Hai Mahasiswa Teknik Lingkungan (dengan Embel-Embel Terbaik Bangsa)

3 SKS mata kuliah Pengelolaan Sampah, 3 SKS Drainase dan Sewerage, 2 SKS Kesehatan Lingkungan, 2 SKS Epidemiologi Lingkungan

            Di mata kuliah pengelolaan sampah kita belajar gimana sih alur persampahan yang ada di sekitaran kita, tiap kelompok mahasiswa dapet tugas survey jalur persampahannya di tempat-tempat yang berbeda. Apa sih kejarannya? Biar kita tahu letak permasalahan sistem pengelolaan sampah di lingkungan sekitar dan pada akhirnya bisa ngasih gagasan konkret berkaitan dengan sistem pengelolaan sampah tersebut. Tapi hal yang ingin saya soroti di sini adalah, ketika survey kita diharuskan mewawancara pemulung, petugas sampah, pekerja bandar, lapak, dll. Dari sinilah menurut saya sudah sewajarnya timbul kesadaran bahwa dalam sistem persampahan di lingkungan sekitar kita yang carut marut ini, justru para pemulung memiliki andil besar dalam alur persampahan. Sampah kita tidak dipilah, merekalah yang melakukannya demi Rp.2500/Kg – Rp.5000/Kg. Oke mungkin ada beberapa dari kita mahasiswa TL yang sudah memilah tapi berapa persen dari penduduk Indonesia ini yang memilah sampahnya?

             Bukan, inti masalahnya bukan pada paragraf di atas tadi. Di perkuliahan Sewerage kita diajarkan bagaimana kondisi sanitasi terutama penyaluran air buangan di Indonesia, kita juga diajarkan bagaimana cara membuat sistem penyaluran dan infrastruktur untuk air buangan yang baik dan benar. Di perkuliahan Drainase kita diajarkan bagaimana caranya supaya air hujan dapat termanfaatkan sebagai cadangan air tanah sebanyak-banyaknya sehingga tidak menimbulkan banjir, apalagi di kawasan kumuh yang orang-orangnya tidak tahu menahu mengenai debit rencana(ini bukan takhayul). Begitu juga dalam perkuliahan Kesling dan Epid, yang isinya mbahas penyakit gara-gara sanitasi yang buruk. Di sini juga diselipkan beberapa aspek sosial yang perlu ditinjau semacam sosiosfer blablabla.

            Jadi mari kita mengerucut, intinya mahasiswa TL sebenarnya diajarkan bagaimana peka terhadap lingkungan. Mungkin cuma kita yang tahu seberapa besar jasa pemulung sehingga sampah ga numpuk seperti pasca tragedi Leuwigajah, mungkin cuma kita yang tau cara mengatasi sanitasi yang buruk dengan pendekatan infrastruktur, mungkin cuma kita yang tau debit rencana?

      Profesi TL menurut saya adalah profesi yang merakyat, urusannya kalo ga sampah,cubluk,limbah,paling banter pencemaran udara. Dari sini seharusnya kita bisa lebih peka terhadap lingkungan *ralat* rakyat sekitar. Apalagi bagi mereka yang berembel terbaik bangsa, embel-embel yang sangat dibanggakan tapi sulit diakui.

          Kurang lebih begitu, sebenernya kurang mengena dengan yang ada di otak tapi itulah tulisan yang keluar dari keyboard saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s