Monthly Archives: January 2012

Kalau belum bisa bermanfaat buat orang lain, paling nggak jangan nyusahin

 

-saya

Categories: Renungan Malam | Tags: | Leave a comment

Musisi Jalanan

          Dulu, kalau saya didatangi pengamen saya tidak pernah mau untuk menyisihkan uang. Mau dia nyanyi screamo atau underground pun masa bodoh. Mau dia suaranya selembut sutera juga peduli amat (ada loh pengamen yg suaranya bagus banget di Simpang Lima). Kenapa saya bersikap demikian? Karena menurut saya kalau mereka diberi uang maka mereka nantinya malah keenakan dan tambah males mencari pekerjaan lain yang lebih berguna.

      Namun kemudian beberapa waktu lalu saya pergi makan bersama beberapa orang teman sebut saja A dan B. Ketika itu kami didatangi oleh beberapa orang pengamen, tentu saya menahan dompet di saku tapi si A mengeluarkan sejumlah uang, seribu sih tepatnya. Kemudian setelah para pengamen pergi si B bertanya “gede banget A ngasihnya, segitu tuh kegedean tau buat pengamen.” Kemudian si A menjawab

“itu duitku yg paling kecil B, lagian menurutku kita belum berhak buat ga ngasih mereka duit karena kita tuh belum bisa menghidupi mereka.”

         Mungkin agak janggal ya dengan kata menghidupi, tapi maksudnya si A begini. Kita tidak berhak untuk tidak memberi pengamen tersebut uang apabila kita tidak punya solusi untuk hidup mereka ke depannya. Ibaratnya orang mengkritik tapi tidak punya solusi atas kritikannya.

Wah bener juga, seandainya banyak orang-orang yang berpikiran seperti saya terus para pengamen mati kelaparan gimana? Ya gak segitunya juga sih.

        Hidup ini tidak selalu masalah pilihan, pasti banyak diantara pengamen itu yang terpaksa mengamen. Maka dari itu, kalau belum punya solusi bagaimana cara “menghidupi” para pengamen ini ya kasih aja lah barang Rp. 500-1000 mah.

Categories: Renungan Malam | Leave a comment

Friends

Sometimes friends make your life hard, but it’s always harder without them

Me

Categories: Renungan Malam | 1 Comment

Kota Senja

Dia dan para utopis itu berjalan mengelilingi danau

Puluhan bahkan ratusan rumah bertengger kokoh di atas campuran batu kali

Diselingi bangunan menjulang tinggi seakan menghakimi siapapun yang menatap puncaknya

Tata letak kotanya apik tanpa konstruksi yang rumit

Sesekali terdengar bunyi gerungan angkutan umum dengan debit emisi rendah

Dan lihatlah ke jalan!

Kawan, jalanan penuh oleh manusia yang bertumpu di atas dua kakinya!

Betapa tekunnya mereka yang akan pergi bekerja, namun tetap santun terhadap sekitarnya

Banjir? Mereka tidak pernah takut banjir, begitu sayangnya mereka terhadap sampahnya sehingga tak satu pun mereka biarkan tersesat di saluran drainase

Alih-alih mereka sendiri yang masuk ke labirin fluida cair itu untuk membersihkan guguran daun calon kompos nanti

Oh, coba tengok ke taman, ya, ada anak-anak bermain Gobak Sodor! Haha, gembira sekali mereka

Tanpa takut akan pneumoconiosis atau apa lah itu penyakit paru-paru

Sangat jauh letaknya rokok-rokok raksasa yang menjulang itu, kecepatan angin biasa tak mampu membawa partikulatnya singgah di tubuh anak-anak ini

Kemudian dongakkanlah kepalamu ke atas, Langitnya selalu merah membara, bersemangat sama seperti orang-orang yang dinaunginya

Di sinilah, di mana mentari tidak pernah terbit dan tidak pernah tenggelam

Di Kota Senja

Ah, sungguh sebuah tempat yang nyaman untuk dihinggapi

Namun aku di sini, bukan mereka para utopis

Itu hanya sebuah danau tua

Tak ada sesuatu pun di sekelilingnya

Kecuali sehektar landfill dan seperangkat insinerator

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Dear Smokers

We don’t care if you smoke ’till you die, except if you’re our relatives.

