itu siapa ya? mungkin temennya mama” gumamku

Aku tidak berani membukakan pintu, maling dengan tangan kosong pun pasti berani kalau tahu di rumah ini isinya hanya seorang bocah 12 tahun. Lagipula mama selalu melarangku membukakan pintu untuk orang yang tidak dikenal.

Akan tetapi dia hanya berdiri di situ, lama sekali, tidak menekan bel, tidak mengetuk pintu. Sampai akhirnya dia menoleh ke arahku. Ya ampun, biarpun aku ini anak tunggal tapi aku tidak cengeng, aku tidak pernah berharap mama bisa pulang lebih cepat, tapi kali ini keinginan itu begitu kuat. Mata lelaki tua itu jelas-jelas menatapku menembus tirai jendela, namun tidak jelas apa ekspresi wajahnya, apakah sedih atau marah. Air mukanya sangat datar.

Setelah beberapa detik menatapku, buatku seperti satu jam, dia membalikkan badan dan pergi. Aku menghela nafas panjang, panjang sekali. Kemudian menyambar selimut dan menutupi seluruh tubuhku dari kepala sampai ujung kaki.

tok,tok,tok..”

astaga, dia ngetuk pintu!“ 

Aku semakin menyelubungi diriku dalam selimut, namun suara ketukan itu malah semakin nyaring karena sekarang ia mengetuk kaca jendela kamarku.

tok,tok,tok,tok,tok…Tri, bangun sayang, bukain pintu!”

Lega sekali rasanya dadaku mendengar suara lembut itu.

“Ya ampun ma, kenapa nggak pencet bel sih?”

“belnya kan rusak, ayo cepet bukain pintunya”

Aku pun bergegas mencari kunci rumah.

“Ma, kuncinya dimana? kan biasanya di meja sini mama naronya

“Di laci situ, tadi mama buru-buru jadi ditaro di situ aja sekalian ngambil dompet”

Kunci puntu rumahku memang bisa dikunci tanpa menggunakan kunci, jadi ketika pintunya ditutup akan terkunci dengan sendirinya.

Aku pun membuka laci yang dimaksud mama, dan aku agak kaget saat aku melihat sebuah foto yang di dalamnya ada wajah yang mirip sekali dengan kakek tua tadi, dia berdiri di antara mama dan almarhum papa. Mungkin ini kakekku, pikirku. Ya ampun, dari tadi aku membiarkan kakekku ini di luar rumah sampai akhirnya dia pulang dengan sendirinya, pantas saja ekspresinya begitu.

tok,tok,tok…udah ketemu belum Tri kuncinya?”

Kaget, aku pun langsung mengambil kunci yang tergeletak di sebelah foto tadi dan membukakan pintu untuk mama.

“nih, mama beliin susu, yang ini merknya beda Tri, siapa tahu kamu suka”

“yah,ma susu itu dimana-mana sama aja, gak enak”

“coba dulu! Anaknya temen mama si Fara itu sama kayak kamu, gak suka susu, tapi akhirnya dia mau loh minum yang ini”

Sebelum perdebatan ini berlangsung lebih lama lagi, aku segera mengambil foto tadi dan menunjukkannya pada mama.

“Ini siapa,ma?” Kataku sambil menunjuk wajah kakek tadi.

“Oh, itu kakekmu”

“tadi dia kesini ma, tapi aku gak bukain pintu soalnya gak tahu kalau itu kakek”

“kakekmu itu meninggal waktu kamu umur 2 tahun,Tri. Makanya jangan kebanyakan nonton film horor, kebawa mimpi tuh filmnya”

Mendengar perkataan mama barusan aku benar-benar kaget, sekaget-kagetnya.

“Hah!? Tapi itu bukan mimpi, ma. Dia beneran ke sini, tadi dia berdiri di depan rumah kita”

“Hus,ngawur kamu! Nih minum susunya!”

Aku pun menenggak susu itu sampai habis, hal ini kulakukan lebih karena panik, bukan karena susunya enak. Sampai hari ini pun mama tidak pernah mau percaya dengan ceritaku.

