P : kiri!
*Angkot berenti, penumpang ngasih duit
S : dari mana, Neng?
P : pombensin
S : pombensin mana?
P : pombensin mana hayoo?
P : kiri!
*Angkot berenti, penumpang ngasih duit
S : dari mana, Neng?
P : pombensin
S : pombensin mana?
P : pombensin mana hayoo?
P : Kiri
*angkot berhenti, penumpang ngasih duit
S : darimana Neng?
P : dari Simpang
S : bukan, Neng rumahnya di mana?
Ini kisah nyata
Aduh laper nih, wah kebetulan ada Indomie goreng di depan mata.
nyam…nyam…
nyam…
…
Ih kok bumbunya nggak ngaduk sih?
aduk, aduk, aduk
Kok susah banget ngaduk bumbunya? Kan nggak enak makan mie instan nggak pake bumbu! Ah, yaudah lah makan aja daripada laper, hoek.
perut mual
Loh mana Indomienya? Alhamdulillah ternyata cuma mimpi, tapi ternyata perut beneran mual.
bangun, keluar kamar, turun tangga, mual berubah jadi laper, pergi ke dapur.
Wah ada Indomie goreng!
Panasin air, buka bumbu
Kok bumbunya (yang bubuk) ngegumpal? Ya ampun ini pasti bakal susah diaduk, dan memang benar
makan mie dengan bumbu yang susah diaduk, tapi masih lebih enak dibanding dengan yang di mimpi.
***
Iya, judulnya emang lebay.
Matahari belum muncul, tapi hari sudah cukup terang untuk bisa membedakan benang hitam dan benang putih di cakrawala. Saya bangun untuk melaksanakan sholat Subuh, kemudian tidur lagi, hehe.
Alarm dari HP berbunyi, hari ini adalah hari terakhir saya kuliah di ITB dan tidak mau mengambil resiko melewatkannya hanya karena sebuah percobaan iseng. Mau tidak mau saya harus tahu bahwa pada saat itu waktu menunjukkan pukul 7.45. Saya pun mandi dan berangkat ke kampus setelah mematikan HP.
Selama perjalanan saya hanya bisa mengira-ngira waktu. Saat mematikan HP tadi, sekali lagi saya mau tidak mau harus melihat waktu. Jam di HP menunjukkan pukul 8.20. Perjalanan saya ke kampus maksimal 45 menit dan kuliah dimulai pada jam 09.00. Sesampainya di kampus saya bertemu dua orang teman saya, sebutlah si A dan si B. Nampaknya saya sudah terlambat karena mereka berdua terlihat terburu-buru.
“Emang kita udah telat ya?” Tanya saya pada si A, si B sudah setengah berlari mendahului kami karena dia harus presentasi di kelas.
“Udah jam 9 lebih 5 sih.”
Wah lagi-lagi saya tahu waktu, memang sulit sekali hidup tanpa jam (waktu). Padahal saya sudah berusaha bertanya yang jawabannya sebenarnya bisa dijawab dengan ‘sudah’ atau ‘belum’.
Hari itu berlangsung biasa, normal, memang sulit melalui hari tanpa melirik ke arah jam, seringkali sudah refleks mata ini memandang jam apalagi jam dinding, tapi hari itu saya jalani sebisanya.
Anehnya saya tidak menemukan banyak kendala dalam menjalani sehari tanpa HP. Kecuali ada keadaan yang mengharuskan saya menyalakan HP, saya tidak akan menyentuhnya. Semalam sebelumnya saya sudah memutuskan untuk mengecek HP pada waktu tertentu yaitu pada sore hari kalau-kalau ada panggilan darurat dari orang tua, itu saja.
***
Jadi sehari itu saya iseng mencoba bagaimana rasanya hidup dengan hanya mengandalkan pergerakan matahari (seharusnya, karena masih banyak kejadian-kejadian yang membuat saya tahu jam) dan tanpa alat komunikasi jarak jauh (seharusnya, karena masih ada internet di komputer :p). Yah, namanya juga iseng.
Oh iya, jam di komputer sudah saya acak sehari sebelumnya sehingga saya tidak bisa mengetahui jam ketika menggunakan komputer.
P : Kanan Pak! Kanan ya, bukan kiri!
S : Heh? Iya Bu, iya.
Angkot pun berhenti di kanan.
True story
Go to her Facebook to see her beauty
Go to her Twitter to see her daily life
Go to her blog to see her mind
Go to her Tumblr to see her heart
Now you see that she’s an internet maniac
When bright ideas come, they will disappear once you lost the courage to make them happen
-Me
Di sebuah dunia antah berantah, ada dua negeri yang letaknya bersebelahan.
Yang satu Negeri Permen namanya, terletak di sebelah timur dunia tersebut. Layaknya nama dari negeri ini, komoditas utamanya adalah permen. Roda perekonomian mereka diisi penuh oleh permen-permen yang mereka buat dan mereka makan. Orang-orang Negeri Permen hidup damai dan sejahtera dilengkapi dengan warna-warni bangunan mereka bak permen yang menggugah selera.