We just don’t want to breathe the same air as you do, please don’t share your suffering with us citizens of big cities, we already have more than enough pollution inside our lungs.

So would you mind carrying plastic bags so that each time you want to smoke you can cover your head inside the plastic bag and inhale the smoke yourself? I’m sure you wouldn’t. Thank you 🙂

We’re not telling you to stop smoking because we know it is a very difficult thing to do. We really appreciate your privacy, we really do. Although it’s better for you to stop.

Sincerely, healthier people

Categories: Renungan Malam | Tags: | Leave a comment

7 Kemarau : Mata Angin

Dia duduk di antara anak-anak itu. Dia mengerti betul bahwa dia berbeda, namun dia juga sadar dirinya harus tetap berada di situ. Ruangan kelas ini begitu sumpek ditambah kebisingan makhluk-makhluk kerdil yang kadangkala bisa nampak lucu dan menggemaskan, namun tak jarang tingkahnya dapat menjengkelkan orang yang lebih berumur dari mereka. Dindingnya yang terbuat dari kayu menambahkan aroma yang tidak karuan.

“Tan, daripada melamun baiknya kamu ajari mereka ilmu hitung sana!” Kata Ibu Hasni setengah mengagetkan.

“Biarkan lah, Bu. Nanti kalau sudah besar juga mereka mengerti sendiri.” Jawab Sutan agak ketus. Sebetulnya Sutan adalah sosok yang didewakan anak-anak ini, dia berlaku seperti kakak asuh buat mereka. Logikanya yang matang, sangat matang untuk usianya, kedewasaan, serta kepemimpinannya sangat mendukung dalam hal ini. Tentu saja, itulah yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin untuk memukau bawahannya, atau kakak asuh untuk menjaring kelincahan adik-adiknya.

“Daripada mengajari ilmu hitung, lebih baik aku bacakan dongeng buat mereka, Bu. Aku yakin itu lebih berguna.” Kata Sutan lagi, kali ini dengan helaan napas.

“Dari kemarin ndongeeng terus kerjamu.”

“Ya jelas, Bu. Aku ini baru sebelas tahun, sama seperti mereka.” Tukasnya, Sutan mengalihkan pandangan ke arah teman-temannya yang lain. Kondisi kelas memang kerap kali kacau, apalagi bila Sutan sudah diajak bicara oleh Bu Hasni. Namun toh Sutan lebih senang bicara dengan Bu Hasni daripada dengan teman-temannya.

“Oh, iya tentu Sutan, tapi apalah artinya fisikmu itu dibandingkan dengan otakmu? Selama kamu memiliki kelebihan, kamu juga memiliki kewajiban lebih, Tan.” Bu Hasni mencoba mendebat, matanya lekat menatap Sutan

“Ibu kan tahu sendiri posisiku sekarang dimana, kadang aku harus jongkok bahkan tiarap untuk bisa meraih mereka, Bu.”

“Apapun caranya, mau kamu harus jongkok, tiarap, loncat, terbang, yang penting yang kamu raih itu bermanfaat, Sayang. Ibu juga kalau ada di posisimu sekarang pasti males, tapi ya memang begitulah sesuatu yang baik itu, banyak cobaannya.” Kata-kata tersebut keluar dari mulut Bu Hasni diselingi dengan jeda-jeda kecil.

“Aduh jangan pake sayang, Bu! Geli aku. Lagipula memang Ibu ngerti gimana jadi aku ini?” Semakin kesal Sutan, namun juga semakin tertarik pada perdebatan ringan ini, matanya kini berani menatap balik Bu Hasni.

“Haha, oh iya maaf Ibu lupa,Tan. Biarpun Ibu ini nda’ tahu rasanya jadi kamu, tapi Ibu pernah jadi anak 11 tahun dan pernah juga jadi remaja 20 tahun. Kamu harusnya tau itu, Tan.” Dan sekarang keduanya terdiam, diiringi riuh rendah suara bising anak-anak sebelas tahun lainnya.

“Tapi Ibu belum pernah main gobak sodor di umur 20 tahun kan? Seru lho, Bu! Haha.” Keduanya tergelak, Bu Hasni tahu dibalik kalimat itu sebenarnya Sutan berkata,”Ya Tuhan, Engkau kemanakan masa kecilku sampai-sampai aku tidak sadar pernah memilikinya?”