*Tamat*

Cerita di atas saya reka ulang dengan kata-kata saya sendiri. Banyak sih yang dirubah karena saya sudah lupa detail ceritanya, intinya si anak itu melihat kakeknya yang sudah meninggal dari jendela kamarnya ketika dia ditinggal sendiri di rumah. Cerita ini saya dapatkan dari sebuah majalah anak, MAJALAH ANAK loh! Entah itu Bobo atau Orbit, saya lupa. Nggak tahu juga apakah ini kisah nyata atau bukan. Saya membacanya sekitar 10-12 tahun lalu, di siang bolong yang sepi di rumah dekat jendela kamar yang dari situ saya bisa melihat halaman depan rumah, ini serius tapi untung waktu itu ibu saya ada di rumah, haha.

Categories: Cerpen | Leave a comment

orang hanya melihat hasil, bukan proses karena orang hanya bisa melihat apa yang bisa dilihat sedangkan proses seringkali tidak bisa dilihat

-Saya

Categories: Renungan Malam | Leave a comment

Lomba Kreasi Sampah

Dulu sebelum masuk ITB, saya pernah berniat mengadakan lomba kreasi sampah.

Saya bilang, “Biar orang tahu kalau sampah juga punya sisi indahnya!”.

Saya ditertawakan.

Akhirnya lomba itu tidak jadi saya gelar.

Sekarang saya masuk jurusan Teknik Lingkungan.

Seperti biasa, sebuah ide brilian seringkali ditertawakan ketika dia muncul. Tinggal sebesar apa keberanian seseorang untuk mewujudkannya.

Sesesorang memiliki ide brilian itu takdir, keberanian untuk mewujudkannya itu pilihan.

Categories: Renungan Malam | Leave a comment

Dari PEKKA Sampai Swasta

Dulu aku tak mengenalmu

Tak saling sapa tak menyatu

Potongan bait pertama dari lagu angkatan saya, angkatan 2008, Bhupalaka. Lagu ini dibuat oleh teman-teman angkatan saya, Nopa dan Wawank ketika kami satu angkatan sedang menjalani proses PEKKA, dimana waktu itu menyanyikan lagu ini masih terasa aneh karena ada kalimat “dulu aku tak mengenalmu”. Lah kan emang baru awal masuk, masa langsung kenal?

Tapi ternyata Nopa dan Wawank itu orangnya visioner *azek*, seiring berjalannya waktu, semakin kami merasakan kebersamaan di angkatan kami dan pada saat itu juga semakin dalam lirik lagu ini saya rasakan. Kata “dulu” akan semakin “dulu” seiring dengan bertambahnya usia kami.

Tak ada senyum di wajahmu itu

Dan aku tak ingat namamu

Sampai sekarang saya masih menyimpan buku angkatan saya, dan akan terus saya simpan sampai mati kalau bisa. Mengingat dulu itu ngisinya susah dan penuh perjuangan sampai copot-copot kertasnya dan akhirnya saya sebar untuk diisi oleh teman-teman seangkatan   lalu dikumpulkan kemudian saya jahit sendiri.

Di tengah agitasi Tadis, di tengah kerempongan tugas gambar perspektif, profil hidrolis mekflu, dan pemetaan, di tengah konflik internal, kami mulai mengenal satu sama lain. Disuruh ngafalin nama dan NIM lah, ngafalin penyakit tiap orang lah (ini yang paling nggak masuk akal), dikasih tugas ini-itu sampai gila. Saya juga masih tidak percaya pernah melewati masa-masa itu, mungkin saking nyantainya sekarang kali ya. Saya masih inget itu si Regi, ketua angkatan saya nyebutin satu-persatu nama & NIM dari awal sampai akhir. Saya masih inget dulu pernah nurunin rumus bareng Regi, Aya, dkk. buat formasi NIM berdasarkan shaf dan banjarnya waktu makan di Nasi Goreng Mawut.

Dan kini kita kan bernyanyi dan tertawa

Persahabatan kita tersimpan dalam hati sampai nanti

Sekarang kami semua sudah menyandang gelar Swasta. Kalau kami diibaratkan sebagai orang-orang yang terdampar di suatu pulau, maka orang-orang itu sekarang sedang bahu-membahu, saling membantu untuk membuat 97 perahu kecil yang nantinya akan digunakan berlayar oleh masing-masing orang ke arah yang berbeda-beda. Dan sekarang perahu-perahu itu sudah hampir jadi.

Antara senang karena kita bisa berlayar melanjutkan hidup, dan sedih karena kita akan meninggalkan orang-orang yang dulu pernah berjuang merakit perahu kecil bersama kita.