Di belahan bumi lain di dunia tersebut, terdapat Negeri Pedang. Negeri ini terkenal miskin dan sulit untuk dikategorikan sebagai sebuah negeri yang layak ditinggali. Rakyatnya menyambung nyawa hanya dengan berburu atau membuat senjata. Bangunan-bangunan kumuh dan pakaian orang-orangnya yang lusuh sangat mencerminkan bagaimana kondisi sosial mereka.
Suatu ketika, hewan-hewan buruan di Negeri Pedang habis. Banyak dari warganya mati kelaparan. Pita ekonomi mereka terputus. Tidak ada lagi yang berburu apalagi membuat senjata.
Pada akhirnya, Pemimpin Negeri Pedang gundah kemudian lepas kendali dan memerintahkan rakyatnya untuk menyerang Negeri Permen. Maka pergilah mereka ke Negeri Permen dengan segenap kekuatan dan senjata yang ada.
Warga Negeri Permen yang berada di perbatasan negara mengetahui hal ini kemudian memberitahukannya kepada Pemimpin Negeri Permen. Sang Pemimpin Kembang Gula itu pun bingung, kalut karena dia baru menyadari bahwa negerinya tidak pernah menghadapi konflik apapun dengan negara tetangga. Dia takut, seisi Negeri Permen takut karena mereka tahu bahwa satu-satunya senjata yang mereka miliki…adalah permen. Tidak ada benteng pertahanan di perbatasan, tidak ada pedang, tidak ada jalur evakuasi, tidak ada keberanian, hanya sejuta ton permen.
Akhirnya Sang Pemimpin Negeri Permen memerintahkan seluruh rakyatnya untuk berlindung di rumahnya masing-masing, berdoa untuk yang terbaik.
Tibalah orang-orang Negeri Pedang di Negeri Permen. Mereka terkejut dengan keadaan yang begitu sepi seperti tanpa kehidupan, kemanakah orang-orang negeri ini? Tak inginkah mereka melawan kami, orang yang akan mengambil alih negerinya?
Pasukan Negeri Pedang sudah memenuhi setiap ruas jalan Negeri Permen, mereka hendak menuju pabrik permen pusat meskipun mereka pasrah dan tak mengerti bagaimana cara kerja pabrik itu.
Tiba-tiba dari dalam sebuah rumah, seseorang melempar permen-permennya ke arah orang-orang Negeri Pedang. Satu, dua, tiga, sekarung, dua karung permen. Aksi ini kemudian diikuti oleh rumah-rumah di sekitarnya. Empat karung, sepuluh, seratus, begitu seterusnya tindakan ini ditiru dari rumah ke rumah seperti wabah yang menyebar. Seribu, sejuta, semiliar karung permen hingga akhirnya seluruh jalanan di Negeri Permen dibanjiri oleh benda mungil nan manis ini.
Para pemimpin dari kedua negeri tertegun melihat pemandangan ini, mata mereka terbelalak, mulut keduanya terbuka lebar untuk beberapa detik.
Bruk!
Satu karung terakhir terlempar keluar rumah memecahkan lamunan orang-orang Negeri Pedang dan Pemimpin Negeri Permen.
“Apa yang kalian tunggu? Simpan senjata kalian dan ambil semua permen itu!” Seru Sang Pemimpin Negeri Pedang
Trang…trang…trang,trang,trang
Satu persatu senjata dijatuhkan, satu persatu pula karung permen mulai lenyap dari jalanan negeri itu. Hanya ada satu-dua pasang mata yang cukup berani untuk mengintip dari balik jendela rumahnya dan melihat apa yang sedang terjadi di negeri mereka. Tidak akan ada satu pun dari warga Negeri Permen yang cukup berani untuk keluar rumah dan mengancam balik warga Negeri Pedang, Sang Pemimpin Negeri Permen sangat yakin akan hal ini.
Ketika karung terakhir diambil, Pemimpin Negeri Pedang memberikan seruan terakhirnya pada hari itu
“Kumpulkan semua permen, mari kita pulang, tinggalkan semua senjata kalian di sini!”
Di senja itu, setelah semua orang Negeri Pedang pergi, setelah Sang Pemimpin Negeri Permen menghela nafas panjang, warga Negeri Permen berlarian ke luar rumah, mengambil satu pedang dan tameng kemudian menyimpannya di dapur mereka. Tanpa kata-kata, tanpa komunikasi satu dengan yang lainnya, seolah seisi negeri telah mengerti bahwa hari ini, sebuah permen bisa menyelamatkan nyawa mereka dan pada saat itu juga di sisi lain masih ada orang yang lebih membutuhkan permen tersebut. Bahwa musuh mereka saat itu bukanlah orang-orang Negeri Pedang, melainkan keadaan dan sistem.
*Tamat*
Terinspirasi dari mimpi tadi pagi.
It’s not just about what you have, it’s also about what you do with it.
S : Kalapa, Kalapa, Kalapa!
*Anak SMA ngedeket
P : Bang, ke Kalapa ya?
S : Iya, Neng
P : Ooh, kok tulisannya Abdul Muis ya? *naek angkot
S : …
true story
only Bandungers will understand