*bersambung*

Categories: Cerbung | Tags: | Leave a comment

Tumbal

       Manajemen waktu dan koordinasi, itu garis besar yang saya rasakan masih harus dibenahi ketika kita belajar berorganisasi, dan yang namanya mahasiswa itu katanya harus seimbang antara akademik dan organisasi.

      Akan tetapi, banyak kasus dimana terjadi tumbal-menumbal. Baik menumbalkan akademik maupun menumbalkan organisasi, atau malah dua-duanya, hal ini sering saya alami sendiri. Contohnya Ketika kita disibukkan oleh kegitatan keorganisaisan, kita mungkin sewaktu-waktu bolos kuliah karena pada saat itu yang terfikirkan hanya organisasi, organisasi. Begitu pula saat ada kegiatan organisasi yang dianggap mendesak, terkadang kita “ngeles” dengan alasan akademik padahal kita memegang jabatan penting di keorganisasian tersebut.

          Mahasiswa memang tidak ideal, mereka boleh kok salah. Dalam hal ini pengambilan keputusan juga merupakan suatu pembelajaran. Ketika kita memutuskan untuk memprioritaskan akademik dibanding yang lain, oke tapi mindset saya tidak begitu. Ketika kita berniat untuk menjalani organisasi saat menempuh bangku pendidikan, maka pilihannya cuma satu yaitu seimbang kedua-duanya. Tanggung kalau belajar organisasinya sedikit-sedikit, kita kuliah cuma 6 tahun paling lama, kebanyakan 4 tahun. Sayang kalau dibuang-buang untuk pengalaman yang tanggung.

       Analogikan waktu dengan uang, misalkan saya seorang anggota divisi fundraising yang memiliki target Rp. 3 juta, tetapi saya memiliki uang di bank yang jauh lebih banyak dari Rp. 3 juta, misalkan Rp. 100 juta. Saya bisa saja mengeluarkan uang pribadi saya sebanyak Rp. 3 juta, ya apalah artinya dibanding 100 juta. Oke fundraising selesai dalam hitungan detik, acara sukses. Saya dkk. tidak belajar apa-apa, hanya cara transfer duit dari rekening pribadi ke rekening bendahara panitia acara. Bandingkan apabila saya berusaha sekuat tenaga memutar otak mencari-cari cara untuk mencapai target 3 juta tersebut. Kemungkinan besar saya belajar marketing, persuasi, atau mungkin desain produk dan masih banyak hal lainnya.

     Begitu pula dengan kegiatan keorganisasian, kita bisa putar otak dulu sebelum mengambil keputusan yang terkesan ‘menggampangkan’. Pikir dulu bagaimana caranya supaya kita tidak bolos kuliah tapi besok loading barang logistik ke ruangan acara tetap berlangsung sedangkan kita adalah kadiv logistiknya.

       Saya percaya seorang mahasiswa bisa melakukan trik keseimbangan ini karena saya melihat memang ada mahasiswa yang seperti ini.

– sentilan untuk diri sendiri

Categories: Renungan Malam | Leave a comment

Kita dan Mereka Sama, Tak Punya Hati

3 X 5.000.000 =15.000.000

Oktober, April, Juli

Apa yang bisa ditafsirkan dari 2 baris di atas? Saya menafsirkannya sebagai pembodohan.

     Setiap tahunnya ITB kampus saya tercinta meluluskan beribu-ribu mahasiswa. Perayaan kelulusan tersebut disebut dengan wisudaan. Bagi prodi saya Teknik Lingkungan, setiap kali wisuda Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan(FTSL) mengeluarkan uang sebanyak Rp. 5.000.000. Setiap tahunnya wisudaan dilaksanakan 3 kali, bulan Oktober, April, dan Juli. Jadi tiap tahunnya FTSL mengeluarkan Rp. 15.000.000. Itu cuma untuk 1 prodi dan kayaknya ga mungkin kalo cuma 1 prodi doang yang dikasih 15 juta per tahun, FTSL punya 3 prodi jadi mari kita kalikan tiga = Rp.45.000.000 per tahun cuma untuk wisudaan. Luar biasa ma bray!

Simpan dulu catetan duit di atas.

