Tumbal

       Manajemen waktu dan koordinasi, itu garis besar yang saya rasakan masih harus dibenahi ketika kita belajar berorganisasi, dan yang namanya mahasiswa itu katanya harus seimbang antara akademik dan organisasi.

      Akan tetapi, banyak kasus dimana terjadi tumbal-menumbal. Baik menumbalkan akademik maupun menumbalkan organisasi, atau malah dua-duanya, hal ini sering saya alami sendiri. Contohnya Ketika kita disibukkan oleh kegitatan keorganisaisan, kita mungkin sewaktu-waktu bolos kuliah karena pada saat itu yang terfikirkan hanya organisasi, organisasi. Begitu pula saat ada kegiatan organisasi yang dianggap mendesak, terkadang kita “ngeles” dengan alasan akademik padahal kita memegang jabatan penting di keorganisasian tersebut.

          Mahasiswa memang tidak ideal, mereka boleh kok salah. Dalam hal ini pengambilan keputusan juga merupakan suatu pembelajaran. Ketika kita memutuskan untuk memprioritaskan akademik dibanding yang lain, oke tapi mindset saya tidak begitu. Ketika kita berniat untuk menjalani organisasi saat menempuh bangku pendidikan, maka pilihannya cuma satu yaitu seimbang kedua-duanya. Tanggung kalau belajar organisasinya sedikit-sedikit, kita kuliah cuma 6 tahun paling lama, kebanyakan 4 tahun. Sayang kalau dibuang-buang untuk pengalaman yang tanggung.

       Analogikan waktu dengan uang, misalkan saya seorang anggota divisi fundraising yang memiliki target Rp. 3 juta, tetapi saya memiliki uang di bank yang jauh lebih banyak dari Rp. 3 juta, misalkan Rp. 100 juta. Saya bisa saja mengeluarkan uang pribadi saya sebanyak Rp. 3 juta, ya apalah artinya dibanding 100 juta. Oke fundraising selesai dalam hitungan detik, acara sukses. Saya dkk. tidak belajar apa-apa, hanya cara transfer duit dari rekening pribadi ke rekening bendahara panitia acara. Bandingkan apabila saya berusaha sekuat tenaga memutar otak mencari-cari cara untuk mencapai target 3 juta tersebut. Kemungkinan besar saya belajar marketing, persuasi, atau mungkin desain produk dan masih banyak hal lainnya.

     Begitu pula dengan kegiatan keorganisasian, kita bisa putar otak dulu sebelum mengambil keputusan yang terkesan ‘menggampangkan’. Pikir dulu bagaimana caranya supaya kita tidak bolos kuliah tapi besok loading barang logistik ke ruangan acara tetap berlangsung sedangkan kita adalah kadiv logistiknya.

       Saya percaya seorang mahasiswa bisa melakukan trik keseimbangan ini karena saya melihat memang ada mahasiswa yang seperti ini.

– sentilan untuk diri sendiri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s