7 Kemarau : Mata Angin

Dia duduk di antara anak-anak itu. Dia mengerti betul bahwa dia berbeda, namun dia juga sadar dirinya harus tetap berada di situ. Ruangan kelas ini begitu sumpek ditambah kebisingan makhluk-makhluk kerdil yang kadangkala bisa nampak lucu dan menggemaskan, namun tak jarang tingkahnya dapat menjengkelkan orang yang lebih berumur dari mereka. Dindingnya yang terbuat dari kayu menambahkan aroma yang tidak karuan.

“Tan, daripada melamun baiknya kamu ajari mereka ilmu hitung sana!” Kata Ibu Hasni setengah mengagetkan.

“Biarkan lah, Bu. Nanti kalau sudah besar juga mereka mengerti sendiri.” Jawab Sutan agak ketus. Sebetulnya Sutan adalah sosok yang didewakan anak-anak ini, dia berlaku seperti kakak asuh buat mereka. Logikanya yang matang, sangat matang untuk usianya, kedewasaan, serta kepemimpinannya sangat mendukung dalam hal ini. Tentu saja, itulah yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin untuk memukau bawahannya, atau kakak asuh untuk menjaring kelincahan adik-adiknya.

“Daripada mengajari ilmu hitung, lebih baik aku bacakan dongeng buat mereka, Bu. Aku yakin itu lebih berguna.” Kata Sutan lagi, kali ini dengan helaan napas.

“Dari kemarin ndongeeng terus kerjamu.”

“Ya jelas, Bu. Aku ini baru sebelas tahun, sama seperti mereka.” Tukasnya, Sutan mengalihkan pandangan ke arah teman-temannya yang lain. Kondisi kelas memang kerap kali kacau, apalagi bila Sutan sudah diajak bicara oleh Bu Hasni. Namun toh Sutan lebih senang bicara dengan Bu Hasni daripada dengan teman-temannya.

“Oh, iya tentu Sutan, tapi apalah artinya fisikmu itu dibandingkan dengan otakmu? Selama kamu memiliki kelebihan, kamu juga memiliki kewajiban lebih, Tan.” Bu Hasni mencoba mendebat, matanya lekat menatap Sutan

“Ibu kan tahu sendiri posisiku sekarang dimana, kadang aku harus jongkok bahkan tiarap untuk bisa meraih mereka, Bu.”

“Apapun caranya, mau kamu harus jongkok, tiarap, loncat, terbang, yang penting yang kamu raih itu bermanfaat, Sayang. Ibu juga kalau ada di posisimu sekarang pasti males, tapi ya memang begitulah sesuatu yang baik itu, banyak cobaannya.” Kata-kata tersebut keluar dari mulut Bu Hasni diselingi dengan jeda-jeda kecil.

“Aduh jangan pake sayang, Bu! Geli aku. Lagipula memang Ibu ngerti gimana jadi aku ini?” Semakin kesal Sutan, namun juga semakin tertarik pada perdebatan ringan ini, matanya kini berani menatap balik Bu Hasni.

“Haha, oh iya maaf Ibu lupa,Tan. Biarpun Ibu ini nda’ tahu rasanya jadi kamu, tapi Ibu pernah jadi anak 11 tahun dan pernah juga jadi remaja 20 tahun. Kamu harusnya tau itu, Tan.” Dan sekarang keduanya terdiam, diiringi riuh rendah suara bising anak-anak sebelas tahun lainnya.

“Tapi Ibu belum pernah main gobak sodor di umur 20 tahun kan? Seru lho, Bu! Haha.” Keduanya tergelak, Bu Hasni tahu dibalik kalimat itu sebenarnya Sutan berkata,”Ya Tuhan, Engkau kemanakan masa kecilku sampai-sampai aku tidak sadar pernah memilikinya?”

*bersambung*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s