           Semenjak masuk ITB pas jaman-jamannya INKM (semacam ospek untuk angkatan 2008) saya dkk. dicekoki tentang tri dharma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Oke mungkin ITB sudah cukup puas dengan 2 poin pertama (mungkin). Mungkin karena hal ini saya dkk. didoktrin oleh fasilitator(taplok) INKM bahwa sebenarnya duit kita untuk bayar kuliah ini hanya cukup untuk menanggung sekitar 20%an kalo ga salah. Sisanya pake duit rakyat, ada juga subsidi silang, dsb.

Simpan lagi catetan di atas.

           Sekarang lagi marak-maraknya nih isu DPR mau bikin gedung baru. Saya kontan tidak setuju sama hal ini karena gak tau alesan dewa macam apa yang dimiliki orang-orang ‘terbaik bangsa’ di sana sampe mau bikin kura-kura baru yang kalau diinterpretasikan duitnya bisa buat bangun 3200 sekolah katanya.

Ambil catetan-catetan tadi

45 juta, duit rakyat, gedung DPR baru

            Ini saya tafsirkan sebagai pencerdasan. Merayakan wisuda pake duit rakyat, bikin gedung baru pake duit rakyat. Apa dong bedanya kita dan mereka? Apa hak kita untuk menolak pembangunan gedung baru? Bukankah kita ini generasi penerus? Oiya sekali, kita meneruskan tradisi mereka orang DPR dalam menghamburkan uang rakyat!

             Betapa kecewanya saya ketika bertanya ke teman jurusan lain,katanya uang untuk wisudaan dari prodi dia hanya kadang-kadang saja turunnya. Wah, jangan-jangan ada jurusan lain yang sama sekali tidak mendanai perayaan wisudanya? Sedangkan prodi kita rutin udah kayak bayar tagihan listrik aja. Coba hitung berapa miliar yang dihabiskan dalam kurun waktu 50 tahun? Dan sekali lagi di dalamnya ada uang rakyat. Jangan-jangan di situ ada uangnya tukang gorengan depan gerbang utama, ada uang pemain kecapi yang pernah saya usir waktu jadi satgas di wisuda oktober 2009 (haduh maaf ya pak),ada uang ibu kostan kalian.

Mari buka mata hati kalau masih punya hati, sebelum kita bertanya di mana hati mereka.

Ini cuma pandangan saya, yang seadanya, sepenglihatannya, dan sepengetahuannya. Apabila ada yang bisa mencerdaskan saya silakan

Categories: Renungan Malam | 2 Comments

Hai Mahasiswa Teknik Lingkungan (dengan Embel-Embel Terbaik Bangsa)

3 SKS mata kuliah Pengelolaan Sampah, 3 SKS Drainase dan Sewerage, 2 SKS Kesehatan Lingkungan, 2 SKS Epidemiologi Lingkungan

            Di mata kuliah pengelolaan sampah kita belajar gimana sih alur persampahan yang ada di sekitaran kita, tiap kelompok mahasiswa dapet tugas survey jalur persampahannya di tempat-tempat yang berbeda. Apa sih kejarannya? Biar kita tahu letak permasalahan sistem pengelolaan sampah di lingkungan sekitar dan pada akhirnya bisa ngasih gagasan konkret berkaitan dengan sistem pengelolaan sampah tersebut. Tapi hal yang ingin saya soroti di sini adalah, ketika survey kita diharuskan mewawancara pemulung, petugas sampah, pekerja bandar, lapak, dll. Dari sinilah menurut saya sudah sewajarnya timbul kesadaran bahwa dalam sistem persampahan di lingkungan sekitar kita yang carut marut ini, justru para pemulung memiliki andil besar dalam alur persampahan. Sampah kita tidak dipilah, merekalah yang melakukannya demi Rp.2500/Kg – Rp.5000/Kg. Oke mungkin ada beberapa dari kita mahasiswa TL yang sudah memilah tapi berapa persen dari penduduk Indonesia ini yang memilah sampahnya?