Kalau ada orang yang menyuruh saya untuk mendeskripsikan waktu, jawaban saya adalah “tidak terasa”. Bagaimana mungkin saya sudah jadi Swasta? Dulu kita yang diteriakin Danlap & Tadis, sekarang kita yang teriak-teriakin anak orang. Rasanya baru seminggu yang lalu Fazlur LPJ, rasanya baru kemarin Bekok lengser dari jabatannya, sekarang Faris sudah mewariskan amanahnya kepada Pepi.

Dengarkan lagu ini dan kita kan ingat slalu

Kebersamaan ini, dengan bernyanyi bersama

Kalau ada orang yang menyuruh saya untuk mendeskripsikan takdir, jawaban saya adalah “aneh”.  Semasa SMA saya bukan orang yang sering jalan-jalan, ke bioskop pun hanya pernah 1 kali selama di SMA dan itu pun karena ditraktir. Jangan tanya karaoke, saya belum pernah menyentuh tempat itu selama di sekolah. Kuliner? Saya nggak pernah makan di tempat macem-macem bareng teman selain di kantin SMA, kecuali sekali di Hartz Buffet, dan itu pun karena ditraktir juga. Pulang dari sekolah paling malem jam 5 sore, iya itu paling  pol. Ya mungkin pada dasarnya saya suka jalan-jalan tapi selama di SMA saya tidak bergaul dengan orang-orang yang kerjanya nongkrong di mall, nonton bioskop, atau karaokean. Itulah mungkin alasannya saya tidak hafal jalanan Bandung layaknya orang Bandung lainnya.

Mungkin dari situ juga terbentuk mindset saya tentang kuliah bahwa kuliah adalah belajar, ujian, pulang, individualisme, ansos. Apalagi kalau masuk ITB, orangnya SO semua. Dan waw! Mindset saya benar sampai saya memasuki tahap TPB. Minder karena saya tahu saya orangnya nggak jago matematika dan nggak selalu masuk 10 besar di kelas dulu. Wah, skenario hidup saya berjalan mulus sampai di tahap ini, nanti penjurusan, lulus, kerja, foya-foya beberapa tahun, nikah and live happily ever after.

Namun siapa sangka, paradigma saya tentang kuliah ini hancur berantakan ketika saya memasuki tingkat 2, memasuki jurusan? Siapa yang mengira, sekarang saya bisa nonton di bioskop sampai dua kali seminggu, sering teriak-teriak di ruang karaoke sepuasnya, wisata kuliner kesana kemari diajak oleh teman-teman yang malah berasal dari luar Bandung, bisa pulang jam 2 pagi, apalagi sampai nembak cewek.

Skenario mana yang menyebutkan saya bakal memiliki teman-teman yang sangat saya inginkan kehadirannya padahal baru 2 bulan kepisah untuk KP? Skenario konyol macam apa yang menyebutkan bahwa saya akan bisa terbang ke Batam dan Singapur bersama mereka 4 bulan kemudian?

Skenario apa yang bisa merubah skenario hidup saya semasa SMA dari yang asalnya foya-foya beberapa tahun menjadi mendirikan sebuah LSM bernama Langit Biru (amin)?

Aneh kan?

Sebagai pribumi saya senang didatangi oleh kalian semua. Bisa dibayangkan dulu ketika sekolah kalian masih berada di Padang, Riau, Medan, Balikpapan, Banjarmasin, Jakarta, Garut, Cilacap, Kediri, Malang, sampai Bali. Betapa berjauhan dan tidak kenalnya kita dulu, dan sekarang kita semua dipersatukan di sini, di Bandung.

Dan sebagai seorang Wilman saya sangat terkejut karena merasakan perubahan yang drastis ini. Mungkin perubahan drastis ini adalah perahu kecil saya yang sekarang tinggal menunggu dipasangi layarnya saja, sama seperti perahu-perahu kecil lainnya.

Ya apalagi yang bisa diucapkan selain terima kasih karena, telah memberikan perubahan drastis pada hidup saya, telah merubah skenario hidup saya, telah memberikan pembelajaran yang sangat berharga untuk saya dari mulai PEKKA, wisudaan, sampai Kulap, telah membuat kalian menjadi orang yang paling banyak yang pernah saya rindukan, telah menjadikan saya sebagai Wilman yang sekarang.