             Bukan, inti masalahnya bukan pada paragraf di atas tadi. Di perkuliahan Sewerage kita diajarkan bagaimana kondisi sanitasi terutama penyaluran air buangan di Indonesia, kita juga diajarkan bagaimana cara membuat sistem penyaluran dan infrastruktur untuk air buangan yang baik dan benar. Di perkuliahan Drainase kita diajarkan bagaimana caranya supaya air hujan dapat termanfaatkan sebagai cadangan air tanah sebanyak-banyaknya sehingga tidak menimbulkan banjir, apalagi di kawasan kumuh yang orang-orangnya tidak tahu menahu mengenai debit rencana(ini bukan takhayul). Begitu juga dalam perkuliahan Kesling dan Epid, yang isinya mbahas penyakit gara-gara sanitasi yang buruk. Di sini juga diselipkan beberapa aspek sosial yang perlu ditinjau semacam sosiosfer blablabla.

            Jadi mari kita mengerucut, intinya mahasiswa TL sebenarnya diajarkan bagaimana peka terhadap lingkungan. Mungkin cuma kita yang tahu seberapa besar jasa pemulung sehingga sampah ga numpuk seperti pasca tragedi Leuwigajah, mungkin cuma kita yang tau cara mengatasi sanitasi yang buruk dengan pendekatan infrastruktur, mungkin cuma kita yang tau debit rencana?

      Profesi TL menurut saya adalah profesi yang merakyat, urusannya kalo ga sampah,cubluk,limbah,paling banter pencemaran udara. Dari sini seharusnya kita bisa lebih peka terhadap lingkungan *ralat* rakyat sekitar. Apalagi bagi mereka yang berembel terbaik bangsa, embel-embel yang sangat dibanggakan tapi sulit diakui.

          Kurang lebih begitu, sebenernya kurang mengena dengan yang ada di otak tapi itulah tulisan yang keluar dari keyboard saya.

Categories: Renungan Malam | Leave a comment

Anak-anak Idealis, Dewasa Realistis, Tua Konservatif

       Judul di atas adalah pandangan saya terhadap pola pikir manusia, sifat dasarnya yang dipengaruhi egonya, hal ini saya rasakan sendiri dari semenjak kecil, yah namanya juga pendapat. Waktu kecil saya merasa dunia ini begitu ideal,iya gak sih? Yang ada cuma hitam putih, benar dan salah, gak memandang gimana persepsi orang lain yang mungkin berbeda. Kebenaran universal, mungkin itu panggilan yang tepat buat si dunia ideal ini. Contoh, waktu kecil kita mungkin memandang guru kita yang paling benar, semua yang dikatakannya dituruti dan dianggap benar. Hal ini berlaku bagi mereka-mereka yang mungkin dicap cupu waktu kecilnya. Dengan kata lain cupu itu kekanak-kanakan = idealis, tidak punya jiwa pemberontak terhadap apa yang dianggapnya ideal.

       Seiring dengan bertambahnya usia, saya semakin sadar kalau dunia ini tidak lagi hitam putih, tapi abu-abu. Siapa saja bisa benar dan salah, mau itu guru kah, presiden kah (kecuali Tuhan, alhamdulillah saya masih memiliki sisi idealis disini). Contoh di paragraf pertama tadi mungkin cuma berlaku buat yang dicap cupu saja,karena saya melihat bagi mereka yang notabene bandel, tidak mau nurut sama gurunya, berjiwa pemberontak, memiliki kedewasaan dan kepemimpinan alami yang lebih tinggi dari si idealis tadi. Hal ini dikarenakan mereka sudah lebih dahulu menyadari bahwa dunia ini memang realistis apa adanya, sempurna namun tidak ideal. Apakah kesadaran mereka ini yang membawanya pada kedewasaan ataukah sebaliknya saya pun tidak tahu. Yang jelas salah satu ciri dari kedewasaan menurut saya adalah realistis.

        Yang terakhir adalah sifat konservatif, sifat kolot dari seorang tua bangka dikendalikan oleh egonya. Saya mungkin belum setua itu, tapi berdasarkan pengalaman saya yang pernah menerima beberapa nasehat dari orang yang sudah berbeda jauh usianya,banyak nasehat yang bagus dan sangat dianjurkan untuk diresapi, tetapi saya merasa lebih sering ingin menimpali nasehatnya dengan “aduh zaman udah beda bro,sist!” Ya itulah manusia, egois,saya sekarang dalam fase menuju dewasa yang realistis, menilai semuanya dari sisi yang objektif berdasarkan ilmu dan pengalaman seadanya

Untuk sekarang saya lebih memilih menyeimbangkan antara idealis dan realistis

Categories: Renungan Malam | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.