Dan apalagi yang kurang kalau saya belum mengucapkan maaf, kalau saya tidak selalu menyenangkan, kalau saya sering bersikap oportunis, kalau saya sering terlihat belagu dan kekanak-kanakan, kalau saya ternyata belum bisa merangkul kalian semua, kalau perahu saya, yang sebenarnya adalah hasil bantuan kalian terlihat lebih bagus jadinya ketimbang perahu kalian yang  notabene adalah hasil bantuan saya.

Yup, dulu aku tak mengenalmu, Bhupalaka.

Dan mungkin kini adalah saat-saat terakhir kita bernyanyi dan tertawa.

Categories: Renungan Malam, The Save Points of My Life | 4 Comments

Never Give Up

Never give up because I know, where there’s a will..there’s a man

-Wilman

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Sejuta Mawar Untuk Saya

Bawa sejuta tangkai mawar, baru saya restui!

Minta bantuan teman dekat

Cari followers lalu tweet sebanyak-banyaknya

Bikin fan page di Facebook

Minta XL buat sponsorin, bilang kalau beneran ada yang minta sejuta mawar biar bisa jadian

Terkenal, mintain mawar sama orang-orang

Dapet 1.000.000 mawar

Jual Rp. 1.000/tangkai, harga mawar standar Rp. 4.000/tangkai jadi ini pasti laku

Dapet Rp. 1M

Simpen di bank dengan suku bunga 0,5% per bulan

Dapet Rp. 5.000.000/bulan tanpa keringat, dipotong pajak 20%, dapet Rp. 4.000.000 bersih

Putus kuliah, tunggu sampai modal cukup buat bikin usaha mandiri

Mapan

Cari cewek yang lebih baik dan nggak ribet-ribet sampai harus ngumpulin sejuta tangkai mawar.

Categories: Uncategorized | 1 Comment

Karena Saya Mahasiswa

Kerjanya anggota DPR ngapain sih selain rapat? Ada lagi gak? Jujur saya gak tau karena gak punya kenalan orang DPR. Kalau beliau-beliau memang punya kerjaan lain selain rapat dimana kerjaan lain itu berkaitan dengan negara, sejujurnya saya tidak keberatan mereka tidur di ruang rapat asalkan beliau-beliau ini berkontribusi benar dalam kerjaannya yang lain itu.

Karena saya mahasiswa, tau rasanya ketika rapat dan kalau orang di dalam forum rapat tersebut kebanyakan, rapatnya gak efektif apalagi ketika hanya membahas konsep, bukan teknis. Cukup beberapa kepala saja yang rapat kalau gitu.

Karena saya mahasiswa, saya juga sering tidur atau merasa bosan dalam rapat-rapat yang telah saya ikuti apalagi kalau sudah ada kesan “wah ini mah mereka lebih ngerti kayaknya,saya ngikut aja”. Itu waktu rapat, jangan tanya gimana tuh mahasiswa kalau lagi kuliah. Sama aja kok kayak beliau-beliau yang di sana.

Kedengarannya seperti mahasiswa gabut? Ya memang. Tapi negeri ini gak butuh pemimpin banyak-banyak, beberapa kepala asal punya komitmen sudah cukup, yang lain tinggal ngikut, dan ngikut yang bener-bener ngikut bukan sekedar ikut-ikutan.

Analoginya gini, kalau saya dosen saya gak akan dan gak bisa menyalahkan mahasiswa yang sering tidur di kelas tapi nilai akhirnya dapet A atau AB. Dengan asumsi dia tidak mencontek. Anggaplah si nilai akhir sebagai urusan negara, terserah Bapak/Ibu mau tidur, jungkir balik, nonton bokep juga gak apa-apa asal negara keurus.

Loh, tapi kan mereka pemimpin, harusnya jadi teladan dong?

Saya rasa seseorang akan meniru pemimpinnya kalau sudah sadar bahwa pemimpinnya dan hasil dari apa yang dipimpinnya itu baik, bukan menirunya di awal tanpa mengetahui kredibilitas pemimpinnya.

Balik lagi ke awal, itu kalau beliau-beliau di sana ada kerjaan lain selain rapat loh ya, kalau emang kerjanya rapat doang ya mereka gak boleh tidur.

***

To criticize is easy, so easy that you enjoyed every single word coming out from your mouth.

Categories: Renungan Malam | Leave a comment

Blog at WordPress.com.